NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 15 NYERI


__ADS_3

“mas..... Nara kembali ke hotel saja ya.... tumit Nara sakit...” ucap Nara membuat Afkar tersenyum dan memberi isyarat pada Marius untuk mengantarnya.


"Alright....our adventure for today ends here (baiklah.... petualangan kita hari ini cukup sampai disini)....”ucap Marius yang sudah berdiri dan hendak memegang gagang pintu ruangan Afkar.


"Looks like tomorrow we don't have an adventure schedule huh (sepertinya besok kita tidak ada jadwal berpetualang ya)....” ucap Morten sambil melihat Nara yang masih bergelayut manja di lengan kiri Afkar.


Mendengar ucapan kakak beradik Yilmaz, Afkar melihatnya dengan tatapan dingin membuat kakak beradik Yilmaz segera keluar ruangan dan lebih memilih menunggu Nara di luar ruangan.


“hati-hati..... jangan makan coklat banyak-banyak.... mas usahan selepas Magrib kembali ke hotel" ucap Afkar sambil mengecup dahi Nara.


“Assalamu'allaikum” salam Nara.


“Wa'alaikumsalam sayang" balas Afkar tapi tangan kirinya masih menggengam tangan kanan Nara.


"sister......let's eat chocolate ice cream (kakak ipar....... ayo kita makan es cream coklat)" teriak Morten saat melihat Nara sudah keluar ruangan.


“Starsiv.....” teriakan Afkar membuat Morten segera berlari menuju pintu lift dan menekan tombol turun.


Kakak beradik Yilmaz mengantar Nara hingga depan kamar karena saat melihat Nara berjalan pelan dan sesekali memegangi lututnya, membuat kakak beradik yilmaz tidak tega meninggalkan Nara di lobi hotel.


Nara merebahkan tubuhnya melepas niqab serta hijabnya dan meletakkan di sembarang tempat, sepatu dan kaos kaki di lepas dengan menyelipkan ibu jari kaki di sela-sela sepatu bagian belakang.


“sakit sekali tumit dan lutut ini" ucap Nara pelan sambil meringis menahan sakit.


Nara berguling ke kanan mengambil sling bag dan meraih ponselnya untuk mengetik sesuatu. Karena terlalu kelelahan menahan nyeri pad tumit dan lutut akhirnya Nara tertidur.


Tepat lima belas menit setelah adzan Magrib waktu Istanbul, Afkar membuka pintu kamar. Melihat Nara yang tertidur dengan masih mengenakan abaya, niqab dan hijab yang tidak di letakkan pada tempatnya membuat Afkar merasa bersalah sudah tidak menemaninya beberapa hari ini. Selesai membersihkan diri dan berganti dengan pakaian santai Afkar mengambil pakaian ganti untuk Nara dan mengganti pakaian Nara. Dengan hati-hati dan pelan agar Nara tidak terbangun, Afkar melepas abaya dan pakaian pelapis antara pakaian dalam dan abaya. Selesai mengganti pakaian Nara, Afkar memesan beberapa menu makan malam untuk mereka.

__ADS_1


Saat pelayan hotel mengantarkan makan malam pesanan Afkar, tiba-tiba Nara terbangun dan sudah duduk di pinggir ranjang.


“sayang sudah bangun...... sholat Magrib dulu, lepas itu kita makan malam" ucap Nara yang sudah mensejajarkan wajahnya tepat di depan wajah Nara.


Seketika Nara mengecup bibir Afkar dengan cepat dan membuat Afkar tersenyum tipis. Nara berdiri dan melangkahkan kakinya masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan wudhu.


Selesai sholat Magrib, mereka makan malam tanpa ada pembicaraan apa pun. Hingga Afkar selesai dan menumpuk piring kotor di meja dekat pintu kamar hotel. Nara kembali merebahkan tubuhnya yang masih terasa lelah dan lutut yang masih terasa nyeri.


“mana yang sakit?” tanya Afkar sambil duduk di pinggir ranjang dan membelai rambut Nara.


“tumit terasa seperti di tusuk jarum saat di pakai jalan dan lutut nyeri sekali" ucap Nara sambil menggerak-gerakkan kedua telapak kakinya.


“sekarang masih sakit?” tanya Afkar untuk memastikan lebih jauh lagi.


“kalau posisi seperti ini hanya lutut saja yang masih terasa nyeri.” Ucap Nara pelan.


“jangan.....” cegah Nara membuat Afkar menghentikan jari jemarinya.


“sayang..... sayang harus ke rumah sakit....... biar kita cepat tahu sayang sakit apa?” rayu Afkar.


“Nara takut" ucap Nara pelan dan memalingkan tubuhnya memunggungi Afkar.


tiba-tiba ponsel Afkar berbunyi dan segera menerima panggilan tersebut, Afkar berjalan sedikit menjauh dari Nara. Nara melihat punggung Afkar dan sesekali Afkar melihatnya dengan mengulas senyum penuh kehangatan. Afkar kembali mendekati Nara yang sudah terduduk di pinggir ranjang memperhatikan Afkar.


“sayang..... boleh mas tanya?” Nara menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan Afkar.


“kapan terakhir kali sayang datang bulan?” Nara menatap Afkar dengan tatapan heran dan memikirkan sesuatu.

__ADS_1


“kalau tidak salah....... dua minggu setelah pes....ta perni....kahan kita" ucap Nara pelan dan terbata-bata karena berusaha mengingat-ingat kapan terakhir kali datang bulan.


Afkar tersenyum mendengar jawaban Nara, tapi tidak dengan Nara yang semakin heran dengan senyuman Afkar.


“kenapa mas tersenyum?” tanya Nara semakin heran.


“mas keluar sebentar.....” ucap Afkar yang sudah meraih coat hitam yang dia letakkan di sandaran sofa.


Setelah menunggu kurang lebih tiga puluh menit, Afkar masuk ke kamar dengan membawa sekantong belanjaan yang Nara tidak tahu apa isinya.


“besok pagi..... saat buang air kecil tunggu mas.” Ucap Afkar sambil meletakkan kantong belanja di sudut sofa.


Karena merasakan nyeri di lutut yang membuatnya kesakitan saat berdiri, dengan sedikit paksaan Afkar mengangkat Nara ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Afkar dengan sabar meletakkan Nara di sebuah kursi tepat di dekat sofa dan memakaikan mukena, sholat Isya' kali ini Afkar memaksa Nara untuk melakukan dengan duduk meskipun pada awalnya Nara menolak.


Selepas Isya' Afkar mengangkat Nara dan menidurkannya di ranjang, dengan sabar Afkar memijat kedua telapak kaki Nara bergantian dan memberi tekanan lebih pada bagian tumit yang membuat Nara sesekali meringis menahan sakit. Saat Nara berusaha menghentikan pijatan yang Afkar lakukan maka Afkar akan memijat kedua lutut Nara bergantian. Afkar benar-benar tidak paham apa dan kenapa Nara bisa merasakan nyeri pada tumit dan lututnya. Di sela-sela memijat tumit dan kaki Nara, Afkar berusaha membujuk Nara agar besok bersedia melakukan medical check up.


“mas akan lihat hasil test urine sayang besok pagi....... apa pun hasilnya sayang harus menurut apa yang mas katakan..... mas tidak mau sayang kesakitan seperti ini tanpa tahu sebab dan solusinya.” Ucap Afkar dengan tegas membuat Nara merajuk dan memalingkan wajahnya.


Afkar semakin bingung dengan sikap Nara yang mudah sekali berubah-ubah kadang Nara bisa sangat manja sekali, kadang menjadi sangat semangat, dan tidak jarang juga melakukan hal-hal di luar kebiasaanya seperti malam ini Nara merajuk dan mengganti pakaian tidurnya dengan kemeja milik Afkar yang seharian sudah Afkar pakai. Afkar semakin heran dan bingung dengan sikap Nara.


“sayang..... itu kemeja sudah mas pakai seharian..... dan itu kemeja sudah kotor juga bau" rayu Afkar sambil menyodorkan kemeja lain yang bersih.


“Nara mau pakai ini.....” ucap Nara cemberut.


“sayang..... sayang boleh pakai kemeja mas yang mana saja..... tapi jangan yang ini...... ini kotor sayang......” rayu Afkar dengan suara lembut tapi Nara masih saja melanjutkan mengaitkan kancing kemeja.


“ya sudah.... kalau mas tidak mau meminjamkan kemeja ini..... Nara tidur begini saja" dengan merajuk Nara membuka kaitan kancing hingga kemeja Afkar lepas dan Nara hanya mengenakan bra dan hipster.

__ADS_1


Nara berjalan naik ke ranjang hanya mengenakan bra dan hipster membuat Afkar tidak sanggup menguasai diri segera memeluk erat dan mencium karena saat ini hanya satu dalam pikirannya yaitu menyalurkan hasratnya.


__ADS_2