NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 188 MASA LALU


__ADS_3

“ pappa..... så hele denne tiden har pappa bare 1 nyre.... hvorfor sa ikke pappa..... om Felisaa visste fra begynnelsen.... Felissa vil gjøre alt for at de ikke skal bli hos oss (papa..... jadi selama ini papa hanya memiliki 1 ginjal..... kenapa papa tidak bilang..... kalau dari dulu Felisaa tahu.... Felissa akan lakukan apa pun untuk menahan mereka tetap tinggal bersama kita) “ ucap Felissa dengan air mata yang sudah menetes di kedua pipinya.


Nara memandang Freya dan Felissa bergantian seperti mencari tahu apa maksud dari ucapan mereka, merasakan tangan kirinya mendapatkan genggaman hangat dari Afkar semakin membuat dada Nara terasa aneh. Nara merasa apa yang akan Erhan katakan ada kaitannya dengan kedua orang tua, kakak dan dirinya.


Nara tidak berani menerka apa yang akan Erhan katakan. Nara memilih diam dan menahan rasa aneh di dadanya dan saat Erhan mengatakan sesuatu, Nara menatap wajah Fajrin penuh tanya tapi dengan isyarat mata Fajrin mengatakan tidak tahu menahu. Afkar semakin erat menggenggam tangan kiri Nara, Afkar pelan-pelan mulai paham kemana arah cerita Erhan.


Nara mendengarkan dengan serius apa yang Erhan ceritakan, sesekali Nara mengerutkan kulit dahi dan kulit di antara kedua alisnya. tiba-tiba Nara terisak menangis dan suara tangisnya membuat Erhan berhenti.


“ sayang jangan sedih.... “ ucap Afkar berusaha menenangkan Nara.


Helen tidak kalah terkejutnya seperti Nara dan hampir tidak percaya bahwa suaranya sangat mirip dengan almarhum Asma, ibu dari sahabatnya juga ibu dari mantan anak didiknya. Helen menatap Azkar penuh tanya dan mendapatkan kecupan kecil di kepala.


“ apa ini alasan sayang menarik Fajrin kerumahku “ gumam Helen dalam hati dan mendapat senyum manis dari Azkar.


“ I love you “ bisik Azkar membuat Helen meraih dan mencium punggung tangan kanan Azkar.


Helen melihat kedua mata Nara yang seketika berubah menjadi tatapan mata yang tidak bisa dia lupakan. Kedua kelopak mata Nara semakin tidak mampu menahan air mata, seketika pecah suara tangis Nara membuat Fajrin tertunduk. Dan saat Fajrin mengucapkan sesuatu, air mata Nara semakin deras membasahi kain niqab yang menutupi kedua pipinya. Helen tidak percaya dengan apa yang Fajrin ucapkan tapi melihat Nara yang air matanya sudah membasahi kain niqab percaya atau tidak, Helen menjadi merasa sedih dan kasihan pada Nara.


“ Nara.... apa itu alasanmu hanya mau menurut padaku dan mengabaikan semua nasehat ustadzah selain aku? “ Nara menganggukan kepala menjawab pertanyaan Helen.


Helen tidak tahan lagi mendengar isak tangis Nara, dengan sedikit memaksa Helen menggeser Afkar yang duduk di sebelah Nara dan memeluk erat Nara.

__ADS_1


“ maaf..... maaf.... ustadzah tidak tahu.... maaf.... “ ucap Helen berusaha menenangkan Nara yang semakin deras air matanya.


Freya dan Felissa merasa menyesal kenapa dulu tidak berusaha keras menahan keluarga kecil Asma dan Woro untuk tetap tinggal di dekat mereka. Tangis Nara membuat semua orang terdiam tidak sekali pun mereka berpikir bahwa Nara merasakan kerinduan yang sangat mendalam pada sosok seorang ibu meski pun hanya suaranya saja. pelukkan Helen tak mampu meredakkan tangis Nara, Freya dan Felissa membantu Helen berusaha menenangkan Nara. Tapi karena terlalu sedih, akhirnya Nara pingsan dan membuat Helen panik.


“ Afkar..... “ teriak Helen sambil mendekap kepala Nara.


Afkar mengambil alih Nara dari dekapan Helen mengangkat tubuh Nara sekuatnya untuk memindahkan ke dalam kamar, Mari yang sedari tadi diam tak bersuara segera menyusul Afkar. Melihat tubuh Nara yang lemas kedua mata Afkar berkaca-kaca.


“ bak hennes lukkede utseende ser alltid sterk og munter ut, men det er en dyp sorg som hun ikke kan si... selv til søsteren sin...(dibalik penampilannya yang tertutup selalu terlihat kuat dan ceria ternyata ada kesedihan mendalam yang tidak bisa dia katakan.... bahkan kepada kakaknya sekalipun....) “ ucap Mari sambil memeriksa keadaan janin kembar Nara.


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Nara sadar dan kembali terisak menangis, Afkar segera memeluk erat tubuh Nara berusaha keras menenangkan Nara. Fajrin berjalan pelan mendekati Nara.


“ dik.... maaf.... maafkan kakak tidak bisa menjaga ibu..... maafkan kakak tidak bisa membawa ibu pulang kembali.... kakak salah “ ucap Fajrin sambil menunduk berusaha keras tidak menjatuhkan air matanya.


“ gråt så mye du vil.... slipp ut all din tristhet... etter dette ikke gråt lenger... Amma kan ikke erstatte Asmas figur som din mor... men Amma vil prøve å være der når du trenger en mor (menangislah sepuasmu.... keluarkan semua kesedihanmu.... setelah ini jangan menangis lagi.... Amma tidak bisa menggantikan sosok Asma sebagai ibumu.... tapi Amma akan berusaha ada di saat kamu membutuhkan seorang ibu) “ ucapan Freya semakin membuat Nara menangis keras.


Dengan air mata yang mengalir deras Nara berusaha mengatur nafas dan suaranya.


“ kakak jahat..... adik sudah bilang.... jangan bawa ibu.... kakak tidak pernah mau mendengarkan adik “ suara tinggi Nara membuat Freya dan yang lainnya terkejut.


Fajrin semakin menundukkan kepala tidak berani mengeluarkan suara, Helen yang berdiri di ambang pintu segera mendekati Nara.

__ADS_1


“ Nara..... jangan berkata seperti itu..... itu sudah takdir beliau..... Nara harus ihklas.... kalau pun ibumu tidak meninggal di tanah haram...... ibumu tetap akan meninggal di hari jam dan menit yang sama “ ucap Helen berusaha menenangkan Nara.


Seketika tangis Nara terhenti dan diam menatap kedua mata Helen, tapi Helen merasa kalau Nara menatapnya dengan tatapan kosong.


“ Nara..... “ ucap Helen panik.


Afkar dengan sigap mendekap Nara.


“ bisakah kalian keluar sebentar “ pinta Afkar berusaha membuat pandangan mata Nara tidak kosong.


Freya dan yang lain keluar dari kamar Afkar kembali duduk di ruang tengah begitu juga Fajrin melangkah keluar dari kamar Afkar dengan kembali di selimuti rasa bersalah, rasa yang selama ini sudah dia lupakan dengan berusaha keras membuat Nara tersenyum dan tidak meneteskan air mata sedikit pun.


Afkar berusaha keras membuat pandangan mata Nara tidak kosong, meski pun Afkar sudah memberinya kecupan kecil di kedua pipi dan dahi Nara. Tapi tetap saja tatapan mata Nara masih terlihat jelas kosong.


“ han er rystet….. ser ut som han er tilbake i tid….. Jeg skal gi dere litt plass (dia terguncang..... sepertinya dia kembali ke masa lalu..... aku akan memberi kalian ruang) “ ucap Mari dan keluar dari kamar.


Mari sengaja menunggu di depan pintu kamar Afkar, semua orang melihatnya dengan tatapan penuh tanya.


“ sayang..... “ ucap Afkar sambil membuka kain hitam yang menutupi wajah Nara.


Pelan-pelan Afkar membuka simpul niqab dan melepasnya, membuka hijab dan merapikan anak rambut menyelipkannya di belakang telinga Nara. Afkar memperhatikan raut wajah Nara yang masih terlihat datar juga tatapan mata kosong, menangkup kedua pipi Nara. Agar Nara merasakan kehangatan dan keberadaannya.

__ADS_1


“ sayang..... “ ucap Afkar pelan sambil memajukan wajahnya untuk mencium bibir merah muda yang menjadi salah satu candunya.


__ADS_2