NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 34 THE PAST


__ADS_3

Nara tertidur dalam belaian lembut tangan Afkar, sedangkan dirinya tidak bisa tidur karena menunggu satya menghubunginya. Tepat pukul sepuluh waktu Istanbul atau pukul tiga sore waktu Boston, laptop Afkar berbunyi karena ada notifikasi panggilan skype masuk. Afkar dengan perlahan meletakkan kepala Nara dan bangkit dari ranjang.


“Assalamu'allaikum” salam Afkar.


“Wa'alaikumsalam......bos.... ada apa?” balas Satya sambil melihat ornamen yang menjadi latar belakang Afkar.


“bagaimana kabar kamu? Lancar kuliah kamu?” tanya Afkar basa basi.


“Alhamdulillah lancar tapi sedikit sulit" ucap satya dengan sedikit meringis mengingat jurusan yang dia ambil berbeda dengan jurusan saat kuliah satu kampus dengan Nara.


“ada hal penting apa sampai bos Afkar menitip pesan pada bos slenderestmen?” tanya Satya sambil membuka beberapa diktatnya untuk mengerjakan tugas kuliah.


“kalau kamu sibuk besok saja kita bicara" ucapan Afkar membuat satya menutup kembali diktatnya.


“bos mau tanya apa? Tentang Nara? Bos sudah tahu semua tentang Nara.... apa lagi yang ingin bos Afkar ketahui" tanya Satya yang belum mencurigai maksud Afkar.


“apa yang terjadi antara Nara dan Ubet” seketika raut wajah satya berubah menjadi pucat dan gugup.


“4beta..... jangan sembunyikan apa pun dariku..... atau aku akan menambah target kompetisi?” ucap Afkar dengan menekankan ancaman target kompetisi.


Satya menghela nafas panjang menguatkan hatinya untuk menceritakan kejadian yang membuatnya terpaksa kuliah di kampus yang sama dengan Nara. Karena memang sejak awal satya berkeinginan untuk kuliah di MIT Boston tapi karena setelah melihat sendiri apa yang Nara alami dengan sangat terpaksa satya mengubur keinginannya. memutuskan memilih menjaga Nara dengan kuliah dan mengambil jurusan yang sama dengan Nara.


“sebenarnya bos Afkar tidak perlu menghubungi saya karena delapan pengawal pak Azkar mengetahui hal ini dan juga pasti pak Azkar tahu hal ini..... tapi karena Nara sendiri yang tidak ingin membuat masalah semakin rumit jadi mereka tidak bisa berbuat banyak dan hanya bisa mengawasi jadi jauh. Selama kak Ubet tidak bertindak lebih jauh.” Jelas Satya memulai cerita.


“tunggu.... apa maksud kamu dengan masalah? Apa Ubet melakukan bullying pada Nara seperti yang One lakukan di SMA?” tanya Afkar semakin serius.

__ADS_1


“kalau one mungkin karena tidak percaya diri dengan kemampuannya jadi menganggap kemampuan Nara sebagai ancaman posisinya sehingga menimbulkan kebencian yang berlebihan, tapi kalau kak Ubet lebih tepat seperti sebuah obsesi.... obsesi yang sangat berlebihan dan tidak masuk akal" satya terdiam dan menghela nafas panjang.


“maksud kamu dengan obsesi?” tanya Afkar mulai curiga.


Satya mulai bingung bagaimana menjelaskan semua ini pada Afkar.


“4beta.... jangan kamu tutupi hal ini.... ceritakan semua dari awal hingga akhir tanpa ada satu pun yang terlewatkan ata-" belum sempat Afkar selesai berbicara, satya memberi isyarat tangan menyerah.


Dengan menarik nafas panjang satya mulai bercerita dari mulai saat pertama kali satya menginjakkan kaki di kampus Nara, mencari-cari Nara hingga bertanya-tanya pada setiap mahasiswa dan mahasiswi yang dia temui. Setiap kali menanyakan tentang Nara maka satya mendapatkan jawabnya yang sama yaitu tidak tahu dimana Nara calon istri Ubet, hingga akhirnya menemukan Nara yang sedang berdebat dengan siska.


Afkar mendengarkan cerita satya dan mulai geram, kedua tangannya mengepal hingga ujung-ujung jarinya merah karena aliran darahnya tertekan.


“bos.... mau di lanjutkan lagi tidak? Kalau melihat raut wajah bos seperti ini sebaiknya tidak perlu saya lanjutkan" ucap satya yang sedikit takut bila Afkar akan marah dan membuat Nara sedih.


“lanjutkan" ucap Afkar tegas membuat satya sulit menelan ludahnya.


“apa daya waktu itu saya hanya anak SMA, yang tentunya dapat dengan mudah kalah berdebat dengan mahasiswa semester tujuh. Kami berdebat hingga adu fisik sampai Nara melerai kami dengan memanggil dua pengawal pak Azkar.” Jelas Satya mengingat pertengkaran dengan Ubet.


“apa dia tidak mau minta maaf dan masih tetap bersikeras mengakui Nara sebagai calon istrinya?” satya menjawab pertanyaan Afkar dengan menganggukan kepalanya.


“saya sempat mengancamnya sebelum dua pengawal pak Azkar membawa kami” ucapan satya terhenti mencoba mengingat kalimat ancamannya pada Ubet.


“sekali lagi aku mendengar ada mahasiswa yang mengatakan bahwa Nara adalah calon istri Ubet, akan aku habis kamu.... kurang lebih begitu saya mengancamnya" Afkar sangat geram mendengar cerita satya.


“apa dia berhenti sampai situ dengan ancaman kamu?” tanya Afkar semakin ingin tahu.

__ADS_1


“tidak.... tapi dia semakin berani menunjukan diri bahwa Nara memang calon istrinya. Pernah suatu kali waktu ban sepeda saya bermasalah, dia mendekati Nara dan memegang tangan kiri Nara tapi sepertinya tidak berlangsung lama karena satu pengawal pak Azkar yang bernama...... siapa ya..... meta.... mita.... mia.... mila.... aduh aku lupa siapa nama pengawal itu" ucap satya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena mengingat nama wanita pengawal Nara.


“pengawal pak Azkar langsung menarik tangan Ubet.... bagaimana detailnya sampai Ubet bisa memegang tangan Nara yang lebih tahu pasti hanya pengawal itu.” Ucap satya yang masih berusah mengingat nama pengawal yang dia maksud.


“apa dia jera setelah itu?” tanya Afkae semakin curiga.


“tidak.....tapi semakin terobsesi untuk menjadikan Nara istrinya.... dia berani mendatangi rumah dan berteriak di depan rumah sampai para tetangga mengatakan bahwa wali nikah Nara tidak ada di Jakarta kalau memaksa menikah dengan Nara maka pernikahan kalian haram. Mendengar itu kak Ubet terlihat sangat ketakutan..... mungkin dia tidak mau pernikahannya dengan Nara menjadi haram.” Jelas Satya sambil menyapa seorang rekan timnya.


“begitu....” ucap Afkar singkat.


“sejak itu setiap hari kak Ubet akan duduk menunggu kepulangan kak Fajrin, gara-gara setiap hari dia duduk di depan rumah Nara membuat saya mengungsi tidur di rumah Nara. Padahal sudah ada dua pengawal di rumah Nara, tapi tetap saja Nara tidak mau saya tinggal...... “ ucap Satya dengan kesal mengingat peristiwa itu.


“dan baru berhenti melakukan itu saat pak Azkar tiba-tiba ke rumah dan entah apa yang pak Azkar ucapkan tapi raut wajah kak Ubet tiba-tiba menjadi pucat dan lari ketakutan.”jelas satya.


“setelah itu apa Ubet tidak datang lagi?” tanya Afkar yang mulai reda geramnya.


“tidak.... dan lusanya saya langsung pulang ke rumah....”jelas satya yang lega sudah menceritakan semua.


“karena peristiwa itu jadi di dalam tasnya selalu ada sepasang sarung tangan.... sebelumnya Nara masih suka lupa pakai sarung tangan.” Jelas Satya membuat Afkar memikirkan suatu ide yang pastinya akan membuat Zehed kerepotan.


“bos.... kak Fajrin bilang kalau Nara hamil delapan minggu.... apa benar begitu?” pertanyaan satya membuyarkan lamunan Afkar.


“iya.... lusa sembilan minggu....kenapa?” tanya Afkar heran.


“semoga bayinya kembar seperi Nara.”ucap satya santai.

__ADS_1


“dari mana kamu tahu kalau Nara kembar?” tanya Afkar heran.


“ibu yang cerita kalau Nara punya saudara kembar.... jadi waktu saudara kembar Nara meninggal, ibu senang ada bayi laki-laki yang butuh ASI dan menganggap bayi itu seperti saudara kembar Nara.” Jelas Satya santai membuat Afkar menahan tawa karena sangat paham siapa bayi laki-laki yang satya maksud.


__ADS_2