NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 162 GISSEL (1)


__ADS_3

Tanpa Nara sadari, wanita yang duduk di sebelah Kalle memperhatikannya dengan serius. Kalle tidak memperkenalkan siapa wanita yang dia bawa malam ini, Fredrik Holger mau pun Afkar tidak pernah mau tahu urusan pribadi Kalle karena Kalle selalu membawa wanita yang berbeda setiap kali menghadiri acara perusahaan.


Setelah perkenalan acara pergulir sesuai jadwal yang sudah di tentukan dan saat acara makan malam. Karena menu hidangan pembuka, hidangan utama dan hidangan penutup bukan porsi Nara saat ini, Ines dengan sigap meminta seorang pengawal untuk menentukan makanan apa dan seberapa banyak porsi Nara. Saat hidangan khusus untuk Nara datang dengan sigap Ines mengambil dan meletakkan di depan Nara, tentu saja membuat para wanita yang duduk satu meja melihat Nara dengan tatapan tidak percaya. Tapi melihat kondisi Nara yang sedang hamil akhirnya mereka memakluminya.


Salah seorang pengawal yang berdiri di pinggir area jamuan makan malam pesta ini memperhatikan wanita yang duduk di sebelah Kalle, penggawal itu mengatakan pada semua rekan-rekannya untuk waspada. Ines yang sedari tadi sudah curiga dengan wanita yang datang bersama Kalle mulai menatap wanita itu dengan intens.


“ vær forsiktig... ikke la vår vakt ned (waspada.... jangan sampai kita lengah) “ suara kepala pengawal membuat seluruh pengawal baik wanita mau pun pria menjadi semakin waspada.


Jamuan makan malam hidangan utama sudah selesai dan saat Ines hendak menyuruh seorang pengawal untuk menyajikan hidangan penutup untuk Nara, tiba-tiba Nara merubah posisi duduknya.


“ sayang mau kemana? “ tanya Afkar sambil memegang lengan kanan Nara.


“ mau ke toilet.... mas mau antar.....? ini toilet umum mas... “ ucapan Nara sambil berusaha berdiri.


Afkar tersenyum mendengar ucapan Nara dan membantunya berdiri dari kursi, saat Afkar hendak mengikuti langkah Nara. Nara menghentikannya.


“ Nara sama Ines saja..... nanti Nara minta tolong Ines buat merapikan pakaian Nara.... ini acara bapak CEO ice bear “ ucap Nara sambil membelai pipi kiri Afkar.


Afkar tersenyum dan memberi isyarat tangan pada Ines, Nara menggandeng tangan Ines.

__ADS_1


“ take me to the toilet and help me tidy up my clothes (antar aku ke toilet dan bantu aku merapikan pakaianku) “ pinta Nara membuat Ines memberi isyarat tangan pada 4 orang pengawal wanita yang tak jauh dari Ines.


Ines mengantar Nara ke toilet dan menemani Nara hingga benar-benar selesai, saat Ines membantu membetulkan dan merapikan ujung abaya bagian belakang yang tersangkut di legging Nara. Seseorang menekan kepala Ines, membuat Ines menghentikan pergerakan tangannya dan membuat Nara curiga.


“ are you finish it (apa sudah selesai)? “ tanya Nara yang masih belum tahu kondisi Ines.


“ not yet madam (belum nyonya) “ ucap Ines dan sekali lagi kepala bagian belakang tertekan oleh sesuatu.


“ I'll fixed it myself....thank you for helping me (ya sudah aku rapikan sendiri.... terima kasih sudah membantuku.....) “ ucap Nara sambil membalikkan badan dan melihat seseorang menodongkan senjata api tepat di belakang kepala Ines.


Seketika Nara membulatkan kedua matanya dan menutup mulutnya, Nara terkejut karena yang menodongkan senjata api pada Ines bukan wajah sosok yang sudah dia ingat.


Saat Nara membuka pintu toilet, tiba-tiba kepala bagian belakang serasa tertekan oleh suatu benda. Seseorang menekan kepala Nara dengan keras meminta Nara untuk tetap melangkah, entah siapa dua orang ini yang menodongkan senjata api di kepala Nara juga Ines. Sementara 4 pengawal wanita yang berjaga di sepanjang lorong hingga ke pintu toilet seketika mengeluarkan senjata api dan mengarahkannya tepat di kepala 2 orang yang menyandera Nara dan Ines. Melihat senjata api mengarah tepat di kepala Nara membuat 4 pengawal wanita segera berkomunikasi dengan rekan-rekannya.


Nara berhenti di pintu hall membuat beberapa tamu undangan yang melihat Nara dan Ines dengan 2 orang yang mengarahkan senjata api di kepala, segera lari menjauh.


“ Tast inn (masuk) “ ucap sosok itu sambil mendorong kepala Nara dengan senjata api.


Kedua mata Nara terlihat jelas sangat takut karena ini tidak sesuai dengan apa yang dia perkirakan, mulutnya sibuk dengan kalimat dzikir kedua tangannya terangkat dan berada di depan lengan atas.

__ADS_1


Nara melangkah mendekati meja Afkar, tapi baru 5 langkah dari pintu hall. Para tamu undangan mulai terlihat ketakutan dan berdiri menjauh dari meja makan malam mereka masing-masing, semua pengawal yang berada di hall menjadi siaga dengan senjata api mereka masing-masing. Melihat kericuhan ini Afkar segera mencari tahu dan seketika Afkar diam membatu melihat posisi Nara dan siapa yang menodongkan senjata api di belakang kepala Nara.


“ Herr administrerende direktør Rosenkrantz..... Afkar Sadhat..... en administrerende direktør med tyrkisk innvandrerbakgrunn..... hvordan har du det (tuan CEO Rosenkrantz..... Afkar Sadhat..... seorang CEO keturunan Imigran Turki..... bagaimana kabar anda)? “ ucap sosok tersebut dengan sinis.


Para pengawal yang bekerja di bawah Rosenkrantz segera meminta para tamu undangan untuk segera keluar dari hall.


“ god natt frøken Therese.... fru Nina..... det viser seg at du fortsatt kan puste frisk luft (selamat malam nona Therese.... nyonya Nina..... ternyata anda masih bisa menghirup udara segar) “ ucapan sinis sosok itu saat melihat Fredrik, Holger, Nina dan Therese yang melangkah mendekati Afkar.


Nina dan Therese yang tidak mengenal sosok itu seketika tubuhnya terasa bergetar karena takut, Fredrik segera memegang kedua lengan Nina dan Holger memegang kedua bahu Therese. Tubuh kedua wanita itu terlihat jelas sangat ketakutan meski pun mereka tidak mengenal siapa pria yang sudah menyandera Nara.


Nara dan Ines hanya bisa diam karena sedikit saja mereka melakukan pergerakan maka 2 orang itu akan menekan kepala Nara juga Ines, Afkar dengan mata tajam juga dingin melihat sosok itu penuh dengan rasa benci juga emosi yang ingin sekali dia luapkan. Kalle yang mencari pasangannya seketika berhenti saat melihat wanita yang bersamanya ternyata saat ini sudah menodongkan senjata api di kepala pengawal Nara. Kalle tidak tahu kalau wanita yang dia bawa malam ini ada hubungannya dengan saudara seayah beda ibu yang sudah mengancamnya selama ini.


“ Kalle søsteren min.....er du ikke glad for å se meg...hvorfor kommer du ikke bort og gir meg en bjeff eller en klem som du pleier (Kalle adikku..... apa kamu tidak senang melihatku... kenapa kamu tidak kemari dan memberiku salam atau pelukan hangat seperti biasa) “ ucapan sinis sosok itu membuat Afkar semakin geram.


Nara tak henti-hentinya berdzikir entah sudah berapa banyak kalimat thayibbah, sholawat ibrahimiyah, ayat kursi dan surat pendek yang dia lafadz-kan.


Tubuh Kalle bergetar takut, dia tidak berani membatah ucapan sosok itu, pria yang menyandera ibunya di sebuah rumah tua di luar kota Oslo. Kalle melangkah pelan hendak melewati Afkar, tapi dengan cepat Afkar membisikan sesuatu.


“ Tante Silje er trygg på bestefars slott (tante Silje sudah aman di castil kakek) “ Kalle terkejut dengan suara pelan Afkar yang terkesan sangat dingin.

__ADS_1


Kalle menghentikan langkah kakinya tepat satu langkah di depan Afkar.


__ADS_2