NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 30 PESAN


__ADS_3

Tepat pukul enam sore Nara juga Afkar sudah masuk ke kamar hotel mereka, Nara segera melepas niqab hijab juga abaya dan berjalan cepat ke kamar mandi.


“sayang..... kalau mandi pakai air hangat.”ucap Afkar sedikit berteriak supaya Nara mendengar ucapannya.


Setelah kurang lebih lima belas menit di kamar mandi, Nara keluar dengan hanya mengenakan handuk yang dia lilitkan sebatas lutut dan dada. Nara berjalan ke tempat penyimpanan pakaian mereka, mengambil pakaian dalam miliknya serta sebuah T-shirt milik Afkar yang berwarna putih. Afkar mendekat dan memeluk Nara dari belakang saat Nara hendak memasukkan kepala ke T-shirt yang dia pegang, tangan Afkar melingkar dan membelai perut Nara membuat pemiliknya merasakan sensasi seperti saat mereka akan bercinta.


Nara meletakkan T-shirt di tempatnya dan saat hendak membalikkan badan, Afkar menahannya.


“sebentar saja" ucap Afkar tepat di telinga kanan Nara membuat pemiliknya merasakan hembusan nafas hangat.


“mas kenapa.....?” suara pelan Nara hanya dijawab dengan sebuah kecupan manis di bahu kanan Nara.


“sayang harus berjanji.... tidak akan pernah berubah apa pun yang terjadi.... tetaplah seperti ini..... “ ucapan Afkar terdengar sangat membingungkan bagi Nara.


“mas.... apa mas masih ragu? Apa mas masih berpikir kalau Nara ada rasa sama kak Ubet?” pertanyaan Nara hanya mendapat jawaban sebuah kecupan di bahu sekali lagi.


Nara memutar tubuhnya menghadap Afkar dan melingkarkan kedua tangannya di leher Afkar dengan sedikit berjinjit Nara mencoba menyejajarkan wajahnya dengan wajah Afkar. Karena tinggi badan Nara yang tak sampai setinggi bahu Afkar sehingga Nara sedikit kesulitan untuk menyejajarkan wajahnya, Afkar mengangkat Nara untuk menggendongnya seperti menggendong seekor panda.


“begini lebih baik" ucap Nara tersenyum membuat Afkar sedikit menahan senyumnya.


“mas..... demi ALLAH demi Rasulullah..... Nara tidak ada rasa suka sedikit pun pada kak Ubet.... Nara hanya menganggap kak Ubet sebagai senior yang harus Nara hormati.” Ucap Nara yang sudah menangkup kedua pipi Afkar dan mencium bibir Afkar sesaat.


Afkar tersenyum lebar mendengar ucapan Nara, Afkar mencium bibir Nara pelan penuh dengan kehangatan dan beberapa detik kemudian ciuman itu berubah menjadi nafsu. Membuat Afkar membawa tubuh Nara dan merebahkan di ranjang, pelan-pelan ciuman Afkar turun ke leher bahu dada hingga perut bagian bawah membuat Nara terbuai. Afkar berhenti tepat di perut bagian bawah dan menciumnya berkali-kali, sementara kedua tangan Afkar membelai perut bagian atas dan paha Nara membuat pemiliknya merasakan panah. tiba-tiba Afkar menghentikan aksinya karena ponsel Nara yang di berada di saku celananya bergetar.


Nara melihat Afkar heran yang berusaha mengeluarkan ponsel Nara


“ada apa mas?” tanya Nara heran.


“sayang tahu ini nomor siapa?” ucap Afkar sambil memperlihatkan layar ponsel Nara pada pemiliknya.

__ADS_1


Nara menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Afkar, dan merubah posisinya duduk di tepi ranjang sambil memegang ujung kemeja Afkar yang sudah keluar dari balik celana.


“nomor ini berkali-kali mengirim pesan dan menghubungi sayang..... dan ini bukan nomor jakarta atau pun Oslo...... sayang pernah memberi nomor sayang pada orang lain selain keluarga di Jakarta?” pertanyaan Afkar semakin membuat Nara bingung.


“terakhir kali Nara memberi nomor ini pada kak Satya....”ucap Nara pelan sambil mengingat-ingat pada siapa saja dia memberi tahu nomor ponsel Norwey-nya.


“4beta ada di Boston..... ini bukan nomor seluler Amrik..... ini nomor seluler Turki.....” jelas Afkar yang mulai gusar.


“turki..... nomor aunty Felissa mungkin" ucap Nara karena memang Nara tidak menyimpan nomor Felissa atau pun Murat.


“bukan..... mas hapal betul nomor aunty Felissa.” Ucap Afkar sambil meletakkan ponsel Nara di nakas.


“mas mau kemana?”tanya Nara yang sudah masih mengikuti langkah kaki Afkar.


“mau mandi....sayang ikut?” goda Afkar dan sukses membuat Nara tersipu malu.


Tanpa menunggu jawaban Afkar segera menarik tangan Nara untuk mengikutinya masuk ke kamar mandi, Afkar membisikkan sesuatu yang membuat kedua pipi Nara merah dan tubuhnya meremang.


“sayang mau jawab apa?” tanya Afkar sambil menyerahkan ponsel pada pemiliknya.


Nara melihat sesaat isi pesan dan mematikan ponsel itu, Afkar bingung dengan tindakan Nara.


“kenapa di matikan?” tanya Afkar heran.


“malas..... “ jawab Nara asal karena sudah tahu siapa yang mengirimnya dari pesan yang terakhir masuk pengirim pesan menyebutkan namanya.


“kenapa? Apa sayang masih marah karena dia sudah membuat sayang dan siska hampir bertengkar?” pertanyaan Afkar tidak mendapatkan tanggapan apa pun.


Nara berjalan menuju sofa dan membuka-buka daftar menu makanan restauran hotel yang berada di meja.

__ADS_1


“mas..... Nara lapar..... pesan ini dua porsi ya" pinta Nara dengan menggerak-gerakan kedua kelopak matanya merayu Afkar.


“jawab dulu.... kenapa sayang tidak mau membantu Ubet?”tanya Afkar yang sudah duduk di sebelah Nara.


Nara menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan kasar.


"itu mas sudah tahu pengirim pesan itu.... kenapa pura-pura tidak tahu" ucap Nara dengan cemberut.


“Nara ceritakan setelah makan.” Ucap Nara mulai merajuk.


Pada akhirnya Afkar menuruti kemauan Nara dan mereka makan tanpa ada pembicaraan apa pun.


“Nara tidak suka kalau itu bukan tanggung jawab Nara tapi Nara harus menyelesaikan masalah itu" ucap Nara dengan cemberut.


“Mas tahu sendiri itu bukan tanggung jawab Nara dan kenapa juga kak Ubet minta bantuan Nara..... bukankah di perusahaan ada tim yang bisa membantu kak Ubet?” ucap Nara yang sangat kesal karena beberapa pesan kembali masuk ke ponsel Nara.


Afkar membelai rambut istrinya dengan penuh rasa sayang.


“kalau mas yang minta sayang untuk memperbaiki sistem keamanan game..... apa sayang masih akan menolak?” tanya Afkar membuat Nara melihatnya dengan pandangan penuh tanya.


“kalau mas yang minta..... Nara mau tapi janji jangan memberitahu siapa pun kalau Nara yang melakukannya" ucap Nara dengan cemberut.


Afkar mencium kening seketika Nara tersenyum dan memeluk Afkar.


“kalau sayang seperti ini sepertinya mas ingin makan sayang lagi....” goda Afkar membuat Nara malu.


“tadi sudah..... “ ucap Nara yang sudah bangkit dari sofa dan berjalan mendekati ranjang.


“kurang.....” goda Afkar membuat Nara menyembunyikan wajahnya di balik selimut.

__ADS_1


Dengan bersandar pada sandaran ranjang, Afkar membuka pesan singkat yang baru saja masuk. Seketika kedua mata Afkar membulat tidak percaya dengan apa yang dia baca, Afkar melihat Nara yang masih menutupi wajahnya di balik selimut.


“sayang...... maaf kalau mas sudah membuat sayang marah dan mengingat masa lalu" gumam Afkar dalam hati.


__ADS_2