
“ Alhamdulillah..... Selesai juga... tinggal menunggu keputusan juri “ ucap Nara pelan dan terdengar jelas bagi Afkar.
Nara bernafas lega karena keputusan juri yang menyatakan bahwa Neptunia memenangkan kompetisi ini dengan total point dua ribu empat ratus lima puluh lima atau delapan ratus di atas point pemain posisi kedua. Neptunia berhak mendapatkan hadiah senilai tiga puluh ribu euro, setelah keputusan juri Nara keluar dari server kompetisi dan beberapa menit kemudian di layar laptop muncul notifikasi bahwa ada sejumlah uang masuk ke dalam rekeningnya yang masih menggunakan rekening bank di Indonesia. Nara menekan notifikasi itu dan tersenyum getir karena dua kompetisi tanpa sepengetahuan dan dukungan Afkar. Nara mematikan laptop dan berdiri dari kursi melepas niqab hijab juga abaya meletakkannya di sandaran kursi yang tadi dia duduki. Dengan hanya mengenakan celana pendek yang menutupi bagian pangkal paha dan tank top racerback, Nara melangkah naik ke ranjang untuk merebahkan tubuhnya yang terasa lelah dan memejamkan kedua matanya yang terasa pedih. Nara masih tidak menyadari keberadaan Afkar yang sudah duduk di sofa karena lampu kamar sengaja Nara buat redup jadi sosok Afkar tidak dapat dia lihat dengan jelas apa lagi dengan kedua mata yang sudah berat.
Afkar memperhatikan setiap pergerakan Nara hingga Nara terlelap di balik selimut dengan posisi tubuh menghadap sisi ranjang yang kosong. Afkar menarik nafas panjang memijat tengkuknya yang terasa penat melihat apa yang sudah istrinya lakukan, tidak hanya itu saja. Afkar melihat wajah dan tubuh istrinya yang sedikit terlihat tirus dan kurus bila di bandingkan saat mereka di Istanbul. Afkar duduk di sisi ranjang sambil membelai rambut hitam Nara, melihat keadaan istrinya yang sudah dua malam ini dia tinggalkan membuat dadanya terasa sakit seperti tertimpa sebuah beton bertulang.
Afkar melangkah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, beberapa menit kemudian Afkar keluar dalam keadaan sudah segar dan melangkah melewati Nara yang masih tertidur pulas. Mencium dahi Nara yang tertutup anak rambut untuk sesaat dan berganti pakaian, sebelum keluar kamar Afkar membetulkan selimut yang menutupi tubuh Istrinya.
Lief yang melihat Afkar terlihat lebih segar segera berjalan cepat mendekat dan menyerahkan sebuah tablet untuk menunjukan beberapa file data. Afkar memijat pelan tengkuknya dan mengembuskan nafas dengan kasar.
“ ta med frokosten min på jobb (bawakan makan pagiku ke ruang kerja) “ ucap Afkar dengan suara dingin membuat Lief semakin menggigil mendengarnya.
“ Ja sir (baik tuan) “ ucap Lief dan melangkah ke dapur untuk mengambil makan pagi Afkar
Afkar kembali sibuk di ruang kerjanya tenggelam dengan permasalahan Rosenkrantz Group. Sementara Nara masih tertidur pulas melepaskan semua lelah pikiran hati tubuh juga mata.
Pukul satu lebih lima belas menit siang, Nara terbangun meregangkan seluruh badannya yang terasa kaku. Mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar dan hanya mendapati kekosongan, Nara menarik nafas panjang dan bangun.
“ kangen kakak “ ucap Nara pelan.
Nara bangun beranjak masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, matanya masih terasa pedih dan sedikit merah. Selepas membersihkan diri dan terasa lebih segar, Nara segera melaksanakan Sholat Dhuhur. Nara duduk sambil memakan beberapa batang coklat, buah anggur dan apel. Menulis sesuatu di sebuah kertas yang akan dia berikan pada Ines, Nara keluar kamar sudah rapi dengan abaya hijab juga niqab. Mengedarkan pandangan mencari Ines.
__ADS_1
“ is madam looking for me (apa nyonya mencari saya)? “ tanya Ines yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Nara.
“ can you buy this (bisakah kamu membelikan ini) “ tanpa banyak bicara Ines menganggukan kepala dan segera keluar rumah.
Saat Nara hendak kembali masuk ke kamar, pintu ruang kerja Afkar terbuka dan terlihat Lief keluar membawa satu nampan sisa makan siang Afkar.
“ good afternoon madam, do you want to meet master (selamat siang nyonya, apa nyonya ingin menemui tuan?) “ tanya Lief pada Nara yang masih memandangi pintu ruang kerja.
“ can I meet my husband for a moment (bisakah aku bertemu mas Afkar sebentar)? “ pertanyaan Nara cukup membuat Lief bingung.
“ sure (silahkan) “ ucap Lief sambil menggeser sedikit posisi berdirinya dan menundukkan kepala saat Nara melewatinya.
Saat sudah berada di depan pintu terdengar jelas suara Afkar yang sedang berbicara serius dengan seseorang, Nara mencoba memberanikan diri untuk membuka pintu pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara. Saat pintu terbuka Nara mendapati Afkar yang semakin terdengar serius dan sedikit geram dengan seseorang di ujung sambungan telepon.
Nara menutup kembali pintu ruang kerja dan berbalik melangkah masuk ke kamar.
“ did madam not come to meet master (apa nyonya tidak jadi menemui tuan)? “ tanya Lief heran.
“ later when he's not busy (nanti saja kalau sudah tidak sibuk) “ ucap Nara dan kembali masuk kamar.
Nara merebahkan kembali tubuhnya tanpa melepas niqab hijab juga abayanya, beberapa menit kemudian Nara tertidur kembali.
__ADS_1
Lief masuk ke ruang kerja dan Afkar masih berbicara dengan seseorang.
“ beklager herr ..... fru er våken (maaf tuan..... nyonya sudah bangun) “ ucap Lief singkat dan sudah cukup membuat Afkar segera beranjak keluar menuju kamarnya.
Afkar berjalan pelan mendekati ranjang melihat istrinya yang tertidur dengan masih mengenakan niqab membuatnya merasa sedih. pelan-pelan Afkar melepas niqab hijab juga abaya, berusaha agar Nara tidak terbangun. Seketika Afkar terkejut melihat tubuh Nara yang benar-benar terlihat lebih kurus hingga terlihat jelas tulang selangka. Afkar membelai kedua tulang selangka bergantian, tak terasa kedua matanya terasa pedih. buru-buru Afkar memejamkan matanya menahan agar air matanya tak jatuh.
Afkar melepas semua kain yang menutupi tubuhnya menyisahkan celana boxer dan berbaring di samping Nara. Memeluk erat tubuh Nara menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya, yang pada akhirnya Afkar ikut tertidur.
Satu jam setelah masuk waktu ashar, Nara terbangun dan merasakan ada sesuatu yang berat di atas perutnya. Nara melihat tangan kekar itu dan membelainya, merubah posisinya menghadap Afkar.
“ masalah apa yang membuat mas sampai lupa akan keberadaan Nara? “ gumam Nara dalam hati sambil memandangi wajah Afkar yang masih tertidur.
“ tidak bisakah mas berbagi semua itu dengan Nara? “ gumam Nara dalam hati sambil menyingkirkan anak rambut yang menutupi dahi.
“ Nara sedih melihat mas seperti ini? “ gumam Nara dalam hati dan membuat kedua matanya kembali pedih dengan tangan yang mencoba meraba bekas luka di dahi.
Jari jemari Nara membelai menyusuri dahi, hidung, pipi kiri, hingga berhenti di rahang kiri.
“ sudah puas melihat mas “ tiba-tiba suara berat Afkar membuat Nara terkejut dan menghentikan pergerakan jari telunjuknya.
“ mas.... Nara memang tidak tahu bagaimana mengurus sebuah perusahaan, tapi bisakah mas berbagi dengan Nara di setiap masalah yang mas hadapi? “ ucap Nara yang sudah menenggelamkan kepalanya di dada Afkar.
__ADS_1
Tak ada ucapan apa pun yang keluar dari mulut Afkar hanya kedua tangannya yang semakin erat memeluk tubuh istrinya.