NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 142 SUASANA HATI (2)


__ADS_3

“ sampai kapan sayang mau di dalam apartemen tanpa melakukan aktivitas di luar? “ Nara hanya menjawab dengan mengangkat sekali kedua bahunya.


Afkar menarik nafas panjang tertunduk.


“ du burde være i stand til å forstå tilstanden til gravide kvinner ... fortsatt god Neptunia vil bare bli i leiligheten og klamre seg til deg .... vil du prøve å føle deg gal som meg når Sarah velger å bli hjemme hos foreldrene hennes (kamu harus bisa berusaha memahami kondisi ibu hamil.... masih bagus Neptunia hanya menginginkan diam di apartemen dan menempel padamu.... apa kamu ingin mencoba merasakan gila sepertiku saat Sarah memilih diam di rumah orang tuanya)? “ pertanyaan Nanwei seketika membuat Afkar panik.


“ nei .... ikke la det skje (tidak.... jangan sampai itu terjadi) “ ucap Afkar yang mulai kuatir bila Nara minta pulang ke Jakarta.


“ Jeg er sikker på at det bare er noen få dager som dette.... (aku yakin hanya beberapa hari saja seperti ini.... ) “ ucap Nanwei meyakinkan Afkar.


Akhirnya Afkar menyerah dan mencoba mengikuti nasehat Nanwei, Afkar menggandeng tangan Nara keluar dari ruang kerja Nanwei.


“ baiklah... mulai hari ini mas akan.... ikuti kemauan sayang “ seketika Nara menghentikan langkahnya dan membuat tangan kiri Afkar sedikit tertarik ke belakang.


Nara menatap Afkar dengan tatapan tidak percaya, Afkar mendekat dan memeluk erat tubuh Nara.


“ selama keinginan sayang tidak minta pulang ke Jakarta.... mas akan penuhi semua keinginan sayang “ pelan-pelan Nara tersenyum dan melingkarkan kedua lengannya pada tubuh Afkar.


Afkar lega dan memberi isyarat tangan pada Nanwei sebagai ucapan terima kasih karena sudah membantunya. Dengan bergandengan tangan Afkar mengajak Nara kembali ke apartement, saat baru keluar dari lift Barra menghentikan langkah mereka.


“ pulang? “ tanya Barra singkat.


“ iya.... sepertinya untuk beberapa hari kedepan D4rkC0d3 berlatih tanpa Neptunia. “ ucap Afkar singkat tapi cukup membuat Barra bertanya-tanya.


Tidak mau mendapatkan banyak pertanyaan dari Barra, Afkar segera mengajak Nara kembali ke apartemen. Barra yang ingin mengatakan sesuatu menjadi geram sendiri.

__ADS_1


“ sudahlah.... aku katakan nanti di apartemen saja “ gumam Barra pelan.


Sampai di dalam apartemen, Nara segera berlari kecil masuk ke kamar membuat Afkar ikut berlari mengejarnya seketika kedua mata Afkar terpaku melihat Nara yang sudah melepas semua kain hitam yang menutupi tubuhnya hingga hanya menyisakan hipster dan buste houder atau penyangga dada. Nara hanya mengenakan celana pendek yang hanya setinggi pangkal paha dan T-shirt dengan leher yang mengekspose salah satu bahu mulusnya. Nara tersenyum melihat Afkar yang terpaku dengan penampilannya sekarang.


Dengan tatapan mata dan melipat kedua tangannya di dada, Afkar mencoba meminta penjelasan sikap Nara.


“ Nara ingin pakai pakaian seperti ini..... tapi Nara tidak bisa berpakaian seperti ini di luar “ Afkar menepuk dahinya pelan.


Ternyata hanya sesederhana ini keinginan Nara.


“ tidak boleh ya....? “ tanya Nara sambil mengerucutkan kedua bibirnya.


Afkar menarik nafas panjang mendekati Nara.


“ boleh..... “ ucap Afkar sambil mencium puncak kepala Nara.


Suasana hati Nara kembali normal, Afkar memberikan apa saja yang Nara minta. Seperti malam ini Nara memilih tidur dengan hanya mengenakan T-shirt milik Afkar tanpa hipster juga tanpa penyangga dada, Afkar hanya menarik nafas panjang melihat apa yang Nara pakai. Otak Afkar mulai berpikir ingin membuat Nara berteriak di bawahnya, tapi mengingat usia kehamilan Nara yang belum melewati 3 bulan pertama membuat Afkar mengusap kasar wajahnya dengan tangan kanan.


“ mas.... ayo tidur.... “ ajak Nara yang sudah merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


Sekali lagi Afkar mengusap kasar wajahnya.


“ 3 minggu lagi..... sabar..... tahan diri dulu “ gumam Afkar dalam hati.


Nara dengan cepat menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Afkar dan terlelap, Afkar hanya bisa menahan diri dengan tangan kanan membelai lembut punggung Nara.

__ADS_1


Menjelang Shubuh seperti biasa mereka bangun sholat shubuh dzikir dan Nara melanjutkan murojaah hingga matahari terbit, sementara Afkar memastikan menu makan pagi yang telah di siapkan oleh dua orang pelayan dari rumah Erhan.


“ mas.... “ suara Nara dari dalam kamar membuat Afkar segera masuk ke kamar.


Setiap pagi dan malam membuat Afkar harus bisa menahan diri untuk tidak memakan Nara, Nara tidak akan mau membersihkan diri kalau Afkar tidak membantunya.


“ lama sekali 3 bulan.... “ gumam Afkar pelan.


Meski pun pelan tapi suara keluh kesah Afkar terdengar jelas di telinga Nara.


“ apa yang lama mas? “ tanya Nara yang sudah menempel di tubuh Afkar seperti cicak.


“ mau mandi sekarang? “ Nara menganggukan kepala menjawa pertanyaan Afkar.


Nara berjalan pelan masuk ke kamar mandi dan melepas T-shirt, pemandangan yang berusaha keras Afkar abaikan tapi tetap saja tidak bisa. Nara tersenyum melihat aset yang sudah berada di posisi siaga dua, Nara mendekati Afkar dan menyentuh pelan membuat aset menjadi siaga satu.


“ jangan menggoda.... lebih dari ini..... sayang harus tanggung jawab.... “ ucap Afkar sambil melihat jari jemari Nara yang bermain di asetnya.


Nara semakin tergelitik untuk berbuat lebih, Afkar sungguh tidak bisa menahannya dan Nara merasa sangat bersalah melihat sorot mata Afkar yang ingin sekali menyelesaikan siaga satu. Dengan kedua tangannya Afkar menekan tengkuk dan pinggang menghilangkan jarak di antara mereka, kedua bibir mereka saling bertautan satu sama lain dengan jari jemari Nara yang semakin lihai memainkan aset dengan status siaga satu.


“ tanggung jawab “ suara serak Afkar saat membuat jarak dengan bibir Nara.


Nara tersenyum dan segera melancarkan aksinya, melakukan apa yang harus di lakukan oleh seorang istri. Tanpa menunggu lama, Nara melepas satu persatu kain yang menutupi tubuh bagian bawah Afkar. Meninggalkan tanda merah di ceruk leher juga dada membuat Afkar berusaha keras menahan diri. Hanya dengan satu sentuhan kecil di ujung sudah membuat Afkar semakin frustasi dan menjadi tidak sabar. Nara tersenyum dan mulai menyelesaikan tanggung jawabnya menggunakan indera pengecap juga tenggorokan. Afkar sangat menikmati setiap apa yang Nara lakukan, hanya suara lirih dan meracau memanggil nama Nara berkali-kali. Selama lebih dari 20 menit Nara menyelesaikan tanggung jawabnya hingga benar-benar selesai.


“ I love you “ kalimat pertama yang Afkar ucapkan setelah Nara menyelesaikan tanggung jawabnya.

__ADS_1


Tanpa membersihkan sudut bibir dan indera pengecapnya, Nara mencium kecil bibir Afkar. Afkar tersenyum dan mulai melakukan tugas paginya membersihkan seluruh tubuh Nara tanpa melewatkan satu lipatan kulit pun.


Selesai membersihkan diri mereka berganti dengan pakaian bersih dan makan pagi bersama.


__ADS_2