
Afkar lebih dulu sampai di rumah sakit City Legecenter karena jarak gedung Rosenkrantz lebih dekat dengan City Legecenter dari pada SPILLLEXPO LILLESTRØM. Afkar sangat panik, marah, cemas, takut, frustrasi, juga geram semua rasa negatif campur aduk menjadi satu. Berjalan kesana kemari tak tentu arah hanya untuk menunggu mobil yang membawa Nara dari SPILLEXPO LILLESTRØM, berkali-kali Afkar menyisir kasar rambutnya juga pelipisnya yang terasa pening. Lief tidak tega melihat Afkar seperti, Lief mencoba menghubungi Ines dan saat Ines mengangkatnya terdengar jelas suara Nara yang merintih kesakitan dan menangis. Setelah mendapatkan informasi dari Ines, Lief mencoba memberanikan diri mendekati Afkar yang diam berdiri di pintu UGD.
“ Sir, om ti minutter kommer de (tuan, 10 menit lagi mereka sampai) “ ucap Leif pelan.
Afkar hanya diam menatap luar menanti mobil yang membawa Nara. Zarya yang baru akan pulang dari jadwalnya jaga melihat Afkar yang terlihat jelas penuh dengan aura negatif, mencoba mendekatinya.
“ Hva foregår her? Skjedde det noe med Nora? (ada apa kemari? Apa terjadi sesuatu pada Nara?) “ tanya Zarya yang sudah berdiri di belakang Afkar.
“ Har Ines kontaktet deg (apa Ines sudah menghubungimu)? “ tanya Afkar dengan suara pelan menahan semua rasa negatif yang ada pada dirinya.
“ Vent litt... akkurat da jeg tok en dusj var det en telefonsamtale (sebentar.... tadi waktu aku mandi ada telepon) “ ucap Zarya sambil mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya.
Zarya melihat ponselnya ada beberapa kali nada panggil tak terjawab dari Ines dan satu pesan singkat yang berisi bawah Ines membawa Nara ke City Legecenter.
“ hvorfor Nara (kenapa Nara)? “ tanya Zarya yang mulai paham kenapa Afkar sekalut ini.
Afkar tak bisa berkata-kata hanya menyisir kasar rambutnya dengan tangan kanan dan berdiri di pintu UGD dengan rasa kalut bersalah dan frustasi. Lief menjelaskan apa yang terjadi, seketika Zarya meminta seorang perawat mempersiapkan apa yang Nara butuhkan nanti. 10 menit yang terasa lama bagi Afkar, beberapa kali Afkar memukul tembok dengan tangannya.
Seorang management rumah sakit yang melihat Afkar memukul tembok UGD menjadi panik, mencoba mencari tahu apa yang membuat bos besar mereka seperti itu. Orang itu langsung menghubungi petinggi rumah sakit dan mengatakan bahwa bos besar mereka sedang berada di UDG. Beberapa detik kemudian terlihat 2 mobil berjenis sedan memasuki gerbang rumah sakit, seketika Afkar semakin frustrasi dan panik. Begitu Mobil berhenti tepat di depan pintu UGD, Afkar dengan sigap menghampiri Nara yang berusaha keluar dari mobil dengan bantuan Ines.
“ mas..... “ rengek Nara dengan merintih kesakitan dan niqab yang sudah basah dengan air mata.
Afkar segera mengangkat dan mendudukkan Nara pada bed pemeriksaan di dalam UGD, terlihat jelas wajah Afkar yang sangat marah dan frustasi. Nara memeluk erat tubuh Afkar yang berdiri tepat di depannya dengan tangan kanannya karena tangan kirinya masih berada di genggaman Ines, Ines menekan luka itu yang sudah dia balut dengan kain lengannya. Ines melakukan itu agar darah segar tidak keluar.
__ADS_1
Zarya dengan seorang dokter jaga UGD mendekati Nara dan melihat luka sayatan di punggung tangan kiri Nara, Afkar memeluk erat tubuh Nara yang bergetar karena menahan sakit dan tangis yang tak berhenti-berhenti. Entah apa yang Zarya dan dokter jaga itu debatkan, tapi perdebatan mereka membuat Afkar semakin pening dan frustasi.
“ hva krangler dere om..... kan dere handle raskt og gjøre noe med min kones hender (apa yang kalian perdebatkan..... bisa tidak kalian cepat bertindak melakukan sesuatu pada tangan istriku) “ suara keras Afkar membuat Nara semakin menangis karena dengan cepat Ines memindahkan tangan Nara ke tangan Zarya.
Ines dan Lief juga para pengawal yang mendengar suara tangis dan rintihan Nara menjadi tidak tega dan memilih keluar dari ruang pemeriksaan, meski pun begitu suara tangis dan rintihan Nara masih dapat mereka dengar.
“ GUN, dette såret er for bredt og må sys umiddelbart....fem til sju sting... (GUN, luka ini terlalu lebar dan harus segera di jahit.... 5 sampai 7 jahitan.... ) “ belum selesai Zarya berbicara, Afkar sudah memotongnya.
“ gjør det raskt (cepat lakukan) “ suara tinggi Afkar membuat Zarya dan dokter jaga itu pening.
“ Hvorfor er du stille (kenapa diam)? “ sekali lagi suara keras Afkar membuat Zarya menjadi geram.
“ men vi kan ikke gi ham lokalbedøvelse (tapi kami tidak bisa memberinya anestesi lokal) “ ucap Zarya sedih, seketika Afkar melihat wajah Zarya dengan geram.
Afkar memperat pelukkannya dan menutup telinga Nara, Afkar mengumpat mendapatkan pilihan yang sulit.
“ GUN “ suara Zarya membuat Afkar sadar dari umpatannya.
“ rense såret først (bersihkan dulu lukanya) “ ucap Afkar menahan rasa frustrasi juga emosinya yang semakin memuncak.
Afkar melonggarkan pelukannya pada Nara dan menatap tajam kedua mata Nara yang sudah sangat merah karena terus menangis merasakan rasa perih dan sakit di punggung tangan kirinya.
“ sayang..... luka ini..... harus segera dijahit...... tapi mereka..... “ ucapan Afkar terhenti dan memejamkan mata menahan air matanya.
__ADS_1
Nara masih dengan tangisnya mengeratkan genggaman tangan kanannya pada jas yang Afkar pakai.
“ mereka tidak bisa memberi sayang anastesi lokal..... “ ucap Afkar cepat dan air mata menetes di pipi kanannya.
Nara yang masih menangis seketika menjerit kesakitan saat dokter jaga yang bersama Zarya membersihkan lukanya dengan alkohol 90%. Afkar menjadi tidak tega, hanya di bersihkan saja sudah membuat Nara menjerit kesakitan bagaimana bila mereka menjahit luka sayatan itu tanpa anestesi lokal. Air mata Afkar menetes kembali dengan dada yang terasa sakit dan tenggorokkan, Afkar berusaha keras mengatakan kalimat terakhir.
“ karena sayang hamil..... mereka tidak berani memberi sayang anestesi lokal.... tapi luka ini harus segera di jahit. “ ucap Afkar dengan air mata yang menetes di kedua pipinya.
Nara menangis keras mendengar ucapan Afkar, dengan tersengguk-sengguk Nara menenggelamkan kepalanya di dada Afkar dan tangan kanan yang semakin erat menggenggam jas Afkar.
“ sakit..... “ ucap Nara pelan dengan tersengguk-sengguk.
Afkar mengerti sekali bagaimana sakitnya daging segar dan sehat di tusuk oleh jarum berkali-kali.
“ takut..... “ ucap Nara dengan tangis yang semakin deras.
Dengan posisi masih berdiri menghadap Nara, Afkar hanya bisa memeluk erat dan mencium puncak kepala Nara berkali-kali. Kalau bisa bertukar posisi, dia akan melakukannya agar bisa menggantikan posisi Nara yang merasakan sakitnya di jahit tanpa anastesi akan Afkar lakukan hal itu, tapi itu tidak mungkin.
“ mas Afkar peluk Nara ya.... Nara takut..... Nara takut jarum..... “ suara pelan Nara di antara suara tangisnya membuat tubuh Afkar terasa kaku dan dingin.
Afkar menarik nafas panjang dan menghapus air matanya dengan tangan kiri.
“ sayang mau di jahit tanpa anestesi lokal? “ tanya Afkar mencoba meyakinkan sekali lagi ucapan Nara.
__ADS_1
Nara menjawab dengan menganggukan kepala dan memperat pelukkannya di tubuh Afkar. Afkar menarik nafas panjang tidak sanggup membayangkan rasa sakit tusukan jarum yang akan Nara rasakan berkali-kali.