NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 13 AKSI NARA (1)


__ADS_3

“mas...... mas Afkar.... mas marah ya....” ucap Nara saat Afkar menutup pintu ruangannya.


Afkar berjalan ke meja kerjanya dan masih menggenggam erat tangan Nara, Afkar duduk dan menarik Nara untuk duduk di pangkuannya. Nara menunggu Afkar berbicara sedangkan Afkar masih terdiam hanya kedua tangannya yang semakin erat memeluk pinggang Nara dan menyandarkan kepalanya tepat di dada Nara. Tangan kanan Nara beralih membelai punggung tegap Afkar, Nara merasa sepertinya Afkar masih marah atas kelancangannya masuk ke gedung ini.


“maaf..... Nara tahu, Nara salah sudah tidak meminta ijin mas untuk masuk kesini..... tapi Nara tidak mau kalau setiap malam harus tidur sendiri" ucap Nara pelan sedikit merajuk dan mencium kepala Afkar berkali-kali


Afkar masih terdiam dan hanya menghirup dalam-dalam wangi tubuh istrinya untuk menurunkan kadar hormon serotonimnya yang sedari tadi hendak meledak untuk memarahi kakak beradik Yilmaz.


“setiap malam mas masih tidur memeluk sayang" ucap Afkar dengan suara yang sudah tenang.


“tapi Nara tidak tahu kapan mas masuk kamar, kapan mas mulai memeluk Nara.... baru menjelang shubuh Nara tahu mas sudah memeluk Nara.” Ucap Nara dengan suara manja dan memainkan jari telunjuknya di punggung tegap Afkar.


Afkar memandang mata Nara dan saat tangan kirinya hendak membuka simpul niqab istrinya, seketika Nara menghentikannya.


“kenapa sayang..... mas sudah kunci pintunya?” tanya Afkar dengan suara tenang.


Nara membisikkan sesuatu di teling kiri Afkar, Afkar tidak percaya dengan bisikan Nara. Afkar memandang mata Nara mencari tahu kebenaran dari bisikan Nara. Setelah merasa yakin dengan bisikan Nara, Afkar merapikan simpul niqab Nara yang sudah setengah dia tarik. Nara meraih sebuah kertas dan pena menuliskan sesuatu meminta Afkar untuk memastikan dugaannya. Nara berdiri dari pangkuan Afkar, dan mulai mengetik sesuatu di ponselnya. Beberapa detik kemudian Afkar sudah memegang sebuah buku dan membukanya.


“sialan..... ternyata ada yang mengawasiku" umpat Afkar membuat Nara terkejut.


Afkar segera mengeluarkan kamera pengintai dan alat penyadap suara dari dalam buku yang dia pegang dan meletakkan di lantai, seketika Afkar menginjak kedua benda tersebut hingga hancur tak berbentuk.

__ADS_1


“mas kenapa di hancurkan?” ucap Nara pelan.


Afkar heran dengan pertanyaan itu, Nara segera memperlihatkan layar ponselnya pada Afkar. Afkar terkejut melihat tampilan layar ponsel Nara yang memperlihatkan beberapa titik dari lokasi kamera pengintai dan alat sadap. Nara menggerak-gerakkan ponselnya mencari-cari titik kedua benda tersebut, Afkar mengikuti setiap langkah Nara untuk menemukan dua benda itu di dalam ruangan Afkar. Setelah berkeliling di dalam ruang kerja Afkar kurang lebih selama sepuluh menit terkumpullah empat kamera pengintai dan tiga alat sadap. Afkar mengumpulkan ketujuh beda tersebut dan mengetik sesuatu di ponselnya.


Dua menit kemudian seseorang mengetik pintu ruangan Afkar, Nara membukanya pelan memberi tanda kepada mereka untuk diam dan mengikuti langkahnya. Ketiga pria itu terkejut dengan apa yang terlihat di meja kerja Afkar, Afkar menulis sesuatu untuk Zehed. Sedetik kemudian Zehed keluar entah kemana, Nara mengirim dua program pada ponsel Afkar dan kakak beradik Yilmaz. Ketiga pria itu segera meng-instal program dari Nara di ponsel mereka masing masing, mereka mengikuti apa yang Nara contohkan.


Beberapa menit kemudian Zehed masuk dengan membawa kotak besi lebih tepatnya sebuah brankas kecil yang ada di bawah meja kerjanya. Zehed segera mengambil ketujuh benda itu dan mengunci di dalam brankas yang dia bawa.


“how did sister find that thing? What's the next plan? (bagaimana kakak ipar bisa menemukan benda itu? Apa rencana selanjutnya?)” tanya Marius dengan serius.


Nara menceritakan rencananya untuk menemukan semua kamera pengintai dan alat sadap seperti ketujuh benda di ruangan Afkar dengan menggunakan ponsel masing-masing, Zehed yang tidak tahu program milik Nara hanya bisa mendengarkan rencana Nara.


“if you look at the dots shown on this phone there are probably more than fifty objects. But before you find them I want to find out which computers or cell phones are monitoring all these things (kalau melihat titik-titik yang di tunjukkan pada ponsel ini kemungkinan ada lebih dari lima puluh benda seperti itu. Tapi sebelum kalian menemukannnya aku ingin mencari tahu komputer atau pun ponsel yang memantau semua benda itu).” Jelas Nara membuat Afkar tertegun.


“We’ll help to find it (kami akan membantu mencari benda itu)” ucap Zehed.


“sayang.... temukan dulu alat monitoringnya baru cari benda sialan itu, kalau kita menemukan alat monitoringnya pasti kita menemukan pelaku sabotase.” Ucap Afkar membuat kedua mata Nara berbinar-binar.


“terima kasih mas....” ucap Nara gembira dan melompat memeluk leher Afkar.


“come on......don’t make romance in front of us (ayolah kakak ipar...... jangan bermesraan di depan kami)" ucap Morten jengkel, tapi Nara mengabaikan dan tetap memeluk leher Afkar.

__ADS_1


“Marius..... send Zehed your sister's program (Marius..... kirimkan pada Zehed program milik kakak iparmu)" perintah Afkar membuat Marius lega karena suara Afkar sudah tidak dingin lagi.


Kakak beradik Yilmaz dan Zehed keluar ruangan dan mulai mencari kedua benda yang Afkar maksud, Zehed membawa brankas kecil kembali ke mejanya. Afkar kembali duduk di kursi kerjanya dan Nara segera duduk di pangkuan Afkar, membuat Afkar gemas dengan tingkah Nara yang sangat terlihat manja sekali.


“sekarang apa yang akan sayang lakukan untuk menemukan alat monitoring itu?” tanya Afkar sambil melingkarkan tangan kirinya di pinggang dan tangan kanannya membelai paha Nara.


“jadi Nara boleh masuk ke sistem jaringan intranet Kant Software?” tanya Nara untuk meyakinkan diri sekali lagi bahwa Afkar mengijinkannya.


“tetap tidak boleh..... sayang masuk ke jaringan intranet pakai nama mas.” Ucap Afkar yang sudah mengetik sesuatu di laptopnya.


Seketika Nara memeluk leher Afkar dan mencium pipi kiri Afkar berkali-kali membuat Afkar tertawa kecil mendapat perlakuan seperti ini dari Istrinya.


“sayang..... hentikan..... jangan membuat mas ingin memakan sayang disini" ucapan Afkar membuat Nara memghentikan ciumannya dan tertunduk malu.


“lihat..... mas sudah masuk jaringan intranet.... sekarang apa?” ucap Afkar membuat Nara merubah posisi duduknya di pangkuan Afkar sedikit menghadap laptop tapi tangan kanan Nara masih melingkar di leher Afkar.


“ini Nara boleh mengetik sesuatu atau mas yang mengetik sesuatu dan Nara yang menyebutkan apa yang harus mas ketik?” tanya Nara sedikit ragu.


“sayang sebutkan apa yang harus mas lakukkan dan mas yang mengetik" ucap Afkar tegas.


“baiklah...... mas coba buka session promt dan masuk ke direktori utama, lalu identifikasi semua IP komputer mau pun laptop yang di gunakan di dalam gedung ini" ucap Nara sambil jari jemari tangan kanannya memainkan rambut Afkar.

__ADS_1


__ADS_2