
Divya dan Fajrin sudah menjadi pasangan halal, karena pesta pernikahan mereka di gelar pukul satu siang maka salah seorang perias juga staff wedding organizer meminta mereka untuk masuk ke kamar pengantin yang menjadi tempat Divya bermalam.
Nara melihat punggung Fajrin dan Divya dengan tatapan penuh haru, Afkar memeluknya dan mencium kepala Nara berkali-kali.
“ jangan menangis..... mas yakin mereka akan bahagia “ bisik Afkar sambil mencium kepala Nara.
Nara menempelkan kepalanya di dada Afkar dan mencium lengan kiri Afkar, tiba-tiba perut Nara berbunyi membuat Afkar sedikit melonggarkan pelukkannya.
“ lapar? “ Nara menganggukan kepala.
Afkar mengedarkan pandangan sesaat dan melihat para staff wedding organizer satu persatu mulai menatanya karena pukul satu siang ruangan ini akan berubah menjadi tempat pesta pernikahan Fajrin dan Divya.
“ ayo.... kita cari makan siang.... sebelum sholat jum'at “ ucap Afkar sambil menggenggam tangan kanan Nara.
Baru beberapa langkah, Mari dan Zarya juga Barra mendekati mereka.
“ mau kemana? “ tanya Barra asal.
“ cari makan siang “ jawab Afkar sambil lalu.
“ makan siang.... bukankah nanti di pesta pernikahan ada menu makan siang? “ ucapan Barra membuat Afkar menghentikan langkah kakinya.
“ sayang..... bagaimana kalau makan siangnya nanti saat di pesta saja? “
“ terserah mas..... yang penting sekarang ada sesuatu yang bisa Nara makan “ ucap Nara yang mulai terlihat sedikit merajuk.
Melihat sorot mata Nara yang terlihat sedikit merajuk membuat Afkar tidak tega.
“ kita cari sesuatu yang sayang mau “ ucap Afkar kembali melangkahkan kakinya keluar dari grand ballroom.
Zarya dan Mari yang tidak mengerti apa yang Afkar dan Barra katakan hanya bisa mengikuti langkah Afkar dan Nara. Afkar mengedarkan seluruh pandangannya di area lobi dan tersenyum tipis saat membaca nama sebuah lounge.
__ADS_1
“ kita kesana “ ucap Afkar sambil menunjuk ke sebuah lounge yang terlihat mewah dan private.
Nara sudah tidak sabar untuk memasukan sesuatu ke dalam mulutnya. Seorang pelayan menyambut mereka dan Afkar mengatakan keinginannya, pelayan itu menunjukkan meja yang bisa mereka pakai dan menyerahkan dua buah buku menu. Afkar menyerahkan satu buku menu yang dia pegang pada Nara.
“ Nara mau yang ini mini chocolate marquise “ ucap Nara sambil menunjuk menu kudapan dengan bahan dasar coklat dan kacang-kacangan.
pelayan itu menjelaskan apa saja yang ada di dalam menu yang Nara tunjuk, membuat Nara tidak sabar untuk segera menghabiskannya. Mari Zarya memilih peacock l'eclair yang terdiri dari tiga macam pastry khas perancis sedangkan Afkar dan Barra hanya memesan secangkir latte.
Nara memeluk lengan kiri Afkar dengan posesif membuat Afkar sedikit heran dengan sikap Nara kali ini, tapi justru hal ini membuat Afkar senang. Setelah menunggu beberapa menit satu persatu apa yang mereka pesan mulai tertata rapi di meja mereka. Khusus pesanan Nara di sajikan dengan sebuah meja kecil yang terdiri dari empat laci dimana setiap laci dan bagian atas meja terdapat beraneka ragam cake dengan bahan dasar coklat dan kacang.
“ yakin sayang bisa menghabiskan ini semua? “ Nara menganggukan kepala sambil menunjuk sebuah cake berukuran 5x5 dengan pemanis buah cerry.
Tanpa ragu Afkar mengambilnya untuk Nara dan Nara langsung memasukkan kedalam mulutnya, dengan mulut yang penuh makanan Nara mengacungkan kedua ibu jarinya pada Afkar. Membuat Afkar meraih kepala Nara dan menciumnya.
Mari dan Zarya memperhatikan Nara yang terlihat sangat menikmati cake tersebut.
“ spiser du så mye hver gang (apa setiap kali makan juga sebanyak ini)? “ tanya Zarya heran.
Afkar dan Barra hanya merespon ucapan Zarya dengan senyum lebar.
Mereka berbincang-bincang sambil menikmati pesanan mereka, tak terasa waktu berjalan dan sudah menunjukkan pukul 11.30 yang berarti 30 menit lagi waktu sholat jum'at.
“ sayang mau menunggu di ruang tunggu atau ikut sholat jum'at? “
“ ikut sholat jum'at “ jawab Nara cepat.
“ baiklah kalau begitu kita langsung ke lantai 3..... tadi mas baca di lantai 3 ada Masjid. “ ucap Afkar yang sudah menekan tombol lift.
Sementara Barra mengantar Zarya dan Mari kembali ruang tunggu keluarga mempelai pria.
Pukul 12 lebih 45, Afkar dan Nara sudah kembali ruang tunggu untuk keluarga mempelai pria. Afkar melihat Zarya dan Mari yang terlihat sedang berbincang-bincang.
__ADS_1
“ mas.... kita kesana.... sepertinya menyenangkan duduk bersama mereka “ ucap Nara sambil menunjuk keberadaan Mari dan Zarya.
Melihat kedatangan Afkar dan Nara, Zarya segera tersenyum dan meminta Nara untuk duduk di sebelahnya. Tapi saat Afkar hendak duduk di sebelah Nara, Azkar memanggilnya untuk duduk berbincang-bincang dengan para sepupu mereka dari pihak Selo.
“ sudah.... mas kesana saja..... Nara disini sama calon kakak ipar “ ucap Nara sambil menepuk paha Afkar agar segera menemui Azkar.
Ketiga wanita beda umur beda budaya terlihat sangat akrab membuat Norin yang baru selesai berganti pakaian seragam menjadi tertarik untuk ikut duduk bersama mereka.
“ Nara... det ser ut som den fyren leter etter deg... han har vært her et par ganger allerede på jakt etter noen.... (Nara.... sepertinya pria itu sedang mencarimu.... sudah sejak tadi dia beberapa kali masuk ke sini dan mencari seseorang... ) “ ucap Zarya sambil menunjuk pada Ditya yang terlihat jelas memperhatikan Nara.
Nara menggerakkan kepalanya sedikit dan melihat sosok Ditya dari sudut mata sebelah kanan untuk sesaat.
“ ignorer det... hvis han var en gutt ville han definitivt kommet hit..... (abaikan saja... kalau dia laki-laki pasti dia akan kemari.....) “ ucapan Nara seketika membuat Mari, Zarya juga Norin tertawa.
Afkar dan Azkar juga sepupunya melihat ke arah mereka berempat.
“ den fyren siden du kom inn... han har stått der og sett på deg (pria itu sejak kamu masuk kesini..... dia sudah berdiri di situ melihatmu) “ ucap Zarya tapi Nara tetap tidak memperdulikannya.
Ditya terlihat jelas memperhatikan juga terlihat jelas ragu untuk mendekati Nara, karena Nara sedang tidak sendiri. Afkar meski pun berada di antara para sepupunya tapi kedua matanya menatap tajam pada Ditya.
“ sialan..... sekalinya ada.... dia tidak sendiri..... mana pria itu menatapku pula “ umpat Ditya dan melihat Afkar yang sudah menatapnya dengan tajam.
“ apa aku harus menarik pria miskin itu kemari..... supaya aku bisa mendekati wanita sialan itu “ gumam Ditya dengan bingung.
Karena mendapatkan tatapan tajam dari Afkar, Ditya mengurungkan niatnya untuk berbicara dengan Nara.
“ permisi..... maaf apa anda yang bernama Nara? “ tanya seseorang yang bertanggung jawab dengan pakaian seragam bagi keluarga Fajrin.
Nara tanpa memutar badannya tapi langsung berdiri dan membuat orang tersebut terlihat jelas menjadi bingung juga heran.
“ Alhamdulillah.... akhirnya ketemu juga..... “ tiba-tiba ucapan orang itu terhenti saat Nara melihat postur badan Nara.
__ADS_1
“ mana muat “ gumam orang itu pelan.
“ maaf ada apa ya..... mencari saya? “ Nara heran melihat wajah orang itu yang terlihat jelas bingung juga mulai sedikit panik.