NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 36 KAMAR (2)


__ADS_3

Sejak mengetahui bahwa dirinya hamil, setiap kali menunggu Afkar pulang pasti membuat Nara merasa kalau Afkar mengabaikannya melupakannya. Meskipun makan malamnya Afkar yang memesannya, tetap saja Nara merasa kalau Afkar seperti mengabaikannya. Pada akhirnya Nara memilih untuk tidur saja dari pada menunggu suaminya yang pasti sedang sangat sibuk untuk acara besok malam.


Tepat pukul satu malam waktu setempat Afkar masuk ke kamar dan mendapati Nara yang sudah tertidur pulas dengan selimut yang acak-acakan, Afkar mendekati istrinya dan membetulan selimut untuk menutupi tubuh Nara hingga setinggi dada. Afkar merasa segar setelah membersihkan diri dengan mengenakan pakaian tidur berupa celana boxer dan kaos tanpa kerah tanpa lengan, Afkar merebahkan badannya di samping Nara dan tertidur dengan memeluk tubuh Nara.


Menjelang Adzan Shubuh Nara terbangun karena merasa ingin buang air kecil tapi sebuah lengan sedang menahannya tepat di atas perutnya, Nara dengan pelan mengangkat lengan itu yang tak lain milik suaminya dan dengan berlari kecil masuk ke kamar mandi. Afkar yang sudah mulai terbiasa dengan kebiasaan Nara yang sering buang air kecil hanya merubah posisi tubuhnya miring ke kanan, Nara kembali mendekati ranjang untuk membangunkan Afkar.


“mas..... sudah Shubuh..... sholat dulu...” ucap Nara membangun Afkar dengan mengecup dahi Afkar tepat di bekas lukanya.


“setengah jam lagi sayang..... mas baru tidur jam satu” ucap Afkar dengan mata masih terpejam.


“sholat Shubuh dulu.... nanti tidur lagi” ucap Nara sekali lagi untuk membangunkan Afkar dan sekali lagi Nara mengecup dahi juga hidung Afkar.


Membuat Afkar memaksakan diri untuk segera bangun karena kalau tidak segera bangun, Afkar kuatir kalau Nara akan menciumnya lebih dari yang tadi dan bisa di pastikan akhir dari perbuatan Nara. Selepas Sholat Shubuh Afkar kembali naik ke ranjang kedua matanya terasa sangat berat karena baru satu jam Afkar memejamkan matanya.


Nara mengambil Al Quran dan duduk di sebelah Afkar dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang, yang pada akhirnya posisinya ini membuat Afkar memindahkan kepalanya dari bantal ke paha Nara. Dengan satu tangan menopang Al Quran dan tangan yang satunya membelai rambut Afkar, Nara murojaah sendiri pagi ini. Nara memang bisa berlama-lam murojaah sendiri dan hal ini semakin membuat Afkar merasa nyaman tidur dengan paha Nara sebagai bantal, tepat pukul sembilan pagi seseorang mengetuk pintu kamar hotel mereka.


Membuat Nara terpaksa harus membangunkan Afkar, dengan mata yang masih terasa berat Afkar terpaksa bangun dan membuka pintu kamar hotel.


“Esselamu'alaikum efendim, bu istek bitti efendim (Assalamualaikum tuan, ini permintaan tuan sudah selesai)" suara Zehed seketika membuat Afkar terkejut segera menyadarkan diri dan melihat apa yang sudah Zehed bawa.


“wa'alaikumsalam.... sabah geldin (wa'alaikumsalam.... pagi sekali kamu datang)" ucap Afkar sambil menerima sesuatu dari tangan Zehed.


“bugün hemen olay yerine geldim, altıda lobide aracı hazırla (hari ini aku langsung datang ke lokasi acara, siapkan kendaraan di lobi pukul enam).” Ucap Afkar sambil merapikan rambutnya yang berantakan dengan tangan kirinya.


Saat Afkar hendak menutup pintu, Zehed menahannya dan menyerahkan troli dapur yang berisi beberapa menu makan pagi. Afkar menerimanya dan segera menutup pintu.


“makan pagi dari Zehed” ucap Afkar sambil menunjuk troli dapur dan membuat kedua mata Nara berbinar-binar melihat beberapa menu makan pagi.

__ADS_1


“sayang makan dulu.... mas ke kamar mandi sebentar" ucap Afkar berusaha bersikap biasa saja dengan tangan kanan yang memegang sesuatu tersembunyi ke belakang.


Tanpa menunggu lama Nara segera makan karena memang lambungnya sudah terasa perih minta segera di isi makanan. Lima menit kemudian Afkar duduk di sebelah Nara dan ikut menikmati makan pagi mereka.


“mas tidak ke kantor hari ini?” tanya Nara yang sudah menumpuk piring serta mangkok kotor.


“nanti lepas Magrib langsung ke acara peluncuran Escape Room.” Ucap Afkar dengan tangan kiri meraih kepala Nara untuk mencium dahinya.


Meskipun Afkar mencium dengan mulut yang masih mengunyah makanan sehingga meninggalkan jejak makanan di dahi, tak sedikit pun Nara merasa jijik tapi hanya mengusapnya sekali.


“jadi seharian mas akan menemani Nara?” tanya Nara yang sudah meraih piring kotor di depan Afkar.


“heem..... kenapa sayang tidak mau mas temani?” goda Afkar.


“tidak" jawab Nara singkat dan melangkah masuk ke kamar mandi.


“mas mandi dulu.... baru tidur lagi” rayu Nara sambil memainkan jari telunjuknya di dada Afkar.


“sayang mandikan mas.....” ucap Afkar yang sudah merubah posisinya duduk di sebelah Nara.


“mandi saja ya.... tidak ada yang lain" ucap Nara cemberut.


“tidak janji.... tapi satu janji mas” ucapan Afkar berubah menjadi pelan dan membisikkan sesuatu di telinga Nara membuat kedua pipi Nara bersemu merah.


Afkar mendorong pelan tubuh istrinya untuk kembali masuk ke kamar mandi. Empat puluh enam menit kemudian mereka keluar dan Afkar terlihat lebih segar dengan Nara yang sedikit cemberut.


Seharian penuh mereka menghabiskan waktu berdua di kamar, mereka duduk memandang langit Istanbul dan laut Marmara yang sedikit berombak.

__ADS_1


“mas.... sebelum pulang ke Oslo.... bisa tidak kita berkunjung ke aunty Felissa? hampir dua minggu Nara disini tapi belum sekali pun mas mengajak Nara berkunjung ke tempat aunty” ucap Nara sedikit merajuk.


“iya..... lusa kita tempat aunty Felissa.... tapi mas tidak janji kita tidak menginap disana” ucap Afkar sambil memasukkan sebuah coklat ke mulutnya.


Dulu Afkar tidak terlalu suka dengan makanan berbahan utama coklat tapi sejak kehamilan Nara, Afkar mulai pelan-pelan menyukai coklat. Saat mereka sedang menikmati langit jingga kota Istanbul, tiba-tiba ponsel Afkar berdering. Afkar segera berdiri dan meraih ponselnya yang berada di nakas dekat ranjang, melihat layar ponsel yang menampilkan nama Dean sedang menghubunginya dengan panggilan video.


“Assalamualaikum” salam Afkar saat mengetahui yang menghubunginya adalah Dean.


“wa'alaikumsalam, bos.... tim IP security cyber mendeteksi adanya perubahan sistem keamanan game di server database Escape Room" Afkar terkejut mendengar ucapan Dean


Afkar menutup pelan pintu kamar yang memisahkan ruang tidur dan ruang santai, berharap Nara tidak mendengar pembicaraannya dengan Dean.


“perubahan sistem keamanan game? Apa maksud kamu?” tanya Afkar heran sambil memijat tengkuknya yang mulai terasa penat mendengar berita dari Dean yang sedikit membingungkan.


“begini.... tadi pagi-pagi sekali saat salah seorang tim IP security ingin melakukan pengecekan terakhir terkait sistem yang sudah nyonya lakukan perbaikan, tim menemukan perubahan script dan perubahan itu tidak hanya dua atau tiga baris script saja tapi ada sekitar dua ratusan penambahan script baru..... kami mencoba menganalisa script tersebut dan sepertinya script itu berfungi untuk men-trigger agresif bugs atau virus bila ada penyusup jaringan.” Penjelasan Dean membuat Afkar memandang pintu kamar karena sepertinya Nara berusaha membuka pintu kamar.


“tunggu sebentar” ucap Afkar dan membuka pintu kamar mendapati wajah Nara yang cemberut.


Nara memandang Afkar dengan cemberut dan melangkah kembali ke sofa meninggalkan Afkar yang kebingungan.


“apa script itu berbahaya bagi Escape Room?” tanya Afkar serius.


“sebentar bos.... “ suara salah seorang tim IP Security sedang berbicara pada Dean yang terdengar kurang jelas bagi Afkar.


Afkar mencoba mendengarkan ucapan salah seorang tim IP Security tapi tetap tidak bisa mendengar dengan jelas.


“begini.... tadi tim IP security sudah selesai melakukan analisa dan script tersebut tidak berbahaya bagi program atau pun server database Escape Room.... tapi cukup bergaya bagi para black hat yang mencoba menyusup ke dalam sistem Escape Room" sekali lagi penjelasan Dean membuat Afkar terkejut dan tidak percaya.

__ADS_1


“para white hat yang berhasil kami kontak memberikan sedikit informasi bahwa salah satu anggota grey hat sudah memperbaiki sistem itu dan menurut mereka hanya ada tiga grey hat yang mengusai bahasa itu, tapi dua di antaranya sudah mengkonfirmasi bahwa bukan mereka yang melakukannya tapi mereka belum berhasil mengontak satu lagi grey hat karena akun-nya offline.” Penjelasan Dean membuat Afkar keluar kamar dan melihat Nara dengan tatapan penuh pertanyaan.


__ADS_2