
“ sayang.... “ ucap Afkar sambil menepuk pipi kiri Nara.
Nara yang sudah terlelap dalam tidurnya dengan menjadikan paha kiri Afkar sebagai bantal, membuat Afkar harus memeriksa laporan keuangan dengan menggunakan Tablet karena bila menggunakan Laptop maka Nara tidak akan bisa tidur di paha Afkar.
“ pulas sekali tidurnya.... “ gumam Afkar sambil meletakkan Tablet nya di sebuah nakas tepat di samping ranjang.
pelan-pelan Afkar meletakkan kepala Nara di atas bantal dan Afkar memposisikan dirinya tidur dengan memeluk Nara.
5 menit sebelum Adzan Shubuh Nara terbangun karena kandung kemihnya terasa penuh, pelan-pelan Nara menyingkirkan tangan kanan Afkar dari atas perutnya. Beberapa menit kemudian Nara keluar kamar mandi sudah dalam keadaan memiliki wudhu dan membangunkan Afkar untuk Sholat Shubuh.
“ mas..... mas Afkar “ ucap Nara sambil menepuk-menepuk lengan kiri Afkar.
“ mas...... sudah Shubuh...... sholat dulu.... “ Afkar membuka matanya pelan-pelan dan tersenyum tipis menatap Nara.
“ sudah Shubuh ya...? “ tanya Afkar sambil menggeliat meregangkan kedua tangan dan kakinya.
Nara sudah memakai mukena menunggu Afkar di atas sajadah, Afkar keluar kamar mandi sudah memiliki wudhu dan siap menjadi Imam bagi Nara.
Karena pukul 6:38 matahari baru terbit sedangkan saat ini masih pukul 4:35, Afkar keluar kamar menuju ruang tengah dan melihat sedikit keluar jendela. Kedua mata Afkar seperti mata elang mengamati setiap sudut bangunan yang berada di sekitar apartemennya.
“ apa kamu selama ini mengamati kami dengan diam di situ? Bagaimana kamu menghindari patroli polisi setiap malam? “ gumam Afkar memperhatikan sosok yang selama ini masih mengikuti kemana pun Nara pergi.
Nara keluar kamar dan berjalan ke dapur membuka lemari pendingin mencari sesuatu yang bisa dia makan, karena perutnya terasa lapar.
“ buah..... sayur..... pudding..... telur..... daging asap..... es cream...... jadi ingin makan lontong sayur “ gumam Nara sambil memegang sebuah apel hijau.
Nara meletakkan kembali apel tersebut dan membuka lemari kecil di kanan kiri lemari pendingin.
“ sereal...... roti gandum..... mana bisa di buat menjadi lontong “ ucap Nara sambil menutup pintu lemari yang sedari tadi dia buka dan amati isinya.
__ADS_1
Tanpa Nara sadari saat sibuk membuka-buka lemari kecil tersebut, Afkar memperhatikan setiap ucapannya.
“ ingin makan lontong sayur? “ suara Afkar sedikit membuat Nara terkejut dan menatap Afkar dengan cemberut.
“ iya.... kalau buat sendiri..... bisa tidak ya...? “ ucap Nara yang sudah duduk bersila di lantai.
Afkar mendekati Nara dan duduk bersila di depan Nara, menatap dalam-dalam wajah istrinya yang terlihat jelas cemberut menginginkan sesuatu.
“ sayang mau buat lontong sayur.... memang bisa buat sendiri? “ goda Afkar membuat Nara berdiri dan kembali membuka lemari pendingin mengambil sebuah apel dan irisan semangka kuning
Afkar mengikuti Nara yang sudah berjalan ke ruang tengah menuju sofa, Nara meletakkan semangkuk irisan semangka kuning di meja dan memakan apel hijau tanpa mengupas kulitnya. Afkar duduk di sebelah Nara dan masih mengamati perubahan sikap Nara yang akhir-akhir ini manja dan ingin makan makanan Indonesia. Afkar meraih ponselnya mencari sesuatu, untuk beberapa menit kedepan mereka sibuk dengan apa yang mereka lakukan saat ini.
“ når er restauranten din åpen (restauran kalian buka pukul berapa)? “ suara Afkar membuat Nara menatap Afkar dengan heran.
“..... “
“ hva er menyen til frokost i dag (menu makan pagi hari ini apa)? “ Nara semakin heran dengan ucapan Afkar.
“..... “
Afkar meletakkan ponselnya di meja dan merubah posisi duduknya menghadap Nara.
“ hari ini sayang ingin makan apa saja? Lontong sayur..... ketoprak..... soto banjar..... tambusu..... atau mungkin..... lontong balap... ? “ ucapan Afkar membuat Nara mengerutkan kulit di antara kedua alisnya.
“ kalau Nara ingin semua..... apa mas mau antar Nara pulang ke Jakarta? “ tanya Nara balik dengan heran.
Afkar tersenyum mendengar pertanyaan Nara.
“ hari ini kita makan pagi lontong sayur “ ucapan Afkar membuat Nara bingung.
__ADS_1
“ maksud mas? “ tanya Nara heran tapi Afkar sudah beranjak dari sofa dan masuk ke kamar.
Nara mengejar Afkar yang ternyata sudah masuk ke kamar mandi, Nara berhenti tepat di depan pintu kamar mandi dengan tatapan heran juga penuh tanya.
“ mana ada lontong sayur di kamar mandi “ ucap Nara dengan cemberut sambil mengerucutkan kedua bibirnya.
Afkar tersenyum melihat ekspresi wajah Nara yang terlihat jelas menyesal tidak menemukan lontong sayur. Belum sempat Nara menjauh dari pintu kamar mandi, Afkar segera meraih tangan kiri Nara dan menariknya agar mau masuk ke dalam kamar mandi.
“ mau makan pagi lontong sayur atau tidak? “ ucap Afkar sambil menarik tangan kiri Nara.
“ mau.... tapi ini kan buk.... “ belum sempat Nara menyelesaikan ucapannya, Afkar sudah menyerangnya.
Kegiatan mandi pagi yang seharusnya hanya membersihkan badan, tapi karena Nara mengikut Afkar akhirnya terjadi proses program pelebaran dinding rahim kembali. Selama 1 jam 15 menit Afkar melakukan program pelebaran dinding rahim, mereka keluar kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang menutupi aset masing-masing.
“ Nara.... inginnya lontong sayur yang sebenarnya.... bukan lontong sayur ini “ ucap Nara cemberut tapi semakin membuat Afkar gemas.
Meskipun Nara cemberut protes dengan proses program pelebaran dinding rahim yang Afkar lakukan, namun Afkar sangat tahu sekali bahwa Nara sebenarnya sangat menikmati proses program pelebaran dinding rahim tersebut. Afkar mengabaikan protes Nara dan hanya mencium kecil kening Nara, Afkar selesai berpakaian dengan kemeja lengan panjang berwarna gelap dan celana kain berwarna senada.
“ sayang....ayo ganti baju... apa mau mas yang gantikan? “ ucapan Afkar sukses membuat Nara yang sudah duduk di sofa dengan celana pendek sepaham dan tank-top racer segera berdiri dan masuk ke kamar berganti pakaian.
Afkar memperhatikan Nara yang sedang sibuk mengenakan pakaian serba hitam dan tersenyum tipis saat Nara meraih kain niqab.
“ sini mas bantu ikat simpul niqab “ Nara menyerahkan Niqab pada Afkar.
Afkar sudah melangkah keluar kamar dan menunggu Nara tepat di depan pintu unitnya, Nara sedang memakai kaos kaki juga sepatu sport menatap Afkar penuh tanya. Tangan kanan Afkar membuka pintu unit dan mengulurkan tangan kiri untuk Nara genggam.
“ good morning master (selamat pagi tuan) “ salam Ines sambil mengambil alih tas punggung Nara sementara Lief mengambil alih tas kerja Afkar.
“ vi spiser frokost på restauranten Destin (kita makan pagi di restauran Destin) “ ucap Afkar membuat Lief dan Ines hanya bisa menunduk memberi format.
__ADS_1
Det Indonesiske Kjøkken satu-satunya restauran di Oslo yang menyajikan menu masakan tradisional dari Indonesia, setiap hari pemilik restauran menyajikan menu yang berbeda-beda selama 1 bulan dan mereka hanya menyajikan menu yang sama di bulan berikutnya. Restauran ini hanya berjarak 5 menit dengan jalan kaki, Afkar meminta Nara untuk selalu memegang tangan kirinya meski pun Ines dan Lief juga 4 pengawal selalu berjalan di belakang mereka. Afkar tidak ingin kejadian percobaan penusukan Nara terjadi lagi, berjalan melewati skipergata belok kiri ke Karl Johan gate belok ke kanan dronningens gate menyebrang di jalan kirkeristen dan terakhir belok ke kanan menyusuri jalan storgata. Det Indonesiske Kjøkken tepat berada di ujung sebelum pløens gate.