
“ big brother was worried that when Mas Afkar was busy again and something happened to Nara, so big brother taught Nara a little self-defense (kak Fajrin kuatir kalau nanti mas Afkar sibuk lagi dan ada sesuatu pada Nara, jadi kak Fajrin mengajari Nara sedikit bela diri) “ ucap Nara sambil memasukkan tangan kirinya ke balik hijab untuk mengeringkan keringat yang mengalir di lehernya
“ Grandpa has added some bodyguards, is it still lacking (kakek sudah menambah beberapa pengawal, apa masih kurang)? “ ucap Erhan dan menatap Fajrin dengan penuh pertanyaan.
Fajrin heran dengan ucapan Erhan, sesaat kemudian Ralf membisikkan sesuatu pada Erhan dan membuat tangan Erhan bergetar.
“ Du er sikker (kamu yakin)? “ Ralf menganggukan kepala menjawab pertanyaan Erhan.
Fajrin menaruk sedikit curiga dengan yang Ralf bisikan pada Erhan.
“ Dik.... “ ucap Fajrin dan dengan isyarat mata meminta Nara masuk ke dalam rumah.
Fajrin segera duduk di tempat yang tadi di pakai Nara duduk.
“ grandpa..... sorry if I'm presumptuous for forcing grandpa granddaughter-in-law to practice martial arts (kakek..... maaf kalau saya lancang memaksa cucu menantu kakek berlatih bela diri) “ ucapan Fajrin terhenti membuat Erhan bingung.
Fajrin menarik nafas dan mulai menceritakan alasan dari kenapa dia keras melatih Nara bela diri, Fajrin juga menunjukkan beberapa foto sosok yang mencurigakan menurutnya. Erhan mendengarkan dengan serius, dan sesekali meminta Ralf memastikan sosok yang Fajrin curigai. Ralf mengatakan sesuatu yang membuat Erhan terkejut dan menatap Fajrin penuh dengan pertanyaan.
“ kak..... kita ajak kakek makan malam disini bagaimana? “ Fajrin tersenyum mendengar pertanyaan Nara dan segera bangkit dari tempatnya duduk.
“ Grandpa should have a dinner here, Uncle Ralf too. taste what big brother's cooking (kakek harus makan malam disini, uncle Ralf juga. Kalian harus merasakan masakan kak Fajrin) “ ucap Nara membanggakan rasa masakan Fajrin
Nara dan Erhan juga Ralf menunggu di meja makan, Nara sudah tidak sabar ingin makan masakan Fajrin. Erhan menatap Fajrin penuh dengan pertanyaan dan menatap Nara penuh dengan perasaan kuatir.
“ Er det fordi de har bodd sammen lenge og gjør Fajrins følelse veldig sterk? Afkar burde vite dette (apa karena mereka sudah lama hidup berdua membuat firasat Fajrin sangat kuat? Afkar harus tahu ini) “ gumam Erhan sambil masih menatap Fajrin dan Nara bergantian.
Setelah menunggu 30 menit akhirnya, masakan Fajrin siap di hidangkan. Ines membantunya menghidangkan satu mangkuk soto banjar untuk setiap orang. Erhan melihat masakan Fajrin tidak percaya karena baru kali ini melihat satu mangkuk penuh sup daging.
“ grandpa doesn't like it (kakek tidak suka)? “ tanya Nara heran.
“ what the name's of this soup (apa nama sup ini)? “ Nara tersenyum mendengar pertanyaan Erhan.
__ADS_1
“ every foreigner.... all foods with water are called soup...... grandpa this soup name is soto banjar (orang bule.... semua makanan yang berkuah pasti namanya sup...... kakek ini namanya soto banjar) “ Erhan tersenyum lebar mendengar ucapan Nara.
Mereka berempat menikmati soto banjar masakan Fajrin bahkan Ralf menambah satu porsi lagi begitu juga dengan Erhan. Nara tersenyum melihat respon kedua pria ini, dan tentunya Fajrin sangat senang melihat Erhan dan Ralf menyukai masakkannya.
“ can you cook this too (apa kamu bisa juga memasak ini)? “ tanya Erhan yang sudah menghabiskan porsi kedua.
“ a little (sedikit) “ jawab Nara malu.
“ if grandpa want it..... I will give the reception ...... grandpa can ask the chief to make it (kalau kakek mau..... nanti aku berikan resepnya.... kakek bisa minta koki untuk membuatnya lagi) “ jelas Fajrin dan membuat Erhan senang.
Setelah makan malam Erhan memutuskan untuk pulang dan meminta Fajrin untuk mengirim foto sosok yang dia curigai.
“ when do you come back to Jakarta (kapan kamu akan kembali ke Jakarta)? “ tanya Erhan saat mereka sudah berdiri di depan pintu sisi luar rumah.
“ the day after Afkar going home (sehari setelah Afkar datang) “ jawab Fajrin singkat.
“ if you need something..... call grandpa.... grandpa will ask a few of people to help you (bila kamu butuh apa pun..... telepon kakek..... kakek akan menyuruh orang-orang kakek membantumu). “ ucap Erhan sambil melangkah menuju mobil.
Sementara Nara memperhatikan mereka dari balik jendela kaca satu arah.
Sekepergian Erhan, Fajrin segera mengirim foto-foto sosok yang dia curigai.
“ Ralf, lagre Naras bror nummer ... ring folk i Jakarta for å overvåke ham .... kanskje han en dag trenger oss. Du finner ut denne gutten (Ralf, simpan nomor saudara Nara.... hubungi orang-orang di Jakarta untuk memantau dia.... mungkin suatu saat dia membutuhkan kita. Kamu cari tahu anak ini) “ ucap Erhan sambil menyerahkan ponselnya pada Ralf.
Nara yang sudah berada di dalam kamar melihat ponselnya menampilkan notifikasi pesan singkat.
“ aaaaaa...... “ teriakan Nara membuat Fajrin segera berlari masuk ke kamar Nara.
“ ada apa dik? “ tanya Fajrin sangat kuatir.
“ mas Afkar pulang malam ini “ ucap Nara senang sambil memunjukkan pesan singkat Afkar.
__ADS_1
“ kakak kira ada apa...... buat kakak jantungan saja “ ucap Fajrin kesal dan kembali masuk ke kamarnya.
Nara sangat girang sekali mendapat pesan singkat dari Afkar, Nara gugup sekali seperti saat pertama kali akan menginjakkan kaki di Olso. Karena terlalu gugup hingga sulit memejamkan kedua matanya dan berkali-kali merubah posisi tidurnya.
“ lama juga 2 jam 20 menit....... belum perjalanan dari bandara ke rumah..... bisa 3 jam lebih..... mana mata tidak mau tidur lagi...... “ gumam Nara sambil merubah posisi berbaringnya.
Karena lelah menunggu akhirnya Nara tertidur juga dengan posisi tidur melintang memenuhi ranjang ukuran king size. Tepat pukul 11.45 Afkar sampai di depan pintu dan Ines membukakan pintu.
“ god natt sir velkommen (selamat malam tuan, selamat datang) “ ucap Ines sambil memegang gagang pintu untuk menahan pintu tetap terbuka bagi Afkar.
“ sover min kone (apa istriku sudah tidur)? “ tanya Afkar sambil melepas kaitan kancing coat yang dia pakai.
“ virker som allerede (sepertinya sudah) “ jawab Ines singkat.
Afkar dengan langkah lebar segera masuk ke kamar, Afkar tersenyum melihat posisi tidur Nara yang tengkurap melintang memenuhi ranjang.
“ ini kenapa bisa tidur satu ranjang penuh “ ucap Afkar sambil meletakkan tas kerja dan coat di sebuah sofa.
Afkar membiarkan posisi Nara dan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri, 15 menit kemudian Afkar keluar dengan hanya mengenakan handuk yang melilit asetnya. Afkar menganti handuk dengan boxer dan mengangkat tubuh Nara agar ada tempat untuknya berbaring. Dengan pelan-pelan Afkar mengangkat tubuh Nara seperti seorang ayah mengangkat tubuh anaknya dengan posisi menyerupai pesawat, dengan pelan Afkar meletakkan Nara di sisi kanan ranjang. Saat tubuh Nara menyentuh ranjang, tiba-tiba Nara memeluk leher Afkar.
“ akhirnya pulang juga “ ucap Nara dengan mata terpejam.
Afkar tersenyum mendengar suara Nara dan menarik tangan kirinya dari bawah pahanya.
“ sudah selesai semua tinggal menunggu persetujuan Kalle “ ucap Afkar sambil menarik tubuh Nara ke dalam pelukannya.
Nara membenamkan wajahnya di dada bidang Afkar dengan menjadikan lengan kanan Afkar sebagai bental. Afkar membelai punggung hingga paha dan mendapati Nara masih menggunakan pembalut nifas.
“ masih banyak? “ tanya Afkar tapi tidak mendapat jawab dari Nara.
“ sepertinya kali ini benar-benar sudah tidur “ ucap Afkar sambil menepuk paha Nara dan ikut tertidur.
__ADS_1