
Menghabiskan waktu hingga selepas Ashar dengan menikmati keindahan selat Bosphorus di atas kapal pesiar membuat Nara merasa senang dan semakin tidak mau melepas tangan Afkar, Zehed sudah menunggu mereka di dermaga Kabatas.
"Assalamu'allaikum..... iyi günler bayanlar baylar, arabanız hazır (Assalamu'allaikum..... selamat sore tuan dan nyonya, mobil anda sudah siap)" ucap Zehed saat melihat Afkar berjalan ke arah pintu dermaga.
Afkar dan Nara sudah berada di lobi saat mereka hendak melangkah mendekati lift, Zehed dengan tergesa-gesa mendekati Afkar menyerahkan dua belas buah amplop yang berukuran besar yang lumayan tebal dan sebuah amplop kecil yang berisi Flashdisk.
"teşekkür ederim.... Bunların hepsini okuyacağım.... yarından sonraki gün tüm seçilmiş geliştirme ekiplerini toplayacağım (terima kasih.... aku akan baca semua ini.... lusa kumpulkan semua tim develop yang terpilih).” Ucap Afkar dengan tegas dan sekali lagi membuat sekujur tubuh Zehed menjadi kaku karena suara Afkar terdengar sangat serius dan menakutkan
Afkar dan Nara sudah berada di depan pintu kamar mereka dan Nara mengambil kartu untuk membuka pintu kamar mereka dari dalam saku celana Afkar.
“sayang..... kartunya di saku sebelah kiri.... kenapa sayang cari di sebelah kanan?” ucap Afkar pelan dan berbisik di telinga Nara dengan sedikit mendesah untuk menggoda Nara.
Seketika Nara menarik tangan dari saku celana Afkar, Afkar tersenyum senang berhasil menggoda Nara.
“banyak sekali amplopnya.....”ucap Nara heran sambil melepas simpul niqabnya.
“iya..... ini menunjukkan bahwa tim kreatif dan tim pengembangan memiliki banyak ide yang harus mas wujudkan.” Jelas Afkar sambil menata tumpukan amplop di meja dekat sofa.
“mas..... tolong....” pinta Nara dengan manja sambil berjalan mendekati Afkar dan memegang rambutnya yang menutupi tengkuk.
“biasanya bisa buka sendiri......”ucap Afkar yang sudah membalik tubuh Nara hingga Afkar dapat melihat tengkuk mulus Istrinya dan meraih ujung zipper membantu Nara melepas Abayanya.
“ingin mas yang buk.....” belum sempat Nara menyelesaikan ucapanya, Afkar sudah mendaratkan bibirnya di leher Nara membuat pemilik leher menggeliat dan sedikit mendesah.
Afkar menahan tubuh Nara dengan melingkarkan tangan kirinya hingga ke perut sementara tangan kanannya melepas Abaya dan sedikit menurunkan pakaian pelapis yang menutupi bahu Nara. Untuk beberapa saat Afkar sengaja menjelajahi leher dan bahu serta meninggalkan beberapa jejak membuat Nara mendesah juga menggeliat. Afkar menghentikan Aksinya karena ponselnya bergetar, Nara masih menggenggam tangan kiri Afkar dan mengatur nafasnya.
__ADS_1
“sebentar sayang....” Afkar melepas tangan kirinya yang memeluk Nara dan membantunya duduk di tepi ranjang.
Nara terduduk dan masih berusaha mengatur nafas. saat Afkar sibuk berbicara dengan seseorang, Nara mulai membersihkan diri dan berganti dengan pakaian santai yaitu kemeja milik Afkar. Nara masih melihat Afkar yang sibuk berbicara dengan seseorang tapi kali ini suara Afkar terdengar sangat marah sekali. Nara mengambil sekotak coklat dan duduk di sofa menunggu Afkar selesai berbicara.
Setelah menunggu hampir lima belas menit, akhirnya Afkar menutup ponselnya dan berbalik melihat istrinya yang bermain minesweeper di ponsel dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya sibuk memasukkan camilan coklat ke mulutnya. Afkar tersenyum simpul melihat tangan istrinya yang meraba-raba kotak coklat mencari coklat untuk dia masukkan ke dalam mulutnya.
“habis coklatnya" ucap Afkar yang sudah duduk di samping dan membelai rambut hitam panjang Nara.
“habis....” ucap Nara pelan membuat Afkar mendaratkan bibirnya di puncak kepala Nara.
“makan coklat seperti makan kacang....” goda Afkar berpura-pura heran.
“coklatnya enak mas..... dan rasanya macam-macam..... ini Nara beli yang rasa durian, leci, anggur, dan kiwi.... inginnya semua rasa tapi uangnya tidak cukup...” jelas Nara membuat Afkar gemas dan menangkup kedua pipi istrinya.
“ya sudah besok beli lagi...... sayang beli di melodi kahfe-kah?” Nara menganggukan kepala mejawab pertanyaan Afkar.
Beberapa menit kemudian Afkar sudah selesai membersihkan diri dan berganti dengan pakaian santai, mengenakan celana pendek setinggu lutut dan kaos polo. Nara memandangi Afkar tanpa berkedip berjalan mendekati dan memeluk erat Afkar.
“kangen....” ucap Nara dengan manja.
“bukankah mas seharian sama sayang.....?” tanya Afkar heran karena perubahan sikap Nara yang tidak terduga baginya.
“harum..... “ucap Nara sambil menghirup dalam-dalam bau tubuh Afkar.
Afkar membalas pelukkan dan membelai punggung Nara.
__ADS_1
“sayang masih suka pakai kemeja mas....” ucap Afkar sambil mengendus sesuatu.
“sayang..... ini kemeja mas yang kemarin..... kenapa sayang pakai..... ini seharusnya masuk ke laundry bag" ucap Afkar heran.
“tidak bolehkah Nara pakai ini?” tanya Nara dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Seketika Afkar mengeratkan pelukkannya supaya Nara tidak menangis.
“tidak apa-apa.... sayang pakai saja...” ucap Afkar berusaha menenangkan Nara agar tidak menangis.
Sedetik kemudian Nara tersenyum dan dengan bertumpu pada jari-jari kaki Nara memberi ciuman kecil di bibir Afkar.
“terima kasih mas...” ucap Nara manja dan melepas pelukkannya untuk kembali duduk di sofa.
Afkar menyungging senyum tipis melihat tingkah Nara yang semakin membuat dia heran.
“sayang mau membantu mas memilih game?” tanya Afkar yang sudah duduk di sebelah kanan Nara.
“ooooo...... ini semua game yang harus mas pilih mana yang bagus dan mau segera di luncurkan....” ucap Nara sambil memilah-milah beberapa amplop.
“iya..... sayang mau lihat?” tanya Afkar sambil mengeluarkan dua buah laptop dari dalam tas yang tepat berada di bawah meja.
Afkar mempersiapkan dua buah laptop, satu laptop dengan sistem operasi MacOS dan satu lagi dengan sistem operasi Windows, Afkar membuka amplop kecil dan mengeluarkan semua Flashdisk. Afkar menata Flashdisk berdasarkan urutan amplop yang besar. Nara meraih laptop yang menggunakan sistem operasi MacOS dan segera mencari file yang dia salin dari laptop pelaku sabotase.
“mas.... lihat ini" Nara menunjukkan direktori yang berisi beberapa file source code game yang telah di salin oleh pelaku sabotase.
__ADS_1
Afkar melihatnya dengan jeli dan membandingkan satu persatu dengan file dari flashdisk yang dia tancapkan di laptop dengan sistem operasi windows. Sesekali Nara memberi saran untuk Afkar pertimbangkan kelebihan dan kekurangan source code game yang mereka lihat. Menjelang Adzan Magrib Afkar menghentikan pekerjaannya dan mengajak Nara sholat Magrib berjamaah, selepas sholat Magrib Afkar memesan beberapa menu untuk makan malam mereka berdua. Selagi menunggu pesanan makanan, Afkar memilah-milah amplop dan flashdisk untuk dia tandai mana yang tidak boleh di lanjutkan pengembangannya dan mana yang pantas di lanjutkan pengembangannya. Sedangkan Nara sibuk memainkan jari jemarinya di punggung Afkar seperti sedang menulis sesuatu yang terkadang membuat Afkar melihat Nara dengan menyungging senyum tipis atau pun sekedar mencium bibir Nara sedetik saja. hal-hal sederhana seperti ini sudah cukup membuat Nara bahagia, duduk sambil menemani Afkar bekerja.
Menjelang Adzan Isya' seseorang mengetuk pintu kamar mereka, Nara segera berlari ke kamar tidur dan menutup pintu. Beberapa detik kemudian Afkar membuka pintu kamar dan mengajak Nara makan malam terlebih dahulu sebelum sholat Isya'.