NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 66 KONTRAKSI


__ADS_3

Nara mulai bisa mengerti kenapa Afkar tidak mengizinkan dirinya membantu, selama Afkar tidak ada di rumah Nara menyibukkan diri dengan laptop dan ponselnya. Mengabaikan beberapa kali pesan dari Marius mau pun Morten, tapi Nara tidak lupa meminum obat dari dokter Mari. Nara sudah mulai ihklas dan tidak menangis lagi bila mengingat keadaan janinnya saat ini, Nara ingin fokus menyelesaikan masalah FP eiendom agar Afkar bisa secepatnya menyelesaikan masalah group Rosenkrantz.


Seharian menatap layar laptop membuat Nara lupa makan dan minum.


“ aku tidak bisa tenang kalau ini belum selesai “ gumam Nara yang semakin semangat mengetik.


Tempat pukul sembilan Nara selesai dan mematikan laptopnya, Nara mencoba mengisi perutnya yang kosong dengan makanan yang ada di lemari kecil tempat dia menyimpan makanan. Menghabiskan beberapa potong roti dan sereal juga meminum obat dari dokter Mari.


“ sudah lima butir aku minum ini “ ucap Nara sambil meraba perutnya.


Entah kenapa malam ini Nara ingin tidur tanpa memakai hipters dan hanya mengenakan kaos setinggi paha merebahkan dirinya di ranjang untuk melepas rasa penat.


Menjelang shubuh pukul dua lebih empat puluh delapan Nara terbangun karena merasakan perutnya yang terasa sakit, Nara tidak bisa membedakan perut sebelah mana yang sakit karena seluruh perutnya terasa sakit. Dengan berusaha menahan rasa sakit Nara turun dari ranjang masuk ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Selepas sholat Shubuh rasa sakit yang Nara rasakan tidak kunjung reda tapi semakin sakit membuat Nara tidak sanggup untuk berdiri dan memilih tidur di atas sajadah dengan posisi miring dan memeluk kedua lututnya untuk menahan rasa sakit di area perut yang tidak bisa dia tahan. Rasa yang teramat sakit yang belum pernah Nara rasakan sama sekali hingga membuat Nara menangis memanggil nama Afkar berkali-kali, tapi semua usahanya sia-sia karena rasa sakit itu semakin membuatnya menangis. Sekuat tenaga Nara meraih ponselnya dengan masih menangis menahan rasa sakit di area perut Nara mencoba menghubungi Afkar, tapi beberapa kali Nara mencoba menghubungi Afkar beberapa kali pula panggilannya masuk kotak suara. Nara sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakit di perut dan menekan nomor Fajrin, setelah menungu beberapa nada panggil akhirnya terhubung dan terdengar suara Fajrin.


“ Assalamu'allaikum dik “ salam Fajrin.


“ kak.... tolong Nara.... sakit sekali..... “ ucap Nara terbata-bata merasakan area perutnya yang semakin sakit dan memaksa dirinya untuk mengejan dengan kuat.


Satu buah janin tidak berkembang berukuran kurang lebih enam koma lima centimeter keluar di antara kedua kakinya. Nara mengabaikan suara Fajrin yang memanggilnya berkali-kali karena merasakan perutnya kembali sakit dan memaksa dirinya untuk sekali lagi mengejan mengeluarkan janin kedua yang tidak berkembang.


Dua gumpalan berukuran enam koma lima centimeter keluar dan darah segar mengalir di antara kedua kakinya, Nara lemas tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab panggilan Fajrin dan akhirnya Nara tidak sadarkan diri.


JAKARTA


Fajrin melangkah keluar dari kamar kecil karena baru selesai mandi, semalaman Fajrin tidak pulang karena harus menyelesaikan beberapa laporan. Melihat kedatangan Azkar dengan kedua orang tuanya juga Norin membuatnya tiba-tiba rindu akan Nara.


“ belum pulang? “ tanya Azkar sambil menepuk punggung Fajrin.


“ baru selesai.... nanti sore saja pulang “ ucap Fajrin sambil mengeluarkan ponselnya yang sedari tadi bergetar

__ADS_1


terlihat di layar ponsel nama adiknya.


“ sebentar bang.... Nara telepon “ ucap Fajrin sambil sedikit menjaga jarak dengan Azkar dan keluarganya.


“ Assalamu'allaikum dik “ salam Fajrin


“..... “ Fajrin terlihat bingung dan heran mendengar suara Nara yang terbata-bata seperti menahan rasa sakit.


tiba-tiba tubuh Fajrin menegang mendengar teriakan Nara.


“ dik.... adik... adik “ panggil Fajrin berkali-kali tapi tidak mendapat jawaban dari Nara dan hanya terdengar suara tangis, jeritan dan rintihan Nara yang merasakan sakit.


Fajrin mematikan ponselnya dan mencoba menghubungi Afkar tapi berkali-kali panggilannya masuk kotak suara sama seperti yang Nara terima, Fajrin menarik nafas panjang menghubungi Barra, tanpa Fajrin sadari Azkar dan keluarganya memperhatikan Fajrin dengan tatapan heran dan penuh pertanyaan.


“ .....“ Fajrin lega karena Barra segera menerima teleponnya.


“ Wa'alaikumsalam, tolong kamu ke rumah Afkar sekarang.... Nara baru saja meminta tolong padaku “ ucap Fajrin dengan cepat dan gugup juga kuatir bila terjadi sesuatu pada Nara.


“ kalau adik bersama Afkar tidak mungkin adik menelponku dan minta tolong “ suara keras Fajrin terdengar jelas oleh Azkar yang masih berdiri di depan lift sedangkan keluarganya masuk lift terlebih dahulu.


Fajrin menutup ponselnya dan berjalan cepat mendekati Azkar.


“ bang aku cuti beberapa hari.... aku mau lihat Nara “ ucap Fajrin dengan tangan bergetar.


“ ada apa dengan Nara? “ tanya Azkar heran.


“ mungkin janinnya keluar? “ ucap Fajrin singkat dan membuat Azkar terkejut.


Dengan cepat Azkar menarik lengan Fajrin masuk ke dalam lift.


“ lepas bang.... aku mau pulang.... aku harus pergi menemui adikku “ ucap Fajrin frustasi.

__ADS_1


Azkar menarik Fajrin hingga masuk ke ruangannya membuat kedua ornag tuanya dan Norin heran melihat mereka.


“ katakan apa yang tadi kamu ucapkan “ suara Azkar membuat kedua orang tuanya terkejut.


Fajrin dengan frustasi menarik nafas panjang.


“ dua atau tiga hari lalu adik mengirim pesan kalau kedua janinnya tidak berkembang dan tadi sepertinya kedua janinnya keluar... sekarang aku tidak bisa menghubunginya lagi.... Afkar tidak bisa aku hubungi tapi aku sudah minta Barra untuk kerumah Afkar. “ jelas Fajrin yang tubuhnya mulai lemas dan terduduk di lantai.


Azkar segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Afkar tapi mendapatkan kotak suara saja. Azkar mengirim pesan pada Afkar, Abba dan Norin juga melakukan hal yang sama seperti azkar lakukan.


“ jangan memberitahu kakek, jangan buat kakek sedih “ ucapan Freya menghentikan Azkar dan Norin mengetik sesuatu di ponselnya.


“ pergilah ke Oslo sekarang.... Nara butuh kakaknya.... maafkan Afkar maafkan kami yang tidak mampu menjaga Nara “ ucap Freya dan menarik tubuh Fajrin untuk berdiri.


Terlihat jelas kesedihan di wajah Fajrin, Azkar segera memanggil Roby yang baru saja datang membawa beberapa berkas.


“ siapkan Sundth Air untuk membawa Fajrin ke Oslo “ ucapan tegas Azkar membuat Roby dengan buru-buru meletakkan berkas di sembarang tempat.


“ bagaimana dengan visaku “ ucap Fajrin yang mulai menguatkan diri untuk melangkah


“ aku akan hubungi rekanku di kedutaan. Pergilah sekarang “ ucap Azkar sedih.


OSLO


Barra yang baru bangun tidur karena semalam dia tidur di dorm salah satu pemain, melihat ponselnya bergetar dan berkedip berkali-kali.


“ Assalamu'allaikum.... kenapa pagi-pagi menelponku.... apa kamu sudah kangen padaku? “ salam dan canda Barra semakin membuat Fajrin frustasi.


“ ..... “ mendengar suara Fajrin yang terdengar sangat gugup dan frustasi membuatnya bangkit dari ranjang dan berjalan ke balkon menikmati udara pagi kota Oslo


“ tenang, Nara pasti sedang bersama Afkar “ ucap Barra masih santai.

__ADS_1


“ .....“ suara keras Fajrin membuat Barra terkejut dan mulai berpikir Nara mengalami hal yang buruk


__ADS_2