NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 98 SENGAJA


__ADS_3

Karena mulai malam ini hingga 1 minggu kedepan Afkar menginap di apartement Barra, Afkar harus hati-hati bila ingin meminta lebih pada Nara.


“ sayang jangan keluar kamar dengan pakaian seperti ini “ ucap Afkar kesal.


“ kenapa? Hanya kak Barra dan mas yang melihat Nara begini “ protes Nara dan beranjak naik ke ranjang.


Ukuran ranjang di apartement Barra lebih kecil dari miliknya yang di rumah.


“ kalau mas tidak bisa menahan diri bagaimana? Sayang mau tanggung jawab? “ ucap Afkar yang sudah ikut naik ke ranjang.


“ tanggung jawab? Bukankah terbalik? Harusnya mas yang bertanggung jawab bukan Nara “ protes Nara dan sudah memeluk tubuh Afkar.


Afkar tidak bisa berkata-kata lagi dan hanya bisa memeluk Nara. Mereka terdiam dan saling memeluk satu sama lain.


“ sayang..... sepertinya mas sudah tahu apa hukuman sayang untuk hari ini “ ucap Afkar dengan senyum seringainya.


Nara seketika teringat akan kesalahannya dan menenggelamkan wajahnya di dalam pelukkan Afkar. Afkar membisikkan sesuatu yang membuat kedua mata Nara membulat sempurna. Tangan Afkar meraih tangan kanan Nara yang masih memeluknya untuk menyentuh area sensitif miliknya, Nara mengikuti keinginan Afkar dan mulai mencium setiap inchi kulit Afkar. Sementara tangan Nara bermain di area sensitif Afkar membuat pemilik area sensitif mengerang menahan diri, tangan kanan Afkar menarik dagu Nara dan seketika menghisap bibir istrinya. Nara merubah posisi mereka dengan Afkar berada di bawahnya.


“ sayang.... disini “ ucap Afkar pelan sambil mengatur nafas karena menahan sesuatu.


Nara bingung dengan ucapan Afkar dan menghentikan aksinya mencium kulit dada Afkar.


“ tinggalkan jejak di sini “ bisik Afkar sambil menunjuk lehernya dengan tangan kiri.


Seketika Nara membulatkan matanya menatap Afkar tidak percaya.


“ tidak mau.... besok pasti Nara di ejek kakak dan yang lain “ protes Nara.

__ADS_1


“ itu hukuman sayang “ bisik Afkar membuat Nara cemberut.


“ kalau tidak mau..... hukuman sayang mas tambah.... jejak di sini dan besok pagi mas lari pagi sama Marius tanpa T-shirt “ Nara membuka lebar mulutnya tidak percaya dnegan hukuman yang Afkar berikan.


Nara tidak dapat membayangkan bagaimana malunya bila melihat Afkar berlari pagi tanpa mengenakan T-shirt, akhirnya Nara mengikuti kemauan Afkar dengan meninggalkan jejak di leher sesuai dengan titik yang Afkar tentukan dan tentunya Afkar meminta lebih dengan menunjukan beberapa bagian dari kulitnya untuk jejak Nara. Hingga Nara sendiri terbuai dan ingin melakukan lebih pada aset suaminya.


Nara memanjakan area sensitif suaminya dengan indera pengecap selama 15 menit lebih hingga membuat Afkar tidak dapat menahan lagi untuk berteriak saat hendak mengeluarkan cairan cement di dalam mulut istrinya. Suara keras Afkar yang lupa diri terdengar hingga di kamar Barra.


Sementara Barra yang sedang bermain game di kamar yang tepat berada di samping kamar Afkar menginap, terkejut mendengar suara erangan dari kamar sebelah.


“ kenapa Afkar yang teriak..... aneh seharusnya Nara bukan Afkar “ gumam Barra heran dan melanjutkan game-nya.


Menjelang Shubuh Nara membangunkan Afkar yang masih belum mengenakan kain apa pun. Nara sudah bersiap sholat Shubuh, karena Nara ingin sholat Shubuh berjamaah dengan mahram dan suaminya.


“ mas....... sebentar lagi shubuh “ bisik Nara sambil menepuk pelan pipi kanan Afkar.


Nara menghampiri Barra dan duduk di belakang Barra. Setelah menunggu kurang lebih 15 menit Afkar keluar dengan mengenakan T-shirt polo dan celana Sirwal pemberian Fajrin. Barra terkejut melihat leher Afkar yang memerah di beberapa bagian, tapi sesaat kemudian Barra terlihat menahan senyum.


“ kamu qomat “ ucap Barra menyuruh Afkar untuk mengucapkan kalimat iqamah.


Selesai sholat Nara mengajak kedua pria itu murojaah tapi Barra menolaknya dan menyuruh Nara sendiri yang murojaah karena 30 menit sebelum fajar, Barra harus sudah berada di markas Shield untuk mengawasi Marius dan Morten menyelesaikan hukuman dari Afkar.


“ jadi ini hukuman buat Neptunia...... enak di kamu malu di dia.... bisa berhari-hari malunya dia “ ucap Barra yang sudah sibuk di dapur membuat makan pagi untuk mereka bertiga.


“ sengaja.... biar semakin serius memikirkan bagaimana membuat script tidak berbelit-belit.... bahasa pemprograman dan algorithma saja sudah sulit..... tapi masih membuat script yang semakin rumit “ ucap Afkar santai sambil membantu Barra menyiapkan peralatan makan.


“ aku jamin selama 1 minggu kedepan dia akan berjalan di belakangmu menyembunyikan diri...... hahahaha “ suara Barra membuat Nara menatap Afkar cemberut.

__ADS_1


Barra yang sudah ikut berlari pagi dengan kakak beradik Yilmaz melihat Afkar yang sedang berjalan dari arah barat dengan 4 orang pengawal juga Ines yang berjalan di belakangnya, tersenyum lepas karena dugaannya benar.


“ hvorfor *** manager Singgih? Det er noe morsomt (kenapa manager Singgih tertawa? Ada yang lucu) “ tanya Marius heran.


“ se hvem som kommer (perhatikan siapa yang datang) “ ucap Barra sambil menunjuk ke arah Afkar yang sedang berjalan ke arahnya.


Marius dan Morten heran melihat Afkar berjalan dengan para pengawalnya tapi tidak mendapati Nara, karena Nara berjalan di belakang tubuh Afkar yang mengenakan pakaian serba hitam juga coat lebar hingga membuat tubuh Nara yang kecil tak terlihat.


“ hvorfor kom ikke svoger med dem (kenapa kakak ipar tidak ikut mereka)? “ tanya Morten heran.


“ kom med .... se på det (ikut.... lihat itu) “ ucap Barra yang menahan senyum.


Saat Afkar sudah berdiri di depan Barra, kedua kakak beradik Yilmaz terkejut melihat leher Afkar yang kembali mendapat jejak merah.


“ wa..... sister you turns out to be savage too..... this why GUN become more possessive (wa..... kakak ipar ternyata buas juga..... pantas GUN semakin posesif) “ goda Morten membuat Afkar merasakan cubitan kecil di punggungnya.


Afkar tersenyum dan menarik tangan kiri Nara agar Nara berada di depan Afkar, Nara berusaha menyembunyikan wajahnya di dada Afkar meskipun wajahnya sudah tertutup rapi oleh niqab tetap saja Nara merasa malu.


“ This is mental punishment, not physical (ini sih hukuman mental bukan fisik) hahahahaha......” ucap Marius tertawa dan di sambut tawa Morten.


“ how do you know this is only mental punishment without physically punishment (bagaimana kalian tahu ini hukuman mental tanpa hukuman fisik)? “ ucapan Barra seketika membuat kakak beradik Yilmaz terdiam sesaat dan menahan tawa karena melihat Nara yang semakin menyembunyikan wajahnya di dalam coat Afkar.


“ satisfied.... come in there's something I want to say (sudah puas.... masuk ada yang ingin aku sampaikan) “ ucapan Afkar membuat mereka semua terdiam dan menahan tawa.


Mengikuti langkah kaki Afkar yang sedikit kesusahan karena Nara masih berada di depannya menyembunyikan wajah di dalam coat Afkar.


Afkar mengumpulkan mereka di ruang santai lantai 2 yang juga terdapat beberapa tim dengan manager masing-masing. Para manager dan pemain itu melihat Afkar sambil berbisik-bisik dan tentu dapat di tebak apa yang mereka saling bisikkan. Nara malu sekali karena Afkar sengaja melepas coatnya dan memperlihatkan leher yang memiliki jejak merah, Nara hanya bisa menunduk dan menutup sudut mata dengan kedua tangannya.

__ADS_1


__ADS_2