NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 53 TIDAK MAKAN


__ADS_3

Entah pukul berapa Afkar pulang tapi pagi ini Nara mendapati Afkar yang tertidur di sebelahnya dengan masih memakai pakaian lengkap hanya sepatu dan jas saja yang sepertinya dia lepas. Nara melihatnya raut wajah suaminya yang terlihat sangat lelah. Nara pelan-pelan melepas kaos kaki, ikat pinggang, dasi dan melepas satu persatu kancing kemeja Afkar. Saat Nara hendak menarik ujung kemeja yang masih terselip di dalam celana tiba-tiba tubuh Afkar menggeliat, membuatnya menghentikan gerakan tangannya.


“ seberat itukah menggantikan posisi kakek? Sampai berganti baju saja tidak sempat " ucap Nara pelan sambil menarik pelan ujung kemeja yang masih terselip di celana Afkar.


Nara bisa bernafas lega karena berhasil membuka kemeja meskipun belum berhasil melepasnya dari tubuh Afkar, Nara mengambil sebuah kain hangat untuk membasuh wajah leher juga dada bidang Afkar. Saat Nara fokus membasuh dada bidang Afkar, Nara merasakan dadanya yang sesak tenggorokannya yang mulai terasa tercekat kedua matanya terasa pedih menahan tangis. Nara buru-buru menghapus air mata yang hampir membasahi pipinya, tanpa Nara sadari kedua mata Afkar terbuka melihat wajah sayu istrinya yang dalam satu minggu lebih ini tidak bisa dia lihat dengan bebas.


“ kenapa menangis? ” suara berat Afkar membuat Nara buru-buru menghapus kembali air matanya dari pelupuk mata.


“ Nara terharu, melihat mas bekerja keras sampai tidak sempat berganti pakaian " ucap Nara berusaha menutupi rasa sedih kecewa juga kesalnya.


Afkar berusaha duduk dan menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang menatap wajah Nara yang terlihat sedikit tirus tidak seperti saat berada di Istanbul. Afkar menangkup kedua pipi menyentuh bibi bibir bawah Nara dengan ibu jari tangan kanannya, pelan-pelan Afkar mendekatkan wajah Nara ke wajahnya karena Afkar ingin mencium bibir Istrinya. Mencium lembut bibir Nara dan lambat laun menjadi kasar mendorongnya untuk melakukan lebih dari sekedar mencium, Nara mengikuti keinginan Afkar karena dia sendiri juga merasa sangat merindukan kehangatan tubuh suaminya. Masih dengan posisi terduduk, tangan kiri Afkar meraba setiap inci kulit Nara dari leher hingga punggung membuat pemilik kulit mendesah di dalam ciuman mereka. Afkar melepas tautan bibirnya dan melepas kain yang menutupi kulit putih bersih Nara, menyisakan kain yang hanya menutupi tubuh bagian bawah.


Afkar merebahkan Nara di sisi kiri ranjang dan memposisikan dirinya tepat dia atas Nara, melepas kemeja yang masih dia kenalkan dan membuangnya di sembarang tempat. Memandangi setiap inci kulit Nara semakin mendorongnya untuk melakukan lebih, tanpa menunggu lama Afkar segera melepaskan kain yang masih menutupi area sensitif istrinya. Dan melepaskan hasratnya membuat tubuh Nara terasa tersengat saat indra pengecap juga tangan kanan Afkar bermain-main di area sensitifnya. Seketika tubuh polos Nara bergerak tidak jelas dengan nafas yang tersengal-sengal menyebut nama suaminya, Afkar paham sekali bagaimana reaksi tubuh istrinya bila mencapai klimaksnya. Senyum tipis terulas di bibir Afkar melihat tubuh polos istrinya mengatur nafas, saat Afkar hendak melepas kain yang masih menutupi area sensitifnya tiba-tiba ponselnya berdering. Afkar mengabaikan ponselnya tetap melepas kain yang menutupi area sensitifnya untuk kembali fokus pada area sensitif istrinya, tapi karena berkali-kali ponselnya berdering dan menganggu konsentrasinya seketika Afkar menegakkan tubuhnya menatap wajah istrinya yang melihatnya dengan mata bahwa Afkar harus menerima panggilan telepon itu.


“ mas..... ponselnya mas di sebelah sana " ucap Nara sambil menunjukkan letak ponsel Afkar.

__ADS_1


Dengan malas Afkar bangkit dari ranjang untuk mengambil ponselnya, Afkar segera menerima panggilan itu dan menatap Nara sesaat yang sudah mengenakan pakaiannya. Afkar terlihat kecewa juga menahan marah karena aktivitas pribadinya terganggu dan dengan wajah sangat serius berbicara dengan seseorang yang menghubunginya, Nara menatapnya sedih juga kecewa. Bukan karena mereka tidak jadi bercinta tapi karena Afkar akan kembali sibuk dengan pekerjaannya dari pada dirinya.


“ sepertinya aku sudah tidak penting lagi. “ gumam Nara sambil melangkah masuk ke kamar mandi.


Nara keluar kamar mandi hanya mengenakan handuk setinggi dada dan sebatas paha, mendapati Afkar masih berbicara di telepon membuat Nara menatapnya dengan rasa sedih juga kecewa. Nara berganti pakaian tanpa memperdulikan bahwa saat ini apa yang di lakukannya membuat Afkar sangat frustasi antara hasratnya yang tidak tersalurkan dan tanggung jawab pekerjaannya. Nara mengambil sebuah celana pendek dan kaos menyerahkan pada Afkar, tapi Afkar menolaknya dan isyarat tangan meminta Nara memakaikannya. Pelan-pelan Nara memakaikan celana dengan bantuan sofa Nara memakaikan kaos mencoba meloloskan kepala Afkar meskipun dengan susah payah karena postur tubuh Afkar yang lebih tinggi dari Nara meski pun Nara sudah naik ke sofa.


Afkar tersenyum tipis melihat istrinya yang sedikit kesulitan memakaikan dirinya kaos, seketika Afkar menarik pinggang Nara dan mencium kecil bibir istrinya. Membuat kedua pipi Nara merah seperti tomat selesai itu Nara melangkah keluar kamar dan duduk di ruang makan menunggu Afkar, Lief juga sudah menunggu di ruang tengah dengan membawa beberapa berkas permintaan Afkar. Setengah jam kemudian Afkar keluar dan duduk di depan Nara, Nara hanya menatap Afkar yang makan dengan lahap.


“ sayang.... ayo makan " ucap Afkar sambil meletakkan sepotong omlete di piring Nara.


Seperti biasa selesai makan, Afkar mendekati Lief yang sudah berdiri di ruang tengah dengan membawa dua buah amplop besar.


“ sir, dette er det du ba om (tuan, ini yang anda minta) “ ucap Lief sambil menyerahkan kedua amplop yang dia bawa.


“ akkurat dette (hanya ini saja)? “ tanya Afkar dengan nada dingin.

__ADS_1


Afkar melangkah masuk ke ruang kerja dan Lief mengikuti dari belakang.


“ madam, would you like something else (nyonya, apa anda ingin makanan yang lain)? “ tanya Ines ragu.


“ No, thanks (tidak, terima kasih) “ ucap Nara sambil berjalan menghampiri Afkar yang sudah bersiap hendak berangkat kerja.


Afkar mendekati Nara dan memeluknya erat serta mencium puncak kepala Nara.


“ mas kerja dulu ya..... Assalamu'allaikum “ salam Afkar sambil mengulurkan tangan kanannya.


Nara mencium punggung tangan kanan Afkar dan mengantarnya hingga ke pintu depan. Setelah kepergian Afkar, Nara kembali masuk ke kamar. Ines menghela nafas melihat makanan di piring Nara yang tidak tersentuh sama sekali.


“ er denne maten ikke deilig (apa makanan ini tidak enak)? “ gumam Ines heran sambil mengangkat piring tersebut dan mencium aroma makanan yang tidak Nara santun sama sekali.


Nara tidak memperdulikan Ines dan para pelayan juga koki yang kebingungan dengan nyonya mereka yang tidak mau menyentuh makanan sama sekali sejak melihat bungkus roti yang tersimpan di lemari. Mereka saling memandang satu sama lain seperti sedang bertanya-tanya apakah ada yang tidak beres dengan makanan ini.

__ADS_1


Nara melepas abaya hijab juga niqab hanya mengenakan celana pendek setinggi paha dan tank top jenis racerback yang memiliki dua tali bertemu dibagian punggung, pertemuan ke dua tali dibagian tengah punggung ini membuat bagian tulang belikat akan terekpose saat menggunakannya. Nara merasa lebih nyaman dan santai, jari jemarinya mulai sibuk di atas keyboard seperti mencari cari sesuatu yang sangat ingin dia ketahuan. Seharian penuh Nara hanya beraktivitas di dalam kamar, karena hanya di dalam kamar saja dia bisa bebas melakukan apa saja tanpa harus memakai abaya hijab juga niqabnya. Dia selalu mengunci pintu kamar juga menutup semua gorden kamar agar tidak terlihat oleh para pengawal yang berjaga di luar. Seketika kedua matanya membulat tidak percaya dengan apa yang sudah berhasil dia tentukan, segera saja dia menyalin semua informasi itu ke dalam laptopnya dan proses menyalin semua informasi juga data itu membutuhkan waktu yang cukup lama.


__ADS_2