
“henüz değil efendim..... sadece seviye beş nokta üç (belum pak..... baru level lima point tiga)" ucap Ubet pelan dan tertunduk malu bahwa jumlah level permainan dapat dengan mudah Afkar tebak.
“Zehed... oyunu durdur (Zehed.... hentikan permainan).” Ucap Afkar tegas membuat semua tim ubet berdiri tegak dan melihat Afkar.
“Zehed......” ucap Afkar sekali lagi sambil menepuk bahu kanan Zehed.
Seketika Zehed melepaskan genggaman tangannya dari joystik.
“hepiniz buraya laptoplarınızı ve joysticklerinizi getirin... bu oyunu aynı anda test edeceksiniz..... ve ekranda meydana gelen her değişikliği onların laptop ekranlarında fark edeceksiniz. (kalian semua bawa kemari laptop dan joystik kalian.... kalian akan menguji game ini dalam waktu bersamaan..... dan kamu perhatikan setiap perubahan yang terjadi pada tampilan di layar laptop mereka semua)" ucapan tegas Afkar membuat kelima tim Ubet segera melangkah keluar ruangan untuk mengambil laptop dan joystik.
Beberapa menit kemudian mereka sudah kembali masuk ke ruangan dan mulai memainkan game tersebut. Ubet mengamati setiap perubahan yang terjadi terlihat jelas kulit diantara kedua alisnya berkerut, terkadang Ubet memijat pelipisnya bergantian. Karena sepertinya dia melewatkan sesuatu yang dia sendiri belum ingat apa yang sudah dia lewatkan dalam scriptnya.
Sementara Nara masih mempelajari beberapa baris script sambil meminum air rebusan kacang hijau yang berada di meja kerja Afkar, Nara sudah berpindah tempat duduk yang semula di sofa sekarang sudah duduk di kursi kebesaran Afkar.
“mas..... kenapa jadi multiplayer..... ini mas mau menguji Nara apa menguji game?” ucap Nara kesal.
“sayang tahu.... ada berapa pemain?” bisik Afkar sambil berpura-pura menutup mulutnya dengan tangan kanan.
“ada..... enam pemain dan mereka semua bermain sendiri-sendiri..... baiklah kalau mas mau menguji Nara juga..... kalau begitu Nara akan tambah ini, ini, ini..... juga ini..... sekarang apa yang terjadi?” tanya Nara sambil menghabiskan setengah gelas air kacang hijau.
Afkar tersenyum tipis melihat ke enam layar laptop para penguji game yang berubah dalam waktu hampir bersamaan dan menampilkan gambar yang berbeda membuat mereka kebingungan begitu juga dengan Ubet.
__ADS_1
“Oyununuzun zayıf yönlerinin neler olduğu aklınızdan geçti mi (apa sudah terlintas di otak kamu apa kelemahan dari game kamu)?” tanya Afkar sambil berjalan mendekati Ubet.
Tubuh Ubet terasa kaku dan dingin, dia bingung mau menjawab apa karena dia baru ingat apa kelemahan dari game buatannya yaitu sistem keamanan game yang belum dia perbaiki.
“zaten efendim (sudah pak)" jawab Ubet singkat.
“Anma (sebutkan)" ucap Afkar tegas membuat kelima tubuh tim Ubet menegang karena gugup.
“Oyunun güvenlik sistemini düzeltmedim ve sonuç olarak oyun birkaç kez oyuncunun kontrolü dışında değişti (saya belum memperbaiki sistem keamanan game dan akibatnya tadi beberapa kali game mengalami perubahan di luar kendali pemain).” Ucap Ubet tertunduk.
“Bu oyunun zorluk seviyesini düzelttiğiniz gibi bu oyunun güvenlik sistemini bir gecede düzeltebilir misiniz (apa kamu bisa memperbaiki sistem keamanan game ini dalam satu malam seperti kamu memperbaiki tingkat kesulitan game ini)?” pertanyaan Afkar membuat Ubet bingung bagaimana menjawabnya.
“neden üç gün (kenapa tiga hari)?” ucap Afkar yang sudah berjalan kembali ke kursi tempatnya duduk.
Dengan sedikit takut Ubet berusaha menjawab pertanyaan Afkar membuat Zehed dan yang lainnya bingung dengan sikap Ubet yang terlihat jelas takut juga gugup.
“ben mi (saya).....” ucapan Ubet terhenti membuat semua orang melihatnya dengan heran dan bertanya-tanya.
“ağ güvenlik sistemleri veya oyunlar hakkında fazla bir şey bilmiyor musunuz (apa kamu...... kurang menguasai sistem keamanan jaringan atau pun game)?” tebakan Afkar sukses membuat tubuh Ubet semakin tegang dan kaku karena baru kali ini ada orang yang dapat menebak kelemahannya dalam satu kali tebakan.
Ubet diam tertunduk tidak bisa berkata-kata karena memang dia tidak begitu menguasai sistem keamanan game mau pun sistem keamanan jaringan, bertolak belakang dengan Nara dia tidak menguasai permodelan algoritma bila berhubungan dengan program pembuatan game bergenre petualangan, pertarungan, strategi mau pun simulasi. Nara hanya menguasai permodelan algoritma game bergenre idle saja.
__ADS_1
“tahminim doğru gibi..... oyun güvenlik sistemine pek aşina değilsiniz..... bu oyunu bu hafta sonu başlatırsak çok riskli olur eminim beyaz şapkalıların da dikkatini çekecektir bilgisayar korsanları veya siyah şapka korsanları bu oyunun zayıflığını aramak için .... ve bu olursa, yatırımcılar fonlarını geri çekecek ve hepiniz şu anda aldığınız tüm olanakları alamayacaksınız. Bu oyunun kolayca kontrolden çıkması için oyunun güvenlik sisteminin nerede eksik olduğunu bilen veya anlayan var mı (sepertinya tebakan saya benar..... kamu tidak begitu menguasai sistem keamanan game..... jika game ini kita luncurkan akhir pekan ini akan sangat beresiko dapat saya pastikan akan menarik perhatian para heacker white hat atau pun black hat untuk mencari-cari celah kelemahan game ini.... dan bila itu terjadi maka para investor akan menarik dana mereka dan kalian semua tidak akan bisa menerima semua fasilitas yang saat ini kalian terima. Apa di antara kalian ada yang bisa atau memahami di mana letak sistem keamanan game yang kurang sehingga game ini dapat dengan mudah tidak terkendali)?” ucapan tegas Afkar membuat semua orang tertunduk tak terkecuali Zehed.
“göze alamaz ya da ödeyemez... ya da oyunun güvenlik sistemini onarmaya cesaret edemez (tidak bisa atau tidak mampu.... atau tidak berani mencoba untuk memperbaiki sistem keamanan game)?” tanya Afkar dengan tegas membuat mereka semakin takut untuk membuat kesalahan berikutnya.
“bu oyunun güvenlik sistemini düzeltmen için sana üç gün veriyorum (baiklah aku beri kamu waktu tiga hari untuk memperbaiki sistem keamanan game ini).” Ucap Afkar sambil melangkah keluar dari ruang rapat.
Saat Afkar sudah keluar dari ruang rapat Zehed segera mengikutinya sambil membawa laptop dan joystiknya, sementara Ubet dan yang lainnya terduduk lemas mendengar semua ucapan tegas Afkar.
Nara duduk dengan meluruskan kedua kakinya yang mulai terasa kaku karena menggantung, tiba-tiba Afkar masuk dan segera menutup pintu kembali membuat Zehed tersentak dan tidak berani membuka pintu ruangan Afkar. Nara mengulas senyum manis membuat Afkar berjalan mendekatinya.
“hampir saja Zehed melihat wajah cantik sayang...... “ ucap Afkar sambil berlutut di samping kursi dan membelai perut Nara yang belum terlihat membesar.
“bagaimana mas.....” tanya Nara singkat.
“dia sudah paham apa kekurangan game buatannya...... sayang kenapa duduk disini?” ucap Afkar sambil mengangkat tubuh Nara dan mendudukkan di pangkuannya.
“kangen mas.....” ucap Nara manja sambil memeluk erat leher Afkar.
“baru juga beberapa jam mas tinggal sendiri..... itu pun masih satu gedung..... sudah kangen....?” ucap Afkar sambil membelai punggung Nara dengan tangan kirinya.
“tidak boleh kangen mas...... ya sudah kalau tidak boleh...” ucap Nara yang sudah melepas pelukkannya dan berusaha berdiri tapi Afkar berhasil menahan pinggang Nara untuk tetap duduk di pangkuan Afkar.
__ADS_1