NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 81 OSLO TRIP (3)


__ADS_3

Setelah selesai melakukan pembayaran mereka segera keluar dari restauran dan berjalan kaki menuju rumah opera Oslo yang berjarak lima belas menit dari restauran. Sepanjang perjalanan mata Fajrin tak lepas dari berbagai arsitektur bangunan yang mereka lewati dan sesekali memutar badannya ke belakang serta berjalan mundur. Fajrin melakukan ini untuk melihat sosok yang dia curigai apakah masih mengikuti mereka atau tidak dan dugaan Fajrin benar, sosok itu masih mengikuti mereka tapi tidak berani bertindak lebih karena empat pengawal selalu berjalan di belakang mereka.


Sampai di area pelataran operahuset Oslo, Fajrin mengeluarkan ponselnya dan mulai mendokumentasi setiap sudut luar bangunan operahuset. Bangunan ini merupakan rumah Opera yang di fungsikan sebagai tempat pertunjukan opera balet dan teater nasional di Norwey, terletak di lingkungan Bjørvika pusat kota Oslo sisi ujung Oslofjord. Operahuset dikelola oleh Statsbygg lembaga pemerintah yang mengelola semua bangunan milik pemerintah Norwey. Struktur bangunan berisi 1.100 kamar dengan luas total 49.000 meter persegi, auditorium utama menampung 1.364 pengunjung dan dua ruang pertunjukan lainnya dapat menampung 200 dan 400 pengunjung. Panggung utama memiliki lebar 16 meter dan panjang 40 meter. Sisi luar bangunan yang miring ditutupi dengan marmer dari Carrara Italia dan granit putih yang membuatnya tampak naik dari permukaan air.


Operahuset adalah bangunan budaya terbesar yang dibangun di Norwey sejak Nidarosdomen selesai dibangun sekitar tahun 1300.


Fajrin mengagumi setiap sudut bangunan dan tak henti-hentinya mendokumentasi apa saja yang membuatnya menarik.


“ han er en arkitektur, så han blir lett hypnotisert av merkelig arkitektur som dette (dia seorang arsitektur, jadi dia akan sangat mudah terhipnotis dengan arsitektur yang aneh seperti ini) “ jelas Barra pada Zarya yang duduk di deretan bangku ruang tunggu.


Sementara Fajrin sudah menarik Nara untuk selalu mengikutinya dan menjadikan Nara sebagai pengambil foto bila Fajrin ingin tampil di salahs satu sudut bangunan yang menurutnya unik, dan tentunya Ines juga empat pengawal selalu mengikuti langkah Nara.


Fajrin menengadahkan kepalanya menatap langit langit bangunan operahuset. Atap bangunan miring ke permukaan tanah, menciptakan alun-alun besar yang mengundang pejalan kaki untuk berjalan dan menikmati pemandangan Oslo yang indah. Menara panggung dilapisi aluminium putih, hasil karya desain Løvaas dan Wagle yang membangkitkan pola tenun lama. Lobi yang dikelilingi jendela setinggi 15 meter dengan bingkai minimal dan kaca khusus yang memungkinkan pemandangan air secara maksimal. Atap yang ditopang oleh tiang-tiang bersudut tipis didesain agar tidak mengganggu pemandangan. Permukaan interior dilapisi kayu elk untuk memberi kesan kehangatan pada ruangan yang kontras dengan kesejukan eksterior putih. Auditorium utama berbentuk tapal kuda dan yang di terangi oleh lampu gantung oval berisi 5.800 kristal buatan tangan.


Kursi termasuk monitor untuk sistem libretto elektronik, memungkinkan penonton untuk mengikuti opera libretti dalam bahasa Norsk dan bahasa Inggris.


Puas menikmati keunikan struktur bangunan operahuset, Fajrin menarik Nara untuk menuju tempat Zarya dan Barra duduk menunggu mereka.

__ADS_1


“ sekarang mau kemana lagi? “ pertanyaam Barra yang terkesan menantang Fajrin.


Tentu saja Fajrin senang mendengar pertanyaan Barra dan menunjukan layar ponselnya pada Barra.


“ kamu yakin membawa Nara kesini? yakin dia tidak akan panas dingin? “ tanya Barra meyakinkan Fajrin.


“ ada hal yang ingin aku ajarkan pada dia “ ucap Fajrin sambil mengendipkan kelopak mata kirinya.


“ la oss gå tilbake til bilen og dra til Vigeland park (baiklah kita kembali ke mobil dan menuju taman Vigeland) “ ucap Barra sambil mendorong pelan bahu Zarya yang sudah berdiri di samping Nara.


Mereka kembali ke area parkir mobil dan menuju taman Vigeland yang berjarak sepuluh menit dari area parkir mobil mereka. Sampai di area parkir taman Vigeland, Nara cukup terkejut dengan tujuan ini karena taman ini menampilkan patung manusia tanpa pakaian.


“ kita lihat dulu kedalam jangan berpikir yang aneh-aneh dulu “ ucap Fajrin yang sudah menarik tangan Nara untuk turun dari mobil.


Dengan berjalan kaki mereka menuju taman Forgner dan melihat monolith Vigeland. Taman Forgner adalah sebuah taman umum yang terletak di wilayah West End Frogner Oslo, sejarah taman ini merupakan bagian dari Frogner Manor rumah bangsawan yang terletak di selatan taman. Baik taman dan seluruh wilayah Frogner maupun Frognerseteren mendapatkan nama dari Frogner Manor.


Taman Frogner berisi patung permanen yang dibuat oleh Gustav Vigeland antara tahun 1924 dan 1943, terdiri dari patung serta struktur yang lebih besar seperti jembatan dan air mancur. Pada awalnya susunan pahatan patung di Vigeland di sebut dengan taman Tørtberg terletak di pusat taman Frogner.

__ADS_1


Area patung di Frogner Park seluas 80 hektar menampilkan 212 patung perunggu dan granit, semuanya dirancang oleh Gustav Vigeland. Jembatan sepanjang 100 meter ini menghubungkan pintu utama dengan air mancur. Ada berbagai macam patung yang menggambarkan sifat emosional manusia menghiasi area jembatan ini. Dari puluhan patung pahat yang ada di jembatan ini, patung Sinnataggen atau The Angry Boy yang paling terkenal. Fajrin sangat menikmati patung-patung tersebut tapi ada kalanya Fajrin menggoda Nara dengan menunjukkan patung beberapa anak kecil yang bermain dengan patung dewasa. Di ujung jembatan terdapat taman bermain Anak dan kumpulan delapan patung perunggu yang menampilkan anak-anak sedang bermain.


“ kak.... Nara ingin cepat hamil lagi “ ucapan Nara membuat Fajrin berhenti mendokumentasikan apa saja yang dia lihat.


Fajrin berjalan mendekati Nara dan memeluknya erat.


“ berusahalah.... kakak yakin kalian akan secepatnya memiliki anak “ ucap Fajrin yang masih memeluk Nara erat.


Fajrin mengurai pelukkannya dan menggenggam tangan Nara mengajaknya berjalan menuju taman monolith, merupakan monumen yang paling tinggi di taman patung Vigeland. Monumen yang tingginya mencapai 17 meter dihiasi 121 ukiran granit berbentuk manusia, pria dan wanita dari berbagai usia yang saling bertumpuk satu sama lain. Untuk bagian puncaknya dihiasi ukiran berbentuk anak-anak. Monolith mengintepretasikan kebangkitan.


Sesekali Fajrin melihat ke belakang memastikan kecurigaannya pada sosok yang dia lihat di toko buku tadi.


“ dia masih mengikuti “ gumam Fajrin sambil berpura-pura mengambil foto Nara sambil berjalan.


Sampai disebuah air mancur dengan enam patung yang mengelilingi air mancur sebagai simbol kehidupan. patung dari perunggu menceritakan siklus kehidupan manusia mulai dari awal kehidupan hingga kematian. Semua patung yang ada di taman patung Vigeland ditampilkan tidak berpakaian. Sang Seniman beranggapan agar patung tersebut tetap abadi, tak lekang oleh zaman. Karena pakaian dapat menggambarkan sebuah masa atau zaman.


Puas dengan perjalanan hari ini, mereka beristirahat di sebuah restauran yang tepat berada di depan taman. Fajrin sengaja mengajak mereka mengambil duduk di meja luar karena Fajrin ingin memperhatikan sosok yang dia curigai. Benar saja sosok itu mengikuti mereka meskipum jarak mereka cukup jauh tapi masih dapat Fajrin lihat dengan jelas.

__ADS_1


Fajrin berjalan mendekati Ines yang berdiri dengan empat pengawal, entah apa yang Fajrin ucapkan tapi saat Ines menyampaikan ucapan Fajrin pada empat pengawal itu. Salah seorang pengawal segera menghubungi seseorang rekannya.


__ADS_2