
“sayang mau makan pagi di kamar atau di restauran?” tanya Afkar yang melihat Nara masih bersantai di ranjang sambil memainkan coklat yang isinya sudah hampir habis.
“di kamar saja ya..... lutut Nara masih nyeri" ucap Nara dengan cemberut.
“ya sudah..... mas pesan dulu menu makan pagi kita.” Ucap Afkar sambil mengangkat gagang telepon untuk menghubungi pihak restauran hotel.
Setelah menunggu kurang lebih empat puluh lima menit, menu makan pagi mereka datang. Makan pagi kali ini Afkar menambah beberapa menu menjadi dua porsi. Selesai makan pagi, Nara menumpuk beberapa piring yang makanannya sudah habis tak tersisa di sebuah meja dekat pintu masuk kamar tempat mereka menginap.
Afkar mulai sibuk dengan amplop dan flashdisk kembali.
“ini bagus.... tapi mereka sudah menyalinnya.... kalau memaksa ini sebagai game perdana harus banyak melakukan perubahan sedangkan dateline dari para investor hanya satu minggu..... apa mereka mampu melakukan sedikit perubahan di beberapa bagian?” gumam Afkar sambil memijat tengkuknya yang terasa penat.
“ini ide baru yang belum pernah ada..... tapi apa akan menjadi game nomor satu di turki dan eropa.... siap yang memiliki ide ini...” gumam Afkar dalam hati sambil memilah-milah amplop besar mencari berkas tentang game yang dia maksud.
“cari apa mas?” tanya Nara heran.
“cari proposal game ini" ucap Afkar yang masih sibuk mencari amplop besar.
“amplopnya berjumlah dua belas..... ini flashdisknya ada tiga belas.....” ucap Nara sambil menghitung flashdisk yang sudah Afkar tandai.
Afkar melihat flashdisk yang sudah dia tandai dan yang belum dia tandai, Afkar meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. Hanya sebentar Afkar menghubungi seseorang dan segera menutup ponselnya menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
“kenapa mas?” tanya Nara sambil merubah posisi duduknya menghadap Afkar.
“Zehed juga tidak tahu ini flashdisk siapa?” ucap Afkar sambil memijat pelipis kirinya.
“gamenya bagus ya....?” tanya Nara.
__ADS_1
“iya..... belum pernah ada game seperti ini.... kalau ini yang di kembangkan dalam satu minggu ini pasti bisa memenuhi target investor.” Jelas Afkar sambil memperlihatkan tampilan layar laptopnya.
Nara melihatnya dengan seksama seperti sedang mengingat-ingat sesuatu, sesekali Nara mengerutkan kulit di antara kedua alisnya dan sesekali tampak mengerucutkan kedua bibirnya serta sesekali menggoyang-goyangkan bibirnya ke kanan dan ke kiri membuat Afkar melihatnya dengan penuh pertanyaan.
“sayang pernah melihat game ini?” pertanyaan Afkar membuat Nara bingung untuk menjawabnya.
“entahlah..... sepertinya pernah melihat tapi lupa dimana dan kapan..... mirip seperti ini tapi tidak sehalus ini.... hanya visual kasar belum ada bagian ini ini dan ini juga ini" ucap Nara sambil menunjukkan di beberapa bagian yang dia maksud.
“coba sayang ingat-ingat.... dimana sayang pernah melihat game ini.... mas tidak mau kalau saat peluncuran game ini, ada yang mengatakan Kant Software adalah plagiat." ucap Afkar sambil memegang kedua tangan Nara penuh harap.
“apa mas..... juga mempekerjakan penguji game?” tanya Nara sambil masih berusaha mengingat-ingat game itu.
“ada tapi dua di antara mereka bekerja sama dengan orang itu" ucap Afkar dengan kecewa dan melepas genggaman tangannya.
“apa mas mengenal gamer lain yang bisa menguji game yang akan Kant Software luncurkan?” tanya Nara sekali lagi membuat Afkar menghembuskan nafas dengan kasar.
“mereka berdua besar di Istanbul pasti mereka memiliki teman yang maniak game.” Ucap Nara sambil meraih ponselnya dan mengetik sesuatu.
Beberapa detik kemudian Nara tersenyum senang mendapat balasan dari pesan yang dia kirim dan memperlihatkan pada Afkar.
“Zehed" ucap Afkar heran.
“mas.... coba saja minta Zehed kemari sambil membawa semua perangkat yang dia pakai untuk bermain game.... kalau mas menyuruh Marius dan Morten kemari jangan lupa minta mereka membeli coklat di melodi kahfe.....Coklat Nara habis.... mau jalan kesana tapi tumit Nara nyeri kalau di pakai jalan.” Ucap Nara sambil menyilangkan kaki kanannya dan memijat pelan tumitnya.
Afkar meraih ponselnya dan menekan nomor seseorang, Afkar berjalan mendekati jendela kaca. Untuk beberapa menit Afkar terdengar sangat serius berbicara dengan seseorang semetara Nara masih sibuk memijat kedua tumitnya bergantian hingga memaksa Nara untuk melipat kedua kakinya ke samping dan memijat kedua-duanya bersamaan. Sesekali Afkar melihat raut wajah Nara yang terlihat jelas menahan rasa nyeri saat menekan kedua tumit dengan kedua tangannya. Afkar memutus sambungan ponselnya melangkah mendekat dan duduk disebelah Nara.
“sakit?”tanya Afkar sambil meraih kaki kanan Nara dan meletakkan di pangkuannya.
__ADS_1
Nara mengubah posisi duduknya menghadap Afkar dan meletakkan kaki kirinya ke pangkuan Afkar juga. Afkar memijat pelan telapak kaki kanan Nara dan sesekali memijat betis Nara juga.
“sayang..... nyaman ya.... pakai kemeja mas?” tanya Afkar dengan tangannya masih sibuk memijat telapak kaki Nara.
Nara menganggukan kepala sambil meringis saat Afkar menekan tumit sedikit lebih keras.
“Nara ingat.....”ucap Nara sedikit keras membuat Afkar sedikit terkejut.
“ingat apa sayang.....” ucap Afkar sambil menggelengkan kepala melihat Nara yang tiba-tiba membuatnya terkejut.
“kalau tidak salah itu game..... pernah Nara lihat waktu orientasi kampus" ucap Nara yang masih mengingat-ingat detail game.
“maksud sayang....?” tanya Afkar heran dan menghentikan pijatannya di kaki Nara.
Nara mulai menceritakan game yang dia ingat dan pernah dia lihat sewaktu orientasi kampus, Afkar mendengarkan sambil kembali memijat kaki Nara.
“apa di Kant Software ada alumni dari kampus Nara?” tanya Nara serius.
“seingat mas..... kalau tim development Jakarta memang ada yang satu alumni dengan sayang tapi mas hanya memerintahkan mereka untuk mensupport saja tidak untuk membuat ide.... dan mas yakin mereka mematuhi perintah mas tidak mungkin mereka mewujudkan ide mereka di Kant Software.” Jelas Afkar yang sudah berganti memijat telapak kaki kiri Nara.
“begitu ya...... tapi kalau Nara ingat-ingat.... game itu mirip sekali sama yang Nara lihat di kampus hanya memang ada perbedaannya tapi perbedaannya tidak banyak juga..... bukankah sebuah ide tidak bisa berada di dua tempat dan waktu yang berbeda kalau hanya satu orang yang memiliki ide itu. Kecuali kalau orang itu juga termasuk salah satu tim development Kant Software.” Jelas Nara.
“memangnya sayang ingat siapa nama rekan sekampus sayang yang memiliki ide game yang sama seperti itu?” tanya Afkar santai.
“kalau nama Nara tidak ingat karena dulu hanya di tampilkan oleh para senior di salah satu Lab, kami para mahasiswa baru hanya boleh melihat saja kalau pun ada yang memainkan tentunya bukan mahasiswa baru tapi mungkin mahasiswa semester tiga atau lima." mendengar cerita Nara, Afkar segera mengetik sesuatu.
“bisa jadi salah satu tim Istanbul adalah senior sayang..... mas juga tidak begitu paham siapa saja mereka dan dari mana mereka..... ada tim tersendiri yang merekruit mereka" ucap Afkar yang masih sibuk mengetik sesuatu.
__ADS_1