
Dari sejak selepas shubuh, kediaman Afkar sudah terlihat sibuk. Para pengawal Afkar sudah terlihat rapi dengan pakaian serba hitam lengkap dengan earpiece, sedangkan Ralf dan Lief mengenakan pakaian dengan warna yang sama dengan D4rkC0d3 begitu juga dengan Barra. Mari dan Zarya mengenakan gaun yang tidak terlalu terbuka atau pun terlalu memperlihatkan lekuk tubuhnya, sementara Afkar mengenakan kemeja batik yang sudah Freya siapkan sama seperti Azkar juga Dean. Karena pakaian seragam untuk Nara yang dibuat oleh Divya tidak muat jadi Nara menggenakan pakaian seperti biasa yang dia kenakan dan melapisi hijabnya dengan hijab yang sudah Divya siapkan untuk Nara.
“ duh.... kenapa bahannya licin sih.... “ gumam Nara yang sejak tadi belum berhasil merapikan kain hijab di kepalanya yang sudah tertutup kain hitam.
Afkar yang merapikan lengan kemeja batik tersenyum mendengar keluh kesah Nara.
“ sini biar mas rapikan “ ucap Afkar yang sudah berdiri di belakang Nara.
“ sayang mau pakai ini seperti saat sayang pakai hijab putih di sidang tertutup sayang? “ Nara mengganggukan kepala menjawab pertanyaan Afkar.
“ sayang harus menyematkan 3 atau 4 bros kalau mau terlihat rapi di kepala sayang..... kain hijab ini terlalu licin. “ ucap Afkar sambil mencoba merapikan hijab yang membuat Nara kesulitan mengenakannya.
“ mas yakin.... sayang tidak membawa bros “ Nara meringis mendengar ucapan Afkar.
“ begini saja dulu..... nanti sampai rumah bang Azkar..... mas pinjamkan bros sama Norin “ ucap Afkar sambil melipat kain hijab dan memasukkan ke dalam saku celananya.
Nara senang mendengar ucapan Afkar dan memeluk lengan Afkar, Afkar membalasnya dengan mencium puncak kepala Nara yang sudah tertutup rapi dengan kain hitam.
Tepat pukul 7 lebih 55 menit rombongan 3 mobil Afkar berhenti di halaman kediaman Afkar. Nara melihat Bugatti Centodieci sudah di hias dengan sebuah pita berwarna biru muda yang masih berada di atas truk pengangkut mobil.
Erhan dengan bantuan Ralf mengikuti langkah kaki Afkar yang membawa Nara ke ruang tengah, melihat kedatangan rombongan Afkar. Freya terlihat lega dan Freya mulai mengatur kotak transparan mana yang harus Ralf, Lief, Barra, juga D4rkC0d3 harus bawa. Karena para pemain Shield dan para tim Fajrin sudah membawa kotak transparan masing-masing.
Seperti janji Afkar, Norin menyerahkan 4 buah bros pada Afkar.
“ ini “ ucap Norin sambil menyerahkan 4 buah bros.
Afkar dengan sabar membantu Nara mengenakan kain hijab yang tadi dia simpan di saku celananya, hampir semua orang yang berada di ruang tengah tanpa Afkar sadari melihat apa yang Afkar lakukan pada Nara tak terkecuali Fajrin. Fajrin mengulas senyum tipis melihat apa yang Afkar lakukan pada adiknya, Barra yang berdiri di dekat Fajrin pun tidak percaya melihat Afkar membantu Nara mengenakan hijab.
“ gila..... baru kali ini aku melihat dia bisa sesabar itu memegang pakaian wanita “ ucap Barra pelan dan sukses mendapat pukulan kecil di lengan dari Fajrin.
__ADS_1
Merasa bahwa menjadi pusat perhatian membuat Nara memegang tangan Afkar.
“ kenapa sayang? “ tanya Afkar heran karena Afkar baru menyematkan 2 bros kecil di kepala Nara.
“ malu.... semua melihat kita “ cicit Nara yangs sudah tertunduk malu.
“ kenapa malu.... kita sudah lama halal.... malu kalau mas melakukan ini sedangkan kita belum halal “ ucapan Afkar semakin membuat Nara tertunduk.
“ sayang jangan menunduk.... lama selesainya ini “ protes Afkar dan Nara kembali menatap lurus kedepan.
Selesai merapikan hijab Nara, Freya segera menyuruh Afkar dan Nara untuk masuk ke mobil yang berada di belakang mobil yang membawa Fajrin.
Selesai dengan kotak-kotak mahar dan semua persiapan, satu persatu orang-orang yang berada di dalam rumah Azkar keluar menuju mobil juga bus.
Sepanjang perjalanan menuju hotel yang menjadi lokasi akad nikah Fajrin, Nara terlihat jelas tidak nyaman. Afkar berkali-kali mencoba menenangkan Nara dengan mencium kepala dan punggung tangan kanan Nara.
“ mas..... kenapa ya.... tiba-tiba Nara merasa tidak nyaman “ ucap Nara yang sudah memeluk dan menempelkan pipi kanannya tepat lengan kiri Afkar.
“ bukan itu.... tapi yang lain...... tapi Nara tidak tahu apa yang membuat Nara tidak nyaman..... nanti di acara kakak.... mas tidak boleh jauh-jauh dari Nara “ ucap Nara dengan cemberut.
“ memangnya mas bisa jauh dari sayang....hmmmm “ ucap Afkar dengan tangan kanannya membelai perut Nara.
Tepat pukul 8.45 mereka sampai di lokasi acara saat Afkar membantu Nara keluar dari mobil, Lief sudah berdiri tidak jauh dari mereka dan sudah siap menyerahkan kunci Bugatti Centodieci pada Afkar.
“ sir... vær så snill å ta ned Bugatti Centodieci... de tør ikke ta den ned (tuan... silahkan anda yang menurunkan Bugatti Centodieci..... mereka tidak berani menurunkannya) “ ucap Lief sambil menyerahkan kunci Bugatti Centodieci.
Afkar menatap heran pada Leif juga pada para pengawalnya yang sudah menunduk tidak berani menatap Afkar.
“ sayang.... tunggu disini.... mas turunkan mobil itu dulu “ ucap Afkar sambil mencium puncak kepala Nara.
__ADS_1
Nara menganggukan kepala dan berdiri tepat di samping pintu lobi melihat Afkar menurunkan Bugatti Centodiecism secara perlahan.
“ Nara.... ayo masuk.... kenapa berdiri disini?..... mana Afkar? “ tanya Freya sambil membelai perut Nara.
“ Amma masuk dulu saja.... Nara menunggu mas..... mas masih menurunkan Bugatti Centodieci “ ucap Nara sambil menunjuk Bugatti Centodieci yang sudah mulai turun dengan Afkar duduk di belakang kemudi.
Freya tersenyum melihat apa yang Afkar lakukan.
“ baiklah.... kalau begitu Amma masuk dulu “ ucap Freya sambil membelai lengan Nara.
Nara memperhatikan setiap pergerakan tangan Afkar yang memutar kendali Bugatti Centodieci ke kanan dan kiri sesuai arahan seorang pengawal. saat di rasa posisi Bugatti Centodieci sudah sesuai, Afkar keluar dari Bugatti Centodieci dan melangkah mendekati Nara dengan senyuman hangat.
Afkar menyerahkan kembali kunci Bugatti Centodieci pada Lief dan kembali menggenggam tangan Nara.
“ mas.... apa itu keluarga besarnya mba Divya? “ bisik Nara membuat Afkar memperhatikan sekumpulan orang-orang yang antri masuk ke dalam grand ballroom.
“ mungkin..... sayang yakin mau menyerahkan apa yang Lief bawa? “ bisik Afkar dan Nara menganggukan kepala.
“ berarti mas menyerahkan apa yang paman Ralf bawa..... ingat jangan memberi Lief kesempatan menyentuh tangan sayang “ ucap Afkar bernada posesif.
“ Nara sudah pakai sarung tangan mas.... “ ucap Nara gemas dan membelai lengan Afkar.
Lief yang berjalan di belakang mereka mendengar jelas apa yang Afkar dan Nara ucapkan, selama ini diam-diam Lief belajar bahasa Indonesia.
“ tuan.... anda masih saja posesif bahkan semakin posesif..... bagaimana bisa saya menarik perhatian nyonya muda kalau saya sangat menghormati nyonya muda “ gumam Lief dalam hati.
Atas arahan salah seorang pegawai wedding organizer, Nara dan Afkar berjalan di belakang Fajrin dan Barra sebelum masuk ke dalam grand ballroom.
Banyak pasang mata yang melihat iring-iringan mereka, membuat Nara semakin dalam menundukkan pandangan dan mengandalkan lengan Afkar untuk menuntunnya berjalan hingga ke tempat duduk. Tapi sepanjang mereka berjalan menuju tempat duduk, banyak sekali mendengar para saudara dari keluarga Divya yang berbisik tentang Lief dan para pria lajang yang membawa kotak transparan berisi emas batangan PAMP. Nara tersenyum tipis di balik niqabnya begitu juga dengan Afkar menyungging salah satu sudut bibirnya saat mendengar bisikan para anggota keluarga Divya.
__ADS_1
Saat pembawa acara meminta Fajrin untuk melangkah ke tengah karena Davis dan Ditya melangkah ke tengah, Nara dan Afkar mengikuti langkah kaki Fajrin. Begitu juga dengan Ralf fan Lief yang membawa kotak barang pelangkah.