NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 200 NOT VILE BUT NOT GOOD


__ADS_3

Afkar menutup program script Nara dan menyerahkan kembali tablet pada Lief, Afkar menjelaskan dengan detail pada Azkar apa yang sudah Nara lakukan pada akun Ditya juga pada saham Prakash Lohia. Meski pun tadi Azkar sudah mendengar apa jawab Nara tapi mendengar penjelasan Afkar bukan membuat Azkar geram pada Nara tapi semakin gemas.


“ Sayang... tolong tarik telinga Nara.... “ ucap Azkar pada Helen.


Nara sudah pasrah kalau Helen akan menarik telinganya, dan Nara semakin menempelkan kepalanya pada dada Afkar. Bukan menarik telinga Nara yang Helen lakukan tapi membelai punggung Nara.


“ apa kamu juga menyimpan rapat-rapat aib mereka semua? Dari mana kamu tahu itu aib mereka semua? “ pertanyaan halus Helen membuat Nara menatap Helen.


Nara mulai menceritakan bagaimana bisa mengetahui aib para keturunan keluarga Prakash Lohia, Afkar Azkar Helen juga Lief menatap Nara tidak percaya bahwa Nara mendapatkannya dari sebuah server pribadi beberapa orang yang selalu mengikuti gaya hidup keluarga Prakash Lohia.


“ apa kalau Ditya sudah meminta maaf.... akun dan pergerakan saham itu akan kembali normal? “ pertanyaan Afkar membuat Nara menggelengkan kepala.


“ kalau akun akan kembali normal tapi kalau aib tidak akan bisa tersebar ke publik selama om Davis tidak mengetahui kalau Nara menahan pergerakan saham mereka “ ucapan Nara sudah cukup membuat Afkar dan Azkar lega.


“ ya sudah..... tidak apa apa.... selama sayang tidak membuka aib mereka “ ucap Afkar sambil membelai punggung Nara.


“ tapi kalau dia mengucapkan kata saham..... secara otomatis aib mereka akan tersebar ke media dan harga saham mereka akan bergerak sesuai yang seharusnya “ Afkar dan Azkar seketika terkejut dan lemas mendengar ucapan Nara, karena apa yang akan Ditya ucapkan nanti tidak bisa mereka atur.


Dipta dan Ningsih kembali ke meja membuat Azkar dan Afkar harus bersikap normal. Sesaat kemudian pembawa acara meminta Nara dan Afkar untuk menuju panggung pelaminan karena Fajrin ingin mengambil foto mereka bersama. Nara dan Afkar pun melangkah menuju panggung pelaminan, seketika Nara tidak percaya siapa yang dia lihat.


“ mba Gendhis.... “ teriak Nara tertahan.


“ Gendhis....? “ ucap Afkar penuh tanya.


“ nanti Nara jelaskan “ ucap Nara yang sudah melangkah sedikit cepat agar bisa mendekati Gendhis.

__ADS_1


Saat Nara sudah mendekat, Fajrin segera menarik Afkar dan Nara untuk berfoto bersama Divya dan Gendhis.


“ mba Gendhis kapan datang.... Nara tidak melihat mba.... om mana? Kenapa mba datang sendiri? “ ucapan Nara membuat Fajrin gemas


“ nanti saja bicaranya sekarang kita buat foto dulu “ ucapan Fajrin membuat Nara dan Gendhis terdiam untuk sesaat.


Tapi setelah selesai berfoto, tangan kanan Nara menarik Afkar agar mengikutinya melangkah mengikuti Gendhis.


“ mba... ayo duduk sana “ ucap Nara memanggil Gendhis yang sepertinya menghindari seseorang.


Nara tidak tahu kenapa Gendhis terkesan buru-buru tapi Afkar melihat Gendhis seperti menghindari seseorang.


“ dia lagi “ gumam Afkar.


Nara berhasil meraih tangan Gendhis dan menariknya ke meja tempat Nara duduk, mau tak mau Gendhis mengikuti Nara dan akhirnya Gendhis duduk. Tapi baru saja Gendhis duduk, Johan sudah menarik kursi tepat di sebelah kanan Gendhis.


“ kenapa kalian melihatku seperti itu “ ucap Johan dengan santai merasa tak bersalah.


“ siapa yang mengundangmu kemari? “ tanya Azkar heran.


“ mereka mengundangku kemari “ ucap Johan sambil menunjuk ke arah pelaminan.


Afkar menarik nafas panjang melihat Gendhis merasa sangat tidak nyaman dengan keberadaan Johan.


“ Ra.... mba Gendhis pulang dulu ya..... papa di rumah sendirian..... tidak tenang rasanya meninggalkan papa terlalu lama sendirian “ ucap Gendhis berusaha melepas genggaman tangan Nara.

__ADS_1


“ om kenapa...... sakit....? “ belum selesai Nara bicara Afkar sudah memberi isyarat pada Nara agar tidak menahan kepergian Ghendis.


Merasa ada yang aneh Nara melepas tangan Gendhis, Gendhis pun beranjak pergi tapi saat Johan hendak berdiri menyusul Gendhis dnegan cepat Afkar dan Azkar memberinya tatapan dingin. Afkar dengan hanya satu isyarat tangan sudah membuat 2 orang pengawalnya menghentikan Johan yang sudah 2 langkah dari kursi, Johan mundur dan kembali duduk.


Dengan tatapan dingin penuh tanya membuat Johan akhirnya menyerah dan mengatakan kenapa dirinya mengikuti Gendhis, Azkar dan Afkar yang paham betul bagaimana wanita di sekitar Johan hanya bisa menahan tawa.


“ hahahahahaha..... “ tawa Azkar dan Afkar pecah.


Mereka berdua tidak mampu lagi menahan tawa, mendengar penjelasan Johan yang lebih terkesan bahwa Johan memiliki rasa tertarik pada Gendhis tapi Johan belum menyadari hal itu.


“ kalau suka ya di halalkan saja..... dari pada di dahului orang lain “ ucapan Nara yang asal membuat Johan mati kutu.


Afkar dan Azkar seketika kembali tertawa membuat Johan diam merasa bahwa kedua saudara Sadhat sedang mengejek dirinya.


Sementara di meja tepat di belakang Afkar dan Johan, ke empat saudara sepupu Divya juga Evan yang entah sejak kapan duduk di situ memperhatikan Afkar, Johan dan Nara.


Azkar, Afkar dan Johan berbincang-bincang banyak hal. Mulai dari bisnis Johan hingga rencananya yang harus segera kembali ke Oslo, Johan memanfaatkan keberadaan Afkar dan Nara untuk mendapatkan informasi tentang Gendhis. Tapi karena Nara tidak mengenal Johan dan tidak melihat keseriusan pada diri Johan tentang Gendhis, maka Nara hanya memberinya sedikit informasi tentang Gendhis.


“ ayolah.... kakak ipar..... bantulah aku.... apa kakak ipar tidak kasihan melihatku kesepian “ ucap Johan pura-pura memelas.


“ kalau mau serius ta'aruf “ ucapan Nara yang singkat padat dan jelas membuat Johan diam seketika.


Meski pun Johan baru 1 tahun kebelakang ini menjadi mualaf karena demi mendapatkan cinta wanita yang dia puja, tapi justru berakhir tragis. Wanita itu lebih memilih menikah dengan orang lain. Meski pun Johan belum sepenuhnya paham apa itu ta’aruf tapi mendengar kata ta'aruf berarti tidak lama dari itu dia harus melamar dan menikahi Gendhis. Johan belum siap melepas status lajang.


Afkar menepuk bahu Johan untuk menguatkannya.

__ADS_1


“ Vile women are for vile men, and vile men are for vile women; and good women are for good men, and good men are for good women. The good are innocent of what has been said against them; they will have forgiveness and a generous provision..... Qur'an sura 24 verse 26 (Wanita keji untuk pria keji, dan pria keji untuk wanita keji; dan wanita yang baik untuk pria yang baik, dan pria yang baik untuk wanita yang baik. Orang baik tidak bersalah atas apa yang telah dikatakan terhadap mereka; mereka akan mendapat ampunan dan rizki yang melimpah..... Al Qur'an surah 24 ayat 26) “ ucapan Afkar membuat Johan berpikir keras apa saja yang sudah dia lakukan selama ini pada wanita yang pernah dekat dengannya.


“ and I'm not a good man but I'm also not a vile man damn it..... you got my chest pierced by an invisible sword (dan aku bukan pria baik-baik tapi juga bukan pria keji..... sialan..... kau membuat dadaku tertusuk pedang tak kasat mata) “ ucap Johan kecewa.


__ADS_2