
Tiga puluh menit sebelum adzan Magrib, kedua kakak beradik tersebut sudah mengantar Nara kembali ke Wyndam grand Istanbul kalamis marina hotel. Nara sangat senang hari ini karena mengunjungi beberapa tempat yang menarik di sekitar Ayasofya, sampai di kamar hotel Nara membersihkan diri untuk menunggu Adzan Magrib.
Nara menunggu kedatangan Afkar hingga selepas Isya', tapi Afkar tak kunjung datang. Dengan ragu-ragu Nara mencoba mengirim pesan pada Afkar, setelah menunggu kurang lebih lima belas menit tiba-tiba ponsel Nara berbunyi. Dengan gembira Nara melihat layar ponselnya dan segera menekan tombol accept.
“Assalamu'allaikum Mas" salam Nara dengan gembira.
“Wa'alaikumsalam sayang.....sayang sudah sampai di hotel?” tanya Afkar sambil mencoba melihat latar belakang Nara.
“iya.... lumayan capek tapi Nara suka sekali meskipun hanya berkeliling di sekitar Ayasofya.” Ucap Nara dengan gembira.
“Alhamdulillah kalau sayang suka, sayang sudah makan malam?” tanya Afkar.
“belum...... tapi tadi Nara beli ini" ucap Nara sambil memperlihatkan dua kotak coklat pada Afkar.
“coklat lagi...... sayang mau makan malam apa? Mas pesankan di restauran hotel ya.....” ucap Afkar sambil memijat tengkuknya yang terasa sedikit pegal.
“apa saja mas..... yang penting enak" ucap Nara sambil memasukkan sebuah coklat ke mulutnya.
“baiklah kalau begitu..... sayang kalau sudah mengantuk tidur saja dulu..... mungkin mas pulang sedikit malam" ucap Afkar sambil melihat ke layar komputer yang ada di depannya.
“belum selesai ya.... pembukaannya?” tanya Nara sedikit sedih.
“ada sedikit masalah..... jadi pembukaannya mungkin akan mundur beberapa hari lagi....” jelas Afkar membuat Nara semakin sedih.
“Nara yakin mas pasti bisa menyelesaikan masalah itu dengan cepat.....” ucap Nara mencoba memberi semangat Afkar.
__ADS_1
“terima kasih sayang..... “
“mas sudah makan malam?” tanya Nara ganti.
“sudah tadi sama uncle Murat..... sayang sudah dulu ya..... ada uncle Murat..... tiga puluh menit lagi makan malam sayang sampai. Assalamu'allaikum “ ucap Afkar tanpa menunggu salam balasan dari Nara segera mematikan sambungan video call.
Tiga puluh menit berlalu, Nara masih menunggu makan malam yang Afkar pesan. Beberapa detik kemudian seseorang menekan bel kamar, Nara segera mengenakan niqab dan membuka pintu kamar. Terlihat seorang pelayan wanita mengantarkan makan malam pesanan Afkar.
“thank you (terima kasih)" ucap Nara yang sudah membuka pintu kamar dan membiarkan pelayan wanita meletakkan beberapa menu makanan di sebuah meja yang tak jauh dari pintu kamar.
Nara menikmati dan menghabiskan semua makan malamnya hingga tak tersisa sedikit pun, selepas makan malam Nara mencoba mengirim pesan ke Afkar. Sesuai pesan Afkar bahwa dia akan pulang sedikit lebih malam, Nara merebahkan tubuhnya yang terasa lelah setelah seharian berkeliling di sekitar Ayasofya. Menjelang pukul sebelas malam, Afkar baru masuk ke kamar hotel dan mendapati istrinya yang sudah tertidur dengan pulas. Afkar mencium dahi dan pipi Nara sebelum masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, rasa lelah letih setelah seharian penuh bekerja hilang seketika setelah melihat wajah tenang istrinya. Afkar merebahkan tubuhnya di sisi kanan tempat tidur dan segera memeluk tubuh istrinya dari belakang, Afkar menyingkirkan rambut yang menutupi leher istrinya dengan tangan kanan sementara tangan kirinya menyusup masuk di celah antara leher Nara dan bantal. Tangan kanan Afkar dengan pelan membuka pakaian tidur yang menutupi bahu kanan Nara dan mendaratkan sebuah ciuman di bahu Nara untuk beberapa saat. Setelah itu Afkar menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Nara dan menghirup dalam-dalam wangi leher istrinya, sementara tangan kanannya sudah masuk di balik baju tidur Nara dan membelai perut Nara yang menurutnya masih terasa rata.
“selamat tidur sayang....” ucap Afkar sambil membelai perut Nara.
tiba-tiba Nara mengeliat karena sentuhan tangan Afkar pada perutnya membuat Nara membalikkan tubuhnya menghadap Afkar.
“maaf... mas membuat sayang menunggu.” Nara menggelengkan kepalanya membuat Afkar segera mendaratkan bibirnya pada puncak kepala Nara yang sudah berada di dadanya.
Sesaat kemudian mereka tertidur dengan saling berpelukkan, hingga tiga puluh menit sebelum menjelang Adzan Shubuh saat Nara hendak bangun kedua tangan Afkar masih menahannya di dalam pelukkan. Nara memandangi wajah tampan suaminya membuatnya tergelitik untuk menyentuh beberapa bagian dari wajah Afkar. Jari jemari Nara mulai menyusuri dahi Afkar dan mengusap pelan bekas luka, membelai alis dan bulu mata Afkar, dan berhenti di ujung hidung mancung Afkar.
“mas tampan ya?” ucap Afkar tiba-tiba membuat Nara malu dan menenggelamkan wajahnya di dada Afkar.
“tampan..... tampan sekali" ucap Nara pelan tapi terdengar jelas di telinga Afkar.
Nara kembali memandang wajah Afkar dan menyentuh bibir bawah suaminya. Memainkan jari telunjuknya di bibir Afkar yang membuatnya tak bisa menolak sebuah ciuman.
__ADS_1
“sayang...... jangan menggoda mas” ucap Afkar yang masih memejamkan matanya.
“ya sudah kalau tidak boleh menyentuh bibir mas" ucap Nara yang sudah menghentikan gerakan jari telunjuk Nara membuat Afkar segera menggenggam tangan kiri Nara.
“sepertinya masih ada waktu untuk olah raga sebelum Adzan Shubuh.” Ucap Afkar yang sudah berada di atas Nara dan memegang kedua tangan Nara.
Afkar memandangi wajah istrinya yang bersemu merah untuk beberapa saat sebelum menempelkan bibirnya dengan bibir istrinya. Nara terbuai dengan ciuman Afkar yang pada awalnya lembut tapi pelan-pelan Afkar memperdalam ciumannya membuat Nara semakin terbuai. Bibir Afkar mulai menyusuri leher dan bahu istrinya meninggalkan beberapa jejak kepemilikan membuat Nara mendesah. Seperti biasa sebelum Afkar memulai lebih jauh dia akan membisikan sebuah doa di telinga Nara serta membisikan sebuah doa saat Afkar hendak menyemburkan benihnya ke dalam uterus melalui cervix. Butiran keringat membasahi tubuh mereka, dengan nafas yang masih memburu membuat Afkar menahan diri untuk tidak segera mengeluarkan diri dari tubuh istrinya.
Beberapa detik kemudian Afkar mulai mengeluarkan diri dari tubuh istrinya dan berbaring di sisi kiri Nara dengan tangan kanan membelai perut rata Nara.
“semoga secepatnya kita mendapatkan amanah" ucap Nara seketika.
“Aamiin"ucap Afkar cepat membuat Nara tersenyum bahagia.
Setelah beberapa menit mereka berbaring, Nara segera bangkit dan berjalan dengan tubuh polosnya masuk ke kamar mandi membuat Afkar tersenyum bahagia.
Selepas Shubuh Nara melihat Afkar sibuk dengan laptopnya.
“serius sekali....” ucap Nara yang sudah duduk di sebelah Afkar.
Afkar melihat penampilan Nara dari atas sampai bawah.
“sayang.... kenapa pakai kemeja mas?” tanya Afkar heran.
“tidak boleh ya?” tanya Nara balik.
__ADS_1
“boleh.... tapi kenapa? pakaian sayang habis? Kenapa kemarin tidak beli?” tanya Afkar semakin heran.
“ya sudah kalau tidak boleh..... Nara ganti saja....” ucap Nara yang sudah berdiri dan melangkah masuk ke dalam walk in closet untuk berganti pakaian.