NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 178 3 KOMPETISI (2)


__ADS_3

“ kanskje Neptunia forstår.....men ikke scaryrobot og starsiv.....d4rkC0d3 består tross alt bare av tre spillere....og kravet til disse tre konkurransene må være fem spillere på ett lag.....som vil du trekke (mungkin Neptunia paham..... tapi tdak dengan scaryrobot dan starsiv..... lagi pula D4rkC0d3 hanya terdiri dari 3 pemain.... dan persyaratan 3 kompetisi ini harus 5 pemain dalam 1 tim..... siapa yang akan kamu tarik) “ ucap Nanwei yang mulai kesal dengan sikap pemaksa Barra.


Barra tersenyum senang karena sudah berhasil membuat Nanwei ingin tahu siapa yang akan dia tarik ke dalam D4rkC0d3.


“ betyr det at du godkjenner denne gale ideen min (apa itu berarti kamu menyetujui ide gilaku ini)? “ Nanwei terdiam dengan pertanyaan Barra.


Barra diam menunggu jawaban Nanwei dan Nanwei pun diam menyangkal bahwa pemikirannya sama dengan pemikiran Barra, namun pada akhirnya mereka kembali berdebat bahkan lebih sengit dari sebelumnya.


Di saat mereka berdebat, tanpa mereka sadari Afkar sudah membuka pintu ruang kerja Nanwei dan berdiri terdiam melihat perdebatan antara Nanwei dan Barra. Afkar memijat pelipis kirinya dan sesekali memejamkan matanya, memahami apa yang sedang mereka perdebatkan. Karena perdebatan antara Nanwei dan Barra tidak kunjung reda dan tidak terusik dengan keberadaan Afkar, Afkar memutuskan mengambil laptop Nanwei dan duduk di sofa.


Mengamati apa yang tertera di layar laptop Nanwei dan terlihat serius mengamati peringkat jaringan para pemain Shield juga pemain CTF profesional lainnya.


“ apa mereka memperdebatkan ini “ gumam Afkar dalam hati.


Afkar melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya dan mengamati 3 jadwal kompetisi di layar laptop Nanwei. Afkar menarik nafas panjang dan memejamkan matanya sesaat.


“ jadwal 3 kompetisi ini berdekatan dengan acara Fajrin.... “ gumam Afkar dalam hati sambil mengetik sesuatu di laptop Nanwei.


Disaat Afkar sibuk dengan laptop Nanwei, Barra yang mencari laptop Nanwei seketika melihat Afkar duduk di sofa dengan tatapan tidak percaya.


“ debatten er over (sudah selesai debatnya)? “ suara santai Afkar membuat Nanwei dan Barra dengan langkah lebar segera duduk di sofa.


“ du hørte debatten vår (kamu mendengar perdebatan kami)? “tanya Nanwei sambil memutar layar laptop ke hadapannya.


“ er dette de eneste tre konkurransene du tenker på (apa hanya 3 kompetisi ini yang terlintas di otak kalian)? “ pertanyaan Afkar membuat Nanwei dan Barra saling memandang satu sama lain.

__ADS_1


Akhirnya Nanwei menceritakan bagaimana bisa terlintas di dalam otaknya 3 kompetisi ini, begitu juga dengan Barra. Barra yang sudah sedikit banyak mengenal kompetisi peretasan perangkat keras mau pun perangkat lunak, membuatnya menjelaskan semua detail yang dia ketahui tentang kompetisi itu. Afkar dan Nanwei yang selama ini hanya mengenal dunia peretasan perangkat lunak membuat Barra semakin semangat menceritakan apa yang dia ketahui, meski pun dulu Barra tidak sampai di final karena timnya tersingkir di babak penyisihan.


“ du er sikker på at systemet deres ikke vil være langt unna det du fulgte først (kamu yakin sistem mereka tidak akan jauh dari yang kamu ikuti)? “ pertanyaan Afkar membuat Barra terdiam.


Mereka bertiga sama-sama tidak paham dengan kompetisi peretasan yang menggabungkan sistem perangkat lunak dan perangkat keras saat ini.


“ hva med å se etter informasjon først hvordan konkurransesystemet er (bagaimana kalau kita cari informasi dulu bagaimana sistem kompetisi ini)? “ ucapan Nanwei mendapat anggukan kepala dari Barra.


Tapi tidak dengan Afkar yang terlihat berpikir keras, di dalan otak Afkar memikirkan berbagai kemungkinan bila Nara ikut di kompetisi ini dalam keadaan hamil 5 bulan. Di satu sisi Afkar mencoba mencari alasan untuk menolak 3 jadwal kompetisi itu mengingat kondisi Nara saat ini dan pengalaman sebelumnya yang membuatnya kehilangan dua janin, tapi di satu sisi Afkar tidak ingin karir CTF Nara terhenti meski pun hanya di musim ini saja. Penerbangan panjang yang pasti sangat melelahkan dan membosankan apa lagi bagi wanita hamil seperti Nara, pasti penerbangan panjang akan sangat membuat dirinya lelah.


“ aku tanya Mari saja.... mungkin dia ada sedikit saran..... “ gumam Afkar sambil berdiri dari sofa meninggalkan Barra dan Nanwei dengan kesibukkannya mencari informasi tentang 3 kompetisi itu.


Sesekali Barra memperhatikan Afkar yang terlihat jelas beberapa kali menyisir kasar rambut atau memijat tengkuknya. Tanpa Afkar sadari Nara memperhatikannya dari jauh, Nara dan kakak beradik Yilmaz yang sudah selesai latihan ingin menemui Barra.


Kakak beradik Yilmaz segera masuk ke ruang kerja Nanwei sementara Nara berdiri di belakang Afkar sambil memainkan bagian belakang jas Afkar, merasa ada yang menarik jasnya Afkar memalingkan wajahnya mencari tahu siapa yang sudah menganggunya. Saat mendapati siapa yang sudah berani mengganggunya, Afkar tersenyum dan mencium kepala Nara. Dengan isyarat tangan Afkar meminta Nara untuk diam karena Afkar sedang mendengarkan penjelasan Mari.


Memandang Nara yang masih memainkan ujung jasnya membuat Afkar mengulas senyum tipis.


“ sudah selesai? “ Nara menganggukan kepala menjawab pertanyaan Afkar.


“ lapar..... “ satu kata keluar dari mulut Nara membuat Afkar gemas dan menghujani kepala Nara dengan ciuman kecil.


“ kita makan siang dulu “ ucap Afkar sambil memutar tubuh Nara untuk menuju lantai 1.


Belum sempat mereka melangkah, Nanwei memanggilnya.

__ADS_1


“ GUN....hvor skal du.....det er ikke over enda (GUN.... mau kemana kamu..... ini belum selesai) “ suara keras Nanwei membuat Afkar menggunakan isyarat tangan bahwa Nara ingin makan siang.


Nanwei tersenyum tipis melihat kepergian Afkar dan Nara.


Di kantin Shield masih terlihat ramai para manager juga pemain yang mengantri mengambil makanan mereka.


“ sayang mau makan di sini atau di luar? “ tanya Afkar sambil melihat keramaian kantin.


Nara berpikir sesaat.


“ kalau.... pizza..... “ ucap Nara pelan membuat Afkar mendekatkan kepalanya.


“ pizza “ ucap Nara sekali lagi dan membuat Afkar tersenyum.


“ yang ingin pizza ini..... atau ini..... “ ucap Afkar sambil memegang perut buncit Nara.


Afkar senang menggoda Nara karena membuat Nara menjadi bersikap malu-malu kucing. Akhirnya Afkar membawa Nara ke sebuah restauran yang hanya menyajikan berbagai menu pizza dan makanan yang di panggang. Para pelayan restauran yang sudah mengenal siapa yang masuk ke restauran mereka segera menunjukan dimana Afkar dan Nara bisa duduk.


Melihat buku menu di tangan pelayan membuat perut Nara berbunyi, Afkar menggelengkan kepala segera meminta buku menu dan menyerahkan pada Nara. Nara terlihat sudah tidak sabar ingin mencoba semua menu pizza yang ada tapi akhirnya Nara memutuskan memilih 2 menu pizza ukuran sedang dan kentang goreng. Sedangkan untuk minum, Afkar hanya memesankan air mineral saja.


Menunggu 17 menit membuat Nara sudah menghabiskan kentang goreng, Afkar tersenyum tipis memandang Nara membayangkan bagian-bagian dari tubuh Nara yang berubah sejak kehamilan ini. Saat pizza pesanan Nara datang, dengan sigap Afkar mengambil 1 potong dan meletakkan di piring Nara. Afkar tidak ikut makan, Afkar akan makan bila Nara sudah selesai atau sudah merasa penuh.


“ pelan-pelan makannya..... kalau habis.... mas pesankan lagi.... “ Nara menggangukan kepala mendengar ucapan Afkar.


2 pizza ukuran sedang dengan hanya menyisahkan 2 potong sudah membuat lambung Nara terasa penuh.

__ADS_1


“ sudah penuh.....? mas makan ya..... “ ucap Afkar meyakinkan Nara.


__ADS_2