
Akhirnya dengan berbagai penjelasan dari Nanwei, Barra menerima perubahan jadwal tersebut meski pun masih sedikit berat mengingat jadwal kompetisi yang sebelumnya lebih banyak kompetisi onsite.
“ ok .... i hvert fall på slutten av denne sesongen vil det være Neptunia junior eller GUN junior, så i neste sesongs konkurranse må vi bare se GUN holde sin junior (baiklah.... setidak-tidaknya di akhir musim kompetisi ini sudah ada Neptunia junior atau GUN junior, jadi di kompetisi musim depan kita tinggal melihat GUN menggendong junior mereka) “ ucap Barra sambil menunjuk Afkar.
Afkar tersenyum dan meng-aamiin-kan dalam hati semua ucapan Barra. Karena Nara yang masih tertidur dan sulit di bangunkan, membuat Afkar harus mengangkatnya untuk segera kembali ke apartement. Dan sekali lagi Afkar membawa Nara pulang dengan melewati pintu belakang, Afkar tidak ingin sosok yang mengawasi Nara menaruh kecurigaan yang akan mengakibatkan hal-hal di luar kendali Afkar.
“ Det er allerede denne timen hvorfor de ikke har kommet ut av bygningen ennå (sudah jam segini kenapa mereka belum keluar dari gedung itu) “ gumam sosok itu yang terlihat gusar juga frustasi yang setiap hari memandangi pintu lobi markas Shield.
Sampai di unit apartement mereka, saat Ines hendak membukakan pintu apartement tiba-tiba Nara terbangun.
“ sudah sampai apartemen ya... “ ucap Nara dengan suara khas bangun tidur.
Afkar menatap Nara heran untuk sesaat dan tersenyum gemas karena kehamilan Nara kali ini berbeda dengan sebelumnya, Nara lebih manja dan lebih terlihat centil bila hanya berdua bahkan tak jarang Nara meminta Afkar untuk memandikan dan memakaikan pakaian. Karena Afkar teringat akan kehamilan Nara yang sebelumnya ada nasehat dokter yang dia abaikan maka di kehamilan kali ini Afkar benar-benar berusaha menahan diri untuk tidak memakan Nara saat Nara meminta untuk dimandikan juga dipakaikan baju. Afkar selalu bergumam Dalam hati untuk menahan keinginannya untuk memakan Nara, seperti kali ini.
“ mas.... ayo mandi “ ucap Nara sambil cemberut karena Afkar sekali lagi terasa berat untuk menuruti kemauan Nara yang satu ini.
“ aduuuh...... baru mau 8 minggu masih kurang 4 minggu lagi puasanya “ gumam Afkar yang melangkah sedikit malas mendekati Nara yang sudah polos dan berdiri di ambang pintu kamar mandi.
“ ya sudah kalau tidak mau mandikan Nara..... dik..... Abi tidak mau mandikan adik..... adik mandi sama Umma saja ya..... “ ucap Nara sambil mengusap perutnya yang mulai terlihat sedikit menyempul kecil.
Afkar gemas mendengar ucapan Nara dan ikut melepas semua kain yang masih melekat di tubuhnya. Acara membersihkan diri yang sangat menyiksa Afkar, melihat tubuh polos istrinya tanpa bisa melakukan apa pun selain membasuh sampai bersih hingga ke sela-sela lipatan tubuh. Selesai membersihkan diri, Afkar masih harus menahan diri karena harus memakaikan pakaian yang Nara pilih.
“ adik..... jangan bandel ya.... Abi tidak tahan kalau harus lihat Umma begini.... “ ucap Afkar sambil memakaikan hipster yang sedikit lagi tidak muat di paha Nara.
Nara meringis mendengar ucapan Afkar yang terdengar dengan jelas putus asa harus puasa hingga 4 minggu lebih.
__ADS_1
“ sudah selesai.... sekarang kita makan.... sebelum mas benar-benar membatalkan puasa “ ucap Afkar sambil melangkah mendekati deretan pakaian santainya.
Sementara Nara sudah melangkah keluar kamar dan mendapati makan malam yang sudah tertata rapi di meja, sejak mengetahui kehamilan Nara. Afkar meminta 1 orang pelayan dari castil Erhan hanya untuk membersihkan apartemen saat mereka berdua sudah pergi dan menata makan malam di meja saat mereka berada di dalam kamar. Karena tidak semua pelayan di castil Erhan yang memahami apa yang tidak boleh mereka makan dan hanya 1 orang pelayan ini saja yang paham akan makanan yang bisa Nara dan Afkar makan.
“ mas.... ayo suapi Nara..... makan malamnya masakan padang “ suara keras Nara membuat Afkar semakin gemas.
Afkar berdiri di ambang pintu menatap Nara yang sudah tidak sabar ingin menghabiskan makanan yang berada di depannya.
“ untung punya kenalan pemilik restauran makanan Indonesia.... kalau tidak bisa-bisa minta pulang ke Jakarta “ gumam Afkar yang sudah berjalan mendekati Nara.
Afkar dengan sabar menyuapi Nara, Nara tidak menolak makanan apa pun selama Afkar menyuapinya. Yang terkadang membuat Afkar heran karena ***** makan Nara yang besar tapi badannya tidak terlihat besar hanya perutnya yang mulai sedikit menyempul karena 2 janin yang semakin hari semakin berkembang.
Selesai makan malam, Nara masih memasukan beberapa makanan kecil ke dalam mulutnya sementara Afkar menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai.
“ tidak ada.... Morten sudah banyak kemajuannya bahkan dia sudah mulai cepat mengambil keputusan.... mas saat kompetisi bisa tidak mas cuti sehari.... “ ucap Nara yang sudah merebahkan kepalanya di paha Afkar.
“ kenapa? “ tanya Afkar heran.
“ biar saat jeda kompetisi.... Nara bisa peluk mas bisa cium mas seperti ini “ ucap Nara yang sudah melingkarkan kedua tangannya di pinggang kiri dan menenggelamkan wajahnya di perut Afkar.
Afkar tersenyum mendengar alasan Nara.
“ mas usahakan..... tapi janji kalau mas tidak bisa cuti.... sayang tidak boleh merajuk tidak boleh menangis..... sayang harus tetap ikut kompetisi dan harus juara..... point sayang sudah hampir memenuhi standart kompetisi puncak Hack guest..... “ ucap Afkar menasehati sambil tangan kirinya membelai perut Nara.
Tiba-tiba Nara duduk dan langsung berdiri dari sofa.
__ADS_1
“ mas.... sholat Isya dulu ya.... mata Nara sudah mulai berat “ ucap Nara yang sudah melangkah masuk ke kamar tidur.
Afkar menarik nafas panjang di buat heran dengan perubahan sikap Nara yang tiba-tiba dan serba mendadak. Afkar segera beranjak dari sofa dan mengikuti langkah kaki Nara masuk ke kamar, Nara mengenakan mukena sambil menunggu Afkar yang masih wudhu.
Selesai sholat Isya’ , seperti biasa Nara mulai murojaah sedangkan Afkar lebih suka mendengarnya. Kedua mata Nara semakin terasa mengantuk hingga membuatnya segera mengakhiri murojaah, melepas mukena dan meletakkan Al Qur'an di tempatnya kembali. Udara di luar apartemen terasa dingin karena suhu udara berada di 12° celcius, Nara segera masuk ke dalam selimut. Afkar mengikut Nara masuk ke dalam selimut.
“ mas.... peluk “ ucap Nara bernada manja.
Afkar segera memeluk Nara dan mendekatkan wajah Nara ke dada bidangnya.
“ harum.... Nara suka bau ini....” ucap Nara dengan mata yang sudah terpejam tapi indera penciuman masih saja bermanja-manja di dada bidang Afkar.
“ sayang.... mulai besok bisa tidak mandi sendiri tanpa mas yang mandikan “ pinta Afkar membuat Nara menengadahkan wajahnya menatap mata Afkar.
“ mas Afkar keberatan mandikan Nara.... ya sudah kalau begitu Nara mandi sendiri saja. “ ucap Nara merajuk dan merubah posisi tidurnya membelakangi Afkar.
Afkar menyisir kasar rambutnya.
“ sayang... jangan merajuk begini..... sayang masih mampu mandi sendiri nanti kalau ini sudah semakin besar.... mas janji mas akan memandikan sayang setiap hari “ Afkar berusaha merayu Nara.
Nara membalikkan badan kembali menatap Afkar
“ tidak enak ya.... puasa? “ goda Nara membuat Afkar menyerang bibir Nara.
“ puasa yang menyiksa “ ucap Afkar disela-sela serangan bibirnya.
__ADS_1