
Afkar menepati janjinya menemani Nara makan pagi hingga Nara selesai makan, Afkar memasukkan laptop ke dalam tas dan memakai coat hitam setinggi paha membuatnya terlihat sangat gagah dan menawan. Nara masih bergelayut manja di tangan kiri Afkar, serasa tidak mau di tinggal membuat Afkar sedikit bingung dengan sikap manja Nara yang tidak seperti biasanya. Memang Nara akan selalu bermanja-manja dengan Afkar tapi tidak seperti pagi ini.
“mas..... jangan lama-lama ya..... lepas Magrib pulang ya....” ucap Nara dengan manja sambil menggoyang-goyangkan lengan kiri Afkar.
“mas usahakan sayang....” ucap Afkar sambil membelai kepala Nara.
Nara mulai cemberut dan kedua matanya mulai berkaca-kaca seperti mau menangis, Afkar menarik nafas panjang melihat tingkah Nara yang amat sangat manja.
“mas janji.... besok kita naik kapal pesiar Bosphorus dari selepas Ashar sampai malam kalau sayang mau sekalian kita semalaman di kapal pesiar...” bujuk Afkar supaya Nara melepaskan pelukkannya pada lengan kiri Afkar.
“Nara maunya hari ini.... mas temani Nara seharian “ ucap Nara yang sudah merajuk dan mulai meneteskan air mata.
Tanpa menjawab ucapan Nara, Afkar segera memeluk erat tubuh Nara dan menenggelamkan wajah Nara di dada bidangnya membuat tangis Nara pecah. Afkar menarik nafas panjang dan berkali-kali mencium puncak kepala Nara mencoba menenangkan tangisnya. Nara menggenggam erat kemeja dan coat Afkar seperti tak mau melepaskannya.
“besok seharian mas akan temani sayang kemana pun sayang mau jalan-jalan...... hari ini mas harus menyelesaikan sedikit masalah” rayu Afkar dan membuat Nara semakin menangis.
“sayang..... jangan menangis..... “ucap Afkar sedih dan semakin erat memeluk Nara.
tiba-tiba ponselnya berbunyi dan menampilkan sebuah nama, Afkar melihatnya sesaat dan memandang Nara berharap Nara akan tenang.
“sayang..... sehari ini saja...... ini salah satu tim develops sudah menghubungi mas..... mereka jauh-jauh dari jakarta demi membantu mas dan uncle murat” ucap Afkar berusaha membujuk Nara sambil memperlihatkan layar ponselnya.
Afkar menerima panggilan itu.
“Assalamu'allaikum, apa kalian sudah menemukan pelakunya?” tanya Afkar dan terdengar jelas oleh Nara karena Afkar berbicara dengan bahasa Indonesia.
“.....”
“hanya celahnya? Bukan pelakunya?”tanya Afkar yang terdengar sedikit kecewa.
__ADS_1
“.....”
“aku usahakan lima belas menit lagi sampai, Assalamu'allaikum” ucap Afkar dan menutup panggilan.
Tangis Nara mulai reda sejak mendengar kata celah dan pelaku yang Afkar ucapkan, meskipun Nara tidak sepenuhnya memahami maksud pembicaraan Afkar tapi Nara memiliki dugaan sendiri tentang masalah yang saat ini Afkar hadapi.
Afkar menangkup kedua pipi Nara memandangi wajah sayu istrinya dan membersihkan sisa-sia air mata di pipi Nara dengan ibu jarinya.
“sayang...... mas kerja dulu ya...... kalau mau tidak pergi kerja..... kasihan para staff, mereka sudah meninggalkan keluarga untuk bekerja tapi mas tidak bekerja hanya diam disini. Mas harus bekerja supaya sayang..... juga keluarga para staff bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik.” Jelas Afkar yang masih menatap Nara.
Tanpa mengatakan apa-apa Nara melepaskan genggaman tangannya pada kemeja dan coat Afkar.
“mas janji.... besok, mas akan temani sayang kemana pun sayang mau jalan-jalan.” Ucap Afkar sekali lagi meyakinkan Nara sambil mencium puncak kepala, dahi, kedua pipi, dan sedikit lama mencium bibir Nara.
Meskipun berat melepas Afkar pergi tapi Nara juga tidak boleh egois kalau apa yang Afkar kerjakan menyangkut hajat hidup seluruh staffnya.
“kalau sayang bosan di kamar..... pergi saja ke cafe melodi yang kemarin sayang kunjungi..... cafe itu milik aunty Felissa" bisik Afkar membuat Nara membulatkan kedua matanya terkejut.
Nara hanya melihatnya tidak berani menerima.
“ini bukan kartu kredit...... sayang pakai ini untuk ambil uang cash di mesin ATM dekat cafe melodi..... mas paham sayang tidak mau menggunakan kartu kredit..... ambillah" ucap Afkar sekali lagi mencoba meyakinkan Nara.
Afkar melangkah mendekati pintu kamar dan membukanya, saat Afkar hendak menutup pintu kamar dia teringat akan sesuatu.
“sayang..... pin kartu itu enam digit tanggal lahir sayang.....Assalamu'allaikum” salam Afkar dan segera menutup pintu kamar.
Nara termenung duduk di sofa seperti sedang memikirkan sesuatu, Nara mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Assalamu'allaikum, half past two..... can we meet at that cafe like yesterday (nanti jam setengah dua..... bisakah kita bertemu di cafe yang kemarin)?” tanya Nara dengan suara sedikit berhati-hati.
__ADS_1
“......”
"no, my knees and heels still hurt when I walk..... accompany me to eat chocolate again and can you bring a laptop (tidak, lutut dan tumitku masih sakit kalau di pakai jalan..... temani aku makan coklat lagi dan bisakah kamu membawa laptop)?” pinta Nara membuat Marius terdiam.
“Marius..... do you hear me (apa kamu mendengarku)?”tanya Nara memanggil Marius.
“......”
“ thank's (terima kasih) Assalamu'allaikum” salam Nara dan memutus panggilan setelah mendengar salam Marius.
Nara mengetik sesuatu pada ponselnya dan mencari sesuatu yang menurutnya bisa dia lakukan untuk membantu Afkar tapi tentu saja tanpa sepengetahuan Afkar.
“Kant Software...... nama perusahaannya, Apa aku tanya mas Afkar saja....... sebaiknya jangan nanti mas curiga aku mau melakukan sesuatu" gumam Nara sambil memasukkan permen coklat ke dalam mulutnya.
“pasti tentang game....... aku coba cari tahu saja..... apa game terbaru saat ini dan game apa yang paling di gemari saat ini.” Gumam Nara yang sudah memegang ponselnya dengan tangan kiri dan tangan kanan masih sibuk memasukkan permen coklat satu per satu ke mulutnya.
“dari sepuluh game yang paling populer dan banyak pemainnya hanya tiga game ini yang dalam satu minggu ini baru di lunching.....” gumam Nara dengan tangan kirinya mengetik sesuatu untuk mencari tahu develop ketiga game tersebut.
“game apa ini..... banyak sekali leak-nya..... siapa ini develop-nya" gumam Nara dengan jengkel karena sekalinya mencoba download salah satu dari ketiga game tersebut ternyata banyak worm yang masuk ke ponselnya.
“tekan ini tekan ini..... shutdown sajalah" gumam Nara sambil mematikan ponselnya secara hard reset.
“game jelek begini banyak pemainnya..... apa bagusnya..... semoga saja ponsel ini tidak rusak..... kalau rusak....... bilang apa ke mas Afkar" gumam Nara sambil berharap semoga ponselnya tidak ada masalah yang berarti.
Setelah menunggu beberapa menit, Nara mencoba mengaktifkan kembali ponselnya dan menekan beberapa tombol serta mengatur ulang ponsel dengan bahasa inggris. Nara mengamati software ponsel mulai dari versi knox, kernel hingga versi androidnya.
“lo..... kenapa versi kernel dan knox jadi downgrade..... open source licences.....” gumam Nara berpikir sesaat.
“ini kenapa ada file baru masuk direktori root.....? kalau file ini aku hapus..... seharusnya tidak akan ada masalah dengan ponsel ini" gumam Nara sedikit ragu untuk menghapus file yang di maksud.
__ADS_1
“nanti sajalah....... kalau sudah ada laptop Marius..... yang penting sekarang masih bisa di pakai untuk telepon.” Gumam Nara sambil meletakkan ponselnya di sembarang tempat.
Nara menghabiskan waktu di dalam kamar dengan murojaah dengan sesekali memakan coklat hingga menjelang adzan Dhuhur. Selepas Dhuhur Nara bersiap-siap untuk keluar bertemu dengan Marius dan Morten di cafe melodi.