
Hingga tiba hari dimana mereka harus berkemas untuk berangkat terbang ke Moskow sekaligus juga untuk kembali ke Oslo.
“ sudah semua? “ tanya Afkar sambil menutup koper besar milik Nara.
“ sudah “ jawab Nara singkat dengan tangan kanannya memegang sebuah kurma.
Afkar tersenyum tipis dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan memastikan sudah tidak ada barang yang tertinggal. perlahan-lahan Afkar melangkah keluar kamar dengan menarik dua buah koper kecil, Nara mengikuti dari belakang.
“ kapan lagi bisa kesini.....” ucap Nara pelan.
“ kita kesini lagi kalau sayang sudah melahirkan “ ucap Afkar sambil meletakkan kedua koper kecil di pinggir anak tangga.
seorang pengawal membawa koper mereka.
“ janji ya.... setelah kembar lahir.... kita kesini lagi..... “ ucap Nara sambil mengacungkan jari kelingking.
Afkar tidak membalas jari kelingking Nara dengan jari kelingkingnya tapi membalas dengan pelukan hangat dari belakang.
“ sayang bertiga yang sehat yang kuat...... tiga bulan setelah kembar lahir..... kita kemari lagi.... “ ucap Afkar pelan sambil mencium kepala Nara.
Private Jet Sundth Air mendapatkan izin terbang tepat pukul sembilan pagi waktu Jakarta, dari sejak semalam mereka semua sudah mengemas barang-barang dan selepas shubuh mereka semua menuju bandar udara internasional Soekarno Hatta Cengkareng. Penerbangan panjang menuju bandar udara International Domodedovo Moscow di tempuh dalam tiga belas jam empat puluh lima menit, Mari benar-benar memastikan kondisi kandungan Nara. Mari sebagai dokter spesialis kandungan yang Afkar percaya untuk mengawasi Nara tidak ingin kedua janin kembar keturunan Rosenkrantz Sadhat lahir sebelum waktunya.
“ la meg sjekke stillingen til fosteret ditt....
(biarkan aku memeriksa posisi janin kalian....) “ ucap Mari sambil meminta Nara berdiri dari kursi.
__ADS_1
Nara melangkah masuk menuju kabin tempat tidur dengan Mari, kurang lebih selama setengah jam Mari memastikan kondisi janin Nara.
“ alt er normalt (semuanya normal) “ ucap Mari sambil merapikan fetal droppler.
Nara kembali ke memiringkan badannya sambil melihat Afkar yang ternyata sedang sibuk dengan laptopnya, Nara memandangi lekat-lekat wajah serius Afkar.
“ raut wajah yang sama..... apa ada masalah....? kalau melihat kerutan di dahi..... pasti ada masalah yang membuat mas bimbang..... “ gumam Nara dalam hati yang mulai curiga bila Afkar kembali menyembunyikan sesuatu darinya.
Tepat pukul delapan malam waktu Moskow atau pukul dua belas malam waktu Jakarta, private jet Sundth Air berhenti dengan sempurna di depan salah satu hanggar yang pihak management Sundth Air sewa. Meski pun saat ini baru pukul delapan malam tapi karena mata dan tubuh mereka sudah terbiasa dengan waktu Jakarta, para pemain D4rkC0d3 terlihat sangat penat lelah juga mengantuk.
“ mens her .... vi bruker denne bilen (selama disini.... kita pakai mobil ini) “ ucap Barra sambil menunjuk pada dua buah mobil Aurus Arsenal minivan berwarna hitam.
Barra yang sudah melakukan survey lokasi kompetisi menggunakan online map, sangat paham betul memilih lokasi hotel untuk mengenalkan D4rkC0d3 mengenali area sekitar lokasi kompetisi.
“ du ser på bygningene vi passerer i dette området av det internasjonale forretningssenteret i Moskva..... vi bor på Novotel.... (kalian perhatikan gedung-gedung di yang kita lewati di area Moskow international business centre ini..... kita menginap di Novotel....) “ ucap Barra sambil membuka email di ponselnya.
menginjakkan kaki di Moscow merasa gugup juga tegang. Butuh waktu empat puluh lima menit dari bandar udara untuk sampai di area Moscow International business centre.
Aurus Arsenal minivan berhenti tepat di depan lobi hotel novotel. dbuq, javex, Nara, Marius juga Morten mengedarkan pandangan ke seluruh gedung di sekitar hotel. Mereka tidak tahu dimana mereka besok akan berkompetisi tapi mereka yakin gedung yang akan menjadi lokasi kompetisi tidak jauh dari tempat mereka bermalam. Saat Nara melihat Afkar turun dari mobil Aurus Arsenal minivan yang berbeda dengan dirinya, Nara segera berjalan sedikit cepat dan menarik tangan Afkar.
“ mas... kesana sebentar “ pinta Nara sambil menarik lengan kanan Afkar.
Afkar hanya tersenyum dan mengikuti langkah kaki Nara.
Nara menarik Afkar untuk melihat gedung-gedung yang berada di sekeliling hotel tempat mereka menginap, Afkar paham kenapa Nara menariknya seperti ini.
__ADS_1
“ observasi....? “ pertanyaan singkat Afkar membuat Nara menghentikan langkahnya dan membalikkan badan.
Nara tersenyum lebar terlihat dari kedua sudut matanya yang menyipit, Afkar tersenyum senang karena gerakkannya benar.
“ ayo.... mas temani sayang observasi..... “ ucap Afkar yang sudah melingkarkan tangan kanannya di pinggang Nara yang sudah tidak ramping lagi.
dbuq dan javex yang melihat kepergian Nara segera melangkah melebar menyusul Nara, Barra menatap kepergian keempat orang itu dengan menggelengkan kepala. Kakak beradik Yilmaz yang sudah kesekian kalinya berada di area ini sudah merasa cukup hapal gedung-gedung yang berada di area ini.
“ du vil ikke gå rundt også (kalian tidak ingin berkeliling juga)? “ ucapan Barra membuat kakak beradik Yilmaz saling memandang satu sama lain.
“ gå.....la meg og Lief legge i koffe....rt.... (pergilah..... biar aku dan Lief yang memasukkan kope.....r..... ) “ belum selesai Barra berucap, kakak beradik Yilmaz sudah berlari memanggil nama dbuq dan javex yang sudah berdiri di antara gedung Cinema-Concert Hall dan gedung AfiMall Moscow Metro.
Afkar mengikuti kemana pun langkah kaki Nara, karena Nara sendiri sudah melepas lengan tangan Afkar dari pinggangnya dan menggenggamnya dengan tangan kiri. dbuq dan yang lainnya melakukan hal yang sama yang Nara lakukan, melihat mengamati bahkan menghapalkan bentuk gedung serta berbagai tulisan yang terdapat di dinding gedung area Moscow International business centre. Selama kurang lebih tiga puluh menit mereka melakukan pengamatan gedung di sekitar hotel tempat mereka bermalam, tiba-tiba seseorang mengejutkan Afkar.
“ Hva gjør du (kalian sedang apa)? “ pertanyaan singkat yang cukup membuat Nara berhenti mengamati gedung-gedung.
Afkar sedikit terkejut juga tidak percaya karena suara itu tidak asing di telinganya.
“ hvorfor er du her fortsatt..... hvorfor har du ikke vært i Oslo (kenapa kamu masih disini..... kenapa belum ke Oslo)? “ suara Afkar yang terdengar dingin untuk menutupi keterkejutannya.
Pria itu tersenyum kecut karena mendapatkan jawaban yang dengan dua pertanyaan.
“ kan ikke svare på spørsmålet mitt ikke med et spørsmål (bisa tidak menjawab pertanyaanku tidak dengan pertanyaan) “ ucap Johan berpura-pura kesal dan mengabaikan Afkar.
Afkar menatap Johan dengan tatapan dingin dan penuh tanya, tapi Johan justru mengeluarkan ponselnya dan mulai merekam apa yang Nara lakukan. Melihat itu membuat Afkar geram dan ingin merebut ponsel Johan tapi Johan yang sudah paham dengan sifat Afkar, dengan siaga dan sigap Johan menjauhkan ponselnya dari jangkauan Afkar.
__ADS_1
“ Jeg vet.... du vil ta mobilen min fordi jeg spilte inn svoger..... men denne gangen spilte jeg inn svoger ikke for meg..... men for at noen skal føle seg mindre ensom (aku tahu.... kamu ingin merebut ponselku karena aku merekam kakak ipar..... tapi kali ini aku merekam kakak ipar bukan untukku..... tapi untuk seseorang biar merasa tidak kesepian) “ ucapan Johan membuat Afkar heran tapi masih geram.