NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 225 BUTUH BANTUAN


__ADS_3

Mari sedikit terkejut melihat sosok Nara tanpa kain hitam yang menutupi tubuhnya karena saat ini Nara mengenakan pakaian longgar setinggi lutut dengan lengan setali. Ini pertama kalinya Mari melihat Nara tanpa cadar, Zarya dan Mari menatap Afkar meminta penjelasan. Sambil menyiris rambutnya, Afkar mulai menceritakan kenapa Nara bisa tidur di sofa dan alasan kenapa Afkar tidak segera memindahkan Nara ke ranjang.


“ så kan dere holde på bena hans mens Barra og jeg flytter bordet og bytter til fotskammel (jadi bisakah kalian menahan kedua kakinya sementara aku dan Barra memindahkan meja dan mengganti dengan footstool) “ pinta Afkar sambil menunjuk Mari dan Zarya.


Mari sangat paham keadaan yang Nara rasakan saat ini. Mari dan Zarya menahan kedua kaki Nara agar tidak terlalu banyak berubah posisi kedua kaki Nara, sementara Afkar dan Barra memindahkan meja dan menggantinya dengan footstool.


“ dette er bedre (begini lebih baik) “ ucap Afkar lega.


Tapi tidak dengan Mari yang merasa bahwa posisi tidur Nara tidak seperti wanita hamil pada umumnya.


“ vent et øyeblikk (tunggu sebentar) “ ucap Mari dan melangkah keluar dari kamar Afkar.


Mari kembali dengan membawa stetoskop dan portable fetal doppler atau alat untuk mendeteksi detak jantung janin, Mari langsung mengenakan stetoskop untuk mendengarkan detak jantung juga kondisi paru-paru Nara. Sesaat suasana hening hingga Mari melepas stetoskop.


“ pulsen deres er normal.... Pusten til Nara er heller ikke tung... ikke som da det skjedde på flyet først... kanskje dette er den mest komfortable sovestillingen for dem


(detak jantung mereka normal.... nafas Nara juga tidak berat... tidak seperti saat kejadian di pesawat dulu.... mungkin ini posisi tidur yang paling nyaman bagi mereka) “ ucap Mari sambil menepuk lengan Afkar.


“ hvis du trenger hjelp..... ring oss..... vi går tilbake til rommet først (kalau perlu bantuan apa-apa..... telp kami..... kami kembali ke kamar dulu) “ ucap Barra yang sudah mengajak Zarya keluar dari kamar.


“ Jeg forstår mer og mer hvorfor du er så besittende..... fysisk.... alle kvinnene som jager deg er langt dårligere enn Nara... selv uten sminke..... ansiktet hennes er allerede veldig vakker... hva annet hvis hun sminker seg og tar av seg sløret..... det vil definitivt være mange menn som jager etter henne (aku semakin mengerti kenapa kamu posesif sekali..... secara fisik.... semua wanita yang mengejarmu kalah jauh dengan Nara.... tanpa polesan make up pun..... wajahnya sudah sangat cantik.... apa lagi kalau dia pakai make up dan membuka cadarnya..... pasti akan banyak pria yang mengejarnya) “ ucapan Mari yang apa adanya membuat Mari mendapatkan tatapan dingin.

__ADS_1


“ min kone vil aldri ta av seg sløret ... aldri vil ... allerede gått dit ....(istriku tidak akan pernah melepas cadarnya.... tidak akan..... sudah sana pergi.... ) “ ucap Afkar sedikit kesal.


Mari tersenyum karena berhasil menggoda emosi Afkar. Afkar duduk di footstool memandangi Nara yang tidur pulas dnegan posisi duduk.


“ lantas mas tidur dimana kalau sayang tidur disini..... “ gumam Afkar yang beberapa kali menarik nafas panjang bingung bagaimana dia tidur kalau tidak memeluk Nara.


Dengan perlahan Afkar melangkah menuju ranjang mencoba berbaring dan memejamkan kedua matanya, tapi sudah sepuluh menit kedua mata Afkar tidak terpejam juga meski pun sudah berkali-kali merubah posisi tubuhnya.


“ aaaa...... apa mas juga harus tidur seperti sayang “ gumam Afkar dengan sedikit mengangkat kepalanya melihat Nara yang semakin pulas tertidur.


Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, Afkar memutuskan tidur di sofa menemani Nara. Meski pun tidak memungkinkan memeluk tubuh Nara, tapi setidak-tidaknya bisa menggenggam tangan kanan dan mencium wangi rambut Nara.


Menjelang waktu shubuh Nara terbangun dengan heran karena tangan kanannya terasa hangat, Nara melihat ternyata Afkar menggenggam tangannya. Nara tersenyum dan sedikit merubah posisi kepalanya melihat wajah Afkar yang tertidur seperti dirinya.


“ mas..... mas Afkar..... bangun.... sholat shubuh dulu yuk...... “ ucap Nara pelan sambil menggerak gerakkan tangan kanannya agar Afkar terbangun.


Setelah beberapa kali mencoba membangunkan Afkar, akhirnya Afkar bangun dan merasa bagian belakangnya terasa pegal dari tulang leher hingga tulang ekor.


“ kenapa tidak tidur di ranjang saja.... “ ucap Nara sambil mengepalkan tangan kanannya yang terasa kebas karena Afkar menggenggamnya semalaman.


“ tidak bisa tidur kalau tidak ada yang di peluk “ ucap Afkar sambil meregangkan seluruh otot otot tubuhnya.

__ADS_1


Selepas sholat Shubuh, Afkar membereskan mukena juga kursi yang Nara pakai untuk sholat. Nara menjadi kesulitan duduk di bawah juga sujud sehingga memerlukan kursi untuk sholat.


“ mas..... jalan-jalan kesitu boleh tidak? “ tanya Nara yang sudah berdiri di depan jendela memandang sungai Yarra.


Afkar mendekat melihat apa yang Nara tunjuk dan tersenyum tipis.


“ kita kembali ke Jakarta selesai makan pagi..... lain kali saja ya..... kita jalan-jalan “ ucap Afkar mencoba membuat Nara mengerti bahwa saat ini mereka tidak berlibur.


“ janji ya.... selesai musim kompetisi ini..... kita jalan-jalan..... “ ucap Nara sambil menyodorkan jari kelingkingnya.


Afkar tersenyum dan menangkup kedua pipi Nara yang terlihat cubby, menghujani wajah Nara dengan ciuman kecil membuat Nara merasa geli.


“ mas janji.... selesai musim ini dan kembar lahir..... kita jalan-jalan.... “ ucap Afkar sambil mencium kecil bibir Nara.


Sesuai dengan jadwal yang sudah Barra tentukan, satu jam setelah makan pagi mereka keluar dari hotel untuk kembali ke Jakarta. Barra sudah merencanakan latihan fisik apa yang harus Nara lakukan mengingat kondisi janin Nara yang kedua kepala janin berada di bawah semua. Selama penerbangan kembali ke Jakarta, Nara selalu memejamkan kedua matanya tapi kali ini tidak berada di kabin kamar tidur melainkan di kursi yang bersebelahan dengan Afkar.


Sampai di Jakarta tengah hari, dua buah mobil milik Afkar sudah menunggu tak jauh dari area parkir private jet.


“ mas..... “ suara pelan Nara meminta bantuan Afkar untuk membantunya berdiri dari kursi.


Afkar segera melingkarkan kedua lengannya di bawah ketiak Nara untuk membantu Nara berdiri, pemandangan yang membuat Barra sedikit ragu untuk menjalankan latihan fisik yang sudah dia rencanakan untuk Nara.

__ADS_1


“ sekarang berdiri dari kursi saja butuh bantuan..... bagaimana kalau nanti duduk di lantai “ gumam Barra sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


Sampai di kediaman Afkar, Barra memberi waktu bebas bagi D4rkC0d3 hingga besok malam. Mereka sangat kegirangan dengan ucapan Barra, dbuq dan javex juga kakak beradik yilmaz segera melakukan panggilan video dengan keluarga mereka masing-masing.


__ADS_2