
Afkar yang merasakan pergerakan di depan tubuhnya dan semakin mengeratkan pelukkannya pada tubuh Nara.
“ jam berapa sayang bangun? “ tanya Afkar dengan mata terpejam dan semakin menyembunyikan wajahnya di tengkuk Nara.
“ mmmm..... kapan ya..... Nara tidak bisa lihat jam, bergerak saja sulit bagaimana mau lihat jam “ Afkar tersenyum mendengar alasan Nara.
“ kak Fajrin mana? “ tanya Nara yang belum mendengar suara Fajrin
“ mas suruh Fajrin tidur di ranjang pendamping pasien “ jawab Afkar semakin mempererat pelukkannya.
“ alibi mas Afkar..... biar bisa tidur di ranjang ini “ ucap Nara yang sudah menggigit kecil jari telunjuk Afkar yang sudah menyentuh bibir Nara.
“ sudah berani menggoda... “ bisik Afkar membuat Nara merasa geli di telinga kanannya.
“ mas Afkar tahu Nara disini dari siapa? ..... susah sekali menelpon suami sendiri jadi berasa seperti menelpon suami orang lain “ ucap Nara cemberut.
“ maaf..... mas salah sudah tidak memperhatikan sayang.... Abba Amma bang Azkar bahkan Norin memarahi mas..... Amma sampai bilang kalau terjadi apa-apa sama sayang, mas di tidak boleh menginjakkan kaki di Bergen atau Jakarta kalau belum membawa cucu kembar buat Amma. Padahal mas juga tidak paham bagaimana kita bisa membuat janin kembar “ ucapan Afkar yang sangat terbuka membuat pipi Nara bersemu merah.
“ semoga saja setelah ini Nara bisa cepat hamil lagi.... dan semoga saja bisa kembar lagi.... kita berdoa saja semoga di beri amanah bayi kembar biar kakek Abba Amma bahagia. Apa kakek tahu kalau Nara masuk rumah sakit? “ tanya Nara yang sudah memainkan jari jemari tangan kanan Afkar yang mulai diam di area dadanya.
“ belum.... kalau sampai kakek tahu sayang masuk rumah sakit.... bisa-bisa seluruh rumah sakit ini gaduh. “ ucap Afkar.
Saat Afkar dan Nara mulai larut dalam perbincangan mereka, tanpa mereka sadari Fajrin terbangun dan mendengarkan setiap kata yang Afkar dan Nara ucapkan, setiap kali Nara mengucapkan kata ‘ amanah ‘ dan ‘ bayi kembar ‘ Fajrin selalu mengucapkan ‘ Aamiin ‘.
Fajrin masih berharap agar Nara bisa hamil janin kembar lagi meskipun itu di luar kekuasaan manusia. Fajrin pelan-pelan bangun dari ranjang dan membuka laptop Nara yang ternyata dalam keadaan standby, Fajrin menggeserkan jari telunjuk pada touch pad untuk menampilkan aplikasi terakhir yang Afkar buka. Dalam diam Fajrin mengamati tampilan layar laptop Nara yang menampilkan barisan banyak karakter yang bergerak dari kiri ke kanan seperti sedang melakukan proses. Jari telunjuknya menekan tombol kiri touch pad dan memunculkan sebuah session yang mengharuskan Fajrin mengetik kata sandi.
“ belum bisa juga kata sandi ini “ gumam Fajrin sambil melihat ke arah kain yang menutupi ranjang tempat Nara berbaring.
Fajrin memandang kain tersebut beberapa saat untuk berpikir bagaimana baiknya, apakah mengganggu adik dan adik iparnya yang sedang bermesraan atau menunggu mereka selesai.
__ADS_1
“ ini kalau tidak segera di selesaikan bisa semakin lama dan semakin rumit masalah perusahaan Afkar “ gumam Fajrin yang sudah berdiri dari sofa.
Fajrin merasa ragu untuk mendekati ranjang pasien dan kembali duduk di sofa, dengan berbagai pertimbangan serta untung ruginya mengganggu mereka atau tidak akhirnya Fajrin memutuskan untuk menanyakan kata sandi dari program Nara.
“ dik.... sudah bangun? Ini kata sandi program kamu apa? “ suara keras Fajrin membuat Afkar yang sedang mencium pipi Nara segera berhenti dan bangun dari ranjang.
Dengan gugup Afkar membuka kain pembatas dan melihat Fajrin yang sudah menatap layar laptop Nara dengan serius. Nara tersenyum melihat Afkar yang terlihat jelas sangat gugup.
Fajrin berdiri dari sofa sambil membawa laptop melangkah mendekati Nara, Fajrin memperlihatkan tampilan layar laptop pada Nara.
“ apa kata sandinya? “ tanya Fajrin tanpa basa basi sambil melihat bagian bawah Afkar yang sedikit menonjol.
Afkar merasa malu dan berusaha menutupi bagian yang saat ini di lihat oleh Fajrin dengan menarik sedikit ujung pakaiannya.
“ tahan dulu sampai bersih masa menstruasi yang pertama setelah masa nifas “ ucap Fajrin yang masih melihat Afkar berusaha menutupi bagian bawahnya yang menonjol.
Nara tersenyum geli melihat reaksi Afkar.
“ tanggal pertama kali Nara melihat mas Afkar “ ucap Nara malu-malu.
Afkar dan Fajrin menatap Nara dengan tatapan tidak percaya begitu saja.
“ bukankah tadi malam kamu sudah memasukkan kata sandi itu.... tapi masih tidak bisa “ ucap Fajrin heran.
“ memangnya mas Afkar tahu kapan pertama kali Nara melihat mas? “ tanya Nara selidik.
“ tanggal saat sayang menolong mas saat kecelakaan tunggal “ ucap Afkar yang mulai mengetik tanggal tersebut.
“ salah.... “ ucap Nara santai dan membuat Afkar menghentikan jari jemarinya dan menatap Nara penuh pertanyaan.
__ADS_1
Fajrin terlihat sedang memikirkan sesuatu yang sesekali memainkan bibir bawah dengan jari telunjuk dan ibu jari.
“ jangan bilang kalau kata sandinya adalah tanggal saat GUN mundur dari tim ShowMe? “ tebakan Fajrin membuat Nara meringis.
Afkar menatap istrinya tidak percaya, bagaimana bisa Nara mengingat tanggal itu sedangkan dia sendiri lupa akan tanggal itu dan seharusnya saat itu Nara masih duduk di bangku sekolah dasar.
“ Afkar ketik tanggal itu “ ucap Fajrin yang sudah berdiri di samping kanan Nara dan mendorong pelan dahi Nara dengan telunjuk kanannya.
Afkar mengingat-ingat tanggal tersebut dan mengetiknya, tapi masih saja tidak berhasil memecahkan kata sandi tersebut.
“ masih tidak bisa “ ucap Afkar sambil memutar layar laptop agar Nara bisa melihatnya.
“ apa mas sudah mengawali setiap kata dengan huruf besar dan merubah hurup vokal menjadi angka atau karakter glyph? “ pertanyaan Nara berhasil membuat Afkar bingung tapi Fajrin justru kembali mendorong pelan dahi Nara.
“ jangan bilang kalau tanggal itu di tulis berupa kata-kata dan bukan angka pasti “ tebakan Fajrin membuat Nara meringis dan Afkar menatap Nara dengan gemas.
“ iya... misal angka tiga.... di tulis bukan angka tiga tapi huruf yang menyusun kata tiga dan huruf vokal di ganti dengan angka atau karakter glyph “ jelas Nara sambil meringis dan sekali lagi mendapatkan dorongan pelan di dahinya oleh Fajrin.
“ sudah sayang sebutkan saja apa yang harus mas ketik “ ucap Afkar pasrah.
Akhirnya Nara menyebutkan huruf angka serta karakter apa saja saja yang harus Afkar ketik, Fajrin mendengar setiap kata yang Nara ucapkan dengan menggelengkan kepala heran memahami pola pikir Nara membuat kata sandi yang rumit. Sementara Afkar fokus dengan keyboard mengetik setiap huruf angka dan karakter yang Nara ucapkan.
“ sayang yakin ini sudah cukup panjang atau kurang panjang? “ goda Afkar membuat Nara mengerutkan kulit hidung.
“ kalau mas benar mengetiknya seharusnya ada dua puluh lima bulatan hitam “ ucap Nara santai.
Afkar mengamati kata sandi yang dia ketik dan menghitung bulatan-bulatan hitam yang Nara maksud dengan memicingkan kedua matanya. Seketika Afkar tersenyum heran melihat Nara.
“ jangan bilang jumlah karakter ini usia mas mundur dari ShowMe “ ucap Afkar yang sudah melipat kedua tangan di dada.
__ADS_1
Nara tersenyum mendengar ucapan Afkar dan Fajrin tersenyum sambil mengusap rambut Nara.