NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 189 HADIST


__ADS_3

pelan-pelan Nara kembali sadar dan membalas ciuman Afkar, untuk beberapa detik kedua bibir mereka saling bertautan. Tapi tiba-tiba Afkar melepas bibir Nara karena merasakan ibu jarinya basah terkena air mata, Afkar segera memeluk erat dan membiarkan Nara menangis di dalam pelukkannya. Tangis kesedihan yang sangat menyayat dada Afkar.


“ Nara sudah bilang jangan ajak ibu..... kalau kakak ingin pergi.... pergi saja sendiri..... tapi kakak egois tidak mau mendengarkan Nara.... “ ucap Nara terbata-bata di dalam tangisnya.


Afkar hanya bisa mendengarkan dan membelai rambut hitam panjang Nara.


“ kakak selalu begitu..... kakak tidak pernah mau mendengar apa yang Nara mau..... ibu juga ibu Nara juga...... “ ucap Nara dengan suara terbata-bata mengeluarkan semua apa yang ingin dia katakan pada Fajrin selama ini.


Afkar hanya bisa mendengarkan dan membelai kepala Nara.


“ padahal waktu itu ibu sudah bilang...... lebih baik uang kakak di tabung saja..... tidak perlu pergi haji..... kalau kakak mau berhaji.... kakak bisa pergi sendiri...... ibu di rumah sama Nara..... tapi kakak egois..... kakak tetap merayu ibu pergi haji..... “ Nara semakin mengeluarkan semua apa yang dia pendam dari Fajrin selama ini dan tangis Nara semakin keras hingga membuat nafasnya tersengal-sengal.


“ sayang..... mungkin mas dan Amma tidak bisa menggantikan ibu sayang..... tapi mas berjanji...... mas akan selalu ada untuk sayang......” Afkar mencoba meredakan tangis Nara.


“ mas tidak tahu apa yang akan mas ucapkan ini benar atau tidak..... tapi mas percaya..... hmmmm... “ ucap Afkar sedikit ragu.


Dengan masih membelai kepala Nara, Afkar mencoba mengingat apa yang sudah dia baca saat pertama kali mengetahui bahwa Nara hamil kembar untuk pertama kalinya. Buku milik Zehed yang tanpa sengaja dia temukan di dalam mobil.


“ Dari Hudzaifah bin Usaid radhiyallahu 'anhu berkata, Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, Apabila nutfah telah berusia empat puluh dua malam, maka Allah mengutus malaikat, lalu dibuatkan bentuknya, diciptakan pendengarannya, penglihatannya, kulitnya, dagingnya, dan tulangnya. Kemudian malaikat bertanya, Ya Rabbi, laki-laki ataukah perempuan?` Lalu Rabb-mu menentukan sesuai dengan kehendak-Nya, dan malaikat menulisnya, kemudian dia malaikat bertanya, Ya Rabbi, bagaimana ajalnya?` Lalu Rabb-mu menetapkan sesuai dengan yang dikehendaki-Nya, dan malaikat menulisnya. Kemudian ia bertanya, `Ya Rabbi, bagaimana rezekinya?` Lalu Rabb-mu menentukan sesuai dengan yang dikehendaki-Nya, dan malaikat menulisnya. Kemudian malaikat itu keluar dengan membawa lembaran catatannya, maka ia tidak menambah dan tidak mengurangi apa yang diperintahkan itu. Hadist imam Bukhari dan imam Muslim “ mendengar ucapan Afkar, pelan-pelan tangis Nara reda meskipun masih tersengal-sengal.

__ADS_1


Nara menatap wajah suaminya yang terlihat jelas sangat cemas dengan keadaannya.


“ mas yakin..... sayang lebih paham hadist ini dari pada mas..... “ ucapan Afkar membuat Nara menganggukan kepala.


“ berjanjilah.... setelah keluar dari kamar..... jangan menyalahkan Fajrin..... semua sudah di tetapkan sejak pertama kali ruh kita ditiupkan ke dalam rahim seorang ibu “ ucap Afkar sambil menghapus air mata yang membasahi pipi Nara.


Nara masih terdiam menatap Afkar.


“ sayang pasti paham..... apa keutamaan seseorang meninggal saat berhaji “ Nara menganggukan kepala menjawab pertanyaan Afkar.


“Barangsiapa keluar untuk berhaji lalu meninggal dunia, maka dituliskan untuknya pahala haji hingga hari kiamat. Barangsiapa keluar untuk umrah lalu meninggal dunia, maka ditulis untuknya pahala umrah hingga hari kiamat. Dan barangsiapa keluar untuk berjihad lalu mati maka ditulis untuknya pahala jihad hingga hari kiamat dari Imam Abu Ya’la. “ ucap Nara pelan


“ sayang mau ikut mas keluar..... “ dengan cepat Nara menggelengkan kepala.


“ baiklah.... mas keluar dulu.... kakek dan yang lainnya masih menunggu kita...... sepertinya ada hal yang masih ingin kakek ceritakan lagi “ ucap Afkar sambil berdiri dan mengusap kepala Nara.


“ sayang istirahat ya..... “ ucap Afkar dan membantu Nara berbaring.


Afkar Membetulkan selimut agar Nara merasa nyaman, Afkar melangkah keluar kamar mendapati Mari yang berdiri tepat di depan pintu kamar.

__ADS_1


“ ro deg ned (sudah tenang) “ ucap Afkar singkat.


Dengan isyarat tangan Mari meminta izin untuk masuk ke kamar tapi Afkar tidak mengizinkannya karena Nara sedang tidak mengenakan niqab. Akhirnya Afkar dan Mari kembali duduk di ruang tengah mendengarkan apa yang akan Erhan ceritakan.


Nara yang sendiri di dalam kamar, diam termenung sekali menarik nafas panjang.


“ ibu..... Nara kangen ibu..... Nara ingin peluk ibu..... Nara ingin tidur sama ibu..... “ suara pelan Nara mengungkapkan semua rasa yang ingin dia ungkapkan pada almarhum ibunya.


pelan-pelan kedua mata Nara kembali terasa panas dan air mata mulai menggenangi kelopak matanya. Saat satu tetes air mata membasahi pipi kanannya, Nara segera menghapusnya dan beranjak masuk ke kamar mandi. Nara mengambil air membasuh wajah dan berwudhu, keluar dari kamar mandi Nara segera mencari Al Qur'an kecil yang selalu berada di dalam tas punggungnya. Jari jemari Nara dengan perlahan membuka halaman demi halaman hingga menemukan Surat ke 36, dengan suara bergetar Nara membaca ayat demi ayat untuk ibunya. Tepat di ayat ke 12 dengan cepat Nara menghapus air mata yang mulai menggenang di kelopak matanya.


10 menit sudah Nara membaca Surat ke 36, kedua matanya mulai terasa berat tapi Nara ingin membacanya sekali lagi. Dengan sisa-sisa mata yang terasa semakin berat Nara mencoba membacanya sekali lagi, dan tepat di ayat ke 81 kedua mata Nara terpejam. Nara tertidur dalam keadaan duduk bersandar di sandaran ranjang dengan Al Qur'an tergeletak di pangkuannya.


Afkar melangkah masuk ke kamarnya dengan membawa berkas kepemilikan 10% saham Rosenkrantz milik Fajrin, melihat Nara yang sudah tertidur. Afkar meletakkan berkas kepemilikan saham Fajrin di sebuah meja, dan berganti pakaian dengan pakaian tidur.


Melihat posisi Nara yang memejamkan kedua mata dengan posisi duduk bersandar membuat Afkar menarik nafas panjang, pelan-pelan Afkar mengambil Al Qur'an dari pangkuan Nara dan meletakkan di nakas yang tak jauh dari ranjang. Afkar naik ke ranjang dan membetulkan posisi tubuh istrinya, menyisipkan lengan kirinya agar berada di bawah leher Nara sebagai bantal, menyingkirkan anak rambut yang menutupi dahi dan pipi cubby Nara.


“ lupakan semua kesedihan sayang.... kemarahan sayang..... biarkan mas mengganti semua kesedihan sayang..... biarkan mas mengganti kemarahan sayang dengan kebahagian sayang. “ bisik Afkar di telinga kanan Nara.


Tangan kanan Afkar memeluk tubuh Nara tepat di atas perut, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya.

__ADS_1


“ I love you...... stay with me..... stay like this..... I promise I'll make you happy everyday..... I can't be your mom.... but you can depent on me.... “ bisik Afkar membuat Nara sedikit menggeliatkan kepalanya.


__ADS_2