
Setelah menunggu kurang lebih 30 menit, seorang pengawal mengetuk pintu unit dan menyerahkan satu kantung kertas berisi 4 porsi soto betawi dan 6 lontong pesanan Afkar. Mencium aroma soto betawi membuat Nara tidak sabar untuk segera menghabiskan makanan tersebut, dan benar saja Nara menghabiskan 4 buah lontong dan 2 porsi soto betawi. Afkar memperhatikan Nara yang sangat lahab menghabiskan lontong soto betawi hingga kuahnya tak tersisa sedikit pun.
“ sayang.... lapar atau masih jengkel sama mas? “ goda Afkar dan sukses membuat Nara mengerucutkan kedua bibirnya.
“ dua-duanya “ ucap Nara yang sudah berdiri dan membawa peralatan bekas makannya di tempat cuci piring.
“ sudah.... biar mas yang membersihkan mangkuk.... sayang “ ucap Afkar yang sudah mengikuti Nara dari belakang.
Kenyang dengan makan malam Nara duduk di sofa memperhatikan Afkar yang masih meletakkan peralatan makan mereka di mesin pencuci piring.
“ mas.... ayo cerita.... ini sudah selesai makan....” suara keras Nara yang merajuk.
Afkar melangkah mendekati Nara dan mengeluarkan ponselnya, memperlihatkan silsilah keluarga Rosenkrantz dari generasi pertama pendiri perusahan pertama Rosenkrantz group.
“ ini kakek cilawangi dan nenek cilawangi Rosenkrantz mas dari kakek Erhan, mereka ini yang pertama kali mendirikan Rosenkrantz group. Usaha yang mereka buat pertama kali adalah penangkapan ikan di lepas pantai, kemudian karena semakin banyak yang menginginkan ikan hasil tangkapan kakek cilawangi mereka mulai membeli beberapa kapal penangkapan ikan dan memperkerjakan beberapa orang. Lambat laun usaha mereka berkembang dan mulai mencoba usaha baru di bidang kontruksi dan manufacturing. Menurut kakek Erhan sebenarnya mereka memiliki 2 anak laki-laki, tapi entah umur berapa anak yang kedua meninggal saat masih muda sehingga anak pertama yang meneruskan usaha mereka. Belajar dari pengalaman kedua orang tuanya kakek canggah Gunnvør memutuskan untuk membawa kedua anaknya kemana pun mereka pergi, kakek canggah Gunnvør dan nenek canggah Alice selalu membagi waktu mereka untuk mengajarkan banyak hal pada kedua anak mereka. “ jelas Afkar sambil memperlihatkan foto beberapa lukisan wajah kakek dan nenek buyutnya.
“ nanti kalau kita punya anak.... bagaimana kalau seperti kakek canggah Gunnvør dan nenek canggah Alice saja? “ tanya Nara sambil menyandarkan kepalanya di dada Afkar.
“ maksud sayang? Membawa anak-anak kita kemana pun kita pergi. “ Nara menganggukan kepala menjawab pertanyaan Afkar.
“ kalau begitu, mas harus bekerja lebih keras lagi.... untuk membeli 1 atau 2 private jet lagi... supaya kita semua bisa pergi bersama-sama “ ucap Afkar sambil mengacak-acak rambut Nara.
Nara mengacungkan ibu jarinya menyetujui ucapan Afkar.
__ADS_1
“ lanjut mas ceritanya.... semakin menarik “ pinta Nara membuat Afkar gemas dan mencubit pipi kiri Nara.
“ anak pertama mereka bernama Freya dan yang kedua Felix, kakek Erhan sendiri anak pertama dari nenek buyut Freya dan kakek buyut Omer Sadhat. Kakek buyut Omer Sadhat imigran dari Turki, mungkin karena kakek buyut orangnya sangat tekun dan ulet dalam bekerja akhirnya kakek canggah Gunnvør menikahkan dengan anaknya yang pertama. Maka dari itu nama belakang kakek Erhan bukan Rosenkrantz tapi Sadhat. “ Afkar berhenti sejenak melihat Nara memastikan bahwa kedua mata Nara masih terbuka.
“ lantas bagaimana dengan ketiga saudara sepupu mas yang itu? “ Afkar tersenyum mendengar pertanyaan Nara.
“ mereka memiliki nama belakang Rosenkrantz karena mereka keturunan dari kakek buyut Felix “ ucap Afkar sambil menunjukkan lukisan wajah kakek buyut Felix di ponselnya.
“ kakek buyut Felix mempunyai 3 anak laki-laki Edward, Edzard, dan Eilert. Tapi mereka semua hanya memiliki anak satu karena istri mereka waktu itu berprofesi sebagai model, mungkin banyak hal yang mereka pertimbangkan sehingga mereka memutuskan hanya memiliki anak satu saja. Kakek Edward memiliki anak bernama uncle Oswinn, kakek Edzard memiliki anak bernama uncle Jorg dan kakek Eilert memiliki anak bernama uncle Larson. “ mendengar kata Oswinn membuat Nara teringat akan 10% saham yang Afkar pernah tanyakan.
“ saham 10% yang mas cari itu miliki uncle Oswinn ini? “ Afkar tersenyum mendengar pertanyaan Nara.
“ iya.... “ jawab Afkar singkat.
“ wooooow.... jadi janin ini nanti akan menjadi generasi ke tujuh dari pendiri Rosenkrantz... “ ucap Nara tidak percaya.
Afkar tersenyum mendengar ucapan Nara dan membelai rambut panjang Nara.
“ lantas bagaimana dengan saudara sepupu mas.... apa mereka sudah ada yang memiliki anak? “ tanya Nara ingin tahu.
“ kalau untuk itu.... nanti saat pesta ulang tahun Rosenkrantz... sayang bisa melihat langsung “ ucap Afkar sambil mendorong pelan kepala Nara agar dapat mencium dahi Nara.
“ lalu kenapa orang-orang di rumah sakit tadi berbaris rapi saat mas keluar dari lift? Jangan-jangan rumah sakit tadi di bawah management Rosenkrantz group? “ tebakan Nara membuat Afkar tersenyum tipis.
__ADS_1
Afkar kembali memperlihatkan layar ponselnya memperlihatkan daftar nama perusahaan dan anak perusahaan yang berada di bawah Rosenkrantz group, Nara memperhatikan detail nama perusahaan dan anak perusahaan tersebut.
“ ini kenapa ada yang berwarna merah? Tunggu mas jangan jawab dulu.... ini pasti perusahaan yang mas akuisisi karena dana perusahan ini berasal dari kasus pencucian dana yang mas selidik.... dan perusahan ini belum sepenuhnya menjadi milik Rosenkrantz karena ada generasi ke enam yang menjadi pimpinan di Rosenkrantz yang belum menandatangani persetujuan itu. “ tebakan Nara sekali lagi benar dan membuat Afkar tersenyum lebar.
“ benar apa yang sayang katakan.... Kalle anak pertama dari uncle Oswinn belum menandatangani persetujuan itu.... mas sendiri tidak paham kenapa dia tidak mau menandatangani berkas itu. Padahal semua aset bergerak mau pun tidak sudah di bawah pengawasan pihak IFA. “ ucap Afkar sambil meletakkan ponselnya di meja.
Nara berdiri dari sofa dan melangkah masuk ke kamar, membuat Afkar melihatnya dengan heran.
“ dik.... adik tidak boleh nakal.... tidak boleh berantem di dalam sini.... harus rukun harus berbagi.... adik harus makan yang banyak.... karena adik generasi ke tujuh keluarga Rosenkrantz. “ ucap Nara sambil membelai perutnya yang masih terlihat rata membuat Afkar tersenyum heran.
Afkar berdiri dari sofa mengikuti Nara masuk ke kamar dan tak lupa Afkar membawa ponselnya. Melihat Nara sudah berbaring di ranjang dan meletakkan kedua tangan tepat di atas perut membuat Afkar tersenyum dan ikut naik ke ranjang.
Nara merubah posisi tidurnya menghadap Afkar dan menyentuh ujung hidung Afkar.
“ ternyata doa seorang ibu benar-benar menjadi kenyataan dengan jalan-NYA “ ucap Nara yang sudah menyentuh bibir bawah Afkar dengan jari telunjuk kiri.
Afkar menatap heran Nara dan mengerutkan kulit di antara kedua alisnya.
“ ibu dulu pernah bilang begini sama Nara, jadi anak yang baik nurut sama ibu sama kakak jangan bandel.... rajin sholat rajin belajar.... biar nanti dapat jodoh orang baik dari keluarga baik-baik.” Ucapan Nara berhenti mencoba mengingat-ingat kalimat yang pernah ibunya ucapkan.
Afkar terdiam menunggu kelanjutan dari ucapan Nara.
“ semoga kamu bisa menjadi penyambung ayah dan ibu dengan keluarga sahabat ayah..... waktu itu Nara tidak paham apa yang ibu bilang...... apa mungkin waktu itu ibu sudah melihat mas, tapi waktu mas sudah ada..... Nara belum ada.... bisa jadi belum di buat? “ mendengar ucapan Nara, Afkar memeluk Nara dan mengajaknya tidur karena sudah malam.
__ADS_1