
“ mas.... mas Afkar “ suara keras Nara membuat Afkar segera masuk ke kamar.
“ sayang.... apa ada yang sakit? “ ucap Afkar yang sudah duduk di pinggir ranjang dan membelai rambut hitam Nara.
Nara segera duduk dan memeluk erat leher Afkar.
“ maafkan Nara.... Nara sudah keluar gedung tanpa izin mas “ ucap Nara sedih membuat Afkar membelai lembut punggung dan mencium bahu kiri Nara.
“ maafkan mas yang tidak bisa menjaga sayang “ ucap Afkar sambil menarik nafas panjang.
Saat Nara pingsan tidak sadarkan diri, Afkar segera membawa Nara kembali ke apartemen Barra. Afkar menginterogasi Ines juga semua pengawalnya, mereka bergantian menceritakan secara detail apa yang mereka lihat selama mengawal Nara di luar.
“ mas.... tidak bisakah mas bekerja di salah satu ruangan Shield? “ rengek Nara membuat Afkar bingung.
Di satu sisi Afkar ingin secepatkanya menyelesaikan permasalah Rosenkrantz, di satu sisi Afkar juga ingin selalu berada di dekat Nara. Memindahkan ruang kerja CEO Rosenkrantz group ke dalam markas Shield tidak semudah membalikkan tangan meski pun Afkar berada di posisi tertinggi sebuah group perusahaan bukan berarti Afkar bisa mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan dari keputusan yang dia ambil. Afkar berpikir bahwa hal itu terlalu egois dan tidak profesional, Afkar hanya mencoba memberikan contoh sikap profesional dalam pekerjaan baik bagi semua manager dan para pemain Shield juga para staff Rosenkrantz group.
“ beri mas waktu 4 bulan.... setelah itu mas akan selalu berada di dekat sayang “ rayu Afkar yang masih memeluk erat Nara.
“ lama... “ suara cemberut Nara membuat Afkar sedih.
Afkar menarik nafas panjang tidak bisa lagi merayu Nara.
“ yakin 4 bulan masalah mas akan selesai? " pertanyaan Nara membuat Afkar bingung dan berpikir keras.
“ kalau mas tidak yakin, sebaiknya Nara pulang ke Jakarta saja. “ Mendengar kata Jakarta membuat Afkar terkejut.
Afkar semakin memeluk erat Nara.
“ jangan.... mas mohon sayang jangan pergi.... “ ucap Afkar yang semakin erat memeluk Nara serasa tidak mau melepasnya.
__ADS_1
“ mas.... sesak “ rengek Nara membuat Afkar sedikit melonggarkan pelukkannya.
Untuk beberapa detik kedepan mereka hanya saling memeluk hingga seseorang mengetuk pintu kamar. Afkar melepas pelukkannya dan berjalan membuka pintu kamar, terlihat pembicaraan serius antara Afkar dan Barra yang akhirnya Barra masuk dan menunjukkan sebuah foto.
“ Ra... apa pagi tadi kamu menabrak orang ini? “ tanya Barra sambil menunjukan sebuah foto yang dia ambil dari rekaman CCTV persimpangan jalan Dronning Eufemias dan Rostockgata.
Nara memicingkan kedua matanya untuk memastikan foto tersebut.
“ se...per... tinya begitu. Kenapa kak? “ Barra menyisir kasar rambutnya dan melangkah keluar kamar untuk mengambil laptopnya.
Barra masuk kembali dengan layar laptop yang masih menyala.
“ lihat ini “ Barra menunjukkan rekaman CCTV yang dia dapat dengan caranya sendiri pada Nara.
Afkar mengusap kasar wajahnya dengan tangan kirinya, Nara melihat rekaman CCTV yang Barra tunjukkan. Saat Barra memperbesar gambar tersebut hingga terlihat jelas ada sebuah senjata tajam di tangan kanan orang itu, dan dengan sengaja orang itu menusuk Nara. Nara terkejut melihat itu semua, dan memiringkan kepalanya mencari sosok Afkar yang berdiri tepat di belakang Barra.
“ apa mas tahu orang ini? “ pertanyaan Nara hanya bisa membuat Afkar menarik nafas panjang.
“ kalau mas tidak mau menceritakan semuanya, Nara pulang ke Jakarta hari ini “ ucapan pelan Nara membuat Afkar juga Barra terkejut.
Barra memalingkan badannya menatap Afkar dengan penuh pertanyaan.
“ kamu belum menceritakan padanya.... gila.... Nara sudah mencari bukti masalah keuangan Rosenkrantz , tapi kamu tidak menceritakan masalah ini. “ ucap Barra frustasi.
Bukan Afkar menutupi masalah dan kekuatirannya tapi Afkar tidak ingin Nara ketakutan karena sifat Nara yang tertutup. Afkar menarik nafas panjang dan duduk di sisi ranjang menatap dalam kedua mata Nara.
“ apa perlu Nara ikut kompetisi bawah tanah dulu baru Nara bisa mengetahui masalah yang mas hadapi? “ pertanyaan Nara membuat Afkar menggenggam erat kedua tangan Nara.
Barra tidak habis pikir dengan sikap Afkar, bagaimana bisa Afkar menutupi semua masalah dari Nara dan menghadapinya sendiri.
__ADS_1
“ baiklah.... mas akan jelaskan, sayang ingin mas menjelaskan mulai dari mana? “ ucap Afkar pelan sambil menepuk punggung tangan kanan Nara.
Nara menatap dalam kedua mata Afkar mencoba mencari tahu apakah Afkar akan menceritakan semua.
“ mulai dari kenapa ada pengawal di rumah sampai apa alasan kenapa orang ini ingin menyakiti Nara, Nara tidak mengenal siapa pun di luar klub selain keluarga mas. “ ucap Nara pelan tapi terdengar sakit di telinga dan dada Afkar.
Afkar menarik nafas panjang sebelum mulai menceritakan semua sesuai permintaan Nara, selama hampir setengah jam Afkar menceritakan semua termasuk kecurigaan Fajrin selama ini juga peristiwa penghadangan saat Nara pulang dari kontrol kandungan terakhir kali sebelum janin mereka keluar. Afkar juga menceritakan alasan di balik ketidak hadirannya saat Nara memeriksakan kandungan hingga kecurigaannya pada sosok yang Fajrin curigai. Nara mendengarkan semua penjelasan Afkar tanpa menyela sekali pun, sedangkan Barra malah mengambil semangkuk besar popcorn dan ikut mendengarkan penjelasan Afkar.
“ lantas apa hubungannya dengan saham yang mas ingin tahu? “ pertanyaan Nara membuat Barra menyodorkan mangkuk popcorn pada Nara.
“ itu hanya dugaan mas saja, mungkin dia menginginkan saham 10% itu sedangkan catatan transaksi saham itu tidak bisa mas temukan dimana pun “ ucap Afkar sambil menghela nafas panjang.
“ bisakah mas memperlihatkan wajah orang itu dengan jelas? “ Afkar menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Nara.
“ semua rekaman yang menunjukan keberadaan orang itu tidak ada satu pun yang memperlihatkan wajahnya dengan jelas, bahkan informasi yang Lief dapat pun hanya informasi sampai 10 tahun yang lalu “ ucap Afkar frustasi.
Nara terlihat memikirkan sesuatu, tiba-tiba Nara meraih laptop Barra dan mengetik sesuatu. Barra dan Afkar saling melihat satu sama lain, untuk 5 menit ke depan mereka berdua diam dan melihat layar laptop yang saat ini sudah membuat jari jemari Nara sibuk. Di menit ke-6 senyum manis terulas di bibir Nara.
“ ini, bukti yang mas ingin tahu “ ucap Nara sambil menunjukkan nilai jual 10% saham milik Oswinn.
Seketika kedua mata Barra membulat sempurna membaca nama pemilik 10% saham Rosenkrantz group, Barra segera keluar kamar dan menghubungi seseorang. Afkar bingung melihat reaksi Barra dan segera menyusul keluar. Entah apa yang Barra dan Afkar bicarakan tapi sayup-sayup terdengar suara keterkejutan Afkar.
“ apa? Serius? “ suara keras Afkar membuat Nara curiga.
Nara turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar.
“ kalian para pria tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari Nara bukan? “ pertanyaan Nara membuat Afkar dan Barra menatapnya dengan tatapan kuatir.
Afkar mendekati Nara dan mengajaknya duduk di sofa, Barra menggelengkan kepalanya memberi tanda agar Afkar tidak mengatakan apa yang baru saja dia ketahui dari Barra. Afkar menarik nafas panjang dan mengalihkan perhatian Nara pada hal lain.
__ADS_1