
Nara terbangun tengah malam dengan badan yang terasa sakit semua, melihat jam dinding yang menunjukkan pukul satu lebih lima menit.
“ Astagfirullah, aku belum sholat Magrib dan Isya' “ gumam Nara terkejut dan segera berlari masuk ke kamar mandi untuk wudhu.
Setelah menjamak sholat Magrib dan Isya' Nara berjalan naik ke ranjang untuk merebahkan tubuhnya yang terasa pegal semua.
Menjelang shubuh pukul dua lebih empat puluh delapan menit Nara terbangun dan melihat sisi ranjang yang kosong, membuat menarik nafas panjang dan menyentuh sisi kosong tersebut.
“ mas Afkar tidak pulang lagi “ gumam Nara pelan dan sedih.
Nara meraih tas selempangnya dan mengeluarkan ponselnya melihat semua notifikasi bahwa semua pesan-pesannya sudah Afkar baca, dan Afkar hanya mengirim pesan singkat yang isinya membuat Nara malas untuk memikirkan maksud pesan itu. Nara berkali-kali mengucapkan kata “ ihklas “ untuk menenangkan diri menghadapi semua ini. Nara bangkit dan berjalan ke kamar mandi saat berada di depan pintu kamar mandi Nara melihat ponselnya berkedip beberapa kali dan Nara mengabaikannya, karena Nara ingin segera sholat Shubuh.
Selepas murojaah Nara duduk di sofa dan masih mengenakan mukena menatap laptopnya, Nara meraih ponselnya melihat pesan apa yang dia terima. Seketika Nara tersenyum senang karena mendapatkan email dari paprika2 yang mengatakan bahwa dia dan hkkiw0823 saat ini berada di Clovelly distrik Torridge daerah Inggris barat daya sedang mengunjungi kakek paprika2 dan mengatakan bahwa rumah kakeknya tidak ada jaringan internet. Nara membalas pesan itu dan tersenyum senang karena apa yang dia kuatirkan tidak terjadi pada paprika2 maupun hkkiw0823.
Nara membuka laptopnya untuk menghilangkan rasa sedih dengan ketidakhadiran Afkar juga rasa kuatir akan terjadi sesuatu pada Afkar. Nara melihat script yang dia tulis kemarin mulai bekerja dan menyimpan semua data yang parameternya sudah Nara tulis di dalam scriptnya. Tanpa Nara sadari karena terlalu fokus dengan laptopnya, pintu kamar terbuka dan Afkar melangkah masuk ke kamar mendapati Nara yang sangat serius menatap layar laptopnya.
Afkar segera duduk di samping Nara membuat Nara terkejut dan spontan menutup layar laptopnya.
“ Assalamu'allaikum “ salam Nara membuat Afkar curiga karena tidak biasanya Nara menutup laptop dengan cepat.
“ Wa'alaikumsalam “ balas Afkar sambil menyandarkan kepalanya di bahu Nara.
“ bagaimana kabar ini? “ tanya Afkar sambil meraba perut Nara.
Nara terdiam kaku tidak berani menjawab pertanyaan Afkar, Afkar merasa tenang mendapati keadaan Nara yang baik-baik saja, pelan-pelan Afkar tertidur di bahu Nara. Nara membelai pipi kiri Afkar dan mencium dahi Afkar, tak terasa kedua matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
“ maaf “ ucap Nara pelan sambil memejamkan mata menahan air matanya yang sudah menggenang di kelopak mata bawah agar tidak menetes ke pipi.
“ kenapa tidak bilang saja bahwa mas mengkuatirkan keselamatan Nara, kenapa harus seperti ini? Kenapa mas berusaha keras menyelesaikan semua masalah mas.... “ gumam Nara dalam hati dan masih mencium dahi Afkar.
“ apa gunanya Nara ada di sisi mas kalau mas masih menyelesai semua masalah sendiri “ gumam Nara sambil melirik laptopnya yang masih berkedip meskipun layar laptop sudah dia tutup.
Nara tidak berani membuka laptop kembali karena posisi Afkar masih bersandar di bahunya, pelan-pelan Nara merubah posisi Afkar meletakkan kepala Afkar di pangkuannya. Membelai memandangi wajah tampan suaminya membuat Nara melupakan kesedihannya untuk sesaat.
Afkar menggeliat merubah posisi kepalanya dan membenamkan di perut Nara, dada Nara semakin terasa sesak sekuat hati mencoba untuk tidak menangis. Nara tidak ingin keadaan janinnya menjadi beban pikiran Afkar mengingat Nara sudah mengetahui apa yang Afkar kerjakan hingga membuatnya pulang pagi.
“ izinkan Nara membantu mas..... “ gumam Nara dalam hati sambil membelai rambut Afkar yang mulai terlihat panjang.
Lampu laptopnya kembali berkedip begitu juga dengan ponselnya yang berkedip beberapa kali, tapi Nara masih menahan diri untuk tidak menyentuhnya.
Setelah dua jam dengan posisi seperti ini akhirnya Afkar terbangun dan menghirup dalam-dalam aroma perut Nara.
“ Nara belum mandi.... dari mana harum “ ucap Nara sambil membelai rambut Afkar.
Afkar masih saja merasa nyaman dengan posisinya dan semakin melingkarkan kedua tangannya di pinggang kiri Nara.
“ mas.... ijinkan Nara membantu mas Afkar “ ucap Nara pelan dan membuat Afkar berhenti menghirup aroma perut Nara.
Afkar bangun dari pangkuan Nara dan duduk di samping Nara.
“ apa yang sayang ketahui tentang masalah mas? “ suara berat Afkar membuat Nara takut dan tertunduk menatap laptopnya.
__ADS_1
“ FP eiendom “ ucap Nara pelan tapi terdengar jelas oleh Afkar.
Afkar melihat Nara yang tertunduk segera memeluknya erat dan mencium puncak kepala Nara berkali-kali.
“ maaf untuk masalah ini sampai kapan pun mas tidak akan mengijinkan sayang membantu mas..... mas akan selesaikan sendiri..... bertahanlah untuk beberapa hari kedepan “ ucap Afkar sambil memeluk erat Nara.
Jujur Nara kecewa mendengar ucapan Afkar yang tidak mengijinkan dirinya membantu menyelesaikan masalah yang Afkar hadapi, tapi dalam hati Nara berkata.
“ aku sudah mendapatkan semua bukti penggelapan mereka dan aku sudah memasang script untuk menyimpan data transaksi mereka “ gumam Nara dalam hati dan membalas pelukkan Afkar.
“ Nara akan membuka semua bukti-bukti itu bila mereka melakukan transaksi di melebihi satu juta euro dalam satu hari “ gumam Nara dalam hati.
Afkar melepas pelukkannya dan mencium kening Nara, Afkar melangkah masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Seperti biasa Afkar pulang hanya untuk membersihkan diri berganti pakaian dan makan sepotong roti. Nara menemani Afkar yang hanya memakan dua potong roti untuk makan paginya, Afkar mengeluarkan ponselnya dan membacanya sesaat.
“ pesan dari MathiasHammel “ ucap Afkar yang menyadari bahwa Nara ingin tahu siapa yang mengirim pesan.
Afkar membaca sesaat isi pesan itu tersenyum senang dan membalas pesan membuat Nara mempunyai ide untuk meretas ponsel Afkar.
Lief sudah bersiap di ruang tengah dengan enam orang pengawal yang berhasil membawa Afkar keluar dari gedung Rosenkrantz, Nara mengantar kepergian hingga ruang tamu dan melihat semakin banyak para pengawal yang berjaga di luar rumah mereka.
Nara melangkah cepat masuk ke kamar membuat Ines tidak berani mengatakan sesuatu dan hanya melihatnya saja. Nara mulai sibuk dengan laptop membuat script untuk meretas ponsel Afkar tapi hanya mendapatkan satu pesan yang menurut Nara sedikit aneh. Nara mencoba menterjemahkan isi pesan itu dengan menggunakan aplikasi penerjemah, seketika kedua mata Nara membulat tidak percaya dengan isi pesan tersebut.
“ kenapa harus pengacara dari Inggris? Apa mas Afkar tidak mengenal satu pun pengacara di sini? “ gumam Nara heran.
Nara mencari informasi tentang nama pengacara itu dan mencoba mencari tahu kenapa Afkar tidak menghubungi pengacara di Oslo. Seketika Nara sekali lagi membulatkan kedua matanya dan membuka mulutnya tidak percaya dengan banyaknya data yang di simpan oleh script yang Nara buat.
__ADS_1
“ apa ini yang membuat mas Afkar mencari pengacara di Inggris? “ gumam Nara yang kembali membuat jari jemarinya sibuk.