NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 151 OTOT LEVATOR ANI


__ADS_3

Memandangin Nara yang sudah siap menerima dirinya membuat Afkar segera mengucapkan doa.


“ Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathanamarazaqna (Dengan nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan syaitan dan jauhkanlah syaitan dari rezeki yang akan Engkau anugerahkan pada kami). “


Indera pengecap dan indera peraba di kedua tangannya aktif menikmati apa yang sudah menjadi haknya. Olah raga pelebaran dinding rahim yang sempat terhenti selama beberapa minggu membuat Afkar tidak bisa berhenti menikmati apa yang sudah menjadi haknya, meninggalkan banyak tanda di kulit Nara. Menikmati setiap inci haknya membuat pemilik kulit bergerak tidak beraturan hingga pemilik kulit mencapai puncak. Nara masih mengatur nafas serta detak jantung karena puncak pertamanya, pemandangan yang sangat dirindukan Afkar yang membangkitkan semangatnya untuk membuat Nara menyebut namanya di setiap gerakkannya.


“ sayang.... “ suara parau Afkar sambil memposisikan aset yang sudah siaga satu.


Hanya sekali hentakan seluruh aset masuk sepenuhnya membuat tubuh Nara seketika membusur ke atas dan meneriakkan namanya.


“ mas..... Afkar “ teriak Nara dengan tubuh yang masih membusur.


Untuk beberapa detik Afkar menahan pinggung Nara membiarkan otot-otot levator ani Nara membiasakan diri dengan kehadirannya, tapi setelah terbiasa Afkar menggerakkan Nara membuat pemilik otot berkali-kali mengeluarkan suara-suara yang selalu membuat Afkar lupa diri.


Afkar melakukan sesuai apa yang Mari katakan mengingat ada beberapa posisi pelebaran dinding rahim yang tidak bisa mereka lakukan karena kehamilan kembar sangat rawan mengalami keguguran. Mari mengingatkan dengan keras agar Afkar bermain aman jangan membuat Nara tidak nyaman, banyak hal yang harus Afkar jaga.


Nara yang sudah beberapa kali mencapai puncak belum membuat Afkar mencapai puncak juga, hingga beberapa kali Afkar merubah posisi Nara yang pada akhirnya Afkar mengurung Nara di bawahnya. Setelah pelebaran dinding rahim selama hampir 1 jam, akhirnya Afkar memperdalam dirinya karena akan mencapai puncak membuat Nara merasakan ada sesuatu yang menekan cervical oriface miliknya dan sekali lagi Nara mencapai puncak.


“ Allahummaj’alnuthfatna dzurriyyatan thayyibah (Ya Allah jadikanlah nutfah kami ini menjadi keturunan yang baik) “ Nara paham betul bila Afkar sudah mengucapkan doa ini.


Itu berarti sebentar lagi Afkar akan mengeluarkan cairan yang akan melewati cervical canal miliknya.


Udara dingin di luar dengan pemanas ruangan yang di matikan tidak dapat membendung keringat mengalir terus keluar dari pori-pori kulit di sekujur tubuh mereka. Dengan bertumpu pada kedua lututnya, Afkar melihat wajah lelah istrinya yang penuh dengan puluh.


Menikmati pemandangan indah melihat wajah Nara yang memerah karena ulahnya membuat Afkar tersenyum puas memandangi pemandangan indah yang membuatnya gila. Untuk beberapa detik Afkar menahan diri tetap berada di dalam membiarkan otot-otot levatori ani milik Nara menjepit dirinya, hingga pergerakkan nafas Nara menjadi teratur pelan-pelan Afkar mengeluarkan diri.


"Alhamdu lillaahi Lladzii Khalaqa Minal Maa I Basyaraa (Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan manusia dari air, lalu menjadikannya sebagai keturunan) ” doa Afkar saat melepaskan diri.

__ADS_1


Puasa ranjang beberapa bulan membuat Afkar tidak puas hanya sekali permainan, Afkar meminta haknya lebih dari sekali Nara pun tidak kuasa menolak. Nara yang masih terlelap di dalam pelukan membuat Afkar mencoba membangunkannya dengan sebuah ciuman kecil di bibir yang selalu membuat dirinya merasa kurang akan haknya, karena 30 menit lagi menjelang shubuh. Ciuman kecil itu tak bisa membangunkan Nara tapi justru membuat Nara semakin menenggelamkan dirinya di dalam pelukkan Afkar.


“ sayang..... bangun.... sebentar lagi shubuh “ bisik Afkar sambil menyingkirkan anak rambut yang menutupi telinga Nara.


Nara bukannya berusaha membuka matanya tapi semakin menyusupkan wajahnya di ceruk leher Afkar.


“ masih kurang..... “ ucapan Afkar kali ini membuat Nara segera membuka matanya.


Nara tersenyum dan Afkar mmenangkup pipi kiri Nara.


“ kalau kurang..... nanti selesai makan pagi.... mas lanjut lagi... “ ucap Afkar membuat pipi Nara terasa panas.


Bukan tanpa alasan Nara merasa kurang karena sejak akhir trimester pertama hormon progesteron dan estrogen dalam dirinya meningkat cukup drastis, sehingga membuatnya merasa sangat menginginkan Afkar.


Karena waktu shubuh sudah semakin dekat akhirnya Afkar memutuskan mengangkat tubuh Nara dan masuk ke kamar mandi.


Aktivitas mandi wajib dan kewajiban mendirikan sholat sudah selesai, bila biasanya Afkar hanya berdzikir dan berdoa sebentar. Kali ini dzikir dan doanya sedikit panjang karena Afkar menginginkan janin kembarnya menjadi anak yang sehat, kuat, cerdas dan berakhlak seperti Nara. Nara pun mulai murojaah hingga matahari terbit, membaca 3 sampai 4 lembar tulisan arab. Afkar menemaninya dengan duduk di sebelahnya, terkadang Afkar memberikan ciuman kecil di puncak kepala Nara atau pun membelai perut Nara yang mulai terlihat menonjol sedikit.


“ mas.... kalau sampai jadwal acara wawancara nanti Nara masih belum bisa memainkan game console bagaimana? “ tanya Nara sambil menutup Al Qur'an.


Afkar menarik nafas panjang dan memeluk erat Nara.


“ hari ini..... mas akan luangkan waktu mengajari sayang..... memang tidak mudah kalau sebelumnya tidak pernah memainkan game console..... tapi minimal sayang sudah berusaha untuk belajar cara memainkan game console.... kalau nanti saat giliran sayang memainkan game console itu.....yang perlu sayang ingat hanya satu...... santai dan ikuti permainannya. “ ucap Afkar yang masih memeluk Nara.


“ jadi..... seharian ini.... mas akan menenami Nara? “ ucap Nara dengan gembira.


“ iya..... tapi sebaiknya kita makan pagi dulu sebelum mulai memainkan itu “ ucap Afkar sambil menunjuk game console GDP WIN yang berada di meja tak jauh dari mereka duduk saat ini.

__ADS_1


Nara menjadi tidak bersemangat melihat benda itu.


“ seharian main itu.... pasti membosankan....” ucap Nara lemas dan pelan.


Afkar tersenyum gemas dan mengurai pelukkannya karena terdengar seseorang mengetuk pintu unitnya. Nara dengan cepat masuk ke kamar karena dua pelayan dari kediaman Erhan akan masuk dan menyiapkan makan pagi untuk mereka juga mengganti beberapa bahan makanan siap makan di lemari persedian makanan.


Tidak mungkin terus menurus Afkar mengandalkan menu dari restuaran Destin selama kehamilan Nara, maka dari itu Afkar meminta pelayan dari kediaman Erhan untuk belajar membuat masakan Indonesia meski pun pada awalnya terasa aneh tapi lambat laun terasa hampir sama dengan aslinya.


“ pagi ini mereka bawa apa mas? “ tanya Nara sambil menutup pintu kamar setelah para pelayan kediaman Erhan pergi.


“ sepertinya ketoprak..... “ ucap Afkar sedikit ragu melihat wujud makanan yang sudah tertata rapi di meja makan.


Nara menjadi curiga dan segera melihat ke meja makan.


“ ini bukan ketoprak..... ini tahu tek..... ketoprak tidak ada ininya.... adik.... makan pagi kita tahu tek..... ada 1 2 3 piring buat kita.... kalau perlu punya Abi..... kita habiskan.... “ ucap Nara sambil membelai perutnya.


Afkar tersenyum lebar melihat tingkah Nara yang mengajak bicara janin mereka, terdengar lucu di telinga Afkar.


“ iya....habiskan saja..... nanti Abi makan yang lain saja. “ ucap Afkar sambil mengacak-acak rambut Nara yang masih sedikit basah.


Tanpa menunggu lama, Nara segera menghabiskan 1 piring tahu tek dan lanjut ke piring ke dua. Afkar tersenyum melihat Nara yang masih belum merasa kenyang dengan 1 porsi tahu tek.


“ kalau Umma makannya seperti ini..... bisa-bisa saat mereka keluar nanti makannya bisa dua kalinya ini.... “ ucapan Afkar membuat Nara sedikit bingung.


Nara memiringkan kepalanya, Afkar tersenyum dan mencubit ujung hidungnya.


“ Amma bilang.... kalau wanita hamil selama kehamilannya selalu makan apa saja tanpa ada penolakan apa pun.... nanti saat janin itu sudah di luar.... pasti makannya banyak dan tidak pilih-pilih. “ Nara menganggukan kepala mulai mengerti maksud Afkar.

__ADS_1


“ seperti mas Afkar..... makan apa saja bisa dan tidak menolak satu pun makanan..... “ ucap Nara dan menyodorkan sesendok tahu tek ke mulut Afkar.


__ADS_2