
Selepas makan siang juga sholat dhuhur, Afkar membawa Nara masuk ke kamar karena sejak datang hingga siang ini Nara tidak berhenti bergerak kesana kemari berbincang-bincang dengan Norin mau pun Freya.
“ mas.... masih banyak yang ingin Nara bicarakan sama Norin.... “ protes Nara dengan cemberut.
“ sekarang sayang istirahat dulu..... nanti malam..... besok masih bisa sayang bicara banyak hal sama Norin juga Amma “ ucap Afkar yang sudah memeluk Nara dari belakang agar Nara berjalan masuk ke kamar.
Meski pun dengan cemberut, Nara menuruti apa yang Afkar katakan. Afkar membantu Nara melepas kain hitam yang menutupi seluruh tubuhnya dan menggantinya dengan pakaian santai dan longgar. Saat Afkar sibuk merapikan rambut Nara, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.
“ sebentar mas lihat dulu “ ucap Afkar sambil melangkah menuju pintu.
Nara pelan-pelan naik ke ranjang dan menyandarkan punggungnya di 2 tumpukan bantal.
Afkar masuk bersama Fajrin.
“ Masya ALLAH..... besar sekali dik perutmu... “ suara Fajrin sedikit membuat Nara terkejut.
Nara meringis mendengar ucapan Fajrin.
“ mas Afkar.... yang buat Nara begini “ ucap Nara sambil mengerucutkan kedua bibirnya.
Afkar tersenyum tipis dan mencubit pipi kiri Nara.
“ tidak suka.... ya sudah kalau tidak suka.... mas tidur di luar “ mendengar ucapan Afkar membuat Nara dengan cepat meraih lengan kiri Afkar.
“ jangan..... nanti lengan siapa yang Nara peluk “ ucap Nara yang sudah menggenggam erat lengan Afkar.
Fajrin menarik nafas panjang berasa melihat drama.
“ dik.... tanda tangan ini “ ucap Fajrin sambil menyerahkan sebuah berkas.
Nara melihat berkas itu dengan heran.
“ ini berkas jual beli rumah.... rumah ibu sudah ada yang beli.... dan pembeli mau mengganti nama kepemilikan.... dan belum ada tanda tangan adik sebagai ahli waris.... uang hasil penjualan rumah..... kakak bagi.... masing-masing 5% untuk wakaf ayah sama ibu.... sisanya 1,2 bagian kita.... “ Nara menganggukan kepala mendengar penjelasan Fajrin.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Nara segera menandatangani berkas tersebut dan menyerahkan kembali pada Fajrin.
“ bagian adik 400 juta mau di tranfer kemana? “ tanya Fajrin sambil membelai perut Nara yang sedikit menonjol di sisi kiri.
Terlihat Nara berpikir sesaat dan tiba-tiba meminta ponsel Afkar dan mengetik sesuatu.
“ bisakah kakak membantu Nara mewakafkan bagian Nara ke sini? “ ucap Nara sambil memperlihatkan sebuah alamat.
“ yakin semua? “ tanpa berpikir panjang Nara menganggukan kepala.
Fajrin menarik nafas panjang melihat anggukan kepala Nara.
“ baiklah kalau begitu.... besok pagi kakak bawa langsung ke sana..... “ ucap Fajrin dan melangkah menjauh dari ranjang.
Afkar menatap wajah Nara dengan tatapan tidak percaya, Nara tidak tahu bahwa Afkar menatapnya dengan intens karen Nara sibuk merapikan ujung pakaiannya yang hanya menutupi setinggi lutut.
“ mas Afkar tidak ganti pakaian? “ tanya Nara heran karena Afkar sudah berada di sisi kanannya.
“ nanti saja..... sekarang mas mau ini “ ucap Afkar yang sudah menyelipkan tangan kanannya di antar kedua pangkal paha Nara.
Tapi Afkar tidak peduli dan semakin memainkan tangannya, membuat pemilik pangkal paha meremas lengan kanan Afkar. Melihat Nara yang sudah terbuai dengan tangannya, Afkar segera melepas semua kain yang dia kenakan juga kain yang masih Nara pakai. Afkar mulai menelusuri setiap inchi kulit Nara dan meninggal jejak kemerahan di kulit, olah raga siang yang membuat Nara berkali-kali harus meremas jari jemari Afkar. Setiap pergerakan yang Afkar lakukan selalu membuat dirinya mencapai puncak, dan Afkar mengetahui hal itu karena Nara akan meramas jari-jemarinya bila Nara sudah mencapainya.
Karena perut Nara yang besar membuat Afkar tidak bisa mengurung Nara di bawahnya hanya telapak tangannya yang memegang pinggul dan perut Nara. Olah raga yang membuat Nara cepat memejamkan kedua matanya bila Afkar sudah melepaskan diri.
“ menggemaskan “ gumam Afkar dalam hati sambil memeluk Nara dari belakang.
Menjelang sore Nara terbangun karena ingin buang air kecil, Afkar segera terbangun dan membantu Nara.
“ mas.... memangnya di club house ada perangkat yang berbeda dengan di markas? “ tanya Nara sambil memalingkan badannya.
Karena Afkar sedang membanti mengeringkan badannya.
“ iya... di ruang server dan di ruangan dekat dorm Jonathanj ada perangkat yang tidak ada di markas..... besok kalian bisa mempelajari perangkat itu.... dulu jonathanj ingin sekali black shield ikut kompetisi format hack quest.... tapi kemampuan mereka belum memenuhi target yang jonathanj harapkan. “ ucap Afkar sambil sibuk mengeringkan beberapa lipatan di tubuh Nara.
__ADS_1
Afkar menutupi tubuh Nara dengan handuk yang cukup lebar.
“ sayang pakai ini ya..... lebih sederhana dan tidak ribet “ ucap Afkar sambil menunjukkan abaya yang sengaja dia beli.
Nara melihatnya sesaat dan mengerutkan kulit di antara dua alisnya.
“ kapan mas beli ini? “ tanya Nara heran.
Afkar terlihat diam dan mengulas senyum tipis seperti mengingat-ingat sesuatu.
“ sudah lama.... kalau tidak salah ingat.....waktu ta'aruf kedua.... “ ucap Afkar yang sudah membantu menarik ke atas resleting abaya.
“ oooo..... jadi mas sengaja beli buat Nara..... atau buat..... yang lain “ goda Nara dan membuat Afkar memeluk erat Nara dari belakang.
Untuk beberapa detik Afkar hanya memeluk dan menghujani kepala Nara dengan ciuman kecil.
Sementara di ruang makan, seluruh keluarga Afkar sudah berkumpul untuk makan malam.
Selepas Isya dan makan malam, semua orang berpindah ke ruang tengah karena Erhan dan Ralf sudah menunggu mereka, tapi Nara masih sibuk dengan makan kecil dan dengan sedikit terpaksa mengikuti Afkar ke ruang tengah. Semua anak cucu juga menantu dan orang-orang terdekat Erhan sudah berada di ruang tengah. Afkar paham Nara merajuk dan meminta Lief untuk memgambilkan makan kecil yang tadi Nara makan.
“ inikan yang sayang mau “ ucap Afkar sambil menyerahkan 1 mangkuk penuh makanan kecil pada Nara.
Nara seketika tersenyum terlihat kedua matanya yang menyipit dan Afkar mencium pelipis kiri Nara, setelah menunggu beberapa menit akhirnya yang Erhan tunggu datang juga. Felissa dan Murat, mereka datang langsung dari Istanbul dengan membawa buah tangan berupa coklat kudapan kesukaan Nara.
Kakak beradik Yilmaz memberi salam pada kedua orang tuanya, begitu juga dengan yang lain. Setelah 15 menit berbasa basi akhirnya Ralf meminta semua orang untuk diam mendengarkan apa yang akan Erhan katakan.
Nara tidak paham dengan apa yang Freya dan Felissa pegang, dan Nara semakin menyibukkan diri dengan makanan kecil juga coklat buah tangan dari Felissa
“ ingen måte... ingen måte..... hvorfor fortalte ikke Asma meg...... hvorfor fortalte ikke Asma meg noe (tidak mungkin.... tidak mungkin..... kenapa Asma tidak bilang...... kenapa Asma tidak mengatakan apa pun padaku) “ ucap Freya tidak percaya dengan apa yang dia pegang saat ini.
Seketika Nara terdiam karena Felissa menyebut nama ibunya, Nara memandang Felissa dengan penuh tanya.
Freya memegang 2 berkas rekam medis, 1 milik Asma dan 1 milik Ni Ao mamanya atau istri Erhan.
__ADS_1
“ Asma..... “ teriak Freya dengan air mata yang sudah menggantung di kedua kelopak matanya.
Nara semakin terkejut dengan teriakan Freya yang memanggil nama ibunya, otak Nara berpikir keras kenapa kedua wanita dewasa keluarga Sadhat memanggil nama ibunya.