
Afkar sengaja mematikan ponsel Nara karena hampir setiap menit Ubet mengirim pesan pada Nara, membuat Nara marah-marah tidak jelas dan tidur dengan membelakangi Afkar. Dengan sedikit memaksa akhirnya Afkar tidur dengan memeluk Nara dari belakang. Selepas Sholat Shubuh berjamaah dan murojaah selama kurang lebih tiga puluh menit, Nara membuka laptop Afkar mencoba menghubungi akun skype satya.
“sayang...... mau skype sama siapa pagi-pagi begini?” tanya Afkar yang sudah duduk di sebelah Nara.
“kak satya....” ucap Nara santai.
“sayang..... sekarang di Boston masih jam sepuluh malam...... memangnya malam ini 4beta tidak ada jadwal kompetisi?” tanya Afkar yang sudah mengambil alih laptop.
“tidak tahu.....” jawab Nara asal membuat Afkar gemas dan mencubit pipi kiri Nara.
“sayang mau bicara apa sama 4beta?” tanya Afkar sambil mengetik sesuatu di laptop.
“tidak ada.... “jawab Nara asal sambil berdiri dan melangkah ke kamar mandi.
“pasti ada yang sedang dia sembunyikan.” Gumam Afkar sambil melihat punggung Nara.
Selama lima belas menit Nara keluar dari kamar mandi hanya mengenakan bathrobe dan berganti dengan pakaian santai karena hari ini Nara malas ikut Afkar ke Kant Software. Seperti biasa pakaian santai Nara adalah kemeja Afkar, memang terkesan kebesaran seperti memakai daster tapi sangat membuat Nara nyaman.
“sayang..... makan pagi apa?” tanya Afkar mencoba merayu Nara yang masih terlihat pendiam.
__ADS_1
“terserah mas" jawab Nara singkat dan berjalan ke sofa duduk menatap langit pagi kota Istanbul dari balik kaca.
Afkar hanya bisa menghela nafas panjang melihat Nara yang sepertinya marah, sedangkan di pikiran Nara saat ini bagaimana menolak permintaan Ubet tapi sebelumnya Nara ingin mencari tahu bagaimana Ubet mendapatkan nomor Nara karena sepengetahuannya nama Ubet tidak ada dalam whatsapp group alumni wisuda angkatannya. Nara mencoba mengingat-ingat apakah di dalam whatsapp group ada yang mengenal Ubet dan dalam pikirannya saat ini hanya ingin menghubungi satya karena hanya satya saja yang berani mengancam Ubet.
“sayang...... “panggil Afkar pelan tapi yang di panggil tidak menjawab sama sekali karena sibuk dengan berbagai kemungkinan.
“sepertinya benar-benar marah.....” gumam Afkar.
Afkar mengetik sesuatu pada ponselnya dan duduk di samping Nara tanpa memulai pembicaraan apa pun, Afkar mengikuti arah pandang Nara yang menurutnya sedang menatap langit pagi kota Istanbul. Mereka hanya duduk dan diam, Afkar merasa kosong karena Nara hanya duduk dan diam tidak sekali pun bersikap manja seperti biasanya. Afkar menghela nafas panjang dan pelan-pelan mencoba meraih tangan kiri Nara yang sedari tadi di lipat di atas perut, Afkar berhasil menggenggam tangan Nara tapi pemilik tangan masih diam tak bersuara. berkali-kali Afkar mencium punggung tangan kiri Nara mencoba membuat Nara berbicara tapi tidak berhasil bahkan Afkar dengan sengaja sedikit membuka kain yang menutup bahu Nara dan menciumnya, tapi Nara masih tetap terdiam tak bersuara.
Afkar menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan kasar, Afkar tak bisa merayu Nara dan baru kali ini menghadapi Nara yang pendiam membuat Afkar frustasi dan segera mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang. Masih terlalu pagi untuk membeli sekotak coklat, tapi karena Murat adalah pemilik pabrik coklat terbesar ketiga di Turki jadi Afkar meminta Zehed untuk membawakan sekotak coklat untuk Nara. Tak menunggu lama kurang lebih tiga puluh menit Zehed sudah berada di depan pintu kamar membawa sekotak besar coklat berbagai rasa dan minuman coklat, Afkar berharap dengan coklat ini Nara mau berbicara.
“mas..... mas Afkar..... Nara mau coklat" ucap Nara terdengar sedikit manja membuat Afkar tersenyum bahagia karena strateginya berhasil.
Afkar dengan wajah berseri-seri memperlihatkan sekotak coklat dan dua gelas besar minuman coklat, tanpa menunggu Lama Nara segera mencium aroma coklat. Nara tersenyum mengambil segelas coklat hangat dan meminumnya sedikit.
“mmm...... enak..... “ ucap Nara dengan wajah berseri-seri.
Afkar duduk di depan Nara memperhatikan setiap gerakan yang Nara lakukan.
__ADS_1
“sayang kenapa tadi mendiamkan mas..... apa ada kata-kata mas yang membuat sayang marah? Sedih? Kalau sayang kangen ingin berbicara dengan 4beta..... mas akan hubungi slenderestmen” ucap Afkar yang sudah meraih laptopnya untuk menghubungi slenderestmen dengan skype.
“apa mungkin kak Remsio atau kak fartso yang memberi tahu nomor Nara" ucapan pelan Nara yang masih dapat di dengan Afkar membuat Afkar segera membatalkam sambungan skype ke slenderestmen.
“bisa jadi mereka...... mereka dulu juga panitia orientasi kampus sama seperti kak Ubet.” Ucapan pelan Nara sekali lagi membuat Afkar heran.
“jadi sayang mau bicara sama siapa? 4beta? Remsio atau Fartso?” tanya Afkar mencoba memancing Nara untuk lebih banyak bersuara.
“menurut mas siapa?” pertanyaan Nara membuat Afkar menghubungi jonathan meskipun sekarang di Jakarta pukul tiga pagi hari.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Afkar terhubung dengan Jonathan yang ternyata BlackShield sedang mengikuti kompetisi CTF online server Sydney, setelah berbicara beberapa menit akhirnya mereka sepakat untuk berbicara saat jeda kompetisi. Dan itu berarti tiga jam lagi Nara mereka baru bisa menghubungi Remsio juga fartso, Nara pelan-pelan mulai menceritakan alasan sebenarnya di balik dia tidak mau membantu Ubet. Afkar terkejut juga tidak percaya mendengar cerita Nara bukan hanya karena hampir membuat Nara tidak memiliki sahabat tapi karena ulah Ubet juga Nara mendapatkan fitnah dari rekan seangkatannya juga dari para senior panitia orientasi kampus. Nara tidak bisa melupakannya karena saat itu bertepatan dengan Fajrin sedang mengerjakan project Jaipur, kalau mengadu pada Marsha atau Melia bisa-bisa Ubet akan dihabisi oleh para pengawal Azkar yang selalu mengawasinya.
“mas jadi penasaran bagaimana sekarang Ubet melihat sayang.” Ucap Afkar semakin ingin tahu dan sedikit menggoda Nara
Ucapan Afkar sekali lagi membuat Nara kembali diam seperti sebelum ada coklat dan seketika membuat Afkar segera memeluknya, Afkar sadar apa yang di ucapkan menyinggung perasaan Nara.
“maaf..... maaf"ucap Afkar yang masih memeluk Nara dan mencium kepala Nara berkali-kali.
Selagi menunggu jeda waktu kompetisi mereka makan pagi seperti biasa, tepat pukul sepuluh waktu Istanbul Jonathan menghubungi Afkar dengan Remsio dan fartso yang sudah bersiap di depan laptop Jonathan. Tanpa basa-basi saat mendengar suara Remsio juga fartso, Nara segera menanyakan apakah mereka yang memberi nomor kontak Nara pada Ubet. Mereka bertiga hanya mendengar suara Nara tidak bisa melihat Nara karena Afkar hanya menghadapkan layar laptop tepat di hadapannya, sementara Nara membelakangi laptop. Meskipun pada awalnya mereka tidak mau memberi tahu yang sebenarnya dengan sedikit ancaman target kompetisi dari Afkar, pada akhirnya mereka mau menceritakan beberapa kemungkinan Ubet mendapatkan kontak Nara. Dan bisa di pastikan Ubet mendapatkan kontak Nara bukan dari mereka, karena mereka juga menentang apa yang dulu di lakukan Ubet pada Nara.
__ADS_1