
Afkar membantu Nara berbaring di ranjang dan memijat kedua telapak kaki Nara, kebiasaan setiap sebelum tidur malam yang Afkar lakukan karena hanya dengan cara inilah pelan-pelan Nara akan tertidur. Merasa bahwa Nara sudah tertidur pulas, Afkar menghentikan pijatan di kedua telapak kaki Nara dan berbaring disebelah Nara. Memandangi Nara yang tertidur pulas, membelai dan mencium perut Nara yang sudah terlihat membuncit, membelai pipi dan mencium kedua pipi Nara yang terlebih lebih chubby membuat Afkar semakin merasa sayang juga cinta pada Nara.
“ what will happen to me if I don't meet you in past.... do I will had this feeling if I meet another woman.... or I will still alone in my lifetime (apa jadinya bila dulu tidak bertemu sayang..... apa mas akan memiliki perasaan yang sama bila mas bertemu dengan wanita lain..... atau akan tetap sendiri seumur hidup mas) “ gumam Afkar sambil memandangi wajah damai Nara.
“ I love you.... “ ucap Afkar sambil mengecup kening dan bibir Nara sesaat.
Dan Afkar pun ikut tidur terlelap dengan memeluk Nara.
Pagi ini Afkar berencana untuk menginterogasi Lief juga para pengawal Nara. Afkar sudah terlihat rapi dengan celana jeans, t-shirt dan kemeja warna hitam terlihat sedang duduk merenung memikirkan apa yang akan dia lakukan pada Gustaf.
Nara yang melihat Afkar melamun segera duduk disebelahnya.
“ hayo..... lagi mikir apa? “ suara Nara membuyarkan lamunan Afkar.
Afkar langsung memeluk erat dan mencium pipi kanan Nara yang chubby.
“ sayang kenal sama pria yang tadi malam berbicara pada sayang? “ dengan refleks Nara menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Afkar.
Afkar terdiam menatap dalam-dalam kedua mata Nara mencari tahu apa ada yang Nara sembunyikan darinya.
“ mas..... Demi ALLAH.... Nara tidak mengenal orang itu..... tapi..... “ suara Nara terhenti dan kepalanya menunduk tidak berani menatap kedua mata Afkar.
“ sayang...... apa sayang menyembunyikan sesuatu dari mas? “ tanya Afkar sambil menyentuh dagu Nara agar Nara menatap kedua matanya.
“ mas.... ingat waktu Nara meminta mas untuk berangkat kerja..... “ suara pelan Nara dengan kedua mata yang menatap bawah tidak mampu menatap kedua mata Afkar meski pun wajahnya tidak tertunduk.
__ADS_1
“ hmmmm.... “
“ sebenarnya Nara..... minta tolong Ines dan kepala pengawal untuk membantu rencana Nara.... “ dengan masih menundukkan pandangannya Nara mulai menceritakan rencananya yang beberapa hari lalu dia paksakan pada Ines dan kepala pengawal.
Afkar berkali-kali menarik nafas panjang mendengar cerita Nara, dalam otak Afkar hanya terlihat satu pertanyaan.
“ kenapa sayang merencanakan semua ini...... apa sayang tidak percaya mas? “ Nara menggelengkan kepala dan kedua matanya mulai berkaca-kaca menyesal merasa bersalah.
“ bukan Nara tidak percaya sama mas...... Nara tahu.... orang itu tidak akan berhenti mengikuti dan menyakiti Nara kalau keinginannya tidak tercapai.... Nara hanya ingin menghentikan itu semua.... Nara hanya ingin mas berhenti memikirkan orang itu.... maaf Nara tidak berpikir kalau orang itu akan menggunakan senjata api pada Nara..... “ suara parau Nara membuat Afkar menarik nafas panjang tidak bisa berkata-kata.
Hanya pelukkan hangat yang bisa Afkar berikan.
“ jangan marah pada Ines dan kepala pengawal ya..... Nara yang memaksa mereka..... awalnya mereka tidak mau.... dan ingin mengatakan semua rencana Nara pada mas.... tapi Nara memaksa mereka untuk tidak menceritakan pada mas.... “ suara parau Nara membuat Afkar terdiam hanya memeluk dan membelai kepala Nara.
“ sayang..... sudah keharusan bagi mas merasa kuatir akan keselamatan sayang..... sayang tanggung jawab mas..... maafkan mas..... tidak bisa secepatnya menangkap orang itu..... tapi bukan berarti sayang bisa bertindak semau sayang..... kalau kemarin malam terjadi apa-apa sama sayang.... mas bisa gila.... mas tidak sanggup lagi hidup kalau sayang pergi meninggalkan mas “ ucap Afkar frustrasi mengingat kejadian semalam.
“ memangnya Nara bisa meninggalkan suami yang Masya ALLAH ketampanannya mampu membuat ..... tiga atau empat wanita tergila-gila sama mas “ rayuan Nara membuat Afkar tersenyum tipis.
Menyusuri pipi kiri Afkar dengan jari telunjuk tangan kanannya dan berhenti di bibir bawah milik Afkar.
“ sayang..... mas mohon jangan lakukan lagi hal-hal yang membahayakan diri sayang..... “ pinta Afkar dan memeluk erat tubuh Nara.
Menenggelamkan wajahnya di salah satu bagian tubuh Nara yang kenyal. Nara mencium dan membelai rambut Afkar.
“ Insya ALLAH.... “ mendengar jawaban Nara membuat Afkar semakin mengeratkan pelukkannya.
“ tapi mas janji.... jangan memarahi Ines atau pun kepala pengawal..... mereka hanya melakukan apa yang Nara minta..... “ Afkar menganggukan kepala menjawab permintaan Nara.
__ADS_1
Afkar menyuruh Ines masuk ke dalam unitnya. Ines masuk dan melihat pemandangan yang membuatnya merasa harus selalu menundukkan kepalanya. Nara paham dengan sikap Ines dan memilih berdiri dari paha Afkar duduk di sebelah Afkar.
“ Ines..... fortell meg begynnelsen av gårsdagens hendelse (Ines..... ceritakan awal mula kejadian tadi malam) “ suara tegas Afkar membuat Ines tidak berani menatap Afkar.
Meski pun suara Afkar tidak terkesan dingin tapi suara tegas Afkar cukup membuat Ines gugup.
“ mas.... bisa tidak jangan membuat Ines takut begitu.... “ protes Nara membuat Afkar mencubit pipi Nara dengan gemas.
“ her sir (begini tuan.....) “ Ines mulai menceritakan detail kejadian tadi malam.
Mulai dari kecurigaan salah seorang pengawal yang mengatakan bahwa wanita yang bersama Kalle terlihat jelas sangat menatap Nara dengan mata penuh kebencian, bagaimana wanita itu mengarahkan senjata api di kepalanya, bagaimana Nara menjadi sandera dan berakhir membuat Nara menjadi menangis ketakutan. Ines tidak menceritakan bagaimana seorang penyidik bisa mengenal Nara karena Ines tidak tahu hal itu.
“ Er du sikker på at du ikke kjenner etterforskeren (kamu yakin tidak mengenal penyidik itu)? “ tanya Afkar meyakinkan jawaban Ines.
“ Nei sir (tidak tuan.... ) “ jawab Ines yakin.
“ Greit...... i dag, vær så snill å følge med min kone..... til jeg kommer hjem..... Jeg har noe å gjøre i dag (baiklah...... hari ini tolong kamu temani istriku.....sampai aku pulang..... aku ada sedikit urusan yang harus selesai hari ini) “ ucap Afkar yang sudah berdiri di ikuti Nara.
“ mas mau kemana? Ke kantor? Ikut “ rajuk Nara membuat Afkar semakin gemas dan menangkup kedua pipi chubby Nara.
“ mau seharian menunggu di ruang kerja mas..... ? “ Nara refleks menggelengkan kepala.
Nara paham kalau Afkar sibuk pasti tidak akan bisa dia menggangunya.
Karena hari ini Afkar berencana untuk mencari tahu bagaimana penyidik itu mengenal Nara dan memastikan Gustaf merasakan apa yang para wanita Rosenkrantz rasakan, Afkar meminta Ines menemani Nara selama dia pergi. Tapi Afkar tidak menceritakan pada Nara apa yang akan dia lakukan hari ini.
Ines menemani Nara, meski tidak sekali ini Ines melihat wajah Nara tapi Ines masih saja terkesima dengan kecantikan wajah Nara.
__ADS_1
“ Mr. Afkar fortjener å være besittende av fruen ... ansiktet hans er bare vakkert ... huden hans er ren hvit ... (pantas tuan Afkar posesif pada nyonya.... wajahnya saja cantik... kulitnya putih bersih....) “ gumam Ines sambil membantu Nara memotong kuku kedua kaki Nara.