NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 190 KALAU SAJA


__ADS_3

Merasakan ada sesuatu yang menekan pahanya, Nara terbangun dan merubah posisi tidurnya menghadap Afkar.


“ kalau seandainya ibu masih ada.... apa ibu akan mendukung kakak atau mendukung Nara..... ? “ gumam Nara dalam hati sambil memainkan jari telujuknya di dagu Afkar.


“ tampan sih..... tapi..... “ gumam Nara terhenti tidak sanggup melanjutkan apa yang ada di dalam otaknya dan hatinya.


“ kesepakatan antara ruh dengan ALLAH tidak ada yang tahu selain ALLAH..... takdirku..... rezekiku.... jodohku..... sudah ALLAH tentukan dengan jalan yang ALLAH ridhoi...... “ gumam Nara dalam hati dan jari jemarinya sudah membelai bekas luka di dahi Afkar.


“ dulu sekeras apa pun Nara berusaha menjauh dari mas..... ALLAH selalu memiliki jalan untuk mempertemukan Nara dengan mas...... ALLAH memberi Nara kemudahan menjalani ta'aruf..... khitbah..... bahkan hanya sekali tarikan nafas..... mas mampu mengucapkan kalimat ijab qabul...... “ gumam Nara dalam hati yang jari telunjuknya sudah berhenti di ujung hidung Afkar.


“ apakah yang ibu pernah ceritakan adalah mas.... apakah yang ibu pernah katakan adalah mas..... banyak sekali yang ingin Nara tanyakan pada ibu...... kalau saja...... seandainya...... “ gumam Nara dalam hati sambil menarik nafas panjang dan jari telunjuknya berhenti tepat di bibir bawah Afkar.


Di saat Nara larut dalam berbagai pemikirannya tiba-tiba Afkar membuka kedua matanya menatap Nara yang kedua bola matanya fokus pada bibir miliknya, Afkar tersenyum membuat Nara sedikit terkejut dan menarik jarinya tapi dengan cepat Afkar menggengamnya.


“ sedang memikirkan apa? “ pertanyaan Afkar membuat Nara sedikit gugup.


Rasa gugup Nara terlihat jelas di mata Afkar.


“ mungkin kalau dulu Nara menerima tawaran kak satya pulang naik sepeda..... bisa jadi bukan Nara yang menolong mas keluar dari dalam mobil itu..... “ Afkar tersenyum mendengar jawaban Nara.


“ semua sudah ada yang mengantur..... kita hanya menjalani apa yang sudah di tentukan..... “ ucap Afkar sambil menjepit dagu Nara dengan telunjuk dan ibu jari.


Nara terdiam mendengar jawaban Afkar seperti memikirkan kembali semua yang sudah dia alami sebelum benar-benar mengenal Afkar.


“ mas..... bisakah mas berjanji tidak akan pernah meninggal Nara? Bisakah mas berjanji akan mengajak Nara kemana pun mas pergi? “ ucapan Nara membuat Afkar tersenyum.

__ADS_1


“ kemana pun mas pergi..... mas akan selalu membawa sayang dan ini..... “ ucap Afkar sambil membelai perut Nara.


“ kelak.... kemana pun sayang ikut kompetisi onsite...... mas akan selalu mendampingi sayang..... “ ucap Afkar menatap lekat-lekat kedua mata Nara.


Untuk beberapa detik mereka saling menatap satu sama lain, hingga tak terasa Adzan Shubuh berkumandang.


Pagi kedua di kota Jakarta membuat Nara kembali mengingat masa kecilnya, memperhatikan seorang pelayan wanita yang sedang sibuk mempersiapkan makan pagi di meja. Pemandangan yang membuat Nara teringat akan sosok Asma, tanpa sadar air matanya sudah menetes membasahi kain niqab yang sudah menutup rapi kedua pipinya. Afkar yang merasakan perubahan suasana hati Nara tidak seceria kemarin, berjalan pelan dan memeluk Nara dari belakang.


“ ingat ibu? “ Nara menganggukan kepala menjawab pertanyaan Afkar dan segera membersihkan sisa air mata di kelopak matanya.


Afkar tetap memeluk dan memberikan ciuman kecil di kepala Nara, disaat Afkar berusaha menenangkan Nara yang mengingat kenangan masa kecil. Tiba-tiba suara Fajrin membuat Nara memalingkan wajah menghindar dari Fajrin.


“ dik..... “ suara pelan Fajrin tidak mampun membuat Nara melihatnya.


“ sayang...... sayang harus lepaskan semua rasa sedih...... amarah sayang..... jangan disimpan...... sudah terlalu lama sayang menyimpan semua itu...... “ ucapan Afkar membuat Nara menarik nafas panjang menahan rasa sakit di dada dan tenggorokan.


Fajrin mendekati Nara dan mencoba meraih tangan Nara, tapi belum sempat Fajrin menyentuh. Nara sudah memasukkan kedua tangannya di dalam saku abaya.


“ dik..... maaf..... kakak salah..... kakak egois.....” ucapan Fajrin masih membuat Nara diam menutup rapat kedua mulutnya.


“ kalian berbicaralah di belakang..... selagi masih pagi dan belum ada yang bangun selain kita “ ucap Afkar sambil mendorong pelan tubuh Nara menuju taman belakang.


Nara melangkah dalam diam, Fajrin seperti kehabisan kata-kata hanya bisa mengikuti kemana kaki Nara melangkah.


Ucapan Fajrin membuat Nara menghentikan langkahnya dan duduk di sebuah kursi taman berwarna kuning.

__ADS_1


“ apakah karena ibu sudah meninggal..... jadi kakak mulai mengurangi sikap egois kakak? Apakah kakak tidak menyesal sudah bersikap egois pada adik? “ ucap Nara dan menengadahkan kepalanya menatap langit pagi dengan udara yang masih terasa sejuk.


Nara menarik nafas panjang dan memejamkan kedua matanya.


“ kalau saja waktu itu kakak tidak bersikap egois dan tidak berusaha keras merayu ibu untuk berangkat haji dengan kakak..... mungkin Nara dan ibu sudah pergi ke jogja bahkan mungkin akan menginap beberapa hari di jogja..... padahal sebelum kakak mengatakan bahwa kakak mengajak ibu..... ibu bercerita akan memperkenalkan Nara pada keluarga yang sudah berjasa besar membantu ibu hingga ibu bisa kuliah di Oslo..... tapi semua sia-sia.... karena rasa egois kakak..... kakak tahu sendiri sejak kalian kembali ke Jakarta..... ibu belum pernah ke Jogja sama sekali bahkan saat Nara lahir pun..... ibu belum sempat ke Jogja..... ibu harus menjadi ayah bagi Nara dan kakak “ keluh kesah Nara membuat Fajrin menatap lurus kedepan dan sesekali menarik nafas panjang.


Fajrin terdiam tidak menyangkal apa yang Nara katakan.


“ waktu itu.... ibu sudah menghubungi teman lama ibu..... ibu sudah menyiapkan apa yang akan ibu berikan pada temannya..... tapi apa yang sudah ibu siapkan menjadi mubadzir..... “ ucap Nara dengan kesal.


“ bahkan ibu sudah mengatakan tanggal berapa akan berangkat ke jogja pada temannya..... “ ucapan Nara terhenti dan menatap kedua mata kakaknya.


“ kakak pasti tidak tahu.... apa yang sudah ibu siapkan? “ ucap Nara kembali sedih.


“ selama ibu tinggal di Oslo.... ibu mengumpulkan beberapa buku tentang seni lukis.... ibu memang berencana suatu saat akan memberikan buku-buku itu pada temannya.... tapi niat ibu tidak pernah terwujud “ ucap Nara sedih.


Nara tersenyum tipis mendengar pertanyaan Fajrin yang sangat jelas tidak tahu barang apa saja yang Asma simpan selama ini.


“ kakak sudah menjualnya menjadi buku bekas “ ucap Nara dengan nada marah.


Nara kembali tersenyum tipis mendengar pertanyaan Fajrin.


“ adik marah karena kakak egois.... kakak tidak memberi ibu kesempatan bertemu dengan temannya..... kakak sudah mengurangi waktu kebersamaan adik dengan ibu “ kali ini Nara bersuara dengan tegas dan bernada tinggi.


Membuat Afkar yang sedari tadi memperhatikan mereka seketika menjadi terkejut. Afkar terkejut karena baru kali ini melihat Nara berani meninggikan suara di hadapan Fajrin.

__ADS_1


“ kalau saja adik bisa memutar waktu..... adik akan..... “ suara tinggi Nara tiba-tiba berhenti.


__ADS_2