
Sepanjang perjalanan pulang dari markas Shield Nara terdiam memandang keluar mobil, Nara masih memikirkan titik-titik kelemahan script Afkar.
“ sayang marah? “ tanya Afkar yang tangan kirinya memijat pelan bahu kanan Nara.
Nara terdiam otaknya masih sibuk dengan beberapa analisa tentang script Afkar, saat tangan Afkar memijat sedikit keras membuat Nara sadar.
“ aauuu.... sakit mas “ teriak Nara dan melihat wajah Afkar yang juga terlihat penat seperti dirinya.
Nara menarik nafas panjang dan merubah posisi duduknya dengan merebahkan kepalanya di pangkuan Afkar, Afkar membiarkan kepala Nara berada di pangkuannya dan merapikan niqab juga hijab Nara.
“ mas.... mas sengaja memperlihatkan titik-titik kelemahan script mas? “ tanya Nara sambil meraih tangan kiri Afkar yang sudah berada di atas perutnya.
Afkar tersenyum mendengar pertanyaan Nara.
“ setiap sesi pertandingan satu lawan satu mas selalu merubah-rubah titik-titik itu.... terkadang di baris enkripsi terkadang di baris sistem pertahanan pertama terkadang di akhir enkripsi dan banyak lagi “ ucap Nara yang masih memainkan jari jemari tangan kiri Afkar.
Afkar tersenyum mendengar penjelasan Nara.
“ iya.... mas sengaja.... dan mas melakukan tidak hanya pada sayang tapi juga pada yang lain.... mas ingin melihat sejauh mana analisa kalian pada script yang mas buat..... sebenarnya tadi script sayang sudah benar hanya saja ada beberapa baris yang memunculkan pengulangan dekripsi jadi membuat proses semakin panjang dan lama.... yang seharusnya hanya 10 detik selesai jadi 1 menit lebih “ penjelasan Afkar membuat Nara heran.
“ mas.... kenapa waktu di Istanbul tidak mas sendiri yang memperbaiki sistem pertahanan game Escape Room? “ pertanyaan Nara membuat Afkar mencium dahinya.
“ mas ingin melihat kemampuan sayang sampai sejauh mana agar mas bisa merencanakan kompetisi apa yang sesuai dengan kemampuan sayang “ ucap Afkar serius.
Nara gemas dengan jawaban Afkar membuat Nara merubah posisi wajahnya menghadap perut dan menggelitik perut Afkar dengan menggerak-gerakan kepalanya tepat di perut Afkar. Membuat pemiliknya tertawa geli.
“ sayang sudah..... hahahahaha.... mas geli.....” ucap Afkar dan memegang kepala Nara untuk menghentikan gerakan kepala Nara.
Akhirnya Nara berhenti dan tersenyum, Nara melingkarkan kedua tangannya di pinggang kiri Afkar serta mencium dalam-dalam aroma tubuh Afkar.
__ADS_1
Saat berhenti di depan pagar rumah mereka, seorang pengawal di mobil depan terlihat turun dari mobil seperti sedang melakukan pengecekan kondisi rumah.
“ hva er det? Noe er galt (ada apa? Ada yang tidak bereskah?) “ tanya Afkar heran pada Ines.
“ Beklager sir, vi vet ikke ennå. De sørger fortsatt først (maaf tuan, kami belum tahu. Mereka masih memastikan dulu) “ ucap Ines yang kembali berkoordinasi dengan pengawal yang tadi turun.
Dua pengawal mobil belakang turun berjalan cepat berdiri tepat di pintu dimana Afkar dan Nara duduk, Afkar heran dan memeluk tubuh Nara. Setelah menunggu kurang lebih 10 menit mobil pengawal depan masuk ke dalam pagar di ikuti mobil yang Afkar naiki.
Afkar keluar dari mobil dan melihat wajah para pengawal yang menunduk seperti merasa bersalah. Afkar membuka pintu rumah seketika kedua mata Afkar membulat sempurna, Nara yang berjalan di belakang Afkar ingin tahu dengan sedikit mengintip dari celah lengan dan tubuh Afkar.
“ Astagfirullah.... kenapa bisa begini “ teriak Nara terkejut mendapati rumahnya yang berantakan.
“ mas... kenapa ini? Apa ada yang merampok kita? Apa ada sesuatu yang mereka ambil? “ tanya Nara heran.
Afkar melangkah pelan dengan menahan tubuh Nara agar tetap di belakangnya.
“ Sir, de ødela datarommet og ødela herrerommet, alle klærne til Mr. og Mrs. var spredt på gulvet og .... Sir's studie (tuan, mereka merusak ruang komputer dan menghancurkan kamar tuan, semua pakaian tuan dan nyonya berserakan di lantai dan.... ruang kerja tuan) “ ucap seorang pengawal yang bertugas memeriksa seluruh isi rumah.
“ dette er sir (ini tuan) “ ucap pengawal itu dan menyerahkan buku silsilah keluarga Rosenkrantz yang beberapa halamannya hilang.
“ sepertinya dia sangat dendam dengan Rosenkrantz “ gumam Afkar dalam hati.
Tanpa Afkar sadari Nara sudah berjalan ke ruang komputer dan melihat komputer server miliknya mati, Nara mencoba menyalakan dengan memeriksa sumber listrik yang berada didalam rak server. tiba-tiba ada pijaran api di beberapa titik server dan rak.
“ aaaa.....” teriakan Nara membuat Afkar berlari menuju asal suara.
“ sayang.... ada apa? “ tanya Afkar heran.
“ Nara coba menyalakan server, bukan server yang menyala tapi api di sana dan di sana “ ucap Nara sambil menunjukkan pijaran tersebut.
__ADS_1
Seorang pengawal segera mengambil tabung pemadam api darurat untuk memadamkan api di rak server.
“ sepertinya kita harus pindah ke apartemen, disini tidak aman... sewaktu-waktu bisa saja mereka kembali lagi “ ucap Afkar membuat Nara bingung.
“ sayang kemasi pakaian sayang, minta tolong Ines membantu sayang. mas mau lihat ruang kerja dulu “ ucap Afkar sambil memberi isyarat tangan pada Ines.
“ pakaian mas juga? “ teriak Nara membuat Afkar mengacungkan ibu jari tangan kanannya.
Nara meminta Ines membantu mengemasi pakaian miliknya dan juga milik Afkar, 4 koper besar memuat semua pakaian mereka dan Ines meminta seorang pengawal untuk memasukkan ke bagasi mobil. Afkar hanya mengambil dokumen pribadi Nara dan dirinya sementara Nara kembali sibuk di ruang komputer dan membongkar paksa casing server yang sudah rusak.
“ sayang sedang apa? “ tanya Afkar yang berjalan mendekatinya.
“ mungkin server ini sudah tidak bisa di pakai lagi, tapi Hardisk ini masih bisa Nara perbaiki “ ucap Nara sambil menarik kabel eSATA dari Harddisk.
Nara tersenyum karena fisik harddisk tidak susah.
“ semoga masih terbaca filenya.... jadi malam ini kita tidur dimana? “ tanya Nara dengan tersenyum.
“ kita pindah ke apartemen “ ucap Afkar yang sudah membawa dokumen Nara.
Afkar hanya membawa berkas pribadi Nara dan dirinya, Afkar memutuskan untuk tinggal di apartement hingga orang itu tertangkap dengan bukti yang kuat.
“ Sir, hvilken leilighet vil du bo (tuan ingin tinggal di apartement yang mana)? “ tanya seorang pengawal.
Afkar terdiam berpikir sesaat bingung hendak tinggal di apartement yang mana.
“ Oslo sentrum leilighet, kan du okkupere en enhet i første etasje (Oslo city center apartement, kalian bisa menempati unit di lantai 1) “ ucap Afkar sambil mengetik sesuatu di ponselnya.
“ ok sir takk (baik tuan, terima kasih) “ ucap seorang pengawal dan membukakan pintu mobil untuk Afkar dan Nara masuk.
__ADS_1
Jarak antara rumah dan apartement kurang lebih 15 menit dengan berkendara, tapi jarak antara apartement dengan markas Shield hanya 10 menit jalan kaki.
Sepanjang perjalanan kembali ke pusat kota Oslo, Afkar tidak tenang masih memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya. Menggenggam erat tangan kanan Nara seperti ada perasaan takut kehilangan Nara, sesekali Afkar mencium punggung tangan Nara.