NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 131 AI XING


__ADS_3

Hari ini jadwal kompetisi Securebug server Gutenberg, dari sejak lepas Shubuh Nara tidak mau melepas genggaman tangannya pada tangan kiri Afkar. Bahkan saat Afkar berganti pakaian pun Nara tidak mau jauh dari Afkar, Afkar merasa bahwa seperti memiliki anak perempuan yang tidak mau jauh dari papanya.


“ sayang.... pakai dulu niqabnya.... sebentar lagi Lief datang. “ ucap Afkar sambil meraih sehelai niqab dari lemari.


Nara dengan senyum riang mendekat dan memeluk Afkar.


“ kalau sayang begini.... bagaimana mas membuat simpulnya. “ ucap Afkar yang mulai sudah habis kata-kata melihat sikap Nara yang semakin hari semakin manja.


Setelah selesai dengan rutinitas pagi yang membuat Afkar harus extra sabar, akhirnya mereka pergi makan pagi di restauran miliki Destin. Lambat laun para penggemar Neptunia mulai terbiasa dengan kedatangan mereka setiap pagi di restauran Destin, tapi tetap aja ada penggemar yang ingin meminta tanda tangan atau pun berfoto dengan Nara. Bahkan tak jarang ada anggota The Neptun yang memberanikan diri untuk sekedar memeluk Nara, bila penggemar itu perempuan maka akan dengan senang hati Nara membalas pelukan itu. Tapi bila penggemar laki-laki maka Afkar akan menghalanginya hanya mengizinkan berfoto saja dan tentunya bukan berdua tapi bertiga dengan Nara berada di depan Afkar.


Setiap pagi adalah kebahagiaan tersendiri bagi keluarga Destin terutama bagi kedua keponakannya, karena mereka dapat dengan mudah duduk semeja dengan Nara dan Afkar bila sudah selesai makan pagi. Nara banyak belajar bahasa Norwegia dari Cecillia, bahkan terkadang membuat Afkar harus sedikit memaksa Nara untuk segera keluar dari restauran Destin. Karena saat Nara sedang bersenda gurau dengan Cecillia, Nara sering lupa waktu.


“ we’ll see your competition, we have connected the restaurant television to the internet and some members of The Neptun will see it here (kami akan melihat kompetisi kamu di sini, kami sudah menghubungkan televisi restauran dengan jaringan internet dan beberapa anggota The Neptun akan melihat disini) “ ucap Carsten dengan yakin.


“ are you already have permission from the owner of this restaurant (kalian sudah izin pemilik restauran inj)? “ tanya Afkar sedikit menggoda Carsten.


“ Of course, even Uncle Destin helped us organize all of this.... The Neptun who came will make this restaurant crowded with visitors (tentu sudah bahkan om Destin membantu kami menata ini semua.... The Neptun yang datang akan membuat restauran ini ramai pengunjung) “ ucap Cecillia dengan percaya diri.


Karena kompetisi akan di mulai pukul 10 waktu Oslo, Lief yang sedari tadi sudah terlihat sedikit panik dengan berkali-kali melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya membuat Afkar membelai punggung Nara.


“ sayang.... sudah waktunya... lihat Lief sudah seperti cacing kepanasan “ bisik Afkar membuat Nara melihat Lief sesaat.


Tepat pukul 9:15 Nara dan Afkar sudah sampai di lobi Shield, Barra yang terlihat sedang menerima panggilan telepon seketika mendekati Nara dan menyerahkan ponselnya.


“ siapa kak? “ tanya Nara heran.


“ MathisHammel, katanya Ai Xing ingin mengatakan sesuatu “ mendengar ucapan Barra seketika Nara meraih ponsel Barra dan berjalan melangkah menuju lift.


Afkar dan Barra hanya melihatnya dengan heran.


“ siapa Ai Xing? “ tanya Barra heran.

__ADS_1


Afkar hanya menepuk bahu Barra dan mengajaknya masuk ke dalam lift karena Nara sudah memberi isyarat tangan agar mereka mengikuti Nara.


“ Lief .... i dag skal jeg jobbe her .... du tar den til Singgihs rom filen jeg må sjekke (Lief.... hari ini aku akan bekerja disini.... kamu bawa ke ruangan Singgih berkas yang harus aku periksa) “ ucap Afkar yang sudah berada di dalam lift dan membuat Barra menahan pintu lift selagi Afkar berbicara dengan Lief.


Sampai di lantai 3, Nara segera keluar dari lift dan menuju ruang kerja Barra. Membuat Afkar dan Barra menatap Nara dengan heran.


“ kenapa ke lantai 3? “ tanya Barra heran.


“ lihat kesana “ ucap Afkar sambil menunjuk Nara yang sudah masuk ke ruang kerja Barra.


Nara segera menggunakan laptop Barra yang berada di meja kecil dekat sofa, Nara terlihat serius mengetik sesuatu membuat Afkar dan Barra yang berjalan mendekatinya duduk mengapit Nara. Tanpa banyak bicara Afkar dengan isyarat tangan meminta Barra untuk diam dan melihat layar laptop, Barra melihat layar laptop yang sudah menampilkan sebuah program sensor gerak dan sensor panas.


“ kalau sekarang bagaimana? Apa masih ada delay saat kamu menekan tombol itu? “ ucapan Nara membuat Barra mengerutkan kulit di antara kedua alisnya.


Sedangkan Afkar hanya memberikan belaian di punggung Nara agar Nara lebih tenang dan tidak panik.


“ coba sekali lagi. “ ucap Nara sambil mengamati proses kompilasi program yang dia buat.


“ mas.... 100 milisecond kalau di buat binner jadi berapa? “ ucap Nara gugup karena seseorang di ujung sambungan telepon sedang menunggunya.


“ mas yakin ini? Angka 0 nya tidak kelebihan? “ tanya Nara meyakinkan Afkar.


“ sayang coba saja “ ucap Afkar yang kembali membelai punggung Nara.


Nara kembali membentuk sesuatu.


“ kalau sekarang bagaimana? Mas Afkar sudah merubah 100 mili detik ke bentuk binner “ ucap Nara dengan serius.


Menunggu selama beberapa detik ke depan laptop membuat Nara sedikit gugup, bahkan tidak hanya 30 detik tapi 1 menit lebih seseorang di ujung sambungan belum mengatakan apa pun. Beberapa detik kemudian Nara tersenyum senang.


“ Alhamdulillah sudah tidak ada delay, semoga berhasil... “ tiba-tiba Nara menghentikan ucapannya karena mendengar suara yang sangat dia kenal di ujung sambungan telepon.

__ADS_1


Nara menyerahkan ponsel ke pemiliknya dan menatap Afkar dengan penuh tanya.


“ kenapa? “ tanya Afkar heran.


“ mas Afkar menyembunyikan sesuatu dari Nara ya.... “ ucap Nara selidik.


“ tidak ada sayang.... buat apa mas menyembunyikan sesuatu dari sayang. “ ucap Afkar yang masih belum paham maksud Nara.


“ kenapa ada suara tuan Brent di belakang Siska? “ pertanyaan Nara seketika membuat Afkar tersenyum.


“ kenapa memangnya? Tidak boleh? “ ucap Afkar sambil menerima sebuah tablet dari Lief yang sudah 3 menit lalu berdiri di depan Afkar.


“ sejak kapan mereka dekat? Siska tidak pernah cerita? “ ucap Nara yang sudah berpindah duduk di paha Afkar dan menekan tombol off Tablet di tangan Afkar.


“ Slenderestmen sedang berusaha mendapatkan kepercayaan dari keluarga Siska, sayang tahu sendiri bagaimana keluarga Siska. “ ucap Afkar sambil menyalakan Tabletnya kembali.


“ sejak kapan? “ tanya Nara belum puas.


“ kalau usahanya Slenderestman.... mungkin sejak pesta pernikahan kita tapi untuk pastinya.... sayang tanya langsung sama Siska saja. Apa Siska tidak pernah menceritakan hal ini pada sayang? “ Nara menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Afkar.


Melihat jawaban Nara, Afkar menepuk dahinya pelan.


“ masih panjang jalanmu.... Brent..... Siska belum yakin dengan hatimu “ gumam Afkar membuat Nara curiga.


Sadar kalau Nara curiga padanya, Afkar segera meletakkan Tablet yang dia pegang dan mengalihkan perhatian Nara dengan mengangkatnya keluar ruangan Barra.


“ sudah hampir waktunya sayang kompetisi “ ucapan Afkar membuat Nara segera merosot turun dari kedua tangan Afkar yang sudah mengangkatnya.


Nara segera melangkah menuju tangga tengah dan tentunya tangan kiri Afkar berada dalam genggaman tangan kanan Nara, dengan tersenyum Afkar mengikuti langkah kaki Nara membuat Barra menggelengkan kepala menatap Nara dengan heran.


“ satu ibu hamil saja sudah membuat banyak orang kerepotan.... bagaimana kalau lebih dari satu.... bisa-bisa semua pria di markas ini akan kerepotan..... untung saja dari awal Afkar tidak menerima 2 pemain wanita saran Nanwei “ gumam Barra dalam hati sambil mengikuti langkah kaki Nara dan Afkar.

__ADS_1


Sedangkan Lief hanya bisa menatap mereka dengan bingung.


“ Hva skal jeg gjøre her alene (aku harus melakukan apa disini sendiri) “ gumam Lief yang sudah duduk di sofa ruang kerja Barra dan termenung.


__ADS_2