
“ sayang..... “ ucap Afkar memohon.
Karena Nara yang tidak mau ditinggal Afkar meski pun hanya sebentar saja, sehingga membuat Lief mencoba menghubungi Afkar.
“ baiklah....... mas akan disini saja “ ucap Afkar sambil menarik sebuah kursi untuk dia duduk tepat di samping kiri Nara.
Nara tersenyum kembali membuat rasa sakit di dada Afkar hilang, saat Afkar kembali membelai punggung tangan kiri Nara. tiba-tiba ponselnya berdering, Afkar memperlihatkan layar ponselnya pada Nara sebelum menerima panggilan Lief.
“ loudspeaker....... bahasa Inggris “ ucap Nara dengan manja membuat Afkar menatap Nara dengan tatapan gemas.
Afkar menganggukan kepala menjawab permintaan Nara.
“ say it in English (katakan dalam bahasa Inggris) “ suara tegas Afkar membuat Nara mengerucutkan kedua bibirnya.
“ sir....we have got the face of the culprit and have found his hiding place....but it looks like the culprit has run away.....they also found some photos as well as a suspicious address (tuan.... kami sudah mendapatkan wajah pelaku dan sudah menemukan tempat persembunyiannya.... tapi sepertinya pelaku sudah melarikan diri..... mereka juga menemukan beberapa foto juga alamat yang mencurigakan) “ suara Lief terdengar sangat geram terhadap aksi penyayatan tangan Neptunia.
“ You must know....what order will I give to you....do it now....don't let that person hurt my wife again (kamu pasti tahu.... perintah apa yang akan aku berikan padamu.... lakukan sekarang.... jangan sampai orang itu melukai istriku lagi) “ suara dingin Afkar membuat Nara sedikit menggerakkan jari telunjuknya.
“ sakiiit.... “ rengek Nara membuat Afkar memejamkan mata dan menghembuskan nafas dengan kasar.
“ yes sir.... I will order them to move now (baik tuan.... saya akan meminta mereka bergerak sekarang) “ Afkar menutup panggilan Lief dan mencium dahi Nara.
Karena Nara yang tidak mau di tinggal meski pun hanya sesaat membuat Afkar terpaksa mengirim pesan meminta bantuan pada Barra agar menemuinya di rumah sakit. Dan yang Afkar bisa lakukan saat ini hanya duduk di samping menemanin Nara, sesekali terlihat jelas tatapan mata penuh amarah pada mata Afkar.
“ mas marah sama Nara.... karena Nara tidak izinkan mas buka pintu? “ pertanyaan Nara mencoba membuyarkan lamunan Afkar
__ADS_1
Afkar masih belum merespon ucapan Nara dan masih sibuk dengan berbagai pemikiran rencana untuk menangkap sosok itu dengan bukti yang kuat yang tidak bisa di lawan.
“ ya sudah..... kalau mas marah sama Nara.... “ ucap Nara sambil berusaha melepas tangan kirinya dari gengaman tangan Afkar.
Afkar yang masih larut dalam lamuanannya seketika tersadar saat Nara menggerakkan tangan kirinya.
“ ada apa sayang? “ ucap Afkar sedikit bingung.
Nara menatap kedua mata Afkar dalam-dalam.
“ apa dari tadi.... mas Afkar melamun tidak mendengar apa yang aku ucapkan? “ gumam Nara dalam hati sambil menatap dalam-dalam kedua mata.
“ ada apa sayang.....? “ tanya Afkar yang masih terlihat jelas seperti orang bingung.
“ kenapa harus rawat inap..... yang sakit hanya tangan Nara..... “ rengek Nara mencoba membuat Afkar fokus pada dirinya.
Nara terdiam mendengar penjelasan Afkar, mereka kembali diam larut dalam pemikiran masing-masing. Meski pun tubuh Afkar berada di dekat Nara dan tangan kirinya membelai perut Nara, tapi otaknya berpikir keras bagaimana menyeret sosok tersebut ke ruang pengadilan dan mendapatkan hukuman yang berat.
30 menit kemudian Barra datang bersama kakak beradik Yilmaz juga Zarya, karena mendengar suara pintu terbuka Afkar buru-buru menarik tirai untuk menutupi Nara.
“ what's got me here (ada apa menyuruhku kemari) “ suara keras Barra sambil membuka pintu ruang rawat inap.
Belum sempat Afkar mengatakan sesuatu, meraka sudah membuka tirai dan untungnya Nara sudah memakai niqab lagi. Melihat kakak beradik Yilmaz juga Zarya membuat Afkar sedikir lega setidak-tidaknya bisa menjauh sebentar dari Nara.
“ sister.....how does your hands...you make all of us worried....you know what?.... your fans..... they are waiting out there....they want to know your condition (kakak ipar..... bagaimana tanganmu... kamu membuat kita semua kuatir.... tahu tidak?.... para penggemar kakak ipar..... mereka menunggu di luar sana.... mereka ingin tahu keadaan kakak ipar) “ jelas Morten sambil mengamati jumlah jahitan di punggung tangan kiri Nara.
__ADS_1
Nara melihat kakak beradik Yilmaz yang datang tanpa membawa apa-apa.
“ you came here with nothing (kalian kemari tidak membawa apa-apa)? “ tanya Nara yang melihat kedua tangan kakak beradik
“ sister are you hungry huh..... don't worry we brought your's favorite food (kakak ipar lapar ya..... jangan kuatir kami membawa makanan kesukaan kakak ipar) “ ucap Morten yang sudah melangkah mengambil beberapa buah di meja.
Sementara Afkar sedang berbicara dengan Barra, mereka terlihat serius hingga suara keras Afkar membuat Nara juga kakak beradik Yilmaz dan Zarya terkejut hampir bersamaan.
“ gal... jeg ville ikke gjort det... hvis ting går uplanlagt hva med? Vil du være ansvarlig? (gila.... aku tidak akan melakukannya.... kalau yang terjadi di luar rencana bagaimana? Apa kamu mau bertanggung jawab? ) “ Afkar terlihat frustrasi mendengar saran Barra.
Barra melihat Nara sesaat yang sedang menghabiskan buah apel dari tangan Zarya.
“ Jeg er sikker på at han er dyktig..... Har ikke Fajrin trent ham allerede.... (aku yakin dia mampu..... bukankah Fajrin sudah melatihnya.... ) “ ucapan Barra membuat Afkar menatap Nara dengan tidak tega.
“ det var da hun ikke var gravid lenger... nå er det annerledes...... (itu dulu waktu dia belum hamil..... sekarang sudah beda......) “ ucap Afkar semakin terlihat frustrasi.
“ ja hvis du ikke vil..... det er den eneste måten..... (ya sudah kalau tidak mau..... hanya itu satu-satunya cara..... ) “ ucap Barra dan melangkah menghampiri Nara yang sudah tertawa riang karena kehadiran kakak beradik Yilmaz.
Membuat Nara melupakan rasa sakit di tangan kirinya meski pun hanya sebentar, tapi kedatangan mereka cukup menghibur. saat mereka pergi, ruangan kembali sepi.
Afkar merebahkan tubuhnya di samping Nara, memang terasa sempit tapi dengan begini Afkar berharap bisa membuat Nara lupa akan rasa sakitnya. Tapi perkiraan Afkar salah, semalaman Nara merintih dan meringik kesakitan karena punggung tangannya menjadi bengkak dan terasa sakit bila hanya menggerakkan sedikit jari jemarinya. Membuat Afkar berkali-kali menghubungi Mari agar Mari mau memberikan obat pereda nyeri, karena tidak tega dan tidak kuat mendengarkan suara rintihan Nara.
“ sakit.... “ ringik Nara dalam tangisnya.
Afkar semakin tidak tega setiap kali mendengar suara rintihan Nara. Menjelang Shubuh Nara baru bisa tertidur tanpa rintihan, begitu juga Afkar yang baru bisa tidur dengan tenang setelah yakin Nara tidak merintih lagi.
__ADS_1
Karena terlalu lelah semalaman menjaga Nara begitu juga dengan Nara yang kedua matanya terasa pedih karena semalaman menangis menahan rasa sakit. Pagi ini saat Mari mengunjungi Nara untuk melihat alat pemantau detak jantung janin, Mari terkejut tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
“ veldig besittende..... hva er da nytten med pasientens venteseng der borte (posesif sekali..... lantas apa gunanya ranjang penunggu pasien di sebelah sana?) “ gumam Mari sambil mencetak hasil rekan detak jantung janin Nara.