NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 3 BERLIBUR


__ADS_3

Saat mereka sedang fokus membongkar kotak-kotak itu tiba-tiba ponsel Afkar berbunyi, Afkar segera berdiri dan kembali masuk ke ruang kerjanya untuk menerima panggilan telepon. Sementara Nara sudah mengeluarkan semua isi kotak-kotak milik Afkar dan mulai mengelompokkan beberapa komponen integrated circuit berdasarkan nama pabrik pembuatnya, jenis komponen, hingga jumlah komponen transistornya.


Nara meletakan komponen IC tersebut dalam kotak kotak lebih kecil yang sudah dia siapkan, ada beberapa komponen IC yang sudah menempel di PCB dan tidak bisa di lepas karena dia tidak bisa menggunakan solder meskipun di dalam kotak milik Afkar ada sebuah solder jarum.


“sayang..... kenapa jadi berantakan begini?” tanya Afkar saat melihat seluruh meja dan sofa ruang tengah penuh dengan kotak-kotak kecil yang berisi komponen IC yang sudah dia kelompokkan.


“hehehehehe...... maaf.... ini Nara kelompokkan berdasarkan jumlah komponen transistor, jenis IC dan pabrik pembuatannya. Kalau sewaktu waktu siska butuh, Nara bisa dengan mudah mencarinya dan tinggal kirim ke jakarta" jelas Nara membuat Afkar menggelengkan kepala tak percaya bahwa Nara punya pemikiran sejauh itu untuk membantu sahabatnya.


“sayang duduk sini sebentar.” Ucap Afkar sambil memindahkan beberapa kotak komponen IC ke lantai.


Nara duduk di bersila menghadap Afkar.


“sayang.... lusa mas akan ke Istanbul, sayang ikut atau tinggal di Bergen sama Amma?” tanya Afkar pelan.


“ikut mas" jawab Nara singkat jelas dan meyakinkan.


“baiklah......kalau begitu kita sekalian bulan madu.... bagaimana?” pertanyaan Afkar sukses membuat Nara tersipu malu.


Afkar memeluk erat dan mencium dahi Nara beberapa kali.


“kalau Nara ikut apa Nara tidak mengganggu waktu mas? Terus visa Nara bagaimana?” tanya Nara heran.


“sebenarnya sudah beberapa hari yang lalu mas minta Leif untuk mengurus visa sayang..... tadi mas tanya hanya ingin mencari tahu apakah sayang mau ikut atau tidak" goda Afkar berhasil membuat Nara merasa takut bila harus berpisah lagi dengan Afkar.


“jadi mas sudah mengurus semua.... pokoknya Nara tidak mau lagi jauh dari mas....” ucap Nara yang sudah melompat duduk di pangkuan Afkar.


“sayang...... jangan menggoda mas..... ini masih sore.....”ucapan Afkar semakin membuat Nara memeluk erat Afkar.

__ADS_1


Afkar merasa bahwa posisinya saat ini tidak nyaman, saat Afkar hendak mencium bibir Nara tiba-tiba ponselnya berbunyi. Afkar segera mengambil ponselnya dan melihat nama Leif tertera di layar ponsel. Afkar mendengarkan penjelasan Leif dan segera menutup ponselnya.


“sayang kita berkemas sekarang, kita ke Istanbul malam ini. Uncle Murat memajukan jadwal pembukaan kantor cyber besok siang.” Ucap Afkar yang sudah melangkah ke kamar sambil menggendong Nara seperti seorang koala.


“unlce Murat? Apa Marius dam Morten akan ikut juga?” tanya Nara yang sudah turun dari gendongan Afkar.


“mereka ikut juga, mereka akan menemani sayang saat mas sibuk dengan uncle Murat.” Ucap Afkar sambil menyerahkan beberapa potong pakaian pada Nara untuk menatanya ke dalam koper.


Nara memasukkan beberapa abaya, hijab dan niqab.


“sayang.... kalau pakaian sayang kurang.... kita beli saja di sana" ucap Afkar yang sudah membantu Nara mengambilkan abaya hijab dan niqab untuk Nara pakai.


Tiga puluh menit kemudian seseorang menekan bel pintu rumah Afkar.


“sepertinya Leif sudah datang, sini niqabnya.... mas bantu pakaikan" ucap Afkar sambil meraih niqab dari gengaman tangan Nara.


“bukankah itu Marius dan Morten?” ucap Nara sambil menunjuk ke arah yang dia maksud.


Afkar dan Leif melihat ke arah yang Nara maksud, segera Leif menghampiri Marius dan Morten berusaha menghalau para penggemar mereka berdua.


“Assalamu'allaikum.” Salam Marius dan morten hampir bersamaan.


“Wa'alaikumsalam.” Balas Nara dan Afkar bersamaan.


“veldig kompakt svar tilbake (kompak sekali balas salamnya)” goda Marius.


“du vet allerede hva du skal gjøre i Istambul (kalian sudah tahu apa yang akan kalian lakukan di Istambul)?” tanya Afkar membuat kedua saudara sepupunya menganggukan kepala bersamaan dan membuat Nara tertawa kecil melihat tingkah mereka.

__ADS_1


“bra .... ikke la svogeren forsvinne (bagus.... jangan sampai kakak ipar kalian hilang).” Ucapan Afkar terdengar seperti sebuah ancaman membuat keduanya bergidik ngeri.


Morten mendekati Nara dan sepertinya membisikan sesuatu hingga Nara memicingkan kedua matanya menatap Morten heran.


“ser ut som ikke ... det fortjener å bli kaldt GUN igjen (sepertinya belum.... pantas sekali GUN dingin lagi)" ucapan Morten membuat Afkar melebarkan kedua matanya menatap Morten.


“allerede .... ikke ert dem hvis du ikke vil at neste sesongs mål skal dobles (sudah.... jangan menggoda mereka kalau kamu tidak ingin target musim depan naik dua kali lipat)" ucap Marius menarik tangan morten saat hendak mendekati Nara yang sudah di tarik Afkar ke dalam dekapannya.


“Ideen din er også bra ... neste sesongs konkurranse er tragisk for deg. Jeg tredoblet den (bagus juga ide kamu.... kompetisi musim depan traget kalian aku naikkan tiga kali lipat)" ucapan Afkar membuat marius dan morten lemas.


Beberapa menit kemudian seorang kru Sundth Air menghampiri mereka dan mengajak mereka untuk segera boarding. Nara menggenggam tangan Afkar seperti tidak mau lepas, sementara marius dan morten berjalan di belakang mengikuti langkah kaki Afkar.


Tepat pada pukul enam sore waktu sempat private jet Sundth Air take off menuju Istanbul, jarak tempuh dari Oslo ke Istanbul kurang lebih lima jam empat puluh lima menit.


“GUN, neste sesongs konkurranse ser ut som det vil være mange endringer i skjoldet. Har du satt svoger inn i et av hovedlagene (GUN, kompetisi musim depan sepertinya akan ada banyak perubahan di dalam Shield. Apakah kamu memasukkan kakak ipar ke dalam salah satu tim utama)?” tanya Marius yang sudah berpindah duduk tepat di depan Afkar.


“Det er et mål for svogeren din, er du klar til å gå sammen med svogeren din (ada target sendiri untuk kakak ipar kalian, apa kalian bersedia satu tim dengan kakak ipar kalian)?” tanya Afkar yang sudah memutar layar laptopnya memperlihatkan jadwal kompetisi CTF musim depan.


“Vil svoger delta i alle disse konkurransene (apa kakak ipar akan ikut di semua kompetisi itu)?” tanya Marius heran.


“Nei ... bare visse konkurranser, men målpoengene for å delta i denne kvalifiseringen (tidak..... hanya kompetisi tertentu saja tapi target point masuk kualifikasi ini)" ucap Afkar sambil menunju nama salah satu kompetisi bergengsi.


Marius membaca nama kompetisi sambil berusaha menelan ludah dan menatap GUN penuh dengan puluhan pertanyaan.


“Etter at Nanwei finner lederen for Neptunia, vil jeg ordne treningsplanen ... hvis mulig vil Neptunia bli med deg (setelah Nanwei menemukan manager untuk Neptunia, aku akan mengatur jadwal latihannya.... kalau memungkinkan Neptunia akan bergabung dengan kalian).” Ucap Afkar semakin membuat Marius bergidik ngeri.


Bila Neptunia bergabung dengan mereka maka secara otomatis target mereka naik dan jadwal pelatihan mereka akan semakin padat dan berat.

__ADS_1


__ADS_2