
Selama makan malam Afkar tidak sekali pun mengizinkan Nara untuk duduk sendiri, Afkar menahannya agar tetap duduk di pangkuannya. Membuat Barra jengah melihat sikap Afkar.
“ Ra.... Afkar kamu apakan sampai jadi seperti ini? “ tanya Barra sambil berdiri dari kursi meja makan.
“ tidak tahu.... “ jawab Nara heran.
“ memang sih dia dulu sudah posesif tapi sekarang semakin parah.... “ ucap Barra sambil meraih peralatan bekas makan Nara juga Afkar.
“ sayang.... kita kesana saja.... jangan hiraukan kakak kamu ini.... dia belum merasakan nikmatnya sentuhan wanita halal “ ucap Afkar yang sudah mengangkat tubuh Nara seperti bayi.
“ dasar ice bear posesif “ gerutu Barra kesal.
Entah apa yang membuat Afkar bersikap berlebihan pada Nara.
“ Mas.... Nara bisa jalan sendiri. “ rengek Nara tapi Afkar tetap saja menggendongnya dan kembali mendudukan Nara di pangkuannya.
Barra dari dapur membawa irisan buah segar dan meletakkan di meja.
“ mas..... Nara tidur dulu..... mata Nara pedih “ ucap Nara sambil berdiri dari pangkuan Afkar dan segera melangkah masuk ke kamar.
Saat Afkar hendak menyusul Nara, tiba-tiba Barra menghentikan langkahnya dengan menahan tangan kiri Afkar. Membuat Afkar menatap Barra dengan heran.
“ duduk dulu.... ada yang mau aku bicarakan “ ucap Barra dengan tatapan mata serius.
Afkar kembali duduk di sofa dengan Barra.
“ ada apa sebenarnya? Sikap posesif kamu sangat berlebihan.... apa kamu cemburu padaku? Itu sangat tidak masuk akal.... tidak mungkin aku mau pun Nara memiliki rasa selain rasa yang sekarang ini. “ ucapan serius Barra membuat Afkar merebahkan punggungnya di sandaran sofa dengan kasar.
Afkar menatap langit-langit apartemen dan menyisir kasar rambutnya dengan tangan kanan, menarik nafas panjang mencoba menghilangkan sedikit rasa kuatir yang dia rasakan akhir-akhir ini.
__ADS_1
“ entahlah..... akhir-akhir ini aku merasakan ada sesuatu yang sangat sakit di sini..... “ ucapan Afkar terhenti dan menunjuk dadanya dengan jari telunjuk kiri.
“ seperti ada rasa sakit yang sangat dalam.... bila aku tidak melihatnya atau pun tidak ada di dekatnya.... aku sendiri bingung dengan rasa ini dan aku tidak tahu kenapa aku merasa begini. “ ucap Afkar serius.
Barra menatapnya dengan heran juga penuh pertanyaan.
“ apa sejak..... Fajrin kembali ke Jakarta? “ tanya Barra selidik.
Afkar menoleh melihat wajah Barra memastikan apakah Barra serius atau bercanda.
“ hmmm..... “ jawab Afkar singkat.
Barra terdiam mendengar jawaban Afkar dan beranjak dari dari sofa melangkah masuk ke kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun, membuat Afkar heran melihatnya.
“ ternyata tidak hanya Fajrin dan aku saja yang merasakan hal ini..... Afkar juga merasakannya..... semoga saja tidak terjadi sesuatu pada Nara.... “ gumam Barra dalam hati yang sudah masuk kamar dan berdiri di balik pintu kamarnya.
Afkar yang bingung melihat sikap Barra segera masuk ke kamar menyusul Nara, mendapati Nara yang sudah terlelap dalam dunia mimpi. Afkar melepas T-shirt dengan hanya mengenakan boxer naik ke ranjang dan memeluk erat tubuh Nara. Menyelipkan lengan kirinya di antara celah bantal dan leher, lengan kanannya merubah posisi Nara agar menghadapinya. Nara merasa ada yang merubah posisi tidurnya hanya menggeliat dan menempelkan wajahnya di dada dengan tangan kanan memeluk punggung Afkar.
Akhirnya Afkar ikut terlelap dengan memeluk tubuh Nara.
5 menit setelah masuk waktu Shubuh Nara terbangun dan mendapati punggungnya terasa kaku, saat Nara hendak meregangkan tubuhnya tangan kanan Afkar semakin memeluknya erat. Nara tersenyum mendapati Afkar yang meskipun tertidur tapi kulit di antara kedua alisnya berkerut. Nara menyentuhnya pelan.
“ tidur saja masih berkerut.... apa mas sedang memikirkan sesuatu? Apa mas memikirkan transaksi saham 10% itu? Mas tenang saja..... setelah kompetisi besok Nara akan mencari tahu dengan atau pun tanpa bantuan Fire eye.... “ gumam Nara dalam hati.
Nara menangkup pipi kanan Afkar dan menepuk pelan.
“ mas.... sudah Shubuh “ ucap Nara pelan membangunkan Afkar.
Afkar masih diam tidak merespon Nara, Nara mencoba mencium kecil bibir suaminya tapi saat memperpendek jarak pada bibirnya tiba-tiba Afkar menekan tengkuk Nara. Menahan bibir Nara agar bisa mencium lebih dalam memainkan lidahnya memaksa bibir Nara membuka dan membiarkan indera pengecap Afkar menyusuri gigi Nara. Untuk beberapa detik mereka saling berciuman dan saling membelitkan indera pengecap, saat Afkar melepas ciuman itu nafas Nara memburu.
__ADS_1
“ sholat Shubuh dulu. “ suara berat Afkar berhasil membuat kedua pipi Nara memerah.
Afkar segera masuk ke kamar mandi dan wudhu, Nara cemberut karena Afkar tiba-tiba mencium dan tiba-tiba melepas ciumannya.
Selepas Sholat Shubuh berjamaah dengan Afkar Nara memilih keluar kamar dan mencari sesuatu untuk dia masak, Afkar mengikuti kemana pun Nara melangkah. Bahkan saat Nara memotong beberapa lembar daging asap juga membersihkan kentang, Afkar memeluknya dari belakang dengan melingkarkan kedua tangannya di perut Nara.
“ kalau mas seperti ini mana bisa Nara buat stamppot “ protes Nara tapi Afkar mengabaikannya.
Pagi ini Nara membuat makan pagi stamppot seperti yang Fajrin pernah buat.
“ mas.... duduk sana saja.... biar Nara cepat selesai “ protes Nara dan melepas paksa pelukan Afkar.
Memaksa Afkar untuk duduk di kursi meja makan.
“ mas diam di sini “ ucap Nara dan menahan bahu Afkar yang hendak berdiri.
Afkar tersenyum melihat Nara cemberut, akhirnya Afkar mengalah dan diam duduk memperhatikan Nara yang sibuk membuat 6 stamppot di sebuah mangkuk berdiameter 10 centimeter. Tanpa mereka sadari, Barra memperhatikan Afkar yang kembali bersikap berlebihan pada Nara.
“ kapan rasa ini akan hilang.... ya ALLAH berikan Nara umur panjang, izinkan Nara menemani kami lebih lama lagi.... biarkan Nara dan Afkar menua bersama “ gumam Barra dalam hati yang masih memandangi Nara dan Afkar.
Barra melangkah dan duduk di kursi sebelah Afkar.
“ sepertinya ladybug tidak meninggalkan jejak lagi di leher Afkar “ goda Barra membuat Nara yang mendengarnya melihat Barra sesaat.
“ memangnya Nara serangga “ protes Nara membuat Barra tersenyum meringis.
“ kalau jejak ini sudah hilang.... pasti ada lagi. “ ucapan Afkar yang menurut Nara vulgar membuat Nara cemberut.
“ istri kalau sedang masak tidak boleh cemberut nanti makanannya tidak enak “ goda Barra membuat Nara meringis memperlihatkan gigi putihnya.
__ADS_1
Afkar dan Barra menggoda Nara karena sebenarnya mereka sedang berusaha menghilangkan atau mengabaikan suatu rasa yang aneh yang mereka berdua rasakan akhir-akhir ini. Sesekali Afkar memegang dadanya saat melihat Nara tersenyum merespon candaannya juga candaan Barra, Barra sendiri berusaha membuat dirinya tersenyum atau menahan tawa saat melihat wajah cemberut Nara yang menggembungkan kedua pipinya.