NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 67 BARRA PANIK


__ADS_3

Barra mematikan ponselnya dengan cepat menyambar jaket juga sepatu boots dan berlari keluar dorm, sampai di lobi markas Barra melihat Marius dan Morten yang pulang dari lari pagi bersama anggota Shield yang lain.


“ du følger meg (kalian ikut aku) “ ucap Barra sambil merebut kunci mobil Nanwei yang baru turun dari mobil dan melempar kunci itu pada Marius.


Nanwei melihat Barra hanya bisa memasang wajah heran dan terdiam, Marius dan Morten segera masuk ke dalam mobil Nanwei.


“ Vet du hvor Afkar bor nå (kalian tahu dimana Afkar sekarang tinggal)? “ tanya Barra dengan gugup.


“ Strømborgveien “ jawab Marius bingung.


“ ta meg dit, Nara trenger hjelp (antar aku kesana, Nara butuh bantuan) “ Marius segera menginjak gas dan meluncur ke rumah Afkar.


Barra melihat ponselnya ada pesan dari Fajrin dan membacanya sesaat.


“ Masya ALLAH Nara..... “ teriak keras Barra yang mulai frustasi.


Morten terkejut mendengar teriakan Barra dan menepuk bahu kanan Marius untuk segera meluncur ke rumah Afkar. Marius menyetir dengan kencang membuat Morten sedikit ketakutan tapi semakin membuat Barra tidak tenang, setelah dua puluh menit berkendara akhirnya mereka sampai di depan rumah Afkar yang di tertutup rapat.


Morten membuka paksa pintu pagar agar Marius bisa memasukkan mobil Nanwei, seketika enam pengawal mengepung mereka tapi Barra dengan cepat menerobos mereka dan masuk ke rumah Afkar.


“ Ra..... Nara..... Nara.... “ teriak Barra frustasi sambil berlarian kesana kemari mencari Nara.


Ines terkejut melihat Barra dan berusaha menghalangi Barra yang berlarian kesana kemari sambil memanggil-manggil Nara. Ines memanggil pengawal dan dua orang pengawal masuk menahan Barra yang masih saja bergerak kesana kemari memanggil nama Nara.

__ADS_1


“ av, hvor er Nara (lepas, mana Nara) “ teriak Barra yang semakin frustasi membuat Ines heran.


“ Hvem er du (siapa anda) “ tanya Ines dengan keras.


“ bråkete, slipp ... vis meg rommet til Nara (berisik, lepaskan... tunjukkan kamar Nara) “ suara Barra semakin keras dan semakin frustasi.


Insting Barra mengatakan bahwa Nara berada di balik sebuah pintu yang dia lihat saat ini, Barra sekuat tenaga melepaskan diri dari cengkraman dua pengawal yang menahannya, dengan terseok-seok Barra mendekati pintu kamar dan menendang pintu tersebut dengan kaki kanannya beberapa kali hingga terbuka.


Barra melihat sosok Nara yang geletak di lantai masih mengenakan mukena, seketika Ines terkejut dan meminta kedua pengawal melepas Barra. Barra segera berlari masuk ke kamar dan mendekap Nara, melihat kain mukena yang sebagian sudah berwarna merah bercampur dengan darah yang masih keluar diantara kedua kaki Nara.


Ines tidak bisa berkata-kata karena terkejut melihat keadaan Nara. Barra membuka sedikit bagian bawah mukena Nara dan mendapati dua gumpalan yang tidak lebih besar dari genggaman tangan Barra. Barra mengambil dua gumpalan calon janin kembar Nara dan meletakkan di sisi sajadah yang tidak tergenang darah.


“ du driver med de to klumpene (kamu urus dua gumpalan itu) “ teriak Barra yang sudah bersiap mengangkat Nara yang sudah tidak sadarkan diri.


Ines yang masih tertegun melihat keadaan Nara terlihat bingung dan takut melihat dua gumpalan darah tersebut.


Ines menganggukan kepala dan segera mengurus dua gumpalan itu juga darah Nara.


Barra dengan berlari dari kamar ke mobil membuat dua pengawal yang menahannya tadi membuka pintu rumah dan membantu Barra masuk ke dalam mobil Nanwei, entah apa yang dua pengawal tadi katakan tapi dua pengawal di antara enam pengawal yang mengepung mobil Nanwei segera berlari dan masuk ke dua mobil yang berbeda dengan dua pengawal yang tadi menahan Barra. Salah satu pengawal yang tadi menahan Barra mengatakan sesuatu pada Marius dan membuat Marius mengikuti mobil mereka.


“ Ra..... sadar Ra.... kakak mohon Ra..... “ ucap Barra yang mendekap erat tubuh Nara yang mulai terasa dingin.


Barra menangis tidak memperdulikan pandangan Morten, Barra mendekap erat tubuh Nara berharap bisa menaikkan suhu tubuh Nara. Mobil pengawal yang berada di depan Mobil Nanwei mengarah ke rumah sakit City Legesenter, Marius menghentikan mobilnya tepat di depan pintu unit gawat darurat. Seorang pengawal membuka pintu mobil, Barra segera keluar mengangkat Nara dengan air mata yang semakin deras membasahi kedua pipinya.

__ADS_1


“ vet GUN om svogers tilstand (apa GUN sudah tahu keadaan kakak ipar)? “ tanya Marius pada Morten.


“ Det har den ikke ennå (sepertinya belum) “ jawab Morten yang mulai sibuk dengan ponselnya.


“ GUN tar ikke telefonen (GUN tidak mengangkat telponnya) “ ucap Morten yang mulai ikut panik.


Sementara kakak beradik Yilmaz sibuk menghubungi Afkar, ke empat pengawal berjaga-jaga di depan unit gawat darurat. Ines yang baru pertama kali menangani gumpalan janin hanya bisa membersihkan dan membungkusnya dengan kain putih meminta seorang pengawal untuk menguburnya di area pemakaman keluarga Rosenkrantz.


Meski pun Nara sudah di tangani seorang dokter dan seorang perawat tetap saja Barra tidak mau beranjak dari sisi Nara.


“ Barra .... hva skjedde? Hvem er dette? (Barra.... apa yang terjadi? Siapa ini?) “ tanya Zarya heran karena baru kali ini melihat Barra yang menangis seperti anak kecil takut kehilangan mainannya.


“ min søster aborterte (adikku keguguran) “ jawab Barra singkat sambil menyeka ingus dan air matanya.


“ yngre søster (adik)? “ Zarya bingung dengan ucapan Barra karena sepengetahuannya Barra tidak punya adik perempuan.


Zarya melihat wajah Nara yang masih belum sadar dan terkejut, wajah yang pernah dia lihat dari rekaman pesta pernikahan Nara dan Afkar dan tentunya Zarya bisa melihat rekaman itu dari Nanwei kakak iparnya.


“ er ikke dette Neptunia hans kone GUN (bukankah ini Neptunia istrinya GUN) “ucapan Zarya membuat Barra melihatnya.


“ du kjenner Nara (kamu mengenal Nara)? “ tanya Barra sambil menyeka ingus dan air mata.


Zarya tersenyum melihat wajah Barra yang sama sekali bukan seperti Barra yang dia kenal. Zarya menceritakan bagaimana dia bisa mengenali bahwa wanita yang dia bawa adalah Nara dan bagaimana dia tahu kondisi janin Nara.

__ADS_1


“ Har de to fostrene kommet ut? (Apa dua janinnya sudah keluar)? “ tanya Zarya menenangkan Barra.


“ ja fosteret utvikler seg ikke, før jeg tok Nara hit var det to klumper mellom beina hennes og jeg ba noen ta seg av det (iya janinnya tidak berkembang, tadi sebelum aku bawa Nara kesini ada dua gumpalan di antara dua kakinya dan aku sudah meminta orang untuk mengurusnya) “ ucap Barra yang mulai sedikit lebih tenang.


__ADS_2