NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 22 KACANG HIJAU


__ADS_3

“mas..... hari ini ke kantor?” tanya Nara sambil menghabiskan makanannya.


“hari ini mas mau menyelesaikan ini" ucap Afkar sambil memegang beberapa Flashdisk yang kemarin belum selesai dia amati.


“ooooo...... jadi tidak ke kantor......” ucap Nara girang sambil menghabiskan segelas jus apel.


“kenapa? Senang sekali kalau mas seharian disini....” ucap Afkar sambil mempersiapkan laptopnya.


Nara tersenyum lebar mendengar ucapan Afkar dan segera menumpuk piring dan gelas bekas makan mereka berdua di sebuah meja dekat pintu kamar. Afkar mulai sibuk dengan flashdisk dan amplop-amplop proposal game, Nara duduk di samping kiri Afkar dan ikut memperhatikan apa yang Afkar lakukan. Saat Nara mulai ikut serius mengamati game-game yang Afkar amati tiba-tiba ponselnya berbunyi berkali-kali memberi notifikasi beberapa pesan masuk, Nara segera berjalan mengambil ponselnya yang berada di sebuah nakas dekat ranjang. Nara duduk di tepi ranjang dan mulai sibuk dengan ponselnya menjawab beberapa pesan yang masuk.


“sayang..... obatnya sudah diminum?” ucap Afkar sedikit keras sambil memegang sebuah amplop.


“belum mas..... sebentar lagi" jawab Nara yang jari jemarinya sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.


Afkar berdiri mengambil segelas air mineral juga membawa satu butir obat berjalan masuk ke kamar.


“sayang minum ini dulu" ucap Afkar yang sudah menyodorkan segelas air dan sebutir obat tepat di depan mulut Nara.


Nara tersenyum dan segera membuka mulutnya membuat Afkar tersenyum gemas melihat tingkah Nara yang semakin manja. Afkar mencium puncak kepala istrinya setelah selesai meminum obat, dan kembali sibuk dengan pekerjaannya. Untuk tiga puluh menit kedepan keduanya sibuk dengan gadget masing-masing.


“mas...... mas...... mas Afkar" teriakan Nara dari pelan hingga kencang memanggil suaminya membuat Afkar terkejut segera menghampiri Nara.


“ini" ucap Nara sambil menyodorkan ponselnya yang menampilkan beberapa whatsapp group alumni wisuda jurusannya.


“apa ini?” tanya Afkar heran.


“mas baca saja.” Pinta Nara.

__ADS_1


Afkar membaca setiap pesan di whatsapp itu, seketika kedua matanya membulat seperti tidak percaya dengan yang dia lihat dan dia baca. Nara mulai menceritakan apa yang Afkar tanyakan, Afkar mendengarkan setiap ucapan Nara yang terkadang terlihat tidak percaya dan terkadang terlihat menggelengkan kepala memikirkan beberapa kemungkinan


“sayang yakin itu nama game-nya?” tanya Afkar keyakinan Nara.


“itu teman-teman bilang begitu dan disitu teman -teman juga bilang kalau nama game bisa di lihat dari source code yang di tulis karena setahu mereka nama game masih di enkrip dengan tampilan dinding-dindingnya..... begitu” Jelas Nara sambil melangkah ke sofa tempat Afkar bekerja.


“sayang..... tidak mungkin mau melihat source code?” ucap Afkar memastikan dugaannya.


Nara tersenyum mendengar ucapan Afkar dan menunjuk laptop Afkar sebagai tanda minta izin untuk menggunakan laptopnya. Afkar segera duduk di sebelah Nara dan menggeser laptopnya ke depan Nara. Jari jemari Nara mulai menari-nari diatas keyboard serta mouse pad mencari-cari celah untuk melihat source code game tersebut, karena para develops tidak menyertakan source code pada Zehed. Mereka hanya menyerahkan game yang sudah jadi beserta proposal yang mendeskripsikan game tersebut.


Untuk beberapa menit Nara sedikit kesulitan menemukan celah yang dia maksud, beberapa kali Nara menemukan celah tapi tidak menemukan source code yang dia inginkan hingga dia merasa betisnya mulai kram. Nara segera menghentikan gerakan jari jemarinya dan mengubah posisi duduknya, mengangkat kedua kakinya ke pangkuan Afkar. Afkar bingung kenapa Nara tiba-tiba meletakkan kedua kaki di pangkuannya.


“kenapa sayang? Ada apa?” tanya Afkar yang mulai terlihat panik karena terlihat jelas raut wajah Nara seperti menahan sakit.


“betis Nara kram......” ucap Nara sambil menahan rasa sakit di betis


Afkar segera menurunkan kedua kaki Nara dari pangkuannya dan meletakan di sofa sehingga posisi Nara sekarang duduk dengan kaki lurus kedepan, dengan sigap memegang telapak kaki Nara menggerak-gerakkan kedua kaki, menekan keatas pelan-pelan telapak kaki hingga otot betis Nara kembali seperti semula. Setelah masalah kram betis Nara selesai Afkar kembali duduk dan memangku kedua kaki dan melihatnya pelan-pelan.


“.....”


“Wa’alaikumsalam .... Amma vet hvordan man kan unngå kramper i bena under graviditeten (wa'alaikumsalam..... Amma tahu bagaimana caranya menghindari kaki kram saat hamil)?” tanya Afkar yang tangan kanannya masih memijat pelan betis Nara.


“......”


“mung bønner (kacang hijau)....?” ucap Afkar sambil melihat Nara yang sudah mulai tenang.


“......”

__ADS_1


“Afkar, prøv å kontakte aunty Felissa .... Kanskje tante kan hjelpe til med å koke mung bønner (Afkar coba hubungi aunty Felissa.... mungkin aunty bisa membantu merebuskan kacang hijau)” ucap Afkar yang tangan kanannya kembali memijat betis Nara.


“......”


“Takk skal du ha (terima kasih) Amma...”


“......”


“ja Amma ..... dette er Afkar som fortsatt masserer sakte ..... ja Amma ..... Afkar tar seg alltid av Nara ... Assalamualaikum (iya Amma..... ini Afkar masih memijat pelan-pelan..... iya Amma..... Afkar selalu jaga Nara... Assalamualaikum)” ucap Afkar memutus pembicaraan karena Freya mulai menasehati banyak hal terkait tentang kehamilan Nara.


“masih sakit?” ucap Afkar sambil mengirim sebuah pesan.


“mung bønner..... apa itu mas?” tanya Nara heran.


“kacang hijau sayang..... Amma bilang kamu harus sering minum air kacang hijau..... sekarang Amma mau minta tolong aunty untuk merebuskan kacang hijau..... mas sudah minta Zehed untuk membawa kesini.” Ucap Afkar yang sudah membelai rambut panjang Nara.


“peluk....” ucap Nara dengan manja sambil merentangkan kedua tangannya sebagai tanda minta di peluk.


Kedua tangan Afkar mengangkat tubuh Nara dan mendudukan di pangkuannya agar Nara maupun dirinya dapat berpelukan erat selagi perut Nara belum membesar. Untuk beberapa detik kedepan hampir satu menit lebih mereka hanya berpelukan tanpa ada kata, hingga Nara melepas sendiri pelukan itu dan mencium kecil bibir Afkar.


“sudah peluknya?” tanya Afkar sambil mencubit dagu Nara dan mencium bibir Nara untuk sesaat.


“sudah.... ayo kita lanjutkan mencari source code" ucap Nara yang sudah berdiri dari pangkuan Afkar.


Afkar menggelengkan kepala heran melihat sikap Nara yang selalu berubah-ubah tapi Afkar memakluminya selama Nara merasa nyaman dan tidak kesakitan. Jari jemari Nara mulai kembali sibuk di atas keyboard tapi sekarang posisi duduk Nara tidak dengan kaki menggantung melainkan lurus kedepan tepat berada di pangkuan Afkar. Untuk beberapa menit Nara masih belum menemukan celah yang dia maksud, hingga Nara menghentikan tangan kirinya dan mengibaskan sebentar karena jari jemari tangan kirinya terasa capek. Afkar melihatnya dan segera meraih tangan kiri Nara memijat jari jemari itu.


“sudah mas..... ini source code yang Nara maksud" ucap Nara sambil memutar layar laptop ke hadapan Afkar.

__ADS_1


Afkar segera mengambil laptop dari pangkuan Nara dan mengamatinya dengan serius, selama beberapa menit Afkar diam mengamati source code yang Nara temukan. Terlihat jelas kulit antara kedua alisnya berkerut, kedua matanya sedikit menyipit mencoba memahami source code itu.


“apa dari sini sayang bisa tahu siapa yang membuat game ini?” Nara menggelengkan kepala karena memang Nara masih tidak mendapatkan kejelasan siapa pembuatan game itu dari teman-temannya.


__ADS_2