NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 169 SCARY ICE BEAR (2)


__ADS_3

Tanpa kata-kata atau pun peringatan apa pun, Afkar menggoreskan senjata tajam di punggung tangan kiri Gustaf. Meski pun goresan itu tidak sedalam dan tidak sepanjang yang Nara rasakan tapi cukup membuat Gustaf berteriak, namun teriakan Gustaf tertahan karena mulut Gustaf terikat kuat oleh sebuah kain.


“ er dette høyt når min kone skriker når hun klør seg i pistolen (apa sekeras ini teriakan istriku saat dia menggoreskan senjatanya)? “ pertanyaan dingin Afkar membuat 6 pengawal menggelengkan kepala dengan cepat.


“ Lief.... tok du med et måleverktøy (Lief.... apa kamu membawa alat ukur)? “ pertanyaan dingin Afkar membuat Lief gugup juga heran.


“ du tok det ikke..... vel, jeg skal først sørge for at dette snittet er så dypt og så lenge som min kone føler seg (kamu tidak membawanya..... baiklah aku akan pastikan dulu sayatan ini sudah sedalam dan sepanjang yang istriku rasakan) “ ucapan dingin Afkar sambil mengamati luka sayatan di punggung tangan Gustaf.


Afkar mengerutkan keningnya.


“ de av dere som så kuttet på min kones hånd....pass på at såret er det samme som såret min kone føler (kalian yang melihat luka sayatan di tangan istriku.... pastikan lukanya sudah sama dengan luka yang istriku rasakan) “ perintah dingin Afkar membuat 2 pengawal yang melihat luka Nara segera mendekati Gustaf.


“ ikke ennå sir (belum tuan) “ ucap salah seorang pengawal sambil mengamati luka sayatan di tangan Gustaf.


Afkar menyerahkan senjata tajam yang dia pegang pada pengawal itu dan memberi isyarat tangan padanya, dengan sekali gerakan pengawal itu memperlebar dan memperdalam luka sayatan yang Afkar buat di tangan Gustaf. Teriakan keras yang tertahan keluar dari mulut Gustaf, darah segar mengalir dari tangan Gustaf hingga menetes di lantai.


“ er det nok (apa sudah cukup)? “ pertanyaan Afkar membuat seorang pengawal merebut senjata tajam yang rekannya pegang.


Dan sekali lagi dengan satu gerakan menggores tangan Gustaf, satu teriakan tertahan Gustaf keluar seiring dengan mengalirnya darah segar yang menetes di lantai.


“ allerede herre.... (sudah tuan....) “ ucap pengawal itu dan kembali ke tempatnya berdiri.


Afkar membiarkan luka sayatan di tangan Gustaf mengalirkan darah segar, selama lebih dari 20 menit Afkar membiarkan hal itu.

__ADS_1


“ sir..... Miss Zarya har kommet (tuan..... nona Zarya sudah datang) “ bisik Lief membuat Afkar memberikan senyum mematikan pada Gustaf.


Gustaf terlihat ketakutan melihat wajah Afkar yang sangat mengerikan juga senyum yang semakin membuatnya mengucurkan keringan dingin.


Afkar melangkah keluar ruangan menemui Zarya yang terlihat takut berada di rumah tua ini.


“ hva er galt med å fortelle meg å komme hit med sytråd.... hvem er skadet (ada apa menyuruhku kemari membawa benang jahit.... siapa yang luka) “ ucap Zarya ketus.


“ vil du ikke gjengjelde det Nara føler (apa kamu tidak tidak ingin membalas apa yang Nara rasakan) “ goda Afkar membuat Zarya menatapnya tajam.


“ du har faktisk fanget den råtne mannen.... hvis jeg vil gjengjelde ham... vil jeg stikke kjøttet hans til han besvimer.... om nødvendig vil jeg gjenopplive ham igjen og stikke ham igjen til han besvimer igjen.. .. det gjør ikke vondt, gjør det vondt å sy det opp uten lokalbedøvelse? (memang kamu sudah menangkap pria busuk itu.... kalau sudah aku ingin membalasnya.... aku akan tusuk-tusuk dagingnya sampai dia pingsan.... kalau perlu aku akan menyadarkannya lagi dan aku tusuk lagi sampai pingsan lagi.... memangnya tidak sakit apa di jahit tanpa anestesi lokal) “ ucap Zarya sangat geram dan emosi yang tertahan mengingat bagaimana dirinya harus menahan tangan Nara agar tidak bergerak selama rekannya menjahit luka Nara.


“ kom igjen følg meg (ayo ikut aku) “ tanpa basi-basi lagi Afkar mengajak Zarya masuk ke ruangan.


“ han såret Nara (dia yang melukai Nara)? “ tanyaZarya tidak percaya.


“ hmmmm Hvorfor? Du kjenner ham? (kenapa? Kamu mengenalnya?) “ tanya Afkar heran.


“ Jeg så henne en gang på gjenforeningen vår... husker du ikke hva Barra fortalte meg på sykehuset (aku pernah melihatmya sekali di acara reuni kami.... apa kamu tidak ingat dengan apa yang Barra ceritakan di rumah sakit) “ ucapan Zarya membuat Afkar mengerutkan kulit di antara kedua alisnya.


Sesaat kemudian Afkar terlihat seperti mengingat sesuatu.


“ betyr at en av kvinnene som skal vitne mot ham... er din venn..... Lief....ta med her to bilder av kvinnen som var sammen med ham (berarti salah satu wanita yang akan bersaksi melawan dia... adalah temanmu..... Lief....bawa kemari 2 foto wanita yang bersama dia) “ dengan sigap Lief mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan wajah 2 wanita yang sudah menjadi kaki tangan Gustaf.

__ADS_1


Zarya mengamati 2 foto wanita itu.


“ nei…… hvem er de (bukan...... siapa mereka)? “ jawaban Zarya cukup membuat Afkar tenang bahwa 2 wanita yang menjadi kaki tangan Gustaf bukan teman Zarya.


Afkar menutup layar ponsel Lief membuat Zarya bingung juga heran, Lief segera memasukkan kembali ponsel ke dalam sakunya.


“ Så hvem sitt kjøtt skal jeg spyd? (jadi daging siapa yang harus aku tusuk)? “ pertanyaan Zarya membuat Afkar menatap tajam Gustaf yang terlihat jelas sangat ketakutan.


Dengan isyarat tangan Afkar menunjuk Gustaf yang mulai menggelengkan kepalanya menolak berusaha agar Zarya tidak mendekatinya.


“ ooooo..... dette er..... et sår jeg må sy uten lokalbedøvelse..... (ini..... luka yang harus aku jahit tanpa anestesi lokal.....) “ ucap Zarya biasa.


Zarya melihat sekeliling seperti mencari sesuatu.


“ leter du etter noe (apa kamu mencari sesuatu)? “ pertanyaan Afkar membuat Zarya menganggukan kepala


“ har dere ikke et tau eller et lite brett som jeg kan bruke til å holde håndflaten hennes som den jeg brukte på Nara (apa kalian tidak ada tali juga papan kecil yang bisa aku gunakan untuk menahan telapak tangannya seperti yang aku pakai pada Nara)? “ pertanyaan santai Zarya membuat Afkar menganggukan kepala sekali karena heran.


Lief yang merasa bahwa Zarya mampu mengimbangi aura dingin mencekam yang Afkar ciptakan seketika berusaha keras menahan senyum melihat Zarya yang terlihat sangat santai mengamati luka di tangan Gustaf.


“ dere... finn det han trenger (kalian.... carikan apa yang dia butuhkan) “ seorang pengawal segera menyerahkan sebuah lain dan papan kecil untuk menahan tangan Gustaf.


Dengan santai Zarya menahan tangan Gustaf, meski pun Gustaf teriak kesakitan setiap kali Zarya membetulkan posisi keempat jari dan ibu jari Gustaf.

__ADS_1


__ADS_2