
Saat matahari terbit dan cahaya matahari menyelinap di sela-sela ventilasi udara yang berada tepat di atas jendela kaca kamar mereka berdua, Nara terbangun dan mendapati wajah Afkar tepat di depannya. Nara tersenyum melihat wajah tenang Afkar, pelan-pelan Nara menggerakan tangan kanannya menyentuh ujung hidung naik ke alis mata sebelah kiri turun ke pipi kiri hingga berhenti ke bibir. Pelan-pelan Nara mendekatkan bibirnya hingga hanya berjarak 1 milimeter tiba-tiba tangan kanan Afkar menekan kepala Nara dan Afkar mencium bibir Nara. Nara terkejut hanya bisa tersenyum dalam ciuman mereka.
Nara melingkarkan tangan kirinya ke tengkuk Afkar untuk memperdalam ciumannya, tak ketinggalan tangan kirinya menyusup ke dalam kaos membelai lembut kulit punggung istrinya serta melepas pengait Buste Hounder, Afkar semakin memperdalam ciumannya dan meloloskan indera pengecap untuk menyusuri setiap gigi dan dinding mulut Nara. Tangannya yang aktif mulai melepaskan semua kain yang menutupi tubuh Nara kecuali hipster yang masih menahan pembalut nifas di posisinya, Afkar sudah berada di atas Nara dan ciumannya sudah berpindah ke telinga. Meninggalkan tanda di beberapa bagian kulit leher, saat Afkar sibuk meninggalkan jejak tiba-tiba Nara merubah posisi mereka dan saat ini Nara sudah berada di atas Afkar. Afkar terkejut merasakan bahwa dirinya sudah berpindah posisi, Nara melihat wajah Afkar dan tersenyum membuat Afkar bertanya-tanya apa yang akan Istrinya lakukan.
Nara berpikir sejenak mengingat setiap kata dan kalimat yang tertulis di buku pemberian Fajrin, memandang wajah Afkar yang menatapnya penuh tanya. pelan-pelan Nara menyentuh rahang kanan bawah Afkar, membelai dengan hingga dagu merasakan bulu halus di sekitar rahang. Afkar membiarkan Nara melakukan itu, memejamkan mata menikmati setiap sentuhan jari jemari Nara. Nara tersenyum memandang wajah Afkar, pelan pelan mendekati wajah Afkar untuk mencium bibir Afkar.
Mencium pelan bibir Afkar dengan lembut dan lambat laun menjadi kasar, Afkar tidak membalas ciuman itu karena masih bingung apa yang akan istrinya lakukan. Setelah diam selama beberapa detik lalu terlintas dalam benak Afkar tentang pembicaraan Nara dengan Fajrin, Afkar tersenyum di sela-sela ciuman Nara.
Nara kesal karena Afkar tidak membalas ciumannya dan mengigit bibir bawah Afkar, memaksa Afkar untuk membuka mulutnya. Nara mengulurkan indera pengecap, Afkar pun mengerti dan mulai mengikuti permainan Nara dengan menekan tengkuk menghisap bibir Nara. Nara menghisap kedua bibir Afkar dengan menggebu-gebu membuat Afkar sedikit tidak bisa mengimbangi hasrat Nara. Afkar membiarkan Nara melakukan apa yang sudah dia pelajari dari Fajrin dan Afkar sama sekali tidak keberatan akan hal itu.
Suara pelan Afkar yang tertahan semakin membuat Nara sedikit bingung dan ragu karena ini pertama kalinya bagi Nara, Nara berusaha mengingat setiap kata setiap kalimat yang tertulis di buku pemberian Fajrin. Nara sedikit ragu dengan apa yang akan dia lakukan, pelan-pelan Nara mengingat dan melakukan apa yang tertulis di buku pemberian Fajrin. Ada rasa geli juga ragu saat melakukannya, Nara berusaha membuang semua rasa itu demi memberikan hak Afkar. Pelan tapi pasti Nara melakukan semua yang dia ingat dari tulisan di buku itu hingga pada akhirnya Nara ikut menikmati juga, pergerakan halus dan pelan Nara membuat Afkar frustasi dan melihat wajah Nara yang sibuk di bawah sana. Selama 15 menit lebih Nara melakukan apa yang tertulis di buku itu, hingga pada akhirnya Afkar tak dapat menahan lagi untuk tidak mengeluarkan cairan cement.
Suara keras Afkar saat mengeluarkan cairan yang merupakan bagian dari dirinya membuat Nara terkejut dan hampir saja tersedak, tapi Nara menahannya karena tidak ingin membuat Afkar kecewa atau sedih. Nara melihat wajah Afkar yang terlihat jelas sangat lega, Afkar mengatur Nafas yang memburu karena ulah Nara. Nara tersenyum membuat Afkar tersenyum gemas mengingat ulah Nara yang baru saja terjadi.
Afkar merubah posisinya dan membiarkan Nara duduk di pangkuannya, membersihkan sisa-sisa cairan yang berada di sekitar mulut Nara dengan ibu jarinya tangan kanannya.
“ asin “ ucap Nara sambil tersenyum.
“ Jeg elsker deg (I love you) “ ucap Afkar pelan membuat Nara tersenyum manis.
Untuk dua menit kedepan mereka hanya terdiam saling menatap mata wajah satu sama lain. Nara melingkarkan kedua tangannya di leher Afkar dan memeluk erat membuat Afkar tersenyum lebar.
__ADS_1
“ I love you more “ bisik Nara tepat di telinga kanan Afkar.
“ kapan belajar semua ini? “ pertanyaan Afkar membuat Nara malu dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Afkar.
“ apa Fajrin mengajari sayang sampai sedetail ini? “ dengan malu Nara menggelengkan kepalanya yang masih tenggelam di ceruk leher Afkar.
Afkar tersenyum lebar mendapat jawaban Nara dan membelai kulit punggung polos serta mencium bahu kiri Nara untuk meninggalkan jejak.
“ mau mandi bersama? “ Nara menganggukan kepala dan segera Afkar mengangkat tubuh Nara seperti seperti seekor panda.
Afkar menurunkan tubuh istrinya dan membantu melepas hipster Nara untuk melepas rekatan pembalut nifas.
Sebenarnya Afkar tidak tahan ingin menerkam Nara tapi melihat darah nifas masih mengalir di antara kedua kaki Nara membuat Afkar memeluk Nara erat. Acara mandi bersama berlangsung singkat karena tidak terjadi kegiatan yang lain, Afkar keluar dengan hanya handuk yang memilih asetnya sedangkan Nara menunggu Afkar untuk mengambilkan pembalut nifas juga hipster.
Afkar tampak lebih segar dengan celana panjang santai menatap Nara yang masih memilih Buste Hounder, kaos juga celana pendek selutut.
“ ini siapa yang sudah meninggalkan jejak disini “ goda Afkar membuat Nara yang sedang memakai kaos melihat ke Afkar.
Nara terlihat malu mendapati banyaknya jejak merah yang dia tinggalkan di kulit Afkar. Afkar memeluk erat Nara membuatnya susah memakai celana pendek selutut yang sudah dia pegang.
Meski pun Nara melarang Afkar keluar kamar tanpa mengenakan T-shirt, tetap saja Afkar keluar dan Nara pasrah berjalan di belakangnya. Ines yang baru saja masuk dari ruang belakang sangat terkejut melihat Afkar keluar dari kamar tanpa mengenakan T-shirt terlihat jelas banyak jejak di kulitnya, Ines segera memutar balik badannya dan kembali ke ruang belakang.
__ADS_1
“ mas..... pakai ini dulu “ rayu Nara sambil menyodorkan T-shirt hitam meski pun Afkar menolak memakainya.
Afkar melangkah menuju dapur membuka lemari pendingin dan lemari penyimpanan makanan melihat apa yang bisa dia makan pagi ini. Meskipun suhu udara saat ini 16°celcius, tapi karena di dalam rumah ada mesin penghangat tentu tidak merasa kedinginan dan juga karena kulit Afkar yang sudah terbiasa dengan udara dingin.
“ mas pakai ini..... malu itu kelihatan semua... “ rayu Nara yang mulai cemberut karena Afkar tidak mau memakai T-shirt.
Afkar melihat Nara dengan gemas sambil menuangkan air mineral ke dalam gelas yang sudah dia ambil.
“ mas tidak malu..... kenapa sayang malu? “ goda Afkar membuat pipi Nara bersemu merah.
Afkar melangkah santai ke meja makan dan duduk di kursi, Nara masih saja memegang T-shirt untuk Afkar dan menyodorkan pada Afkar dengan wajah cemberut. Afkar tersenyum gemas melihat wajah Nara yang semakin cemberut dan terlihat jelas di mata Nara rasa putus asa merayu dirinya untuk memakai T-shirt demi menutupi jejak yang sudah Nara buat sendiri.
Fajrin yang baru masuk dari olah raga di halaman belakang, seketika terkejut melihat beberapa jejak di ceruk leher Afkar. Nara yang melihat kedatangan Fajrin hanya mampu menutupi wajahnya dengan T-shirt Afkar yang dia pegang, Fajrin berjalan pelan mendekati adik dan adik iparnya. Fajrin melihat seluruh kulit tubuh bagian atas adik iparnya kecuali lengan banyak terdapat jejak merah, begitu juga dengan kulit leher Nara. Bergantian melihat mereka berdua dengan tatapan heran serta penuh pertanyaan.
“ dik..... sudah mempraktikkan teorinya ya.....? “ pertanyaan Fajrin semakin membuat Nara menyembunyikan wajahnya dengan T-shirt Afkar.
“ hahahahahaha...... aku harus mengucapkan terima kasih pada kakak iparku..... hahahahaha “ tawa Afkar mendengar pertanyaan Fajrin.
“ kak...... jangan bilang begitu.... Nara malu “ ucap Nara sambil melempar T-shirt pada Afkar.
“ hahahahaha.....” Afkar kembali tertawa membuat Nara menutup wajah merahnya dengan kedua tangan.
__ADS_1