
“Well, I decided that in a week this game will be our first game and I want you who are in the same team with Ubet to work together develop this game make this game more complicated than this one. And I have determined four games that you must improve and develop further for us to launch in the next six months, because I plan every six months you will launch a new game that will become a trend among the gamers (baiklah saya putuskan satu minggu lagi game ini yang menjadi game perdana kita dan saya minta kalian yang satu tim dengan Ubet untuk bekerja sama mengembangkan game untuk lebih rumit dari yang sekarang, kalian yang dari Jakarta berikan semua masukan tentang game ini. Dan saya sudah menentukan empat game yang harus kalian perbaiki dan lebih dikembangkan lagi untuk kita luncurkan enam bulan kedepan, karena saya berencana setiap enam bulan sekali kalian akan meluncurkan game baru yang akan menjadi tren di kalangan para gamers).” Jelas Afkar sambil menampilkan empat game yang sudah dia pilih.
Zehed, Murat dan yang hadir di dalam ruangan ini sangat terkejut melihat game yang Afkar pilih dan sudah menunjukkan bagian apa saya yang harus diperbaiki dikembangkan lagi karena biasanya seorang bos tidak akan menuliskan detail celah dan bagian yang harus dikoreksi. Tanpa mereka sadari sebenarnya Nara yang berada di ruangan Afkar sudah menemukan semua celah di dalam game yang Afkar tampilkan.
“Ubet, I’ll give your team three days to make more difficulty in each level of this game and in fourth day me and Zehed will test this game (Ubet, saya akan memberi tim kalian waktu tiga hari untuk menambah kesulitan di setiap level game ini dan hari ke empat saya dan Zehed yang akan menguji game ini).” Ucap Afkar sambil berdiri hendak keluar ruangan.
Tim Develops Kant Software terkejut mendengar tenggang waktu yang diberikan Afkar, tapi tidak dengan tim develops Surendra Cyber. Mereka memberi tepuk tangan untuk menyemangati tim develops Kant Software. Murat keluar ruangan tanpa suara di ikuti Zehed.
Sementara Nara masih berkutat dengan laptop, Afkar tiba-tiba masuk ke dalam tanpa bersuara membuat Nara terkejut.
“mas Afkar....” suara manja Nara membuat Afkar semakin gemas.
“apa ini" tanya Afkar saat melihat barisan script dia layar laptop.
“ooooh..... ini source code dari game tadi..... Nara sudah tandai beberapa baris script yang memungkinkan adanya celah dan terbentuknya celah saat game di mainkan. Dan ini ada beberapa celah yang bisa mengakibatkan level game menjadi tidak beraturan juga tingkat kesulitan yang tidak seberapa.” Jelas Nara sambil menunjukkan script yang dia maksud.
“banyak juga yang harus mereka perbaiki..... apa mas salah kalau memberi mereka waktu tiga hari sebelum uji coba?” tanya Afkar membuat Nara meletakkan laptop di meja dan duduk di pangkuan Afkar seperti koala.
Afkar sudah tidak terkejut lagi dengan tindakan Nara dan mulai terbiasa, Nara menangkup kedua pipi Afkar dan memberi ciuman kecil di hidung mancung Afkar.
“tidak..... waktu tiga hari sudah lebih dari cukup. Karena tadi Nara sudah mengetahui siapa yang membuat game ini.... teman-teman bilang pembuat game itu kutu buku di angkatannya. Jadi bisa di pastikan tidak butuh waktu lama untuk melakukan semua revisi" ucap Nara yang masih menangkup kedua pipi Afkar.
__ADS_1
Saat mereka diam dan saling memandang tiba-tiba seseorang masuk ke ruangan, Nara terkejut dan berusaha berdiri dari pangkuan Afkar tapi Afkar menahan tubuhnya.
“how is the condition of my future grandson (bagaimana keadaan calon cucu uncle)?" ucap Murat dengan wajah biasa saat melihat Nara duduk di pangkuan Afkar.
Nara merasa malu karena ada orang lain yang melihatnya sedang duduk di pangkuan Afkar, tapi tidak dengan Afkar yang bersikap biasa saja dan terkesan menahan Nara untuk tetap duduk seperti ini.
“Alhamdulillah everything is fine uncle..... Nara has also finished the drink from Aunt Felissa (Alhamdulillah baik uncle..... Nara juga sudah menghabiskan minuman dari aunty Felissa).” Ucap Nara sambil berusaha berdiri dari pangkuan Afkar.
“you’ve to be healthy also eat healthy food.... while in Istanbul uncle will ask aunty to make it (kamu harus sehat harus makan makanan yang sehat.... selama di Istanbul uncle akan minta aunty untuk membuatkan itu)" ucap Murat yang sudah duduk di sofa tepat di depan mereka sambil menunjuk gelas kosong yang terlihat jelas masih ada bekas kacang hijaunya.
“thank's (terima kasih) uncle" ucap Nara malu dan mulai pasrah tidak bisa berdiri dari pangkuan Afkar karena Afkar menahan pinggangnya.
“Afkar.... üç gün çok kısa değil (apa waktu tiga hari tidak terlalu pendek)?” Afkar tersenyum mendengar pertanyaan Murat.
“Nara.... bunu nasıl bildi (bagaimana dia tahu)?” Murat semakin heran melihat Nara yang sudah menyandarkan dagunya di bahu kanan Afkar.
Dengan posesif Afkar melingkarkan kedua tangannya memeluk pinggang Nara dan membuat Murat tersenyum melihat tingkah Afkar yang sangat posesif.
“Abbana çok benziyorsun.... Amman'ın hamile olduğunu öğrendiğinde daha da sahiplenici oldu..... tıpkı senin gibi şimdi yapıyorlar (kamu sangat mirip dengan Abba kamu.... dia semakin posesif begitu mengetahui Amma kamu hamil..... sama seperti yang kamu lakukan sekarang.)...." ucapan Murat membuat Afkar semakin memeluk erat Nara.
“Afkar heyecanlı amca.... günden güne daha da şımarık (Afkar gemas uncle.... semakin hari semakin manja)" ucap Afkar sambil mengusap punggung Nara.
__ADS_1
“hahahaha.....” Murat tertawa mengingat kelakuan Selo.
Afkar mulai menceritakan kenapa waktu tiga hari terlalu lama bagi mereka mengembangkan kesulitan di game tersebut, Murat mendengarkan semua dengan serius yang terkadang mengulas senyum tipis melihat Nara yang berusaha melepas tangan Afkar dari pinggangnya.
“Nara onu tanıyor mu (apa Nara mengenal dia)?” tanya Murat heran.
“Sanmıyorum…. sadece yaratıcının kolejinde inek bir öğrenci olduğunu biliyor (sepertinya tidak.... dia hanya tahu pembuatnya mahasiswa kutu buku di kampusnya)." jelas Afkar sambil tangan kanannya menahan tangan kiri Nara yang berusaha melepas pelukkan Afkar.
“Nara'ya göre kaç gün (berapa hari menurut Nara?” tanya Murat serius.
“sayang.... kira-kira berapa hari revisi game itu selesai sesuai harapan mas?” tanya Afkar sambil menolehkan kepala ke kiri hingga menempel pipi kiri mereka.
“tonight wil be finished.... Siska said that nerdy senior only needed thirty minutes to make a game looks like Varmintz Deluxe. (nanti malam juga sudah selesai.... siska bilang senior kutu buku itu hanya perlu waktu tiga puluh menit untuk membuat game selevel Varmintz Deluxe)” ucap Nara yang semakin malu dengan perlakuan Afkar tapi tidak bisa berbuat banyak.
“seriously” ucap Afkar terkejut mendengar penjelasan Nara begitu juga dengan Murat.
“if it don’t wrong in past his friends always call him magician (kalau tidak salah dulu mereka menjulukinya pesulap)” ucap Nara tidak bersemangat.
“Why they call him magician (kenapa mereka memanggil begitu)?” kali ini Murat serius mendengar ucapan Nara.
“because when the other seniors were busy looking for ideas and making flowcharts, the nerdy senior had already started typing the script and when the others started typing the script the nerdy senior had finished it. Someone even said that the food on our plates hadn't finished yet, but his program was finished. (karena saat senior-senior yang lain sibuk mencari ide dan membuat flowchart, senior kutu buku itu sudah mulai mengetik script dan saat yang lain mulai mengetik script senior kutu buku itu sudah selesai. Bahkan ada yang pernah bilang makanan di piring kami belum habis program dia sudah selesai)” Ucap Nara sambil menunjuk ponselnya di meja.
__ADS_1
Afkar meraih ponsel Nara dan membaca whatsapp group alumni, Murat terlihat serius memperhatikan tulisan di whatsapp itu meskipun dia tidak memahami bahwa indonesia dengan baik apalagi bila tulisan itu di singkat-singkat.