
Setelah menunggu kurang lebih tiga puluh menit bel pintu kamar berbunyi, Afkar segera mengangkat Nara untuk masuk ke kamar dan membantu Nara mengenakan abaya hijab serta niqab. Afkar membuka pintu kamar mendapati dua kakak beradik Yilmaz yang berdiri di depan pintu sambil membawa sekotak besar coklat. Afkar menyuruh mereka masuk, mereka duduk di sofa dan melihat amplop serta flashdisk yang sudah Afkar tandai.
“dette er alle spillene som Kant Software vil lansere (ini semua game yang akan Kant Software luncurkan)?” tanya Morten sambil mengintip sebuah laptop.
“det er noen spill som ikke kan lanseres i nær fremtid fordi de allerede har kopiert det (ada beberapa game yang tidak bisa di luncurkan dalam waktu dekat karena mereka sudah menyalinnya)" ucap Afkar yang sudah memapah Nara berjalan keluar dari kamar.
“svigerinne er syk (kakak ipar sakit)?” tanya Marius ketakutan melihat Nara setiap kali melangkah seperti menahan nyeri di kaki.
“Hælene og knærne hans gjør vondt når de går (tumit dan lututnya sakit kalau di pakai jalan)" ucap Afkar sambil sedikit mengangkat pinggang Nara agar Nara tidak merasakan nyeri di tumitnya.
Afkar mendudukan Nara di sofa dan Afkar duduk di sebelah kanan Nara, mengangkat kedua kaki Nara dan meletakkan di pangkuannya. Afkar kembali memijat kedua tumit hingga lutut Nara bergantian. Sepuluh menit kemudian bel kamar berbunyi, Afkar memberi tanda pada kakak beradik Yilmaz untuk membantunya membuka pintu dan Morten berdiri untuk membukakan pintu.
“Assalamu'allaikum” salam Zehed saat masuk kamar.
“Wa'alaikumsalam” balas mereka hampir bersamaan
Marius menahan tawa melihat Zehed membawa semua peralatan gamenya, begitu juga dengan Morten hingga Morten meraih jaketnya untuk membekap mulutnya sendiri karena tidak sanggup menahan tawa.
“yüksek sesle gülmek istiyorsanız..... sadece gülün, tutmayın (kalian kalau mau tertawa keras..... tertawa saja jangan di tahan)" ucap Zehed pasrah.
Marius dan Morten tertawa terbahak-bahak hingga mengeluarkan air mata, Afkar heran melihat kedua sepupunya tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
“why are you laughing (kenapa kalian tertawa)?” tanya Nara heran.
“sister....don't you see it....Zehed’s face.....this time (kakak ipar.... tidak lihat.... tampang Zehed..... kali ini)..... hahahahahaha" ucap Marius yang terbata-bata karena sakit menahan tawa.
Afkar melihat Zehed dari bawah ke atas dan Nara melihat Zehed dengan mengintip dari sudut matanya sesaat.
“tidak ada yang lucu" gumam Nara yang terdengar jelas oleh Afkar membuat Afkar gemas untuk mencubit pipi Nara.
Afkar menyuruh Zehed meletakan perlengkapan game miliknya di meja yang tak jauh dari sofa tempat dia duduk. Zehed mulai sibuk menyalakan laptop dan menghubungkan perlengkapan game ke laptopnya, Afkar menyerahkan satu flashdisk pada Zehed untuk dia coba. tiba-tiba Nara menurunkan kedua kakinya dan berjalan cepat masuk ke kamar mandi yang berada di dalam kamar tempat mereka tidur, Afkar melihatnya bingung begitu juga dengan kedua kakak beradik Yilmaz. Beberapa saat kemudian Nara keluar dari kamar mandi dan berjalan pelan kembali duduk di samping Afkar dengan posisi yang sama, tapi itu tidak bertahan lama karena dalam hitungan beberapa menit Nara kembali berdiri dan masuk ke kamar mandi. Sementara saat Zehed dan kedua kakak beradik Yilmaz mulai memperhatikan game yang Afkar pilih, sesekali Zehed melihat jam di pergelangan tangan kirinya. Afkar mulai kembali sibuk dengan beberapa amplop dan flashdisk yang belum dia lihat, dan Nara masih harus bolak-balik ke kamar mandi.
“Efendim..... hanımefendi hasta mı (Tuan..... apa nyonya sedang sakit)?” tanya Zehed memberanikan diri.
“Evet....yürürken topuklar ve dizler ağrıyor (iya.... tumit dan lututnya nyeri kalau di pakai berjalan)" ucap Afkar sambil memandang laptopnya.
Afkar memandang Zehed dengan tatapan tidak suka dan curiga, membuat Zehed menyilangkan kedua tangannya sebagai tanda bahwa dia tidak ada rasa pada Nara.
“Efendim..... hanımefendinin şu an hissettikleri, kız kardeşimin sekiz ay önce hissettikleriyle aynı..... ilk başta kız kardeşimde bir sorun olduğundan şüphelenmedim..... ona sorana kadar kontrol etmek için hastaneye gittim ve ablam olduğu ortaya çıktı..... (tuan..... apa yang nyonya rasakan sekarang sama seperti yang adik saya rasakan delapan bulan yang lalu..... pada awalnya saya tidak curiga kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan adik saya..... sampai saya mengajaknya periksa ke rumah sakit dan ternyata adik saya....)” ucap Zehed sambil membuat gerakan tangan di depan perutnya yang menunjukkan perut membesar karena hamil.
Afkar menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan ucapan Zehed karena memang pagi ini Afkar sudah melakukan pengetesan pada hormon kehamilan Nara dan hasilnya negatif.
“hiçbir şekilde, bu sabah idrarda bir test paketi yaptım ve sonuçlar negatifti (tidak mungkin, tadi pagi aku sudah melakukan test pack pada urinenya dan hasilnya negatif)” ucap Afkar serius.
__ADS_1
Kakak beradi Yilmaz melihat Afkar dengan heran.
“GUN, kayınbiraderin idrarını test ettin mi? Cidden olumsuz mu? (GUN, kamu sudah mengetes urine kakak ipar? Serius negatif?)” tanya Marius tidak percaya.
“ama annem dedi ki..... baldız çok yediği için hamile olabilir..... Dün baldızımı Melody'nin kafesine yemeğe götürdüğümüzde annemin söylediği buydu (tapi Amma bilang..... kemungkinan kakak ipar hamil karena makannya banyak sekali..... itu yang Amma bilang kemarin waktu kami mengajak kakak ipar makan di melodi kahfe)" jelas Morten dengan semangat.
Afkar menggelengkan kepala tidak percaya pada ucapan kakak beradik Yilmaz dan melihat Nara yang kembali berjalan masuk ke kamar mandi.
“Efendim..... hanımefendiyi bu doktora götürün (Tuan..... coba bawa saja nyonya ke dokter ini)" ucap Zehed sambil menyerahkan sebuah kartu nama seorang dokter spesialis obstetri dan ginekologi.
“Eskiden ablam hanımefendi ile aynıydı..... ve gerçekten de test paketinin sonucu negatif çıktı ama doktor alt karın bölgesini muayene ettiğinde, ultrason monitör ekranında gebelik kesesinin açıkça görüldüğü ortaya çıktı. görünür ve fetüs dört haftalıktı (dulu adik saya juga sama seperti nyonya..... dan memang hasil test pack negatif tapi saat dokter memeriksa perut bagian bawah ternyata di layar monitor USG terlihat jelas kantong kehamilan dan janinnya sudah berusia empat minggu).” Jelas Zehed membuat Afkar berpikir untuk membawa Nara ke dokter spesialis obstetri dan ginekologi apa pun nanti hasilnya.
Afkar melihat Nara kembali masuk ke kamar mandi padahal baru beberapa langkah keluar dari kamar mandi.
“Efendim merak etmeyin..... o bir bayan doktor..... o doktordan randevu almamı ister misiniz (Tuan jangan kuatir..... itu dokter wanita..... apa tuan mau saya buatan janji dengan dokter itu)?” tanya Zehed serius.
Afkar menganggukan kepalanya menyetujui saran Zehed, Afkar memandangi istrinya yang sepertinya sangat merasa tidak nyaman harus keluar masuk kamar mandi berkali-kali dan menahan rasa nyeri pada lutut dan tumitnya.
“bu gece için randevu al (buatkan janji untuk malam ini)" perintah Afkar membuat Zehed segera menghubungi seseorang.
Beberapa menit kemudian Zehed mematikan ponselnya, kakak beradik Yilmaz melihat Afkar dengan gembira karena sudah tidak sabar mendengar kabar gembira dan ingin segera memberi kepastian tentang Nara pada Amma dan Abba mereka.
__ADS_1
“şimdiden efendim..... hanımefendi yaklaşık dört buçukta dört numaralı sırayı aldı, hanımefendinin sırası.... (sudah tuan..... nyonya dapat nomor antrian empat kurang lebih pukul empat lebih tiga puluh giliran nyonya....)” ucap Zehed sambil menyerahkan secarik kertas bertuliskan nama menerima telponnya.
“ikindiden sonra evet..... bu yer otelden uzak mı (selepas Ashar ya..... jauh tidak lokasi ini dari hotel)?” tanya Afkar sedikit kuatir bila terlalu lama berjalan akan membuat tumit dan lutut istrinya semakin nyeri dan Nara akan semakin kesakitan.