NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 143 SUASANA HATI (3)


__ADS_3

Disaat Afkar dan Nara sedang menikmati makan pagi, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Untuk sesaat mereka saling melihat dan seperti berbicara dengan mata mereka.


“ mas Afkar.... menyuruh Lief kemari? “ Afkar menjawab pertanyaan Nara dengan menggelengkan kepala.


“ sebentar mas lihat dulu “ ucap Afkar yang sudah berdiri dari kursi meja makan.


Di saat Afkar melihat siapa yang mengetuk pintu unit apartement mereka, Nara sudah dalam proses menghabiskan piring ke dua makan paginya.


“ wa...... makan pagi lengkap begini kenapa kakak tidak di ajak “ suara Barra membuat Nara menghentikan sendok tepat di depan mulutnya.


Nara meringis mendengar ucapan Barra. Tanpa menunggu tuan rumah mempersilahkan dirinya duduk, Barra menarik kursi di samping kanan Nara tapi belum sempat duduk Afkar sudah menariknya untuk berpindah tempat duduk. Nara tersenyum geli melihat apa yang Afkar lakukan.


“ bagi piring “ ucap Barra singkat membuat Afkar menyerahkan 1 piring bersih yang tepat berada di depannya.


Selagi Barra mengambil beberapa menu makanan dan meletakkan di piringnya, Afkar memperhatikan sebuah map yang tak jauh dari tangan Barra.


“ apa itu? “ tanya Afkar dengan tangan kanannya menunjuk pada map yang Barra bawa.


“ lihat saja sendiri “ ucap Barra sambil menyerahkan map tersebut.


Afkar membuka map tersebut dan membaca sebentar.


“ ini.... dan ini saja..... yang lain batalkan “ ucap Afkar sambil menunjuk beberapa nama acara televisi yang menginginkan kehadiran D4rkC0d3 di acara mereka.


Dengan mulut penuh makanan, Barra menganggukan kepala.


“ katakan pada Nanwei..... dia sudah menyetujuinya “ ucapan singkat Barra membuat Afkar mengusap kasar wajahnya.

__ADS_1


Afkar menepuk paha kanan Nara dengan tangan kirinya dan menjauh dari meja makan, Afkar terlihat berbicara dengan seseorang di ponselnya.


“ Ra.... kangen rumah ya....? “ pertanyaan Barra membuat Nara meletakkan sendok juga garpunya.


“ entahlah.... Nara hanya ingin tidak mau keluar..... merasa nyaman saja dengan pakaian seperti ini..... dulu setiap pulang kuliah.... mau ada kompetisi atau pun tidak.... mau kakak ada lembur atau tidak..... kakak tidak mempermasalahkan kalau Nara seharian di rumah pakai pakaian seperti ini..... tapi dua hari lalu mas Afkar mulai mempermasalahkan dan meminta Nara ke markas.... Nara jadi malas mendengar permintaan mas Afkar “ jelas Nara sambil memotong 1 lontong lagi di piringnya.


“ oooo.... sekarang sepertinya suasana hati kalian sudah bagus nih..... itu “ ucap Barra sambil menunjuk Afkar yang masih berbicara di ponsel dan mengusap lehernya.


Nara meringgis mendengar ucapan Barra karena Nara paham maksud Barra.


“ tidak apa-apa.... menyenangkan memuaskan suami salah satu bentuk kewajiban istri yang paling utama. “ jelas Barra sambil mengambil satu irisan lontong dari piring Nara.


“ kakak kenapa lontong Nara di ambil..... itu masih ada yang lain. “ suara manja Nara yang sedikir keras membuat Afkar melihat Barra dan Nara yang masih berada di meja makan.


“ kakak malas memotongnya.... “ alasan Barra membuat Nara cemberut.


“ kebiasaan.... malas motong.... inginnya langsung makan....” gerutu Nara membuat Barra gemas.


Afkar kembali duduk di sebelah kanan Nara dan membelai paha kanan Nara dengan tangan kirinya.


“ Apa kamu sudah menghubungi produser acara ini? “ tanya Afkar sambil membersihkan sudut bibir Nara yang terdapat sisa makanan.


“ belum..... aku akan menghubungi produser acara itu kalau kamu mengizinkan Nara datang, kalau kamu tidak mengizinkan..... untuk apa aku menghubungi produser..... bukankah scaryrobot dan starsiv sudah biasa datang ke acara seperti itu..... tapi berbeda sama Nara.... ini pertama kalinya bagi Nara..... kamu tahu sendiri Nara masih belum mau penampilannya di kenal publik. “ ucap Barra panjang lebar sambil sekali lagi mengambil paksa 1 iris lontong di piring Nara.


“ kakak..... potong sendiri dong..... “ suara keras Nara membuat Barra semakin gemas untuk menjahilinya.


Afkar menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya dan Barra.

__ADS_1


“ apa dulu kalian seperti ini juga waktu di Jakarta? “ tanya Afkar yang mulai ingin tahu bagaimana hubungan Barra dan Nara sebelum Nara bertemu dirinya.


“ lebih parah dari ini.... kak Barra paling jahil.... meskipun Nara sudah menangis....kak Barra baru berhenti jahil kalau kak Fajrin sudah menarik rambutnya...... beda sama kak Satya.... lihat Nara mau nangis saja..... kak Satya sudah berhenti jahilnya....“ ucap Nara kesal.


“ karena Nara.... adik yang paling kakak sayangi..... “ alasan Barra membuat Nara mencebikkan bibir bawahnya.


“ tuh..... lihat menggemaskan sekali.... kalau kamu tidak menggemaskan mana mungkin Afkar mau ada tanda di situ.... “ kali ini membuat Nara diam dan tertunduk malu.


Afkar menggelengkan kepala melihat Nara dengan Barra seperti melihat Nara dengan Fajrin. Padahal dirinya sendiri selama ini tidak pernah berbuat jahil pada Norin meski pun Afkar tahu bahwa Norin sudah lama menyukai Dean, tapi tetap saja Afkar tidak pernah sekali pun jahil pada Norin.


“ kalau kamu mau..... minta sama Zarya “ ucap Afkar asal.


“ tidak boleh belum halal “ ucap Nara keras dan tiba-tiba membuat Barra hampir saja tersedak.


Afkar tertawa melihat reaksi Barra yang terlihat sangat terkejut mendengar suara keras Nara. Akhirnya pagi ini yang seharusnya suasana hati Nara senang tiba-tiba menjadi malas karena Barra, membuat Nara sedikit menghentakkan kaki kanannya sebelum masuk ke kamar.


Barra tersenyum senang karena sekali lagi berhasil menjahili Nara, tapi membuat Afkar menatap tajam pada Barra.


“ baiklah..... baiklah..... aku berhenti menjahili istrimu.... tapi dia adikku.... “ ucap Barra sambil tersenyum penuh kemenangan berhasil merubah suasana hati Nara juga Afkar.


“ aku heran sama kalian semua..... Fajrin.... 4beta.... dan kamu.... suka sekali jahil sama Nara..... apa karena Nara satu-satunya saudara perempuan kalian..... tapi tunggu.... 4beta punya adik perempuan..... ya.... meski pun beda Ibu.... tapi tetap saja aku heran dengan sikap kalian yang suka sekali jahil sama Nara....terutama kamu.... kamu paling parah..... “ ucapan Afkar hanya membuat Barra tersenyum penuh kemenangan.


“ kami melakukan itu karena ada alasan tersendiri.... kalau kamu mau tahu alasannya.... aku yakin setelah aku menceritakan semua.... kamu tidak akan berkomentar lagi dengan kejahilanku pada Nara. " ucap Barra dengan senang.


“ sebelum kita berbicara serius tentang ini.....ceritakan alasan kalian suka jahil pada Nara..... aku punya banyak waktu.....“ tantang Afkar yang sudah duduk di sofa sambil meletakkan map dengan kasar yang tadi Barra bawa.


Akhirnya Barra mengikuti Afkar duduk di sofa dan mulai menceritakan alasan kenapa dirinya dan satya suka sekali jahil pada Nara, Afkar mendengarkan semua cerita Barra tanpa menyela sekali pun. Terkadang sorot mata Afkar terlihat jelas merasa sangat geram atau pun jengkel pada Barra saat Barra menceritakan apa saja hal jahil yang sudah dia lakukan pada Nara dulu, tapi mendengar alasan di balik kejahilan yang dia lakukan pada Nara seketika sorot mata Afkar berubah menjadi sedih dan merasa bersalah bahwa dulu pernah hampir mengabaikan Nara.

__ADS_1


“ sekarang sudah paham kenapa kami suka jahil pada Nara? “ Afkar menjawab pertanyaan Barra dengan menganggukan kepala.


“ memang Nara menjadi manja.... menjadi tergantung pada kami.... tapi kami sayang sama Nara.... kami tidak ingin melihat Nara menangis.... makanya sebisa mungkin kamu ikuti kemauannya selama masih dalam batas normal.... kalau Nara sudah diam tidak mau menjawab pertanyaaan atau pun ucapan kita..... itu sudah menjadi tanda bahwa sebentar lagi pasti Nara akan menangis.... itu sudah lebih dari cukup buat kami menjahili Nara “ penjelasan panjang Barra membuat Afkar mengingat berapa kali dia sudah membuat Nara diam dan hampir menangis.


__ADS_2